Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.
Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.
Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.
Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kukuruyuk.
Suara ayam jantan berkokok dari kejauhan memecah keheningan pagi di Desa Qingshui. Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menyusup masuk melalui celah-celah atap rumah kayu yang bocor, menyinari wajah Lin Ye yang tertidur pulas di atas ranjang kayu yang keras.
Lin Ye membuka matanya perlahan. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya. Anehnya, meskipun dia tidur di atas alas kayu tanpa kasur yang empuk, badannya sama sekali tidak terasa sakit atau pegal. Rasa lelah akibat perjalanan jauh kemarin dan aktivitas mencangkul di malam hari seolah menguap begitu saja.
"Pasti ini efek dari energi yang mengalir dari cangkul kayu besi dan aroma mata air murni semalam," batin Lin Ye sambil duduk dan mengusap wajahnya.
Dia segera bangkit berdiri. Hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah halaman belakang. Dia setengah berlari membuka pintu belakang rumah untuk memastikan bahwa kejadian semalam bukanlah sekadar mimpi indah akibat kelelahan.
Kriet.
Pintu belakang terbuka. Udara pagi yang sangat segar langsung menyapu wajahnya. Lin Ye tertegun di ambang pintu.
Di bawah bayangan Pohon Ajaib yang daun zamrudnya memantulkan cahaya matahari pagi, lima bonggol kubis raksasa duduk dengan tenang di atas petak tanah yang sudah dibersihkannya. Embun pagi menempel di atas daun hijau tua yang melingkar padat, membuatnya terlihat sangat segar dan menggiurkan.
"Syukurlah semuanya nyata dan bukan hanya mimpi belaka. Sekarang aku punya modal awal," kata Lin Ye dengan senyum lebar.
Dia melangkah mendekati petak tanah itu. Dia butuh wadah untuk membawa hasil panen ini ke kota. Lin Ye masuk ke dalam sebuah gudang kecil reyot di samping rumah. Di tumpukan barang rongsokan, dia menemukan sebuah keranjang bambu anyaman berukuran besar yang biasa digunakan petani untuk mengangkut hasil panen di punggung. Keranjang itu kotor dan berdebu, tapi anyamannya masih sangat kuat.
Lin Ye membersihkan keranjang itu seadanya dengan air sisa dari sumur. Dia kemudian mengambil cangkul kayu besi hitamnya.
Crak.
Dengan satu ayunan pelan yang presisi, mata cangkul besi itu memotong pangkal batang kubis raksasa pertama dengan sangat mulus. Lin Ye mengangkat kubis itu. Beratnya luar biasa, mungkin sekitar lima kilogram per buahnya. Aroma segar khas sayuran yang baru dipetik langsung menusuk hidungnya, membuat perut Lin Ye berbunyi keroncongan karena dia belum sarapan.
Satu per satu, Lin Ye memotong dan memasukkan kelima kubis energi itu ke dalam keranjang bambu. Keranjang itu terisi penuh hingga menyundul batas atasnya. Lin Ye harus mengambil beberapa lembar daun pisang liar di dekat pagar untuk menutupi bagian atas keranjang agar isi bawaannya tidak terlalu mencolok.
Lin Ye masuk ke dalam rumah, mengganti kemejanya yang kotor dengan kaus bersih dan jaket sederhana, lalu menggendong keranjang bambu yang berat itu di punggungnya. Ajaibnya, meski keranjangnya berisi beban puluhan kilogram, dia tidak merasa terbebani.
"Tujuan pertama hari ini, pasar kota terdekat," ucap Lin Ye sambil melangkah keluar dari gerbang rumahnya.
Tap. Tap. Tap.
Lin Ye menyusuri jalan setapak desa menuju perhentian bus di jalan utama. Pagi ini, beberapa warga desa sudah mulai beraktivitas. Beberapa ibu-ibu yang sedang menyapu halaman menatapnya dengan pandangan heran, berbisik-bisik melihat anak muda dari kota memanggul keranjang bambu besar layaknya petani kawakan.
Baru saja Lin Ye melewati batas ladang jagung, sebuah suara serak memanggilnya dari arah belakang.
"Hei, anak kota. Mau ke mana kamu pagi-pagi buta begini?"
Lin Ye tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara menyebalkan itu. Zhao He berdiri di pinggir ladangnya, memegang seikat rumput liar, menatap punggung Lin Ye dengan mata menyipit.
"Saya mau ke kota sebentar," jawab Lin Ye tanpa menghentikan langkahnya.
"Ke kota? Bawa keranjang sebesar itu?" Zhao He mendengus sinis, berjalan mendekat mencoba mengintip ke balik daun pisang yang menutupi bagian atas keranjang Lin Ye. "Apa isinya? Jangan bilang kamu memunguti rongsokan peninggalan kakekmu untuk dijual. Sudahlah, jual saja tanahmu padaku. Uangnya lebih dari cukup daripada kamu jadi pemulung."
Lin Ye memiringkan tubuhnya, menjauhkan keranjang itu dari jangkauan tangan Zhao He.
"Isinya barang berharga, bukan urusan Anda. Dan tawaran saya semalam tidak berubah. Tanah itu tidak akan saya jual. Permisi, bus saya hampir tiba," kata Lin Ye dengan nada dingin, lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Zhao He yang menggerutu kesal di belakang.
Tiga puluh menit kemudian.
Brummm.
Bus tua yang membawa Lin Ye tiba di terminal pinggiran kota. Kota terdekat dari Desa Qingshui adalah Kota Yushan, sebuah kota tingkat menengah yang cukup ramai. Lin Ye berjalan kaki sekitar sepuluh menit dari terminal menuju Pasar Induk Yushan.
Suasana pasar sangat bising. Suara tawar-menawar, deru mesin truk pengangkut sayur, dan teriakan para kuli angkut memenuhi udara. Aroma berbagai macam bumbu, ikan segar, dan sayuran bercampur menjadi satu.
Lin Ye berjalan menyusuri lorong blok sayuran grosir. Matanya yang tajam mengamati satu per satu lapak pengepul sayur. Dia sedang mencari target yang tepat. Dia tidak akan menjual kubis energi ini kepada pedagang eceran kecil karena mereka tidak akan punya cukup uang untuk membayar harga yang pantas.
Langkah Lin Ye terhenti di depan sebuah lapak bongkar muat terbesar di ujung blok. Lapak itu sangat sibuk. Banyak petani yang mengantre untuk menyetorkan hasil panen mereka. Di tengah lapak, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tambun di atas kursi rotan. Pria itu memakai kalung emas tebal, mengisap rokok, dan membawa kalkulator di tangannya. Dari percakapan orang-orang di sekitarnya, Lin Ye tahu pria itu bernama Bos Liu, tengkulak sayur terbesar di pasar ini yang memasok bahan ke berbagai restoran mahal di pusat kota.
"Ini tempat yang tepat," batin Lin Ye.
Lin Ye melangkah maju, melewati antrean beberapa petani kecil, dan langsung meletakkan keranjang bambunya di depan meja Bos Liu.
Bruk.
Bos Liu mengernyitkan dahinya, merasa terganggu asap rokoknya tersapu angin dari keranjang yang diletakkan kasar itu. Dia menatap Lin Ye dari atas ke bawah. Penampilan Lin Ye yang memakai jaket bersih dan wajahnya yang tidak terbakar matahari sama sekali tidak terlihat seperti petani.
"Anak muda, kamu tidak lihat ada antrean? Lagipula, kamu ini siapa? Aku tidak pernah melihat wajahmu di pasar ini. Kalau kamu mau jual sayur sisa yang sudah layu, bawa saja ke lapak di belakang sana. Aku hanya menerima barang kualitas terbaik untuk dikirim ke restoran," kata Bos Liu dengan nada meremehkan sambil mengibaskan tangannya mengusir Lin Ye.
"Justru karena saya dengar Bos Liu hanya menerima kualitas terbaik, makanya saya datang langsung ke sini. Saya punya barang yang bahkan tidak pernah Bos Liu lihat seumur hidup Anda," jawab Lin Ye dengan suara lantang dan penuh percaya diri. Beberapa petani di sekitar mereka mulai menoleh, tertarik dengan keributan kecil itu.
Bos Liu tertawa keras, perut buncitnya ikut bergetar. "Anak muda yang sombong. Aku sudah berdagang sayur selama dua puluh tahun. Tidak ada sayur di provinsi ini yang belum pernah aku lihat. Buka keranjangmu. Biar kulihat seberapa hebat sampah yang kamu bawa."
Lin Ye tidak membalas. Dia hanya tersenyum tipis, lalu menarik daun pisang yang menutupi keranjangnya.
Sring.
Meskipun tidak ada cahaya nyata yang memancar, warna hijau zamrud dari kelima kubis energi itu begitu pekat dan segar hingga seolah-olah menyala di bawah lampu pasar yang remang-remang. Bentuknya sangat bulat sempurna, tanpa ada satu pun lubang bekas gigitan ulat atau bercak kuning tanda pembusukan.