NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: TATAPAN DINGIN IBU

BAB 30: Tatapan Dingin Ibu

Suara lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan oleh para pelayat di sudut ruang tamu seolah mendadak senyap, tergantikan oleh dengung sunyi yang mencekam di dalam kepala Revan. Cowok itu masih bersujud, kedua tangannya mencengkeram erat ujung kain kafan yang membungkus kaki kaku Ayahnya. Air matanya sudah membasahi kain putih itu, meninggalkan bercak-bercak basah yang kontras. Tubuhnya bergetar hebat, menanti sebuah sentuhan, sebuah pelukan hangat, atau bahkan sebuah amukan dari Ibunya yang kini berdiri tepat di belakang punggungnya.

Namun, detik demi detik berlalu, tidak ada tangan lembut yang mengusap kepalanya. Tidak ada suara tangisan keibuan yang biasanya selalu meneduhkan hatinya setiap kali ia pulang dalam keadaan berantakan.

Revan perlahan menegakkan punggungnya yang terasa kaku. Dengan gerakan yang teramat lambat dan gemetar, ia membalikkan tubuhnya, mendongak untuk menatap wajah wanita yang melahirkannya.

Ibu berdiri tegak bagai patung lilin di bawah pendaran lampu gantung ruang tamu yang temaram. Daster batik usangnya tampak longgar, membungkus tubuhnya yang kian hari kian kurus kering karena memikirkan beban keluarga. Rambutnya yang mulai diselingi uban halus tampak acak-adakan di balik jilbab rumahannya yang tersampir miring. Namun, yang membuat jantung Revan mendadak berhenti berdetak adalah sepasang mata Ibu.

Mata itu... tidak lagi memancarkan binar kasih sayang yang hangat. Sepasang netra yang biasanya teduh itu kini tampak sangat kuyu, bengkak, merah, dan menatap lurus ke arah Revan dengan pandangan yang teramat sangat dingin. Sebuah tatapan kosong yang menyimpan luka yang begitu masif, sedalam palung samudra yang paling gelap. Tidak ada amarah yang meledak-ledak di sana, melainkan sebuah keheningan total yang jauh lebih mengerikan dan menyiksa daripada bentakan apa pun yang pernah Revan terima seumur hidupnya.

"I-Ibu..." bisik Revan parau, suaranya tercekat di tenggorokan yang terasa mengering. Ia mencoba meraih ujung daster Ibunya dengan jemarinya yang gemetar penuh noda oli. "Ibu... maafin Revan, Bu... Revan bodoh... Revan egois..."

Ibu tidak bergeming. Wanita paruh baya itu justru mengambil satu langkah mundur, secara sengaja menjauhkan ujung dasternya dari jangkauan tangan anak bungsunya. Gerakan kecil itu terasa seperti sebuah penolakan mutlak yang menghantam dada Revan dengan sangat keras, membuat cowok itu tersentak seolah baru saja ditusuk belati tak kasat mata.

"Jangan sebut nama Ayahmu lagi, Revan," suara Ibu akhirnya keluar. Suara itu... sangat datar, pelan, namun bergaung begitu dingin dan menusuk hingga ke tulang sumsum siapa saja yang mendengarnya di ruangan itu. Tidak ada nada histeris, hanya ada kepasrahan yang teramat hancur dari seorang istri yang kehilangan suaminya.

"Bu..." isak Revan pecah kembali, air matanya meluncur deras melewati pipinya yang pucat. "Revan mohon jangan kayak gini, Bu... Revan pulang buat Ayah, buat Ibu..."

"Kamu pulang?" Ibu menyunggingkan seulas senyum yang teramat getir, sebuah senyuman yang tampak begitu menyakitkan di wajahnya yang layu. Ibu perlahan berjalan memutari dipan jasad suaminya, lalu berhenti tepat di dekat bagian kepala Ayah yang masih terbuka. Jemari Ibu yang keriput bergerak lembut, mengusap kening kaku suaminya dengan penuh rasa sayang yang mendalam, sebelum kembali mengalihkan tatapan matanya yang sedingin es ke arah Revan.

"Kamu bilang kamu pulang untuk Ayahmu?" tanya Ibu lagi, kali ini nadanya sedikit bergetar menahan badai emosi yang bergemuruh di dalam dadanya. "Ayahmu sudah gak bisa denger kamu, Revan. Ayahmu sudah kaku. Kamu ke mana saja selama tiga minggu ini, hah? Di mana kamu saat Ayahmu harus menanggung semua beban pikiran di rumah ini sendirian?!"

Revan tersedak oleh isakannya sendiri, ia menggelengkan kepalanya dengan liar. "Revan... Revan gak tahu kalau Ayah bakal pergi secepat ini, Bu..."

"Kamu gak tahu karena kamu gak pernah peduli!" Suara Ibu mulai meninggi, setetes air mata yang sangat berat akhirnya luruh membasahi pipinya yang tirus. "Kamu cuma memikirkan egomu sendiri! Kamu marah karena merasa disisihkan, kamu kabur dari rumah, kamu sumpah serapahi rumah ini seolah-olah kami ini musuhmu! Kamu tahu seberapa hancurnya hati Ayahmu tiap malam nyariin kamu, mikirin masa depan kamu yang makin berantakan karena pergaulan jalanan?!"

Ibu mencengkeram pinggiran dipan dengan sangat erat hingga ujung jarinya memutih, meluapkan seluruh rasa sesak yang selama ini ia pendam demi menjaga keutuhan keluarga.

"Ayahmu stres, kepikiran kamu terus sampai kesehatannya ambruk! Tapi kamu... kamu malah seneng-seneng di luar sana, balapan liar, gak mikirin perasaan orang tua yang nungguin kamu pulang!" Ibu menunjuk ke arah pintu depan dengan tangan yang gemetar.

DEG.

Dunia di sekitar Revan seolah-olah runtuh, hancur berkeping-keping menjadi debu yang beterbangan di udara. Seluruh pasokan oksigen di dalam dadanya mendadak lenyap tanpa sisa. Otaknya mendadak mengalami guncangan hebat yang luar biasa dahsyat.

Tamparan realita dari Ibu kali ini terasa terlalu brutal, terlalu kejam, hingga meremukkan seluruh kewarasan mental remaja Revan hingga ke dasar yang paling dalam. Rasa bersalah murni langsung menjalar gila-gilaan, membakar ulu hatinya, membuatnya merasa seperti monster paling kejam dan paling durhaka di atas muka bumi ini karena telah membuat Ayahnya stres sampai terkena serangan jantung.

"N-nggak... gak mungkin..." Revan memegangi kepalanya dengan kedua tangan, menjambak rambut hitamnya sendiri dengan frustrasi yang luar biasa. "Ayah... maafin Revan, Yah..." Raung Revan histeris, suaranya pecah berantakan di tengah ruang tamu.

Ibu menatap putranya yang sedang meratap hancur itu tanpa ada niat untuk mendekat atau menenangkan. Tatapan dinginnya kembali terkunci rapat.

"Sekarsng... semuanya sudah terlambat," bisik Ibu lirih sembari membalikkan badannya membelakangi Revan. "Egomu sudah menang, Revan. Kamu sudah bebas di luar sana. Tapi tolong... jangan tangisi Ayahmu di sini. Tangisanmu gak bakal bisa bikin jantung Ayahmu berdenyut lagi. Ibu... Ibu kecewa sekali sama kamu, Nak..."

Setelah mengucapkan kalimat pembunuh batin tersebut, Ibu melangkah pergi dengan sangat lemah menuju ke arah kamar utama, meninggalkan Revan yang masih bersujud mematung di atas karpet hijau dengan tubuh yang gemetar hebat di luar kendali biologisnya.

Bersambung....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!