Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyatakan cinta yang lama terpendam
Keheningan di balkon Lembang terasa begitu mencekik bercampur langit yang sudah gelap. Deva menatap Alvaro, memberikan dorongan lewat sorot matanya yang tajam. Ia tahu kakaknya itu butuh dorongan terakhir untuk meruntuhkan tembok keraguan yang sudah berdiri belasan tahun.
"Ayo Kak Al, inilah saatnya... Katakanlah apa yang selama ini ingin Kakak katakan," bisik Deva meyakinkan.
Alvaro menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. Ia sudah lelah berlari dari kenyataan. Ia sudah lelah memendam rasa yang telah mengakar selama lebih dari lima belas tahun itu, rasa yang telah membuatnya rela melajang dan menutup hati bagi wanita mana pun hanya demi menunggu satu nama, yakni Hanum Sanjaya.
Deva tersenyum tipis, lalu perlahan mundur dan masuk ke dalam rumah untuk membawa ibunya kembali ke kamar, membiarkan dua insan itu terjebak dalam ruang kejujuran.
Hanum melangkah mendekat, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu yang besar. "Kak, apa yang barusan kalian bicarakan? Kenapa wajah kalian terlihat sangat serius begitu?"
Alvaro tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih jemari Hanum, menggenggamnya dengan jemari yang sedikit bergetar namun terasa hangat.
"Num, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Mungkin inilah saat yang tepat, aku sudah tidak sanggup memendamnya lagi," Alvaro menjeda sejenak, menatap dalam ke arah manik matanya Hanum.
"Hanum... aku suka sama kamu. Aku mencintaimu. Tapi bukan sebagai adik perempuanku, melainkan rasa cinta seorang pria terhadap wanita."
Deg!
Dunia Hanum seolah terhenti begitu saja. Udara dingin Lembang tiba-tiba terasa sudah membekukan aliran darahnya. Ia terpaku, lidahnya mendadak menjadi kelu.
Di dalam benaknya, ribuan pikiran berkecamuk hebat.
'Tidak mungkin... Kak Al tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu. Aku... aku wanita yang tak pantas dicintai olehmu. Aku wanita bekas pria brengsek seperti Johan. Aku tidak layak untuk Kak Al! Dia seharusnya mendapatkan wanita yang jauh lebih baik, lebih suci, dan lebih sempurna daripada aku!'
Rasa rendah diri itu kini menghantamnya begitu kuat. Bukannya bahagia, Hanum justru merasa ketakutan. Dengan gerakan kasar, ia melepaskan genggaman tangan Alvaro.
"Aku... aku tidak bisa, Kak," ucap Hanum dengan suara bergetar. Tanpa penjelasan lebih lanjut, ia berbalik dan berlari meninggalkan balkon, menembus ruang tamu dan keluar dari gerbang rumah Deva.
Alvaro berdiri mematung, tangannya masih menggantung di udara. "Num? Hanum!" serunya, namun Hanum tak menoleh.
'Apakah kau menolak ku? Akh... sepertinya iya. Dia menolak perasaanku,' batin Alvaro ingin menjerit.
Hatinya yang selama lebih dari lima belas tahun dijaga dengan penuh harapan, kini terasa retak dalam hitungan detik.
Hanum berlari tanpa arah di jalanan Lembang yang mulai berkabut hingga ia menemukan sebuah taksi yang sedang menepi. Tanpa berpikir panjang, ia masuk dan meminta pengemudi membawanya kembali ke Jakarta saat itu juga. Ia butuh menjauh. Ia butuh bersembunyi.
Di dalam mobil, Hanum meringkuk. Ia menangis sesenggukan sambil meremas dadanya yang terasa sesak. Ada debaran aneh yang menuntut untuk diakui, namun egonya yang terluka oleh masa lalu terus membisikkan bahwa ia tidak pantas.
Sementara itu di rumah, Deva yang baru saja keluar dari kamar ibunya terbelalak melihat Alvaro berdiri lunglai di balkon sendirian.
"Mana Hanum, Kak?"
"Dia pergi, Dev. Dia... dia melepaskan tanganku begitu saja," jawab Alvaro dengan suara hampa.
"Apa?! Apakah Kak Al ditolak?" Deva menggeram kesal. "Ish, Hanum! Kenapa kau sangat menyebalkan sekali? Pria sebaik Kak Al kau tolak mentah-mentah dan sekarang kau malah pergi begitu saja!"
Deva ingin mengejar, namun Alvaro lebih dulu sadar dari syoknya. Ia segera menyambar kunci mobil. Ia tidak peduli jika ditolak, yang ia pedulikan adalah keselamatan Hanum yang nekat pulang sendirian ke Jakarta di malam hari. Alvaro memacu mobilnya, membelah kabut Lembang dengan kecemasan yang luar biasa, sementara di dalam taksi yang melaju jauh di depannya, Hanum masih tenggelam dalam isak tangisnya, meratapi cinta yang dianggapnya sebagai sebuah kesalahan.
Taksi yang membawa Hanum akhirnya berhenti di depan gerbang kediaman Sanjaya tepat saat jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Dengan mata sembap dan langkah yang tergesa, ia masuk ke dalam rumah yang sudah sunyi, lalu segera mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Ia melempar tubuhnya ke atas ranjang, membenamkan wajahnya di atas bantal, dan membiarkan tangisnya pecah tanpa suara.
Beberapa saat kemudian, Alvaro tiba. Napasnya masih menderu karena memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sepanjang jalan tol. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencoba menghubungi ponselnya Hanum, namun ternyata nihil, panggilan itu terus dialihkan.
Alvaro melangkah menuju depan Kamarnya Hanum. Ia berdiri mematung di depan pintu kayu yang dingin, melihat celah cahaya lampu yang masih menyala dari bawah pintu. Sayup-sayup, suara isakan kecil terdengar sampai ke telinganya. Hati Alvaro serasa diremas. Penyesalan hebat kini telah menghantam dadanya.
'Hanum, maafkan aku... Seharusnya aku tidak mengatakan semua ini padamu sekarang. Aku sangat menyesal,' batinnya pilu.
Ia menyandarkan punggungnya di pintu itu sebentar, seolah ingin menyalurkan kekuatan, sebelum akhirnya menyerah dan bergegas pergi ke kamarnya sendiri dengan harapan hari esok bisa memperbaiki segalanya.
*
*
Keesokan harinya di ruang makan, suasana tampak normal di permukaan. Hanum muncul dengan riasan yang rapi untuk menutupi matanya yang bengkak, bersikap seolah kejadian di Lembang hanyalah mimpi buruk yang sudah dilupakan. Tuan Sanjaya dan si kembar menyapa dengan hangat, namun Alvaro tetap menunduk, tak berani mengangkat wajahnya.
Saat mereka sedang menikmati sarapan, tanpa sengaja sepasang mata itu bertemu. Hanya sepersekian detik saja, sebelum akhirnya Hanum membuang muka dengan cepat, sebuah gestur penolakan yang sangat nyata. Alvaro merasa dunianya runtuh, hubungan yang sudah mulai menghangat kini membeku kembali, bahkan lebih jauh dari sebelumnya.
"Oh iya, Kak Al... Mulai saat ini biar aku diantar oleh sopir saja. Aku tidak mau merepotkan Kakak lagi," ucap Hanum tiba-tiba, suaranya datar namun tegas.
Deg!
Alvaro tercekat. Roti yang baru saja hendak ia kunyah terasa hambar. Ia hanya bisa mengangguk pasrah tanpa kata. Ia sadar sepenuhnya bahwa Hanum sedang membangun benteng pertahanan dan mode menghindar.
Si kembar, Aliya dan Adiba, saling lirik. Mereka bisa merasakan ada tegangan tinggi di meja makan itu. Sementara itu, Tuan Sanjaya menghela napas panjang. Matanya yang tajam menangkap kegelisahan di wajah putra angkatnya.
Setelah Hanum berangkat ke kantor dan benar-benar pergi bersama sopir, sedangkan si kembar berangkat ke sekolah diantar oleh supir juga. Tuan Sanjaya memberi isyarat agar Alvaro mengikutinya ke ruang perpustakaan.
"Alvaro, apakah telah terjadi sesuatu antara kamu dengan putriku?" tanya Tuan Sanjaya langsung ke inti permasalahan.
Alvaro menarik napasnya panjang, lalu menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Tentang perasaannya yang terpendam lebih dari lima belas tahun itu, pengakuannya di Lembang, hingga pelarian Hanum tadi malam.
"Jadi kau ditolak oleh Hanum? Benar begitu?"
"Sepertinya begitu, Pah. Setelah aku menyatakan perasaanku, Hanum malah pergi dan sekarang mencoba menghindari ku," jawab Alvaro penuh penyesalan.
Tuan Sanjaya terdiam sejenak, menatap deretan buku di depannya. Dalam hatinya, ia tetap pada pendiriannya, dimana hanya Alvaro yang pantas mendampingi Hanum dan menjaga masa depan Sanjaya Grup. Ia harus mencari cara agar putrinya bisa melihat ketulusan itu.
Tuan Sanjaya menepuk bahunya Alvaro dengan mantap, berusaha menguatkan pria yang sudah ia anggap anak kandungnya itu.
"Kau yang sabar menghadapi Hanum. Mungkin dia butuh waktu untuk mencerna semua ini setelah trauma masa lalunya. Tapi Papah yakin, lambat laun ia akan menerimamu di sisinya," ucap Tuan Sanjaya bijak. "Sekarang, fokuslah pada rencana besok. Ini adalah hari besar yang sangat diharapkan Hanum. Setelah pengangkatan Presdir selesai, kita bahas lagi soal kalian. Sekarang pergilah ke perusahaan, temani Hanum. Dia sangat membutuhkanmu di sisinya, meski dia tidak mengakuinya."
Alvaro mengangguk patuh. Kalimat terakhir Papahnya memberinya sedikit harapan. Dengan semangat yang dipaksakan, ia bergegas pergi menuju kantor, siap menjadi bayangan pelindung Hanum sekali lagi, tak peduli apakah Hanum akan menoleh padanya atau tidak.
Bersambung...
maaf ya thor aku baru baca lg karna jagoan aku demam jd baru sempet baca lg bkn numpuk bab ya othor yg baik
Alvaronya g' mau ma aq sich...🤣🤣