Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.8 cincin yang melingkar di jari manis
Pagi ini ada jadwal rapat yang di pimpin Dimas sendiri, semua perwakilan departemen sudah masuk dan duduk di dalam ruang rapat yang sangat dingin itu dengan pencahayaan lampu neon yang tajam dan juga aroma kopi panas yang masih mengeluarkan asap mengepul itu sangat menggugah selera untuk menyeruputnya.
Dimas mulai membuka rapat dengan memaparkan semua konsep arsitektur renovasi proyek yang baru. Selain sebagai pimpinan, Dimas juga seorang lulusan sarjana arsitek jadi dia punya pengetahuan juga tentang arsitek.
Ratih yang duduk di seberang sebagai perwakilan departemen finansial mencoba untuk fokus pada beberapa dokumen yang ada di hadapannya itu tapi tatapan mata Dimas sering kali menganggu konsentrasinya.
Secara tidak sengaja pandangan Dimas sering tertuju pada jari Ratih yang memainkan sebuah pulpen di tangannya.
Sinar lampu neon di dalam ruang rapat itu memantul pada sebuah benda kecil yang ada di jari manis tangan kiri Ratih, sebuah berlian berpotongan emerald yang elegan dan terkesan sangat mahal melingkar di sana.
Dimas terdiam sesaat di tengah-tengah dia membawakan presentasinya ," apa ada masalah dengan bagian ini pak Dimas?" tanya seorang rekan Ratih yang melihat Dimas tiba-tiba saja menghentikan presentasinya itu memecah keheningan yang canggung.
Dimas sedikit tersentak tapi dia berusaha untuk mengembalikan kesadarannya ," tidak ada,hanya sedikit gangguan teknis saja di pikiran saya dan saya rasa presentasi kali ini cukup sampai di sini," ucap Dimas sambil menutup laptopnya dengan sedikit kasar.
Ratih merasa ada yang sedikit aneh dari sikap Dimas yang tiba-tiba saja mengakhiri rapat itu tapi dia berusaha untuk tidak ingin tahu lebih lanjut.
Satu persatu semua peserta rapat keluar meninggalkan ruang rapat itu dan terakhir tinggal Ratih yang masih sibuk merapikan beberapa dokumen yang di bawanya tadi.
Di dalam ruang rapat itu hanya tinggal mereka berdua Ratih dan Dimas. Perlahan Dimas beranjak dari tempatnya berdiri tadi dan berjalan menghampiri Ratih yang hendak pergi keluar dari ruang rapat tersebut.
"Cincin yang bagus," suara Dimas terdengar hambar ada rasa pahit yang dia sembunyikan.
Ratih tersentak, refleks dia langsung menyembunyikan tangan kirinya ke bawah meja.
"Terimakasih. Regan memberikannya sebulan yang lalu," ucap Ratih.
"Regan," Dimas mengulang nama itu seolah itu adalah racun."Dia pasti....pria yang mampu di bandingkan dengan aku yang dulu tidak pernah bisa membelikan kamu makan malam yang layak," ucap Dimas menahan kegetiran di dalam hatinya.
Ratih sempat terdiam, sesaat dia melihat raut wajah Dimas yang menahan sebuah kekecewaan yang mendalam. Tapi hati Ratih tidak luluh sedikitpun, kekecewaan yang dia rasakan selama sepuluh tahun ini cukup membuat hatinya membatu untuk Dimas.
"Asal kamu tahu Dimas, cincin ini bukan soal harga. Tapi sebuah komitmen. Komitmen yang kamu tinggalkan sepuluh tahun yang lalu," ucap Ratih dengan suara bergetar.
Dimas tertawa kecil, tawa yang penuh luka, "komitmen? Atau keamanan? dari dulu kamu selalu takut akan ketidakpastian, Ratih. Cincin itu seperti sebuah borgol emas di mataku."
Dimas pergi meninggalkan ruang rapat itu tanpa menoleh ke belakang lagi di mana Ratih masih terpaku di tempatnya berdiri.
Ratih terdiam mendengar perkataan Dimas, sejenak dia memperhatikan cincin pemberian dari Regan itu dan memang benar cincin itu telah mengikatnya untuk menjadi seseorang yang harus patuh dengan semua aturan dari pihak yang berkuasa di mana keluarga Regan yang selalu memberikan tekanan pada Ratih karena mereka sudah memberikan bantuan pada ayah Ratih dari kebangkrutan usahanya.
Ratih menghela nafas panjang yang terasa sangat berat, bayangan Dimas yang menghilang di balik pintu meninggalkan rasa hampa yang lebih menyakitkan daripada kemarahan Regan.
Dari balik jendela kaca ruang kantornya Dimas melihat Ratih yang sedang berjalan menuju ke arah ruang kantor departemen finansial ruangan kerja Ratih.
Dimas menghela nafas dalam-dalam sambil terus mengawasi Ratih yang sedang berjalan melewati ruangannya itu. Hatinya terasa sangat sakit setelah melihat cincin tunangan yang melingkar di jari manis Ratih.
"Ternyata ini alasan Ratih tidak menjawab surat yang aku kirimkan padanya sepuluh tahun yang lalu itu," mata Dimas tajam menatap ke luar dari kaca jendelanya.
Ratih sudah menghilang dari pandangan matanya.
Langkah Ratih terhenti di depan pintu ruang kantornya sesaat dia menatap pintu ruang kantor Dimas sebelum dia masuk ke dalam ruangannya. Getir yang terasa di dalam hatinya.
"Eh Rat, kamu kok baru sampai. Perasaan rapatnya sudah selesai dari tadi dan semua orang juga sudah pada kembali dari ruang rapat, tapi kamu...kok baru nyampai," Cindy menatap Ratih penuh selidik.
"Aku tadi masih membereskan dokumen-dokumenku," Ratih meletakkan dokumen-dokumen yang di bawanya tadi ke atas meja kerjanya.
"Rat," Cindy menggeser kursinya lebih mendekat ke arah Ratih berkata dengan wajah serius.
"Ya," Ratih menoleh pada Cindy yang sepertinya sangat penting.
"Kamu tadi ngobrol sama pak Dimas kan? Makanya kamu keluar ruang rapat paling terakhir," Cindy menatap Ratih tajam.
Ratih menipiskan bibirnya tidak memberikan komentar pertanyaan Cindy tadi.
Tapi Cindy tidak berhenti disitu saja, dia kembali berkata pada Ratih sambil mengerutkan keningnya," sepertinya pak Dimas itu suka sama kamu deh Rat."
"Kamu ini ada-ada saja Cin, gak mungkin lah dia suka sama aku lagian aku kan udah punya tunangan," ucap Ratih yang kembali fokus pada lap top di hadapannya.
"Halah.... jangankan tunangan. Orang sudah menikah saja bisa di libas kalau sudah cinta mati," Cindy mendongakkan wajahnya menatap Ratih yang masih fokus pada laptop-nya.
"Apa sih. Sudah gak usah bahas itu lagi, aku mau kerja," Ratih sedikit terusik dengan perkataan Cindy yang membuat hatinya jadi gamang.
...****************...
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore ini, waktunya pulang kerja dan seperti biasa Ratih dan Cindy segera merapikan meja kerja mereka.
Di halaman depan gedung kantor terlihat Ratih dan Cindy sedang berdiri menunggu jemputan yang akan mengantarkan mereka pulang.
"Rat, kamu di jemput sama Regan?" tanya Cindy.
"Iya," jawab Ratih.
"Aku nebeng ya, soalnya pacarku gak bisa jemput dia ada acara kantor ke luar kota," Cindy menjelaskan pada Ratih.
"Boleh, tapi eh ini Regan kirim pesan ke aku kalau dia tidak bisa jemput juga sekarang karena ada rapat mendadak katanya," Ratih menatap Cindy mengangkat kedua alisnya.
"Ya sudah kita naik grab aja," usul Cindy yang di setujui oleh Ratih.
"Kalian ikut aku saja," tiba-tiba terdengar suara Dimas yang sudah berdiri di belakang Ratih dan Cindy.
Ternyata Dimas mendengar perbincangan mereka saat dia hendak melintas di jalan tempat Ratih dan Cindy berdiri.
"Gak usah. Kita naik grab saja," Ratih menolak dengan tegas membuat Dimas sedikit kaget.
"Oke. Kalau memang gak mau di kasih tumpangan, jangan lupa kalau hari ini semua para driver online sedang demo, kalian tunggu saja sampai demo nya selesai," suara Dimas terkesan mencibir.
"Aduh pak Dimas....kalau begitu kita mau deh numpang ke mobil pak Dimas," ucap Cindy dengan gayanya yang manja.
"Cindy." Ratih menatap Cindy tajam, dia tidak suka dengan keputusan Cindy barusan.
"Rat, kamu mau menunggu grab sampai pagi hah? kan tadi sudah di kasih tau pak Dimas kalau hari ini ada demo driver online," Cindy berkata dengan kesal pada Ratih.
Tanpa pikir panjang Cindy langsung menarik lengan Ratih dan masuk ke dalam mobil Dimas yang sudah siap di depan mereka.
Cindy dan Ratih duduk di kursi tengah.
Dimas tersenyum samar menatap Ratih dari kaca mobil yang tergantung di hadapannya, dia melihat raut wajah Ratih yang sedang kesal karena terpaksa menuruti kemauan Cindy sahabatnya.