NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:218.6k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Yuda dan Ning selesai makan pagi dengan perut hangat dan suasana yang lebih hangat lagi. Sinar matahari masuk dari celah jendela dapur kecil itu, memantul di lantai semen yang bersih walau sudah kusam.

"Biar Mas ikut nyuci piring," kata Yuda seraya ikut berdiri saat Ning memberesi meja makan kecil mereka.

"Enggak papa. Ning bisa kok," jawab gadis itu.

"Bisa apa?"

"Beresin ini sendiri, Mas."

Yuda tercenung, "Kamu biasa lakuin ini sendirian?"

Ning mengulas senyum, lalu mengangguk. "Kata ibu, apa-apa harus ada timbal baliknya. Selama ini mereka udah ngidupin Ning sampai sebesar ini. Jadi, hal kek gini biasa aja. Cuma ini yang Ning bisa lakukan buat balas," terang gadis itu ringan. Tanpa beban apapun. Namun, sukses membuat darah Yuda membeku.

Gadis di sampingnya ini positif vibes sekali. Ia yang awalnya kesal karena jelas tau Ning hanya dimanfaatkan, dan dimanipulasi, kini malah berangsur mengendur. Lalu tersenyum, "Mulai sekarang, enggak sendiri lagi."

Ucapan Yuda terasa sederhana. Tapi, membawa senyum di wajah teduh itu. Mereka mencuci piring bersama, sesekali saling membercandai satu sama lain.

Piring-piring bekas sarapan sudah tersusun rapi di rak. Bak cuci juga sudah bersih.

"Nah, karena udah selesai, kita pergi sekarang!" seru Yuda bersemangat. Ning tersenyum.

“Mas, Ning ganti baju dulu,” ucapnya pelan. "Yang ini basah."

Yuda mengangguk sambil mengelap meja. “Iya. Santai aja.”

Ning masuk kamar. Ia membuka lemari, menatap deretan baju yang tadi malam ia susun dengan hati-hati. Tangannya berhenti pada satu gamis sederhana berwarna krem pucat. Warnanya sudah tidak secerah dulu, tapi itu yang paling rapi. Yang paling ia sayang.

Ia mengenakannya perlahan, memastikan jilbabnya rapi, lalu bercermin. Wajahnya terlihat lebih cerah, meski baju itu jelas bukan baru. Ning menarik napas, mencoba percaya diri, lalu keluar kamar.

"Udah?" Yuda mendongak. Seketika ia terdiam.

Ning mengangguk.

"Pa—kai— itu?" pandangannya memindai Ning.

Ning mengangguk lagi. “Ini… baju dari Ayah,” ucapnya, "dulu Ayah kasih masih baru."

Yuda tersenyum kecil, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa terenyuh. Ia tahu betul, baju ini pasti punya cerita. “Ayo.”

Mereka keluar rumah. Yuda mengunci pintu, lalu mengajak Ning naik motor.

"Ning bisa bawa sendiri kok, Mas," ujar Ning kala Yuda mengambil Kruk dan menyimpannya di depan.

"Mulai sekarang, udah ada Mas. Enggak ada cerita bisa sendiri. O iya, satu lagi..." Yuda menatap gadis itu, "Biasakan bilang tolong. Mas bakal langsung datang," sambungnya dengan senyuman.

Ning menunduk, menyembunyikan senyum malu-malu.

Awalnya jalanan biasa saja, sampai Ning sadar arah yang mereka tuju terasa asing.

“Mas…” Ning mencengkeram jaket Yuda. “Kita mau ke mana?”

“Jalan-jalan,” jawab Yuda ringan.

Saat gedung-gedung tinggi mulai terlihat, Ning gelisah. Matanya membulat saat papan nama mal besar menjulang di depan mereka.

"Mas… kita mau ke sini?" tanyanya. Ia memang tidak pernah menapaki lantai mal.

"Iya, kenapa?"

"Enggak usahlah, Mas. di situ kita mau ngapain?"

"Namanya juga Mal, ya jalan-jalan, beli-beli," jawab Yuda ringan.

Ning gelisah, "Ummm... Ning enggak bawa uang," katanya.

Yuda terkekeh. "Mas bawa kok."

"Ke pasar ajalah, Mas."

"Lah tadi kan udah ke pasar."

"Di pasar juga bisa jalan-jalan, sama beli-beli. Mas mau beli apa?"

Yuda menahan gelinya, kentara sekali Ning yang gelisah itu.

"Baju."

"Di pasar juga ada baju. Lengkap, Mas."

Istrinya itu masih saja nego-nego an. Yuda jadi makin gemas.

"Di sini, bajunya enggak ada di pasar."

"Baju kan sama aja fungsinya, Mas."

Yuda mematikan motor di pinggir jalan. Ia menoleh, menatap Ning lembut.

"Kenapa enggak mau ke sana?"

Ning menunduk. "Di pasar aja. Di situ... Tempatnya bagus, pasti mahal."

"Pasti?"

"Ning emang belum pernah ke sana. Tapi... kata Mbak Dewi di sana mahal-mahal, bajunya enggak pantes dipake Ning."

Yuda tersenyum. Ia menyadari, lingkungan keluarga Ning enggak hanya toxic, tapi juga menghancurkan mental Ning dari kecil. "Udah terlalu lama kamu di sana... Terlalu banyak menelan doktrin 'kamu tak pantas'. Pelan-pelan aku akan naikin kepercayaan dirimu, dan kamu memang seorang yang lebih dari pantas, Ning." Ucapan ini, bergaung di kepala Yuda saat itu.

“Kita ke sana.” Ia menunjuk deretan toko di emperan jalan, tak jauh dari mal.

Ning tampak lebih lega. "Mas mau beli baju apa?"

"Gamis."

"Gamis? Mas mau pakai gamis?"

Yuda tertawa pelan. "Boleh?"

"Itu kan pakaian perempuan..." Ning agak cemberut.

"Ya udah, gamisnya buat kamu. Mas yang belikan."

Wajah Ning berubah.

"Kamu istri Mas. Jadi, Mas harus belikan kamu baju."

"Ning masih punya baju kok."

"Itu kan bukan dari Mas. Suami itu, harus kasih istri baju. Nah, sekarang, kamu pilih! Ayo!"

Pipi Ning memerah, ini pertama kalinya, dia disuruh milih baju untuk dirinya sendiri.

Di toko itu, baju-baju digantung rapat. Ning menyentuh kain-kain itu dengan mata berbinar.

Yuda mengangguk, tapi ia ingat betul, saat mereka masuk, tatapan penjaga toko langsung berubah. Dari ujung kepala sampai ujung kaki Ning dipandangi, lalu diabaikan. Dan Yuda tak suka.

“Mas…” Ning berbisik, dengan mata berbinar mengangkat satu gamis warna abu-abu. "Ini bagus enggak?"

"Bagus."

"Ning mau beli ini, Mas."

"Itu kayaknya terlalu besar."

"Enggak papa, Mas." Ning terlihat senang sekali.

"Mbak!"

Tak ada penjaga toko yang menyahut.

"Mbak! Untuk baju ini, ada yang size lebih kecil?"

Yuda menahan diri. Tak ada usaha melayani.

"Mas! Udahlah yang ini aja. Lebih baik pake baju yang longgar.

"Enggak, enggak, enggak. Kita ke sini mau beli. Pake uang." Yuda mulai jengkel karena diabaikan.

Ia datangi satu penjaga toko yang pura-pura sibuk menata baju di hanger.

"Mas!"

Ning berusaha menyusul dengan bantuan kruknya.

"Ini... Ada size yang lebih kecil, enggak?"

"Enggak ada!" jawab si penjaga terdengar ketus.

Yuda makin jengkel.

"Mas..." Ning akhirnya berhasil menyusul.

“Sudah,” kata Yuda tiba-tiba, meletakkan kembali baju itu. “Kita pergi.”

Ning kaget. “Eh? Pergi? Tapi...”

"Kita cari toko lain. Masih banyak yang pelayanannya ramah." Yuda menarik tangan Ning.

"Eh, tapi Mas... Yang tadi itu bagus loh..."

"Ada yang lebih bagus....Mas tau tempatnya, pelayannya juga ramah," balas Yuda.

"Huh! Pembeli songong! Punya uang enggak seberapa saja, minta dilayani kayak raja," sindir si penjaga toko. Pelan, tapi masih terdengar di telinga Yuda.

Lelaki muda itu semakin jengkel, dia tertawa tanpa suara, tawa jengkel karna merasa si karyawan pasti tak tau siapa dia.

Yuda berhenti di depan toko. Lalu mengambil gawainya. Iya, gawai yang sejak semalam dia tahan untuk tak dikeluarkan, kini keluar juga karena terbawa emosi.

Ia menelepon seseorang, lalu menunggu beberapa menit sampai pemilik toko muncul.

"Mas Yuda!?"

Yuda tersenyum, masih senyum yang dia tahan dari rasa jengkelnya.

"Maaf Mas. Enggak nyangka Mas Yuda bakal mampir di toko ini."

Yuda tak pakai banyak basa basi. Dia langsung menunjuk Ning. "Dia istriku."

Pemilik toko itu tampak kaget.

"Kami lagi nyari gamis."

"Kami ada gamis, Mas Yuda." Pemilik toko itu memanggil salah satu pegawai, tapi bukan yang tadi. "Tolong pilihkan satu buat istrinya Pak Yuda ini," katanya.

"Oh, tidak! Tidak! Aku mau dia!" potong Yuda sambil menunjuk pegawai yang meremehkan tadi. "Aku mau dia yang melayani istriku."

1
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ceritanya kok smakin gak asik gini, knp hrs ning yg terapis kan banyak d9kter dkk nya, kok kesanya ning yg hrs dikorbankan, cerita apa ini, kok rmh tangga yuda dan ning yg hrs dirahasiakan in knp, aneh in cerita, mulek udh mulai gak asik, mau hapus ae
muthia
ibunya egois😭
nunik rahyuni
knp smasih saja di jadikan umpan...kasiankau ning...
klo tentang yuda apkh bukan ank kandung ya kok katanya pewaris sesungguhnya sdh sadar🤔🤔🤔🤔
dan apa yg di lakukan ortunya seolah2 g terlalu memikirkan perasaan kening dan yuda...🤔🤔🤔jd seolah olah yuda balas budi betul g ya
Arin
Nah kan semangat Ranu buat sembuh makin besar itu bagus.....
Tapi semangat dia itu karena jatuh cinta ke Ning yang mendorong untuk segera bangkit lagi. Mending kasih tau sekarang, daripada semakin dalam dia jatuh cinta ke Ning....
Sri Rahayu
wah gawat kl Ranu jatuh cinta sama Ning...nanti bisa berantem sama Yuda 🤩🤩🤩...tp cinta nya Ning kan buat Yuda😍😍😍...lanjut Thorr😘😘😘
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kasian yuda
nunik rahyuni
rasa rasanya kok sebel aq sm yuda sekelg..
ning ayo pulang kermh q saja jgn mqu sam yuda lg kli yuda g bisa tegas dan jujur
Agunk Setyawan
anggun ini orang tua egois
mama
sumpah,..aq berharap setengah kebohongan terungkapkan ning pergi jauh biar anggun dan Yuda kelimpungan nyari.. klu perlu yg jauuuh sekalian ning..biar Yuda kepook,greget sm author ny juga dari kmrin gantung ajj ni cerita gk ndang sat set,.kmrin aj soal pk tio sat set sekarang makin kesini mkin greget
Sri Rahayu
kamu hrs ngomong ma mama mu Yuda...Ning istri mu tdk bisa terus menerus mengurus Ranu....mama nya jg gitu....uda saatnya kshtau Ranu kl Ning istrinya Yuda 🙃🙃🙃...lanjut Thorr😘😘😘
Ma Em
Mama Anggun juga Yuda lbh baik bilang terus terang sama Ranu bahwa Ning adalah salah strinya Yuda ,daripada ditutupi malah nanti Nanti malah jadi ribet .
sutiasih kasih
mm anggun... gmn sih... kn ning sdh mnikah... dan suami ning jg ankmu...
jujurlah mulai skrg mm anghun n yuda... jgn lah kalian jdikn ning umpan...
ranu jga jdi manusia kok g tau diri... klo mau smbuh kn g harus sll ning yg mndampingi terapi...🙄🙄
Nana Geulise
mama anggun salah kalau tetap menyembunyikan semuanya terhadap ning..jgn muntang2 ranu br bangun dr koma yuda dan ning yg menderita.yuda juga harus jujur kalau g mau kehilangan ning..
Arin
Mama Anggun-Yuda cobalah jujur. Apa perlu Ning yang kasih tau Ranu tentang status Ning dan Yuda. Ranu dulu cuma kasih pesan cari orang yang telah di tabrak karena merasa bersalah. Kalau sekarang Yuda menikahi Ning apa salahnya???
bibuk Hannan & Afnan: iya ih gregettttt gemesh banget sama mama Anggun dan Yudha knp gak jujur aja sedari awal Ranu sadar dr koma wkt ngenalin Ning dgn status yg sebenarnya klo Ning istrinya Yudha,
ini kak othornya pinter banget dah ahhhh bikin para reader penasaran gregettttt,
total 1 replies
Asiu Asiu
bikin ning nya pergi ninggalin yuda .
setelah ning tahu ning hamil anak yuda.
ning kecewa sama yuda karna tidak bisa tegas sama ranu juga mama nya...
sunaryati jarum
Jadi males baca
sunaryati jarum
Sekali lagi jika rumah tangga Ning dan Yuda hancur emak kecewa , padahal Ning sudah memberi signal tidak suka pada Ranu
nunik rahyuni
kok g lekas hamidun aja sih si ning..muak aq sm si ranu+ortu ny...si yuda jg..klo memang sayang dan cemburu knp jg mendorong istrinya dekat2 ranu...mudahan ning pinter dan peka klo cuma di manfaatkan j sm mertua buat kesembuhan ranu..minggat j ning...seolah olah kmu g punya harga diri...g usah lg diurusi si ranu..harusnya ranu seklg minta maaf karena membuat ning pincang..lha ini yg jd korban malah suruh merawat pelaku ...error kan 🤔🤔🤔dan pergi jauh j mereka g menghargai perasaanmu...
nunik rahyuni
ning dan ranu statusnya ipar..buka. muhrim harusnya tau batasan ..knp g mencari terapis yg lain..dr awal sdh bisa di tebak klo ning yv jd terapis bgaimana kelanjutanya..ning itu istri yuda...seolah olah mereka justru mendorong ning agar berhub sm ranu..knp...?dan yuda knp setuju..kan jd nya kebodohan masal..seklg bodoh..mau mempermainkan ning cm buat ranu sembuh..banyk cara lain kok...satu kebohongan yg melahirkan banyak kebohongn lainya...kebenaran terkadang menyakitkan tp itu yg terbaik untuk memutus rantai kebohongan.😡😡
Arin
Udahlah Yuda.... lupakan soal Ranu. Jelaskan lah nanti padanya. Yang penting jagalah keutuhan rumah tangga mu..... Apa Ranu juga masih mau bersama Ning, jika tau Ning sudah menikah? Apa Ranu mau menyakiti hati adiknya sendiri, hanya demi bisa bersanding dengan Ning?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!