Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI ATAS SAJADAH CINTA
Pagi di Jakarta terasa begitu cerah, seolah alam semesta ikut merayakan kepulangan Clarissa. Namun bagi Adrian, hari ini adalah hari yang lebih mendebarkan daripada final pertandingan basket tingkat nasional mana pun yang pernah ia jalani. Di dalam saku kemeja batiknya, terdapat sebuah kotak beludru kecil yang telah ia persiapkan dengan doa-doa panjang di setiap sepertiga malamnya selama di Singapura.
Adrian telah meminta izin khusus kepada Pak Gunawan untuk mengajak Clarissa ke sebuah tempat yang sangat berarti bagi perjalanan mereka: Masjid Kampus Universitas Nusantara. Tempat di mana Clarissa pertama kali meneteskan air mata tobatnya, dan tempat di mana Adrian diam-diam jatuh cinta pada keberanian wanita itu untuk berubah.
Langkah Pertama di Koridor Kampus
Clarissa turun dari mobil dengan langkah anggun. Ia mengenakan gamis berwarna _broken white_ dengan jilbab lebar berwarna _dusty rose_. Di jari manisnya, cincin komitmen yang Adrian berikan semalam berkilau pelan. Saat mereka berjalan melewati koridor, suasana kampus seketika riuh. Banyak mahasiswa yang berhenti melangkah, menatap Clarissa dengan pandangan takjub.
Tidak ada lagi tatapan sinis. Kedamaian yang terpancar dari wajah Clarissa seolah membungkam semua prasangka masa lalu.
"Kamu gugup, Sayang?" bisik Adrian saat menyadari jemari Clarissa sedikit bergetar.
"Sedikit," jawab Clarissa jujur. "Aku cuma nggak nyangka bisa balik ke sini lagi dengan perasaan setenang ini. Terima kasih ya, Adrian, karena nggak pernah lepasin tangan aku."
Setelah melaksanakan salat sunah syukur bersama di saf yang terpisah oleh tabir, Adrian meminta Clarissa untuk menunggunya di selasar masjid yang menghadap ke taman asri. Suasana sangat tenang, hanya terdengar suara gemericik air pancuran wudu dan kicauan burung.
Adrian mendekat, wajahnya tampak sangat serius namun teduh. "Clarissa," panggilnya.
Clarissa menoleh, ia melihat Adrian berdiri dengan posisi tubuh yang sangat tegak, memancarkan wibawa seorang pria yang sudah matang oleh ujian.
"Selama di Singapura, aku belajar bahwa hidup itu sangat singkat. Aku sudah lihat kamu di titik paling rapuh, dan aku juga sudah lihat kamu bangkit sebagai pejuang. Aku nggak mau nunggu sampai kita lulus hanya untuk meresmikan niat baik aku."
Adrian perlahan mengeluarkan kotak beludru itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan mata berlian tunggal yang sederhana namun sangat elegan.
"Clarissa Mahendra, di depan masjid ini, tempat di mana Tuhan mempertemukan hati kita dalam hidayah... aku, Adrian Pratama, ingin meminta izinmu untuk menjadi imammu. Aku ingin menjagamu, bukan hanya sampai kamu benar-benar sembuh, tapi sampai kita bertemu lagi di surga-Nya."
Adrian menjeda kalimatnya, matanya berkaca-kaca. "Kamu mau menikah dengan aku? Kita tunangan dulu secara resmi, dan setelah sidang skripsi nanti, aku akan langsung membawamu ke pelaminan."
Air mata Clarissa luruh tanpa bisa dicegah. Ia menatap cincin itu, lalu menatap pria yang selama ini menjadi oksigen bagi jiwanya. Ia teringat betapa kotornya ia dulu, dan betapa sucinya cara Adrian mencintainya sekarang.
"Adrian... kamu tahu kan aku belum tentu bisa memberikan keturunan dengan cepat karena efek kemoterapi? Kamu tahu kan aku masih punya risiko untuk sakit lagi?" tanya Clarissa, suaranya bergetar hebat.
Adrian tersenyum, ia melangkah satu langkah lebih dekat. "Sayang, aku nggak cari pabrik anak. Aku cari teman ibadah. Kalaupun nanti Allah nggak kasih kita keturunan, memiliki kamu di samping aku sudah lebih dari cukup. Soal sakit... bukankah kita sudah janji akan hadapi bareng-bareng?"
Clarissa mengangguk mantap di balik isak tangis bahagianya. "Iya, Adrian. Aku mau. Aku mau jadi makmum kamu selamanya."
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, Pak Gunawan dan Bastian berdiri menyaksikan momen itu. Bastian tampak menghapus sudut matanya yang basah, sementara Pak Gunawan tersenyum bangga. Mereka sengaja datang menyusul untuk memberikan kejutan.
"Ehem! Jadi, kapan kita harus mulai pesan gedung?" suara Bastian memecah suasana haru tersebut.
Clarissa terkejut dan langsung bersembunyi di balik pundak Adrian karena malu. Pak Gunawan melangkah mendekat dan menepuk bahu Adrian.
"Adrian, Papa sudah dengar semuanya dari Bastian. Papa restui niat kalian. Jaga mutiara Papa ini baik-baik. Dia sudah melewati banyak hal, dan Papa senang pria itu adalah kamu."
"Terima kasih, Pa," jawab Adrian tulus. Ia menyematkan cincin itu di jari Clarissa, menggantikan cincin perak sebelumnya. Kini, ikatan itu terasa jauh lebih kuat dan sakral.
Sore harinya, sesuai janji, Adrian membawa Clarissa ke rumahnya. Ibu Adrian, seorang wanita bersahaja dengan jilbab instan, sudah menunggu di depan pintu. Clarissa merasa sangat tegang, takut jika masa lalunya akan menjadi penghalang.
Namun, saat Clarissa turun dari mobil, Ibu Adrian langsung menghambur memeluknya. "Ini ya Clarissa yang diceritain Adrian terus? Masya Allah, cantik sekali nak. Terima kasih ya sudah mau nemenin anak Ibu berubah jadi lebih baik."
Clarissa tertegun. Tidak ada penghakiman. Tidak ada pertanyaan soal masa lalu. Yang ada hanyalah pelukan hangat seorang ibu yang menerima calon menantunya dengan tangan terbuka.
"Ayo masuk, Ibu sudah masak rendang kesukaan Adrian, tapi Ibu buat pedasnya sedikit saja karena kata Adrian kamu belum boleh makan yang terlalu pedas," ujar Ibu Adrian sambil menggandeng tangan Clarissa.
Malam itu, di meja makan sederhana keluarga Adrian, Clarissa merasakan kebahagiaan yang lengkap. Ia menyadari bahwa ketika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Tuhan, maka Tuhan akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.