Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah Dingin
Ario mengangguk. Ia mulai mengetikkan perintah di laptopnya, menggunakan protokol keamanan tingkat tinggi untuk menyebarkan "bom waktu" digital ke berbagai penjuru.
"Aku sudah mengatur pengiriman otomatis ke lima media internasional utama jika terjadi sesuatu pada kita dalam 24 jam ke depan," ujar Ario. "Dia tidak bisa lagi membunuh kita untuk menghentikan ini. Jika kita mati, rahasianya akan meledak di seluruh dunia."
Helen berdiri, berjalan menuju cermin kecil yang retak di dinding kontrakan. Ia melihat wajahnya sendiri. Ia melihat daster lusuh yang ia kenakan. Ia melihat kemiskinan di sekelilingnya.
"Tante Beatrix mengira kemiskinan akan membuatku lemah," ucap Helen sambil menyisir rambutnya dengan jari. "Tapi dia salah. Kemiskinan memberiku satu hal yang tidak dia miliki: kejernihan untuk melihat siapa musuhku yang sebenarnya."
Helen mengambil sebuah foto Dewi Kusuma yang ia simpan di dalam dompetnya yang tipis. Ia mencium foto itu perlahan.
"Ma... Pa... sebentar lagi," bisiknya. "Dia akan segera merasakan dinginnya lantai penjara, atau panasnya api yang dia sulut sendiri."
Malam itu, di tengah kumuhnya Jakarta, sebuah revolusi kecil dimulai. Helen dan Ario tidak lagi bersembunyi. Mereka adalah pemburu yang sedang memojokkan mangsanya di puncak menara kaca. Beatrix mungkin memiliki uang dan kekuasaan, namun Helen memiliki kebenaran yang kini menjadi belati yang siap menghujam jantung pengkhianatan.
Hujan di luar mulai reda, meninggalkan keheningan yang mencekam. Di pusat kota, lampu-lampu Menara V.A. Nordic berkedip-kedip gelisah, seolah-olah gedung itu sendiri tahu bahwa fondasinya kini berdiri di atas tanah yang sedang runtuh. Peperangan terakhir telah dimulai, dan kali ini, tidak akan ada ampun bagi mereka yang telah menumpahkan darah orang-orang tak berdosa.
****
Pagi di Jakarta tidak pernah terasa sesunyi ini bagi Beatrix van Amgard. Di dalam ruang kerjanya yang luas di lantai 30, suara detak jam dinding mekanik terdengar seperti dentuman palu hakim yang menghujam jantungnya. Untuk pertama kalinya, AC sentral yang biasanya memberikan kesejukan mewah terasa seperti angin kutub yang membekukan darahnya.
Di atas meja marmernya, tumpukan surat kabar nasional dan tablet digital menampilkan tajuk utama yang seragam: "SKANDAL V.A. NORDIC: JEJAK DARAH DI BALIK KERAJAAN TEKSTIL". Foto masa mudanya saat masih menjadi asisten Aditya Kusuma terpampang bersisian dengan dokumen medis yang bocor. Di media sosial, tagar #KeadilanUntukDewi dan #BoikotVANordic merajai percakapan dunia maya.
"Nyonya..." suara Bambang bergetar saat ia masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu. Wajahnya pucat pasi, peluh sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya. "Dewan komisaris dari Eropa baru saja memutuskan... mereka membekukan posisi Anda sebagai CEO sementara penyelidikan internal dilakukan. Dan... pihak kepolisian sudah berada di lobi."
Beatrix tidak menoleh. Matanya yang tajam dan berkilat seperti mata elang yang terluka terus menatap lurus ke arah jendela, memandangi gedung-gedung yang seolah kini mengecil di bawah kakinya.
"Membekukan?" bisik Beatrix. Suaranya rendah, hampir seperti desisan ular. "Mereka pikir mereka bisa membangun takhta ini tanpa aku? Mereka pikir mereka bisa mencuci tangan setelah menikmati miliaran dolar yang aku curi untuk mereka?"
Tiba-tiba, Beatrix berbalik. Kekacauan terlihat jelas di wajahnya. Rambutnya yang biasanya tertata sempurna kini mulai terurai, dan ada kegilaan yang menari di matanya. Ia menyambar gelas kristal berisi wiski dan melemparkannya ke arah layar televisi yang sedang menyiarkan berita tentang dirinya.
Buaarrr!
Layar itu meledak, memercikkan bunga api listrik. "INI SEMUA KARENA ANAK KECIL ITU!" raung Beatrix. "Helen... dia pikir dia bisa menghancurkanku dengan potongan kertas dan rekaman suara? Dia pikir dia sudah menang karena aku kehilangan gelar CEO-ku?"
Beatrix melangkah mendekati Bambang, mencengkeram kerah kemeja pria itu hingga napasnya tersengal. "Aku tidak peduli dengan polisi di bawah. Aku tidak peduli dengan komisaris-komisaris pengecut itu. Aku masih punya uang tunai di brankas rahasia dan aku masih punya jaringan di bawah tanah."
Wajah Beatrix mendekat ke wajah Bambang, aromanya yang wangi parfum mahal kini bercampur dengan bau alkohol yang tajam. "Bawa semua tim cadangan. Tidak ada lagi penangkapan untuk dibawa ke hadapanku. Aku tidak butuh melihat wajahnya lagi. Temukan kontrakan busuk mereka di Tambora. Bakar tempat itu dengan mereka di dalamnya. Jika mereka lari, tembak di kepala. Aku ingin mereka berdua mati sebelum matahari terbenam hari ini. LAKUKAN!"
****
Di sisi lain kota, di dalam kontrakan sempit yang pengap, Helen Kusuma dan Ario Diangga sedang memandangi layar laptop yang menunjukkan kekacauan di bursa saham. Ada rasa puas yang pahit di hati Helen melihat wanita yang menghancurkan hidupnya kini mulai merangkak di bawah bayang-bayang hukum.
"Satu per satu kartu domino itu jatuh, Ario," bisik Helen. Ia merasa lelah, sangat lelah, namun ada api yang terus menjaganya tetap terjaga.
Ario, yang sedang memeriksa senjata api jenis Glock yang berhasil ia dapatkan dari koneksi lamanya, tiba-tiba berhenti. Telinganya yang terlatih menangkap suara yang tidak wajar di luar. Suara derit ban mobil yang berhenti mendadak di ujung gang, dan suara langkah kaki yang berat namun berusaha diredam.
"Helen, tiarap!" teriak Ario.
Detik berikutnya, jendela kaca kontrakan mereka hancur berkeping-keping oleh rentetan peluru senapan mesin. Tratatatata!
Helen berguling ke lantai, menutupi kepalanya dengan tangan. Debu dari dinding triplek yang hancur memenuhi udara, membuat napasnya sesak. Bau mesiu segera menggantikan bau apek ruangan itu.
"Mereka di sini!" seru Ario sambil membalas tembakan dari balik lemari kayu tipis. "Beatrix sudah kehilangan akal sehatnya! Dia tidak lagi peduli dengan hukum, dia hanya ingin kita mati!"
"Kita harus keluar dari sini, Ario!" Helen berteriak di tengah kebisingan tembakan.
"Lewat atap!" Ario menarik tangan Helen menuju dapur sempit mereka. Di sana ada sebuah lubang kecil menuju plafon. Ario membantu Helen naik lebih dulu. Saat Helen sudah berada di atas, ia melihat dari celah genteng: setidaknya tiga mobil hitam telah mengepung gang sempit itu. Belasan pria bersenjata lengkap dengan penutup wajah mulai merangsek masuk ke rumah-rumah warga tanpa ampun.
"Ario, cepat!" Helen mengulurkan tangannya.
Ario melompat naik tepat saat pintu depan kontrakan mereka didobrak hancur. Dua bom asap dilemparkan ke dalam ruangan bawah, memenuhi kontrakan itu dengan gas yang menyesakkan.
****
Mereka merangkak di atas atap-atap seng yang panas dan rapuh. Suara tembakan terus menggema di bawah mereka, diikuti oleh teriakan histeris warga Tambora yang ketakutan. Helen melihat dari atas bagaimana orang-orang suruhan Beatrix menendang pintu-pintu rumah warga, mencari keberadaan mereka seolah sedang berburu binatang.
"Di sana! Di atas atap!" salah satu pengejar berteriak setelah melihat gerakan mereka.
Peluru-peluru mulai menghantam seng di sekitar kaki mereka. Helen merasakan panasnya logam yang menyerempet betisnya. Ia tidak merasakan sakit, hanya adrenalin yang memacu jantungnya hingga terasa ingin meledak.
"Jangan berhenti, Helen! Terus lari ke arah stasiun!" perintah Ario.
Mereka melompat dari satu atap ke atap lain, menembus jemuran pakaian warga dan antena televisi yang berkarat. Di belakang mereka, Bambang memimpin pengejaran. Wajahnya yang biasanya tenang kini penuh dengan kebencian. Ia tahu jika ia gagal membunuh Helen hari ini, Beatrix akan membunuhnya besok.
"Kepung stasiun kereta api! Jangan biarkan mereka naik ke gerbong mana pun!" teriak Bambang melalui HT.