Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu yang tertahan
Esok harinya, Senja sudah bersiap di asrama putri. Seragam sekolahnya rapi, jilbab putih menutup wajah yang tampak muram.
Teman-temannya sibuk bercanda sambil merapikan tas, tapi Senja hanya duduk diam di tepi ranjang. Matanya kosong, semangatnya hilang.
Sudah hampir satu bulan, Langit, suaminya, tidak memberi kabar. Tidak ada telepon, tidak ada pesan. Aturan di asrama membuat Senja tidak boleh pegang ponsel. Harapannya hanya satu: mungkin Langit akan menghubungi lewat Abah atau Ummi. Tapi nyatanya, sepi.
Nadin melirik Senja sambil mengikat rambutnya.
“Kenapa murung banget? Kamu sakit?”
Senja menggeleng pelan. “Enggak… cuma lagi nggak mood.”
Lulu ikut nimbrung, suaranya setengah bercanda.
“Pasti kangen suami, ya?”
Senja tersenyum tipis, tapi senyum itu cepat hilang.
“Iya… udah lama nggak ada kabar.”
Hana mendekat, meraih tangan Senja.
“Langit pasti sibuk. Kamu sabar aja. Nanti juga dia telepon.”
Senja menghela napas panjang. “Semoga.”
Langkahnya terasa berat saat keluar dari kamar menuju sekolah. Di setiap langkah, hatinya berbisik: Kenapa kamu nggak ngabarin aku, Langit? Aku kangen…
Sementara itu, jauh di Australia, Langit juga nggak kalah pusing. Tugas kuliah numpuk, deadline mepet, dosen killer, semuanya bikin kepalanya mau pecah.
Langit duduk di kamar kosnya, rambut berantakan, laptop terbuka dengan puluhan tab. Tangannya sibuk mengetik, tapi pikirannya melayang ke Senja.
“Ya Allah… tugas kayak gini banyak banget. Mana Senja nggak bisa dihubungi lagi,” gumamnya sambil mengacak-acak rambut.
Ia sempat kepikiran mau telepon lewat Abah atau Ummi Senja. Tapi bayangan wajah Abah yang serius bikin nyalinya ciut.
“Duh, kalau lewat Abah… bisa-bisa aku dikuliahin dulu sejam. Nggak jadi deh.”
Akhirnya Langit cuma bisa ngomel-ngomel sendiri.
“Senjaaa… kamu di sana ngapain sih? Aku kangen tau! Nih aku kayak nenek-nenek ngomel sendirian di kamar. Gila tugas, gila rindu.”
Langit berdiri, jalan mondar-mandir kayak orang bingung.
“Kalau aku bisa teleport, udah dari kemarin aku nongol di depan asrama kamu. Tapi ya gimana… aku cuma bisa ngomel di sini.”
Dia menutup laptop, menghela napas panjang.
“Ya udah, aku harus kuat. Senja juga pasti lagi nunggu kabar. Nanti kalau semua tugas kelar, aku bakal cari cara buat bikin dia senyum lagi.”
Langit menatap langit-langit kamar, senyum tengilnya muncul.
“Tenang, Sayang. Aku balik jadi cowok tengil favorit kamu. Tunggu aja.”
Pesantren Mambaul Ulum sore itu terasa lebih ramai dari biasanya. Mobil hitam berpelat Jakarta berhenti di depan ndalem. Dari dalam, turun seorang pria tinggi dengan jas rapi, wajahnya dingin, tatapan lurus tanpa basa-basi.
Itu William Surya Agung, Liam, kakak sulung Langit.
Abah Danardi menyambut dengan senyum teduh.
“Silakan masuk, Nak William.”
Liam mengangguk singkat. “Terima kasih, Abah. Papa menitipkan sejumlah dana untuk kebutuhan Senja. Juga beberapa barang keperluan pribadi.”
Ummi Siti ikut menyambut, matanya hangat. “Alhamdulillah, terima kasih. Senja memang sedang butuh tambahan perlengkapan sekolah.”
Senja yang baru pulang dari kelas terkejut melihat sosok Liam. Ia tahu kakak iparnya itu jarang bicara, tapi selalu membawa aura serius.
“Assalamu’alaikum, Kak Liam,” ucap Senja pelan.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Liam singkat, lalu menyerahkan tas berisi titipan. “Ini dari Papa dan Mama. Mereka titip salam.”
Senja mengangguk, wajahnya masih muram. Sudah hampir sebulan ia tak mendengar kabar dari Langit.
Liam menatapnya sejenak, lalu mengeluarkan ponsel. “Langit ingin bicara denganmu.”
Senja terbelalak. “Benar, Kak?”
Liam mengangguk. “Angkat saja. Dia sudah menunggu.”
Senja meraih ponsel itu dengan tangan bergetar. Begitu layar menyala, suara yang ia rindukan akhirnya terdengar.
Langit, “Senjaaa… akhirnya! Aku kangen banget.”
Air mata Senja langsung jatuh. “Aku juga kangen… kamu ke mana aja? Udah sebulan nggak ada kabar.”
Langit, (suara tengil tapi lembut) “Aku sibuk tugas kuliah, Sayang. Tapi sumpah, tiap hari aku mikirin kamu. Untung si kulkas—eh maksudnya Kak Liam—datang ke pesantren. Kalau nggak, aku bisa gila.”
Senja tersenyum di tengah tangisnya. “Aku kira kamu lupa sama aku.”
Langit, “Mana mungkin. Kamu kan istri aku. Aku nggak bakal ninggalin kamu. Nanti aku cari cara biar kita bisa sering teleponan.”
Senja menghela napas lega. “Aku senang banget bisa dengar suara kamu.”
Liam yang duduk di samping hanya menatap dingin, seolah tak peduli. Tapi dalam hati, ia tahu adiknya benar-benar mencintai Senja.
Setelah menyampaikan pesan dari Papa Alistair, William Surya Agung akhirnya berpamitan. Sikapnya tetap dingin, singkat, tanpa banyak basa-basi. Namun keluarga Senja tetap menghormati, mengantarkan sampai halaman ndalem.
“Terima kasih sudah repot-repot datang, Nak William,” ucap Abah Danardi dengan senyum teduh.
William hanya mengangguk, lalu masuk ke mobilnya. Mesin menyala, mobil hitam itu perlahan meninggalkan pesantren.
Senja menatap sebentar, lalu kembali ke asrama dengan membawa tas berisi titipan. Di dalamnya ada beberapa makanan ringan dan snack dari Jakarta.
Begitu masuk kamar, teman-temannya langsung heboh.
“Wah, Senja bawa apa tuh?” tanya Lulu dengan mata berbinar.
Senja tersenyum kecil. “Ini… cemilan dari Kak Liam. Katanya titipan keluarga.”
Tanpa ragu, Senja membuka bungkus snack itu dan mulai membagikan ke teman-temannya satu per satu.
“Ini buat kamu, Nad. Ini buat kamu, Hana. Lulu, Kayla, Dara… ambil aja.”
Semua langsung senang. Lulu paling heboh, langsung foto snack itu pakai kamera polaroid kecilnya.
“Cemilan Jakarta, guys! Rasanya pasti beda!”
Kayla yang tomboi langsung buka bungkus keripik. “Hmm… enak juga. Kalau ada bola voli, aku bisa tambah tenaga nih.”
Hana tersenyum lembut. “Alhamdulillah, berkah banget. Senja, kamu baik banget mau bagi-bagi.”
Dara yang pendiam hanya mengangguk, tapi matanya berbinar sambil menggambar bungkus snack di buku sketsanya.
Suasana kamar jadi ramai. Mereka duduk melingkar, ngemil bareng, sambil ngerumpi. Lulu mulai cerita gosip terbaru di sekolah, Kayla sesekali menyela dengan komentar kocak, Nadin tetap kritis tapi akhirnya ikut tertawa.
Senja ikut tersenyum, meski hatinya masih menyimpan rindu. Setidaknya malam itu ia tidak merasa sendirian. Cemilan dari Kak Liam jadi penghubung kecil antara dirinya dan Langit, seolah ada kabar yang sampai meski lewat cara sederhana.
Malam itu, halaman ndalem pesantren Mambaul Ulum tiba-tiba ramai. Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Kyai Danardi. Lampu sorotnya menembus gelap, membuat santri yang sedang duduk di serambi penasaran.
Dari dalam mobil, turun sepasang suami istri berpenampilan elegan. Wajah mereka tampak lelah, tapi tetap menjaga wibawa. Di belakang mereka, seorang anak laki-laki ikut turun. Rambutnya agak berantakan, wajahnya dingin, sorot matanya penuh pasrah.
Abah Danardi menyambut dengan senyum teduh.
“Silakan masuk, Nak. Ada yang bisa Abah bantu?”
Sang ayah menunduk hormat.
“Abah… kami mohon izin menitipkan anak kami di pesantren ini. Terus terang, kami sudah tidak sanggup mendidiknya sendiri. Dia keras kepala, sering bikin masalah. Kami berharap… di sini dia bisa belajar agama, sekaligus tetap kuliah.”
Ummi Siti menatap anak itu dengan lembut. “Namanya siapa, Nak?”
Anak itu hanya diam, menunduk. Ibunya yang menjawab, suaranya lirih.
“Namanya Rendra.”
Abah Danardi mengangguk pelan. “Baik. Di sini, semua santri belajar bukan hanya ilmu, tapi juga adab. Insya Allah, kalau hatinya mau terbuka, dia akan berubah.”
Sang ayah menepuk bahu Rendra.
“Dengar ya, Ren. Ini keputusan kami. Kamu harus tinggal di sini. Jangan anggap ini hukuman. Anggap ini jalan buat masa depanmu.”
Rendra hanya menghela napas, wajahnya pasrah. “Iya, Yah…”
Sebelum pamit, sang ayah sempat menoleh ke Abah Danardi.
“Abah… dulu saya satu sekolah dengan Langit Sterling. Saya tahu dia anak tengil, tapi akhirnya bisa berubah. Itu sebabnya saya yakin… pesantren ini bisa jadi tempat terbaik buat anak saya.”
Abah tersenyum tipis. “Langit memang banyak berubah. Semoga Rendra juga bisa menemukan jalannya.”
Mobil mewah itu akhirnya pergi, meninggalkan Rendra di halaman pesantren. Anak itu berdiri kaku, menatap bangunan besar yang kini akan jadi rumah barunya.
Di balik jendela asrama putri, Senja sempat melihat sekilas. Hatinya berdesir. Ada cerita baru yang akan dimulai malam ini…