NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 Kamu Bayang Rindu

Suara di seberang terdengar ragu, lalu Marcel berkata pelan, "Mira… aku mau datang ke desamu. Ada studi yang harus aku lakukan di sana."

Aku menarik napas panjang, menahan gemetar di tangan. Suaraku keluar datar, dingin, tanpa jeda "Oh begitu? Terserah saja."

Keheningan menyusul. Marcel terdiam, seakan tak siap dengan jawaban yang begitu tajam.

"Aku hanya… ingin bertanya kabar, apa aku mengganggu, Mir?"

Aku menatap layar ponsel, mata terasa berat, tapi nada suaraku tetap dingin, "Kau sudah cukup mengganggu."

*Tut.* aku mematikan telepon panggilan terputus.

Aku menaruh ponsel di meja kecil, menatap langit-langit kamar yang gelap. Nafasku masih berat, tapi hatiku terasa sedikit lega.

Aku duduk lama di tepi ranjang, ponsel masih tergeletak di meja kecil. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Kata-kata dingin itu keluar begitu saja, tapi justru membuat dadaku terasa kosong. Benteng yang kutegakkan memang melindungi, namun juga meninggalkan ruang hampa.

Di luar kamar, suara ayam berkokok bersahut-sahutan. Udara pagi merambat masuk lewat celah jendela, membawa aroma kabut pagi dan daun pisang yang baru disiram embun.

Aku bangkit perlahan, melangkah ke jendela. Cahaya matahari yang lembut menembus tirai tipis, menyentuh wajahku.

Aku menutup mata sejenak, berharap sinar itu bisa menghapus bayangan Marcel yang masih menempel.

Namun jauh di dalam hati, aku tahu telepon itu bukan akhir. Marcel sudah mengatakan ingin datang ke desa.

Dan jika benar ia datang, benteng yang baru saja kutegakkan mungkin akan kembali diuji.

Aku meraih guling sobek tadi, menatap kainnya yang koyak. Luka kecil itu seperti cermin dari hatiku rapuh, mudah robek, meski tampak kuat dari luar.

Tidak ingin bergelut dengan perasaan ini, aku memilih pergi ke gudang demi mengalihkan perhatianku dari Marcel.

Gudang tampak berantakan pasca aku memanen jamur. Keranjang rotan berserakan, plastik bekas media tanam menumpuk di sudut, rak kayu masih penuh sisa tanah.

Aku melangkah masuk, menyingkirkan karung yang menghalangi pintu. Tanganku otomatis meraih sapu, mencoba merapikan lantai.

Setiap gerakan terasa seperti usaha untuk menghapus bayangan Marcel dari kepalaku.

Namun semakin aku menyapu, semakin jelas bayangan itu muncul. Senyumnya, suaranya yang lembut, bahkan kata-kata terakhirnya di telepon barusan.

...Aku mau datang ke desamu....

Aku berhenti, menggenggam gagang sapu erat. Gudang ini adalah ruangku, tempat aku menanam, memanen, dan bertahan.

Tapi kini terasa seakan Marcel sudah menodai ruang itu dengan kehadirannya yang samar.

Suara langkah mendekat dari luar. Raka. Ia muncul dengan senyum sederhana, membawa kunci motor di tangannya.

"Mir, kau di sini rupanya. Mau aku bantu? Aku bantu aja ya."

Aku tersentak, buru-buru menyembunyikan wajah yang masih muram. "M-makasih, Rak. Aku bisa sendiri kok."

Raka masuk, menaruh kunci motor di meja kayu, lalu mulai mengangkat keranjang kosong. Gerakannya kikuk, tapi tulus.

Kehadirannya membuat gudang yang tadi terasa sesak, perlahan jadi lebih ringan.

Aku menatapnya diam-diam. Sederhana, apa adanya. Tidak ada senyum yang dibagi ke semua orang, tidak ada kata-kata manis yang membuatku merasa kecil.

Hanya Raka, dengan motor tuanya, dengan tangan yang rela kotor demi membantu.

Aku menarik napas panjang, lalu kembali menyapu. Bayangan Marcel masih menempel, tapi kehadiran Raka membuatku sadar.

"Mhh~ Rak, kalau kamu pacaran-" kalimatku tertahan, nafasku tercekat sebelum dapat memperbaiki kata-kata.

Raka melirik, menghentikan aktifitasnya.

Dengan setengah hati aku lanjut bertanya. "Kalau kamu suka sama seseorang, tapi orang itu masih gak bisa lupa sama mantannya. Apa itu disebut setengah hati?"

Ia menatapku sebentar, lalu menaruh keranjang di tangannya perlahan ke lantai. "Aku nggak tahu pasti, Mir," katanya pelan, suaranya agak serak.

"Tapi menurutku… kalau kita benar-benar suka sama seseorang, kita harus siap terima segalanya. Termasuk masa lalu yang belum selesai."

Aku menunduk, jemariku menggenggam gagang sapu semakin erat. Kata-kata Raka sederhana, tapi menusuk.

"Tapi kalau masa lalu itu masih terus menghantui?" tanyaku lirih, nyaris berbisik.

Raka mendekat, berdiri tak jauh dariku. Ia mengusap keringat di pelipis dengan punggung tangan, lalu menatapku dengan mata yang jujur.

"Ya… mungkin itu bukan setengah hati. Mungkin itu hati yang masih belajar untuk kembali utuh?"

Aku terdiam, dada terasa sesak. Kata-kata Raka begitu sederhana, tapi justru membuatku semakin bingung.

Ia tersenyum kecil, kikuk, lalu menambahkan, "Kalau aku… aku nggak masalah, Mir. Selama orang itu mau tetap sama aku, aku akan tunggu sampai hatinya kembali pulih."

Aku menatapnya, mata terasa panas. Bayangan Marcel masih menempel, tapi kehadiran Raka dengan kata-kata sederhananya membuat ruang di dadaku sedikit lebih lega.

Aku menunduk lagi, menyapu lantai yang sudah hampir bersih. Suara sapu bergesekan dengan tanah kering, menutup keheningan di antara kami.

Aku berhenti menyapu, menatap lantai gudang yang sudah cukup rapi. Nafasku masih berat, tapi kata-kata Raka barusan terus bergema di kepala.

"Rak…" panggilku pelan. Ia menoleh, masih dengan senyum kikuknya.

"Apa?"

Aku menelan ludah, mencoba menahan getaran di suara. "Temenin aku sebentar, ya. Kita ke kebun jati sama karet."

Raka mengangguk cepat, seakan ajakan itu membuatnya senang. "Boleh. Kebetulan motor aku juga baru banget selesai dibongkar."

Kami keluar dari gudang, melewati jalan tanah yang masih basah oleh embun. Raka mendorong motornya pelan, aku berjalan di sampingnya. Angin pagi menyapu wajahku, membawa ketenangan yang berbeda dari sesak di kamar tadi.

Kebun jati menyambut dengan deretan batang tinggi yang menjulang, daunnya bergoyang pelan diterpa angin. Di sisi lain, kebun karet tampak sunyi, hanya suara tetesan getah yang jatuh ke wadah kecil di pangkal batang.

Aku berhenti di bawah pohon jati, menatap ke atas. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, jatuh seperti serpihan emas di tanah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!