Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Mantra Agung
Lin Cheng mengerang pelan saat kesadarannya kembali. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma khas herbal yang samar. Perlahan, matanya terbuka, menangkap cahaya samar dari lampu minyak kecil yang terletak di sudut, menerangi ruangan dengan kehangatan.
Ia mengedipkan mata beberapa kali, otaknya masih terasa sedikit berkabut, mencoba memahami di mana ia berada.
Kemudian, penglihatannya perlahan menjadi jelas, dan ia mengenali sekelilingnya. Ini adalah di dalam pondok Xiao An. Dia terbaring di atas alas jerami yang nyaman, diselimuti selimut tipis. Di luar, malam sudah tiba, dan suara jangkrik mulai terdengar.
Rasa lelah yang mendalam masih membelenggu tubuhnya, namun sensasi pencerahan dari puisi tadi masih membekas kuat di benaknya.
"Kamu terlalu memaksakan diri, Lin Cheng," suara Xiao An terdengar lembut dari sampingnya. Lin Cheng menoleh, melihat Xiao An duduk di dekatnya, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tulus.
"Tubuhmu di ambang batasnya. Kamu pingsan."
Xiao An menghela napas pelan.
"Mohon tubuhmu untuk dijaga dengan baik, jangan sampai sakit. Sakit itu sangat tidak enak." Dia menatap Lin Cheng dengan tatapan serius, seolah menekankan pentingnya kesehatan di atas segalanya.
"Dan kamu pasti lapar," tambah Xiao An, matanya berbinar geli. Seolah diingatkan, perut Lin Cheng langsung bergemuruh hebat, mengeluarkan suara yang cukup keras hingga terdengar jelas di keheningan pondok.
Xiao An tersenyum, lalu beranjak menuju tungku. Tak lama kemudian, ia kembali membawa tiga mangkuk mie yang mengepulkan uap, jelas-jelas baru saja dipanaskan kembali. Aroma gurih mie dan sayuran langsung memenuhi ruangan, membuat air liur Lin Cheng menetes.
Tanpa basa-basi, Lin Cheng mengambil satu mangkuk, dan tanpa ragu, ia melahapnya dengan cepat, seolah tak pernah makan selama berhari-hari. Mie itu terasa lezat, menghangatkan tubuhnya dari dalam.
Sembari Lin Cheng melahap mienya dengan rakus, Xiao An bercerita,
"Tahu tidak, Lin Cheng? Mengangkat tubuhmu itu sangat berat! Aku tak punya tenaga untuk membawamu ke dalam pondok." Dia terkekeh geli.
"Untung saja, pria besar sapi itu sedang merumput tak jauh darimu."
Lin Cheng mengernyitkan dahi, bingung. Pria besar sapi?
"Ya, sapi jantan itu!" jelas Xiao An sambil menunjuk ke arah kandang di luar.
"Aku menggeret dia dan berusaha menaikkan dirimu ke punggungnya. Susah sekali, kamu berat sekali, tahu!" Xiao An menghela napas dramatis.
"Tapi, untung saja pria besar itu mengerti! Dia kemudian merendahkan diri sehingga memudahkanku meletakkan tubuhmu di atasnya. Dan anehnya, pria besar itu ternyata mengerti bahasa manusia! Dia membawamu ke pondok. Hahaha!"
Xiao An tertawa renyah, geli sendiri mengingat kejadian itu.
Lin Cheng yang sedang mengunyah mienya, sedikit heran mendengar cerita Xiao An tentang sapi besar yang mengerti bahasa manusia. Namun, ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Rasa lelah, rasa kenyang, dan keanehan yang memang sudah menjadi bagian dari hidupnya bersama Xiao An membuatnya hanya bisa tertawa saja.
"Malam sudah larut, Lin Cheng," kata Xiao An, melihat ke luar pondok yang gelap.
"Pulang besok saja, ya? Aku siapkan tempat."
Lin Cheng mengangguk setuju.
"Baiklah, terima kasih, Xiao An." Ia terlalu lelah untuk pulang ke Kuil Mukui malam ini.
"Aku akan tidur di kursi panjang ini malam ini." Ia menunjuk bangku kayu yang cukup lebar di sudut pondok.
Namun, malam itu, saat Xiao An sudah terlelap dalam tidurnya yang pulas di pondok, Lin Cheng tidak bisa tidur. Sensasi dari puisi klasik tadi dan pencerahan yang dialaminya masih bergejolak di dalam dirinya. Diam-diam, ia bangkit dari kursi panjang dan menyelinap keluar.
Di tepi telaga, di bawah sinar bulan yang redup, Lin Cheng mulai berlatih. Dia tidak melakukan gerakan-gerakan Body Tempering seperti biasanya. Kali ini, sambil mengoperasikan metode kultivasi surgawi Body Tempering milik Xiao An, ia melafalkan mantra "Mens sana in corpore sano" berulang kali dalam benaknya.
Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah keajaiban. Mantra itu, dengan setiap pengulangannya, terasa sangat sinkron dengan metode Body Tempering. Qi spiritual di dalam tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, setiap siklus terasa lebih kuat, lebih efisien.
Ia merasakan otot-ototnya semakin padat, tulangnya semakin kuat, dan setiap sel dalam tubuhnya seolah menyerap energi spiritual dengan rakus. Efek dari latihannya meningkat drastis, membawa setidaknya efek 10x lipat dari pengoperasian tanpa mantra.
Lin Cheng sangat takjub. Keringat bercampur embun malam membasahi tubuhnya, namun rasa lelahnya sirna digantikan oleh gelombang kekuatan yang membuncah. Ia kini sepenuhnya yakin, puisi yang diucapkan Xiao An itu memang bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah mantra agung yang membuka potensi tak terbatas dari metode kultivasi.
Sapi besar jantan yang gagah itu—dengan tenang mengunyah rumput di dekat tepi telaga. Namun, aktivitasnya terhenti. Matanya yang besar memandang ke arah tubuh Lin Cheng yang kini bercahaya merah krimson di bawah pohon, memancarkan aura kekuatan yang jelas terlihat bahkan di bawah sinar bulan redup.
Dia berhenti mengunyah sejenak, memperhatikan dengan seksama fenomena yang terjadi pada Lin Cheng. Seolah menilai sesuatu, atau mungkin hanya terpukau sesaat. Lalu, dengan sebuah embusan napas, dia mengunyah kembali rumputnya, seolah tak ada hal luar biasa yang baru saja terjadi.