NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Penguasa Bayangan di Balik Bara

​Berita tentang kejatuhan Mandor Tie menyebar lebih cepat daripada miasma beracun di Lembah Kematian. Esok paginya, atmosfer di Tambang Batu Hitam terasa berbeda. Para budak yang biasanya menatap kosong, kini mencuri pandang penuh ketakutan bercampur kekaguman ke arah Lin Tian yang tengah membelah sepotong roti keras untuk dibagi dengan Lin Chen.

​Mandor Tie duduk jauh di kursinya, tatapannya berkilat antara kebencian dan keengganan. Bekas luka di wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Sejak malam itu, ia memutuskan untuk bermain aman: Lin Tian mendapat keistimewaan tak tertulis, asalkan kuota batu mewah itu terus mengalir. Bagi Mandor Tie, selama ia bisa menyuap para tetua dengan batu berkualitas tinggi, nasib satu atau dua budak bukanlah urusannya.

​Lin Tian menyadari keseimbangan rapuh ini. Ini adalah masa inkubasinya.

​Tiga bulan berlalu di kedalaman lembah yang sunyi.

​Setiap pagi, Lin Tian dan Lin Chen akan memasuki terowongan lama yang kini ditandai oleh budak lain sebagai "wilayah mematikan yang selalu longsor". Di kedalaman gua tanpa cahaya itu, Lin Tian kembali duduk bersila di depan kerangka Senior Gu Chen.

​Bulan pertama adalah neraka. Setiap penyerapan Niat Pedang dari sisa-sisa Gu Chen memotong kulitnya dari dalam. Rasa sakit itu membuat Lin Tian memuntahkan darah berkali-kali. Namun, seiring berjalannya waktu, siksaan itu mulai terasa tumpul.

​Bulan kedua, kulit Lin Tian memancarkan kilau keperakan halus saat tersorot cahaya. Otot-ototnya memadat seperti urat kawat, dan tulang-tulangnya mengeluarkan suara dentingan tajam saat bergerak, bagai pedang yang diasah batu.

​Di bulan ketiga, keajaiban aneh terjadi. Dantiannya yang hancur—lubang menganga yang dulunya menyiksa jiwanya—mulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak masuk akal. Serpihan Niat Pedang yang liar tidak lagi sekadar berkeliaran di pembuluh darahnya; mereka perlahan berkumpul, memadat, dan membentuk sebuah titik cahaya mungil, tajam bak ujung jarum, tepat di tengah puing-puing Dantiannya.

​"Seni Pedang Sembilan Kematian... tidak sekadar menghancurkan tubuh," gumam Lin Tian pada hari ke-90. "Ia memusnahkan wadah lama, untuk menempa sebuah inti pedang baru dari sari pati kematian itu sendiri."

​Kekuatan Lin Tian melonjak pesat. Meskipun ia tidak memancarkan fluktuasi Qi seperti kultivator biasa, tenaga fisik murninya kini setara dengan seorang kultivator Pengumpulan Qi Tingkat 7. Ia bisa menghancurkan batu sebesar gubuk hanya dengan satu pukulan ringan.

​Sambil Lin Tian berkultivasi, Lin Chen bertugas memilah Batu Hitam yang terus berjatuhan akibat latihan kakaknya. Awalnya, tubuh kurus Lin Chen tampak tak bisa bertahan lama. Namun, kedekatan dengan Lin Tian yang terus memancarkan aura tajam secara perlahan memengaruhi Lin Chen. Tanpa disadari, aura pedang yang melimpah dari latihan Lin Tian mulai mengikis sebagian miasma di paru-paru Lin Chen, membuat napas remajanya berangsur normal.

​Hari ini, seperti biasa, Lin Tian membuka mata. Latihan Besi Penempa Daging tahap pertama telah mencapai kesempurnaan. Ia merasakan dorongan kuat untuk menembus ke tahap kedua: Baja Pembelah Urat.

​Namun, sebelum ia bisa memusatkan pikirannya lagi, sayup-sayup terdengar suara gema langkah kaki tergesa-gesa dari lorong terowongan luar, diikuti dentang logam dan teriakan marah.

​Lin Tian menyipitkan mata, bangkit berdiri. Kilatan perak di kulitnya meredup, kembali ke warna kulit manusia normal, meski dipenuhi debu tambang.

​"Tunggu di sini, Chen," bisiknya, melangkah keluar menembus lubang kecil yang ia buat untuk keluar masuk gua rahasia tersebut.

​Di terowongan persimpangan, situasinya kacau. Sejumlah budak veteran, termasuk Ma San, mundur dengan wajah penuh teror, meninggalkan beberapa keranjang batu yang isinya berserakan.

​Di hadapan mereka, berdiri tiga sosok yang sama sekali tidak terlihat seperti penghuni Tambang Batu Hitam. Mereka mengenakan seragam sutra rapi bercorak awan perak di lengan baju mereka—seragam murid dalam Sekte Awan Hijau!

​Yang memimpin mereka adalah seorang pemuda tampan dengan rambut diikat rapi, raut wajahnya pongah. Sebuah liontin batu giok berbentuk naga kecil menggantung di pinggangnya. Di tangannya, sebilah pedang panjang bersinar dengan cahaya spiritual yang menakutkan, sesekali melepaskan percikan api biru.

​"Kalian budak menjijikkan! Aku tanya sekali lagi!" pemuda tampan itu membentak, suaranya mengandung tekanan Qi Tingkat 8 yang membuat para budak terjatuh merintih. "Di mana terowongan barat?! Di mana batu-batu dengan corak darah itu disembunyikan?!"

​Ma San merangkak maju, gemetar hebat. "Tuan Muda Su... A-Ampun! Terowongan barat sudah runtuh minggu lalu! T-Tidak ada yang berani masuk ke sana, banyak yang mati tergencet bebatuan!"

​Tuan Muda Su mendengus. "Runtuh? Kebetulan sekali, saat rumor beredar bahwa Batu Darah Yin—harta langka yang kubutuhkan untuk menembus Pembangunan Pondasi—ditemukan di sana, terowongannya runtuh? Kalian babi tanah pasti menyembunyikannya untuk dijual ke sekte luar!"

​SRAK!

​Sebuah kilatan api biru melesat. Lengan kiri Ma San putus seketika, terlempar ke dinding dengan suara basah.

​Ma San menjerit melengking, darah menyembur, berguling-guling di tanah memegangi pangkal lengannya yang buntung.

​"Ini peringatan terakhir," desis Su, mengarahkan pedangnya yang masih meneteskan darah ke leher budak lain. "Bawa aku ke terowongan barat, atau aku akan membantai kalian semua dan mencarinya sendiri."

​Dua murid pengikut Su tertawa sinis, menikmati tontonan brutal tersebut. Mereka adalah elit, dan di mata mereka, nyawa budak tambang lebih rendah dari serangga.

​Lin Tian mengawasi dari balik bayangan stalaktit. Matanya tertuju pada liontin batu giok di pinggang Tuan Muda Su.

​Su Ming, batin Lin Tian dingin. Ia tahu siapa pemuda itu. Su Ming adalah salah satu kaki tangan terdekat Zhao Feng—pria yang telah menghancurkan Dantiannya dan membawa lari adiknya. Fakta bahwa Su Ming turun langsung ke lembah kotor ini berarti Batu Darah Yin itu sangat penting, mungkin bahkan berhubungan dengan Zhao Feng.

​Saat Su Ming hendak memenggal kepala budak kedua, sebuah batu seukuran kepalan tangan melesat dari kegelapan dengan kecepatan mengerikan, membelah udara dengan suara siulan tajam.

​BANG!

​Batu itu menghantam bilah pedang Su Ming tepat sebelum menyentuh leher si budak. Benturan itu sangat kuat hingga pedang berlapis spiritual tersebut memantul keras, menggetarkan pergelangan tangan Su Ming hingga mati rasa.

​"Siapa yang berani bersembunyi?!" Su Ming berteriak murka, matanya liar mencari ke arah kegelapan. Dua pengikutnya serempak mencabut senjata.

​Dari bayang-bayang pekat, langkah kaki pelan bergema. Lin Tian melangkah keluar, sosoknya dibalut jubah abu-abu kusam yang lusuh. Debu batu hitam menutupi sebagian wajahnya, namun sepasang matanya menatap ketiga murid dalam itu seperti dewa kematian yang menatap sekumpulan anak ayam.

​Su Ming menyipitkan mata, mencoba mengenali aura pemuda di depannya. Kosong. Tidak ada fluktuasi Qi sama sekali.

​Tiba-tiba, ia tertawa terbahak-bahak. "Oh! Lihat siapa pahlawan kita! Lin Tian si Sampah! Aku sempat berpikir kau sudah membusuk di sudut lembah ini. Ternyata, kau hanya sibuk menjadi pelindung para babi tanah?"

​Dua pengikut Su Ming ikut tertawa mencemooh. "Hanya manusia cacat. Beraninya melempar batu ke arah Tuan Muda Su. Dia pasti sudah bosan hidup!"

​Lin Tian tidak berekspresi. Pandangannya tetap terkunci pada Su Ming, teringat wajah adiknya yang menangis ditarik paksa.

​"Kau mencari Batu Darah Yin, Su Ming?" suara Lin Tian datar, mengabaikan cemoohan mereka. "Aku tahu di mana tempatnya."

​Tawa Su Ming berhenti. Matanya menyipit penuh kecurigaan. "Kau tahu? Tunjukkan padaku."

​"Tapi," Lin Tian melanjutkan perlahan, nadanya berubah lebih rendah, mengandung tekanan yang membuat udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa jauh lebih dingin. "Terowongan itu sangat dalam. Jika kau masuk, aku tidak bisa menjamin kau akan pernah keluar lagi."

​Wajah Su Ming memerah karena marah. Sebagai elit tahap 8, diancam oleh seorang budak tak ber-Dantian adalah penghinaan tertinggi.

​"Bunuh dia! Cincang dagingnya menjadi potongan kecil!" perintah Su Ming pada kedua pengikutnya. "Kita cari batunya sendiri dari mayat-mayat kotor mereka!"

​Kedua murid sekte itu, masing-masing berada di Pengumpulan Qi Tingkat 4, melesat maju. Pedang mereka memancarkan cahaya spiritual kuning, menebas dari sisi kiri dan kanan, mengincar leher dan dada Lin Tian. Kecepatan mereka, didorong oleh Qi, jauh melebihi manusia biasa.

​Namun di mata Lin Tian, gerakan mereka terasa selambat daun yang gugur ditiup angin.

​Lin Tian tidak mundur. Ia bahkan tidak berkedip. Saat pedang-pedang itu nyaris mengiris kulitnya, ia melangkah maju setengah langkah.

​Tangan kanannya melesat seperti kilat. Jari telunjuk dan tengahnya mencapit bilah pedang di sisi kiri.

​KRAK!

​Dengan satu jentikan sederhana, pedang spiritual tingkat rendah itu patah menjadi dua. Murid itu terbelalak tak percaya.

​Sebelum ia bisa bereaksi, Lin Tian meninju dada murid tersebut. Bukan tinju penuh, hanya sentuhan pelan yang memadatkan tenaga murni dari Besi Penempa Daging.

​DUM!

​Tubuh murid itu terpental sejauh sepuluh meter, menabrak dinding gua dengan kekuatan hantaman gajah berlari. Tulang rusuknya remuk berantakan. Ia mati sebelum menyentuh tanah.

​Murid di sisi kanan memucat melihat rekannya tewas dalam sekejap. Ia mencoba menarik pedangnya mundur, namun sebuah tangan sekeras baja telah mencengkeram tenggorokannya, mengangkat tubuhnya ke udara seolah ia seringan boneka jerami.

​"Ka-Kau bukan manusia..." murid itu tersedak, kakinya menendang-nendang udara.

​"Aku adalah penguasa kuburan ini," bisik Lin Tian. Ia meremas tangannya.

​KRETAK.

​Terdengar suara tulang leher yang patah menyedihkan. Lin Tian melemparkan mayat kedua ke samping seperti membuang sampah.

​Hanya dalam tiga tarikan napas, dua murid dalam tewas di tangan manusia cacat.

​Su Ming mundur selangkah, keringat dingin membasahi punggungnya. Kesombongannya hancur berkeping-keping. Pemuda di depannya ini tidak menggunakan sihir. Tidak ada ledakan energi Qi. Ini hanyalah pembantaian fisik murni yang mengerikan.

​"I-Ini tidak mungkin... Dantianmu hancur!" Su Ming tergagap, pedang spiritualnya kini bergetar hebat di tangannya.

​Lin Tian menoleh ke arah Su Ming, menyeka noda darah dari punggung tangannya. Ia mulai melangkah maju, sangat lambat, namun setiap langkahnya seolah menghunjamkan ribuan pedang tak kasat mata ke benak Su Ming.

​"Dantianku memang hancur," ucap Lin Tian pelan. Matanya menyala dengan kebencian yang telah ditekan selama berbulan-bulan. "Itulah sebabnya aku harus mematahkan tulangmu untuk memastikan kau tidak bisa menggunakan milikmu lagi."

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!