NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:899
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: SISI LEMBUT SANG MANTAN

Bab 3: Sisi Lembut Sang Mantan

Tangan Aruna gemetar hebat saat meraih gunting berkarat yang menempel di kaca spion tengah mobilnya. Benda itu tampak sangat kontras dengan interior mobilnya yang bersih dan modern. Logamnya yang cokelat kemerahan karena korosi terasa dingin sekaligus kasar saat bersentuhan dengan kulit telapak tangannya yang berkeringat. Sebuah ancaman fisik yang nyata, seolah seseorang baru saja menusukkan ketakutan langsung ke jantungnya. Bagaimana mungkin seseorang bisa masuk ke mobilnya yang terkunci rapat di parkiran kantor yang dijaga ketat?

Tiba-tiba, kaca mobilnya diketuk pelan dari luar. Aruna tersentak, hampir saja ia berteriak histeris jika tidak melihat sosok yang berdiri di balik kaca jendela tersebut.

Di luar sana, Bimo berdiri dengan wajah penuh kecemasan yang tampak sangat tulus. Dia tidak bersama Siska kali ini. Mantan suaminya itu tampak sendirian, mengenakan jaket kasual berwarna abu-abu yang dulu sering Aruna belikan saat mereka masih menjadi pasangan yang—setidaknya menurut Aruna—bahagia.

"Run? Kamu nggak apa-apa? Wajah kamu pucat banget," suara Bimo terdengar sangat lembut melalui kaca yang tertutup, nada suaranya mengandung kekhawatiran yang sangat akrab di telinga Aruna.

Aruna membuka pintu mobil dengan gerakan defensif, kakinya lemas saat menapak ke aspal parkiran. "Ngapain kamu di sini, Bim? Mau pamer kemenangan Siska di kantor tadi? Atau mau menertawakan betapa berantakannya aku sekarang?"

Bimo menghela napas panjang, matanya menatap Aruna dengan tatapan penuh rasa kasihan—sebuah tatapan yang paling dibenci Aruna karena membuatnya merasa kerdil. "Aku dengar soal rapat tadi dari Pak Gunawan. Siska memang kadang terlalu ambisius kalau sudah bicara soal kerjaan, aku sudah menegurnya lewat telepon tadi. Aku ke sini cuma mau memastikan kamu baik-baik saja, Run. Kamu terlihat sangat tidak stabil."

"Baik-baik saja?" Aruna menunjukkan gunting berkarat itu tepat ke depan wajah Bimo, suaranya naik satu oktav karena amarah yang bercampur rasa takut. "Ada orang yang masuk ke mobilku, Bim! Ada orang yang sengaja menerorku di sini, di tempat kerjaku sendiri!"

Bimo terdiam sejenak. Ia menatap gunting itu dengan dahi berkerut, lalu kembali menatap mata Aruna yang mulai berkaca-kaca. "Gunting? Gunting apa yang kamu maksud, Aruna?"

"Ini! Kamu jangan pura-pura buta! Benda ini baru saja ada di spionku dan sekarang aku sedang—" Aruna menunduk ke arah tangannya sendiri untuk meyakinkan Bimo.

Kosong.

Telapak tangan Aruna kosong melompong. Tidak ada gunting berkarat, tidak ada bau logam, bahkan tidak ada bekas goresan di tangannya. Aruna mulai panik luar biasa. Ia kembali masuk ke mobil, mencari dengan gila di bawah jok, di kolong kursi, hingga membongkar isi laci dasbor. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada botol parfum dan tumpukan tisu.

"Tadi di sini... tadi aku benar-benar memegangnya, Bim! Aku merasakannya!" Aruna mulai terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat saat serangan panik mulai menyerangnya.

"Aruna, tolong tenang," Bimo memegang kedua bahu Aruna dengan lembut namun kuat, suaranya merendah menjadi bisikan yang menghanyutkan. "Mungkin ini yang dibilang Pak Gunawan. Kamu cuma halusinasi karena kurang tidur dan tekanan kerja. Kamu terlalu terobsesi pada Siska sampai otakmu mulai menciptakan ancaman yang sebenarnya tidak ada. Kamu mulai kehilangan pijakan pada realita, Sayang."

"Aku nggak gila, Bim! Siska yang melakukan ini semua! Dia ingin menyingkirkanku!" teriak Aruna, melepaskan diri dari pegangan Bimo dengan kasar.

"Siska sedang di salon sekarang, Run. Dia baru saja mengirimkan foto padaku untuk pamer warna rambut barunya. Tidak mungkin dia ada di parkiran kantormu dalam waktu bersamaan," Bimo menunjukkan layar ponselnya. Benar saja, di sana terlihat foto Siska yang sedang tersenyum manis dengan handuk melilit rambutnya, lengkap dengan *

timestamp

...----------------...

tiga menit berlalu....

Bimo mendekat lagi, kali ini ia berdiri sangat dekat hingga Aruna bisa mencium aroma parfum Bimo yang dulu sangat ia sukai. "Mungkin... untuk sementara Kenzo tinggal bersamaku dan Siska dulu? Sampai kondisimu benar-benar stabil? Aku tidak mau Kenzo melihat mamanya terus-menerus bicara sendiri dan ketakutan pada hal yang tidak nyata. Kamu butuh bantuan profesional, Aruna. Jangan biarkan egomu menghancurkan mental anak kita."

Aruna mundur selangkah, rasa dingin menjalar di punggungnya. Namun, di saat yang sama, ia tidak sengaja melihat pantulan tubuh Bimo di kaca jendela mobil yang gelap. Di saku jaket bagian dalam yang dikenakan Bimo, terdapat siluet benda tajam yang menonjol keluar. Sebuah bentuk melengkung yang sangat akrab di ingatan Aruna.

Itu adalah gagang gunting.

Bimo tersenyum—sebuah senyum paling hangat yang bisa ia berikan—namun matanya tetap sedingin es. "Aku cuma mau yang terbaik buat kita semua, Run. Percaya padaku, ya? Aku akan menjagamu."

...****************...

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!