Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Dewan menarik kopernya dan segera keluar di ikuti oleh Tiyas. Keduanya saling diam, namun ketika Dewan mulai melajukan mobilnya, Tiyas menyandarkan kepalanya di bahu sang Ipar. Wajahnya seolah sedih, namun sikapnya sama sekali tak berubah.
Dewan menarik lenganya, lalu mengusap bahu sang Ipar secara teratur.
"Mas... Bagaimana ini? Kita mau tinggal kemana?"
"Kita cari kontrakan di Gunung Kidul saja. Nggak mungkin saya cari rumah deket sini. Nanti apa kata warga Desa," balas Dewan masih bingung harus melangkahkan kakinya kemana.
Untuk saat ini bukan hanya rumah tangganya di ambang kehancuran, tapi semua hal yang melekat pada tahta tertingginya juga ikut jatuh bersamaan.
Eugh!!!
Eugh!!
Perut Tiyas rasanya teraduk kuat, kini menepuk bahu Dewan agar pria itu segera menepikan mobilnya. Di tepi parit rerumputan, Tiyas memuntahkan cairan kuning karena pagi itu dirinya belum kemasukan apapun.
Huek!
Dewan memijat tengkuk leher Tiyas, segera menyambar tisu untuk ia berikan pada Iparnya kini.
Wajah Tiyas sangat pucat pagi itu. Dalam keadaan cemas, Dewan segera membawanya menuju rumah sakit.
*
Sebuah mobil bewarna putih berhenti di depan rumah Dewantara.
Bukan lagi sang Tuan rumah ataupun Fauzan~adiknya. Tapi Bu Sarah, mertua Alena sendiri. Sejak dalam perjalanan sampai tiba di kediaman putranya, air mata wanita tua itu mengalir penuh rasa sesak.
Rasa gagal mendidik Dewantara menyeruat dalam batinnya. Sebagai sesama wanita, Bu Sarah tak dapat membayangkan bagaimana sakitnya di khianati orang yang paling dekat dengan kita. Apalagi masih dalam satu darah yang mengalir.
"Alena... Maafkan Ibu, Nak...."
Bu Sarah berjalan cepat, langsung meluruhkan tubuhnya di atas lantai. Alena yang menoleh, syok berat. Ia segera menghampiri mertuanya, lalu ikut luruh dan hanyut dalam tangisan.
"Bu... Ibu ngapain? Ayo duduk, Bu?!" lirihnya. Suara itu bergetar.
Bu Sarah semakin terisak, kepalanya menggeleng lemah, merasakan sakit luar biasa pagi ini.
"Ibu gagal mendidik Dewantara, Alena. Ibu gak bisa kembali'in kepercayaan Dewan sebagai Ayahnya Delan. Ibu gagal, Nak...." bahkan, Bu Sarah sampai memukuli kepalanya sendiri.
Bagaimana Alena tidak semakin terisak. Ia kini memegang lengan mertuanya, memeluk tubuh Bu Sarah tanpa dapat berkata sepatah kata. Hanya isakan yang bersahutan dibawah lampu gantung itu.
Setelah cukup mereda, Alena membawa Mertuanya untuk duduk. Di hadapan Bu Sarah, Alena ingin membicarakan yang lebih serius daripada kenyataan perselingkuhan itu.
"Alena ingin membalikan nama hak waris Mas Dewan, Bu! Apa Ibu keberatan?" Wajah sendu itu berusaha tegar.
"Kamu Istrinya... Semua ini hak kamu dan Delan, Alena. Ibu pasti akan dukung apapun keputusanmu."
Senyum tipis terulas di bibir kering itu. Alena kini menghela napas dalam, otaknya harus bekerja lebih, dari pada hanya menangisi manusia yang tak berhati. Masa depan Delan di atas segalanya.
Siang itu, sehabis menyusui Putranya, Alena keluar dari kamar meninggalkan Dewan bersama sang Mertua~Bu Sarah. Setelah kejadian itu, Bu Sarah memutuskan menginap untuk beberapa hari ke depan sampai usia Delan genap 1 bulan.
Tidak ada kelemahan lagi. Alena rasa - menangis hanya semakin membuang waktu saja. Ia yang saat ini duduk sendiri di ruang tengah, mengedarkan mata keseluruh ruangan: merasakan kehampaan yang tak pernah sedikitpun ia harapkan sebelumnya.
Demi Delan putranya, Alena harus bisa memutar otaknya agar kepedihan itu dapat tergantikan oleh hak sesungguhnya. Alena bangkit, siang ini juga ia akan menghubungi kantor Notaris untuk mengurus pembalikan nama hak ahli waris menjadi nama putranya... Delan!
"Baik, Bu... Nanti anak buah saya akan kesana. Tunggu beberapa menit saja!" Putus pimpinan Kantor Notaris.
Sebab kantornya masih berasa di kabupaten, jadi hanya memerlukan waktu kurang dari 1 jam saja. Dalam keadaan cemas dan gelisah itu, Alena sejak tadi mondar mandir di ruang tamu, hingga sebuah motor asing masuk ke dalam halaman rumahnya sesuai Maps yang Alena berikan.
Di tengah fokusnya menyambut sang Pegawai Notaris, Alena di buat tak tahan tawa dengan tingkah absurd pria muda yang saat ini tengah menapaki teras rumahnya.
"Ya Allah...." Pria itu menghentikan langkahnya sejenak, mencoba menetralkan napasnya akibat hampir terjungkal tadi. "Untung nggak ada Cctv, masih aman lah wajah tampan saya ini," lirihnya sambil berdehem.
Alena cepat-cepat memalingkan wajahnya seolah tak melihat kejadian tadi.
"Eh, ternyata ada orang tadi?! Hehe... Itu, tadi terasnya ngehalangin jalan saya, Mbak," celetuknya sambil menggaruk tengkuk leher.
Alena keluar. Wajahnya dibuat serius. "Mas... Teras saya sudah ada di situ jauh sebelum Anda datang," satu alis itu sampai terangkat.
"Rusak deh image saya sebagai pegawai cekatan," bisiknya sambil tertunduk. Lalu kembali menatap Alena dengan senyum kudanya. "Ini... Yang Bu Alena, yang mana ya, mbak?" Pemuda tadi celingukan.
Alena menepuk jidatnya.
"Mas... Saya Alena." Bisik Alena tak kalah konyol.
Pemuda Notaris tadi sampai terbelalak. Lalu cepat-cepat mengubah ekspresi terkejutnya. "Tak kirain yang namanya Bu Alena usia 50 tahunan, ternyata masih muda. Hehe...."
Alena memutar jengah bola matanya. Tapi setidaknya, hari ini pria itu dapat membuatnya tertawa.
"Ini saya manggilnya Mas... Atau Pak, ya?" goda Alena.
"Mas saja, Mbak! Emang muka saya boros banget ya?" tanya Pria Notaris tadi.
"Sedikit sih, Mas," Alena menekan telunjuk dan Ibu jarinya.
Seketika tangan pria tadi memegang wajahnya. "Masak sih? Besuk langsung perawatan ini," batinnya.
Alena cukup tertawa pelan. "Ya sudah, ayo masuk saja, Mas!"
Setelah keduanya duduk, Alena mulai menyerahkan semua data-data penting guna mengikuti prosedur yang Notaris tadi ucapkan.
"Intinya, saya mau terima beres saja, Mas! Saya punya bayi, dan nggak mungkin saya tinggal lebih lama," jelas Alena.
Pegawai Notaris tadi mengangguk. "Baik, Mbak... Saya dapat mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya seraya bangkit.
Namun Pria Notaris tadi agak ragu saat membalikan badan. Lalu menoleh Alena lagi sambil menggaruk kepala.
"Apa lagi, Mas?"
"Mbak... Itu, pulpen saya masih Mbak Alena pegang!" ucap polosnya.
Alena baru menyadari. "Oh... Iya, hehe... Maaf ya, Mas... Nih...."
Setelah menerima, wajah Pegawai Notaris tadi seketika cerah. Lalu segera melenggang keluar. Alena mengantarkan sampai gerbang karena hendak menutup gerbang sekalian.
Akan tetapi, baru saja Pemuda tadi menghidupkan motornya. Suara Ibu-Ibu salah satu tetangga Alena membuat Pegawai Notaris tadi menoleh.
"Mas Hasbiii... Tunggu sebentar....."
Alena yang penasaran juga ikut keluar lagi.
"Eh, Ibu yang 5 bulan lalu, ya? Ada apa? Mau sertifikat tanahnya lagi?" tanya Pegawai Notaris tadi yang bernama Hasbi.
"Eh, Mbak Alena... Permisi ya, Mbak....." segan Ibu tadi. Lalu menepuk bahu Hasbi seperti temannya sendiri. "Mas Hasbi, Ini, saya mau balikin pulpennya Mas Hasbi yang ketinggalan waktu itu."
Hasbi dengan wajah tengilnya menatap seolah terkejut. "Wah masih utuh. Saya kira udah beranak pinak di rumah Ibu. Hehe...."
Ibu tadi agak sedikit malu. Lalu menepuk bahu Hasbi kembali.
Plak!
Alena mendelik. Hasbi merasa takut. "Mas Hasbi bisa saja," jawab Ibu-Ibu tadi.
"Ya udah, saya permisi...." pamitnya. "Mari, Mbak Alena...."
"Oh, iya Bu...."
Tiba-tiba dari arah depan ada sebuah mobil yang berhenti. Dan tiba-tiba juga pegawai Notaris tadi langsung menstarter motornya, "Mbak,.saya pamit...." ucapnya tergesa.
Mobil tadi sudah behenti, seorang pria cukup dewasa dan matang turun sambil membuka kacamatanya. "Anak itu bener-bener-" geregetnya dengan sudut mata yang mengikuti arah laju motor sang Pegawai Notaris.
Alena memicingkan mata. Lalu menegur, "Maaf... Anda cari siapa ya?"
Pria tadi menoleh. Wajahnya sangat kaku, tak ada senyum-senyumnya sama sekali.
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔