Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Menyerah
“Nda boleh ikut!” jerit Deana menyusul di belakang Alex.
“Kenapa tidak boleh, Sayang?” tanya Vivian lembut, melerai kedua anak itu.
“Anak kecil nda boleh ikut, Mama. Di sana bahaya! Banyak olang yang badannya besal-besal. Nanti dia nangis kalo ditangkap!” cerocos Deana meyakinkan.
“Kalau aku anak kecil, terus kamu apa? Nenek-nenek?” timpal Alex, sama sekali tidak mau mengalah.
Bibir Deana langsung mengerucut tajam, bersungut-sungut karena kesal dibilang nenek-nenek oleh kakak angkatnya.
Vivian hanya bisa menepuk jidatnya pelan. Astaga, kedua anak ini sejak kemarin tidak pernah absen beradu mulut. Vivian sampai heran dari mana mereka mendapatkan pasokan energi sebanyak itu untuk bertengkar setiap hari.
Sadar perdebatan ini tidak akan usai jika terus diladeni, mau tidak mau Vivian akhirnya memutuskan untuk memboyong mereka berdua sekalian. Tak lupa, Baby Elvano juga ikut dibawa dalam pangkuan sabuk pengaman khusus bayi.
“Bibi, kita sungguh mau ke sana?” tanya Alex dari kursi penumpang. Tatapannya sesekali beralih ke arah Vivian yang fokus menatap jalanan di balik kemudi.
Deana yang duduk di samping Alex ikut melongo kagum. Ternyata Mamanya yang cantik ini bisa menyetir mobil hebat seperti itu!
“Ya,” jawab Vivian singkat, padat, dan mantap tanpa ada nada ragu sedikit pun.
“Bagaimana kalau orang-orang di sana jahat pada kita?” tanya Alex lagi, sedikit cemas.
“Nanya teluuus keljaannya. Nda capek, apa?” sahut Deana menyenggol lengan Alex.
Vivian terkekeh kecil melihat interaksi keduanya lewat kaca spion tengah. “Kalian berdua tenang saja. Auntie bisa bela diri. Kalau mereka macam-macam di sana, Auntie smackdown mereka semua!”
Deana mengerutkan keningnya, tampak berpikir keras. “Bela dili itu maksudnya… membelah dili, ya?”
Pfftt…
Tawa Alex langsung pecah mendengar kepolosan adik angkatnya yang luar biasa itu.
“Bela diri itu artinya bisa mukul orang jahat! Kayak gini! Hah! Hoh! Hah!” Alex memeragakan gerakan meninju ke udara dengan penuh semangat.
Deana terdiam sejenak, lalu bertanya dengan suara mencicit, “Belalti… Papa jahat?”
“Benar sekali! Papamu itu orang jahat!” cetus Alex blak-blakan.
Plak!
Detik berikutnya, Alex langsung meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang baru saja dijitak oleh Deana.
“Papa nda jahat! Cuma kulang baik saja! Masih bisa tobat!” protes gadis kecil itu berapi-api, membela ayahnya.
“Sama saja tahu! Wlee!” Alex menjulurkan lidahnya, meledek.
“Kamu diaaam! Atau nanti Dea buang kamu di jalan!” ancam Deana dengan wajah yang dibuat segarang mungkin.
“Ihh, serem banget… Alex takuttt…” ejek Alex berpura-pura gemetar.
“Hiks… kamu jahat!” Karena kesal tidak menang berdebat, mata Deana mulai berkaca-kaca.
“Waduh, kok nangis beneran?”
“Bialin!”
“Dasar cengeng, jelek!”
“Kamu yang jelek!”
Oeeeekkk!
Akibat suara bising di dalam kabin mobil, Baby Elvano yang tadinya tenang akhirnya ikut terbangun dan menangis kencang. Suasana mobil mendadak pecah.
Vivian hanya bisa mendesis gemas sembari memijat pelipisnya. Astaga, "Trio Kicau ini benar-benar tidak ada habisnya berdebat!
..
..
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Willson, suasananya terasa begitu tegang.
Arsen baru saja menerima laporan berkala dari agen mata-matanya yang sudah sepekan terakhir menyamar sebagai pelayan di kediaman Kayden. Namun, laporan kali ini sama sekali di luar dugaan. Hasil investigasi sang agen benar-benar menjungkirbalikkan fakta yang selama ini mereka yakini.
Sang mata-mata menemukan keberadaan Vivian. Bukan dalam wujud jasad yang membeku di dalam peti, melainkan sesosok tubuh yang masih utuh. Bahkan, wanita itu masih bernapas.
"Bernapas? Kau sungguh tidak salah lihat?!" Arsen memastikan dengan mata membelalak, menatap tajam ke arah agennya yang kini berdiri tegap di hadapannya.
Agen kepercayaan Arsen itu mengangguk dengan raut wajah luar biasa serius. Ia melaporkan bahwa selama ini Kayden sengaja menyembunyikan tubuh Vivian di bagian terdalam mansion. Rumor yang beredar di luar mengenai adanya istri kedua hanyalah isapan jempol belaka untuk mengelabui publik. Nyatanya, tidak pernah ada istri kedua. Yang ada hanyalah istri pertama yang disembunyikan rapat-rapat dari dunia luar.
Arsen terdiam sesaat, otaknya berputar cepat menyusun strategi baru. Seringai tipis perlahan terbit di wajahnya. Pria itu lantas menatap sang agen dengan binar penuh ambisi.
"Kembalilah ke sana sekarang," perintah Arsen dengan suara rendah yang dingin. "Cari kelengahan mereka, lalu bawa Vivian keluar dari mansion itu hidup-hidup.”
...
Kini, di depan gerbang megah kediaman keluarga Gilbert. Mobil yang dikendarai Vivian akhirnya berhenti sempurna. Namun, alih-alih menyambut kedatangan mereka, jeruji besi gerbang tinggi itu tetap tertutup rapat. Para penjaga di balik pos tampak enggan membukakan jalan.
Vivian menurunkan kaca mobil, lalu menatap salah satu penjaga dengan tegas. "Tolong beritahukan pada Tuan kalian, anak-anaknya sedang berada di luar dan ingin menemuinya."
Laporan itu pun dengan cepat diteruskan ke dalam mansion, hingga sampai ke telinga Davin. Pria tangan kanan itu bergegas melangkah menuju ruang perawatan rahasia, tempat di mana Kayden selama seminggu ini hanya duduk membisu di samping ranjang tidur istrinya.
"Tuan," panggil Davin pelan, memecah keheningan ruangan yang hanya diisi oleh suara detak monoton alat medis. "Nona Vivian... maksud saya, wanita itu ada di depan gerbang bersama anak-anak. Mereka ingin bertemu Anda."
Kayden tidak langsung menjawab. Tatapannya yang kosong masih tertuju pada wajah pucat sang istri yang terbaring koma.
"Suruh mereka pulang, Davin," sahut Kayden dengan suara parau yang terdengar teramat lelah. "Untuk apa bertemu lagi? Sekarang... aku sudah tidak dianggap oleh anak-anakku sendiri."
Davin tertegun, namun keterkejutannya belum selesai sampai di sana.
Kayden perlahan bangkit berdiri. Matanya yang memerah menatap lekat ke arah ventilator dan jajaran peralatan medis yang menopang kehidupan istrinya. "Davin... lepas semua alat medis itu dari tubuh istriku."
“Apa?!” Davin tersentak hebat di tempatnya. "Tuan, tapi kalau alat-alat itu dilepas—"
"Lakukan saja," potong Kayden dingin, meski ada gurat kepedihan yang mendalam di matanya. "Aku sudah selesai. Aku benar-benar menyerah. Setelah ini, aku akan mengembalikan tubuh Vivian secara terhormat pada keluarga Marvis."
Tanpa menunggu jawaban dari asistennya yang masih mematung syok, Kayden melangkah gontai keluar dari ruangan itu menuju kamarnya sendiri. Pria itu benar-benar meninggalkan Davin sendirian di samping tubuh kaku sang nyonya besar.
Davin berdiri dilingkupi keraguan yang teramat sangat. Tangannya gemetar saat mendekati jajaran tombol mesin penopang hidup di dekat ranjang. Tatapannya beralih, menatap lurus pada wajah damai Vivian yang telah ia jaga selama bertahun-tahun ini.
Sungguh, Davin tidak tega mencabut nyawa wanita ini dengan tangannya sendiri.
Dengan perasaan campur aduk dan harapan yang tersisa di ujung tanduk, Davin berbisik lirih di samping telinga wanita itu.
"Nyonya... jika Anda masih mencintai Tuan Kayden, tolong buka mata Anda sekarang!"
___
^^^...To be continued^^^
tapi bagaimana mungkin bisa melahirkan anak bayi lagiii 😁