NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 26 Dinner yang Tidak Profesional

Sore hari di apartemen Gavin Mahendra terasa… terlalu ramai.

Dan itu masalah.

Karena biasanya— apartemen ini tenang.

Hari ini?

Tidak.

Hari ini berubah menjadi pusat operasi militer bernama:

MISI DINNER ROMANTIS PENINGKATAN PROGRES CUCU

“Rania, jangan pakai baju hitam!”

Suara Mama Ratna menggema dari ruang tengah.

Rania yang baru keluar kamar langsung berhenti.

“Kenapa?”

Ratna menunjuk dramatis.

“Karena aura anak pertama nggak keluar.”

Apa hubungan warna baju dengan reproduksi manusia?

Di sofa, Mama Ambar sedang membuka beberapa dress seperti stylist pribadi selebriti.

“Yang ini bagus,” katanya elegan sambil mengangkat dress warna dusty pink.

Rania menyipit.

“Itu terlalu niat.”

“Justru harus niat,” sahut Ratna mantap.

“Mama nggak mau dinner kalian kayak rapat direksi.”

“Itu lebih realistis.”

“Makanya kalian lambat!”

Rania menyerah pada hidup.

Benar-benar menyerah.

Sementara di sisi lain apartemen—

Gavin sedang mengalami penderitaan berbeda.

“Yang ini.”

Ratna masuk ke ruang kerja sambil membawa kemeja.

Gavin bahkan belum sempat protes.

“Saya pakai ini aja.”

Kaos hitam.

Celana bahan.

Selesai.

Ratna memandang menatunya dengan ekspresi kecewa nasional.

“Kamu mau dinner sama istri atau mau audit perusahaan?”

“Mama terlalu dramatis.”

“Mama realistis.”

Ambar ikut masuk.

“Kemeja navy lebih cocok.”

Ratna mengangguk.

“Biar terlihat mahal dan subur.”

Gavin diam tiga detik.

Lalu memijat pelipis.

“Saya bahkan tidak mau tahu logikanya.”

Empat puluh menit kemudian.

Rania keluar kamar.

Matanya langsung menangkap dua orang yang terlihat begitu antusias saat dirinya datang.

Mama Ratna sudah berdiri dengan ponsel.

Mama Ambar membawa clutch kecil.

Seolah mereka wedding organizer ilegal.

Ia langsung berhenti.

Karena—

Gavin sudah berdiri di ruang tengah.

Kemeja navy.

Lengan sedikit tergulung.

Jam tangan hitam.

Rambut lebih rapi dari biasanya.

Terlalu—

Tampan.

Sial.

Kenapa harus kelihatan seperti pemeran utama drama mahal?

Tatapan Gavin terangkat.

Berhenti tepat di wajah Rania.

Dan ekspresi datarnya sedikit goyah ketika melihatnya.

Tatapan pria itu turun naik.

Lalu berhenti di wajahnya.

Untuk sepersekian detik, ia tampak kehilangan kata-kata.

Yang... sangat tidak biasa.

Diam dua detik.

Lalu—

“…Bagus.”

Pendek.

Karena nada suaranya—

terdengar terlalu tulus.

Dan itu—

lebih berbahaya.

Mama Ratna langsung menepuk tangan bahagia.

“LIHAT!”

“Mereka saling salting,” bisik Ambar terlalu keras.

“Kita tinggal tunggu cucu.”

“Mama!” protes Rania.

Mama Ratna langsung heboh.

“PEGANG PINGGANG!”

“Mama!” pekik Rania.

“Buat foto sebelum berangkat!”

“Saya batal pergi,” gumam Gavin.

“Kalau batal, program diperpanjang dua minggu,” ancam Ratna santai.

Sial.

Lima menit kemudian—

mereka benar-benar difoto.

Awkward.

Parah.

Tangan Gavin ada di pinggangnya.

Dan entah kenapa—

meski tipis—

hangat itu terasa terlalu nyata.

Lebih buruk lagi—

Gavin tidak langsung melepas.

Seolah lupa.

Atau—

tidak buru-buru.

Rania langsung mundur begitu sesi foto selesai.

“Berangkat sekarang,” kata Ratna cepat sambil mendorong mereka ke pintu.

“Oh iya—”

Mama Ratna mengangkat ponsel.

“Kalau pulang sebelum jam sembilan, Mama anggap gagal.”

Apa ini ancaman?

Di mobil.

Hening.

Parah.

Lampu kota bergerak pelan di luar jendela.

Biasanya—

Rania dan Gavin akan debat soal kerjaan.

Atau saling sindir.

Atau minimal—

berisik.

Sekarang?

Cuma suara AC mobil.

Canggung.

Aneh.

Dan terlalu sadar diri.

“Kamu lapar?”

Rania menoleh sedikit.

“…Lumayan.”

“Udah makan siang?”

Pertanyaan otomatis.

Refleks.

Seperti biasa.

Dan itu justru terasa aneh.

“Udah.”

Sunyi lagi.

Lalu—

Gavin mengembuskan napas kecil.

“Saya benci kita jadi awkward begini.”

Oh.

Rania diam.

Karena—

jujur saja—

dia juga.

Tapi mengakuinya terdengar terlalu berbahaya.

Jadi akhirnya cuma:

“…Kita nggak awkward.”

Gavin melirik sekilas.

“Kamu bahkan jawab kayak HR.”

Kurang ajar.

Dan sialnya—

Rania hampir ketawa.

Hampir.

___

Rooftop restaurant.

Lampu kota menyala indah.

Angin malam terasa ringan.

Dan semuanya terlalu—

romantis.

Yang membuat semuanya terasa lebih mengganggu.

Karena mereka lagi perang dingin.

Pelayan mengantar menu.

Rania membuka cepat.

Lalu mengernyit.

“…Kenapa semua makanannya kecil?”

Gavin melirik.

“Itu fine dining.”

“Kalau habis saya masih lapar?”

“Kita beli nasi goreng pulang.”

Sunyi dua detik.

Lalu—

untuk pertama kalinya malam itu—

Rania tertawa kecil.

Pelan.

Refleks.

Dan sesuatu di wajah Gavin berubah tipis.

Nyaris senyum.

Seperti—

akhirnya bernapas lagi.

Makanan datang.

Dan tanpa sadar—

hal-hal kecil mulai kembali seperti biasa.

Gavin otomatis memindahkan minuman dingin.

“Jangan yang ini.”

“Kamu gampang kambuh.”

Rania berhenti.

“…Kamu masih inget?”

Tatapan Gavin naik.

“Ya.”

Pendek.

Seolah itu hal biasa.

Padahal—

buat Rania—

tidak.

Karena semakin lama—

pria ini terlalu perhatian untuk ukuran hubungan kontrak.

Dan itu bahaya.

Sangat bahaya.

Setengah jam kemudian—

suasana mulai mencair.

Tidak terlalu canggung lagi.

Mereka mulai ngobrol soal kantor.

Kevin yang terlalu drama.

Theo yang tidak punya empati.

Mama Ratna yang hampir membuat mereka pindah negara.

Dan entah sejak kapan—

Rania berhenti menjaga jarak terlalu keras.

Sampai—

Gavin mendadak bicara.

Nada lebih pelan sekarang.

Lebih serius.

“Saya serius waktu itu.”

Rania berhenti makan.

“…Apa?”

Tatapan Gavin lurus.

“Saya nggak suka kamu jauhin saya.”

Boom.

Sunyi.

Lampu kota terasa terlalu terang sekarang.

Karena—

cara dia ngomong—

terlalu jujur.

Tidak bercanda.

Tidak menyebalkan.

Tidak defensif.

Cuma—

jujur.

Rania menggenggam gelas sedikit lebih erat.

“Kamu nggak ngerti.”

“Ya jelasin.”

Nada Gavin rendah.

Tenang.

Tapi justru itu lebih sulit.

Karena—

kalau dia terus baik begini—

Rania takut.

Takut terlalu serius.

Takut jatuh sendirian.

Takut saat kontrak selesai—

dia jadi satu-satunya orang yang patah.

“Aku cuma…”

Berhenti.

Karena kalimat berikutnya terlalu memalukan.

Aku takut suka beneran.

Namun—

Trrrrt.

Ponsel Gavin menyala.

Nama di layar membuat tubuh Rania langsung menegang.

Clarissa — URGENT

Oh.

Sial.

Tatapannya berubah.

Lalu ia mengangkat telepon.

“Iya?”

Ekspresinya berubah.

Lebih serius.

“Sekarang?”

Jeda.

“Theo tahu?”

Sunyi.

Gavin memejam mata sebentar.

“…Oke. Jangan sentuh apa-apa dulu. Saya ke sana.”

Boom.

Datang?

Sekarang?

Rania langsung menunduk.

Dada mendadak terasa aneh.

Tidak nyaman.

Bodoh.

Kenapa tidak nyaman?

Ini kontrak.

Kontrak.

Kontrak.

Gavin menutup telepon cepat.

Ia tidak langsung berdiri.

Tatapannya kembali ke Rania.

Seolah sedang menimbang sesuatu.

Dinner ini.

Atau pekerjaan.

Dan anehnya— Rania justru makin tidak suka melihat keraguan itu.

“Saya harus—”

“Nggak apa-apa.”

Terlalu cepat.

Terlalu sopan.

Senyum kecil muncul.

Senyum palsu.

“Saya ngerti kok.”

Dan anehnya—

cara mata Gavin berubah—

seolah tahu itu bukan senyum sungguhan.

“…Rania.”

“Nggak apa-apa,” ulangnya cepat.

“Kerjaan penting kan?”

Sunyi.

Gavin tampak ingin bilang sesuatu.

Namun akhirnya—

mengangguk pelan.

“Saya akan pulang secepatnya.”

Pria itu akhirnya pergi.

Meninggalkan Rania disana sendirian.

Mobil taksi yang ditumpangi Rania melaju pelan di jalan raya.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih sepi.

Karena untuk pertama kalinya malam itu—

Rania mulai membenci satu hal:

Harapan.

Karena ternyata—

berharap pada seseorang—

yang bahkan mungkin tidak benar-benar miliknya—

terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ia kira.

Dan lebih buruk lagi—

malam ini—

untuk pertama kalinya—

Rania sadar:

ia mungkin benar-benar jatuh.

Tepat saat semuanya terasa semakin rumit.

Tepat saat lift apartemen terbuka—

Mama Ratna dan Mama Ambar sudah berdiri di depan pintu apartemen.

Seperti satpam emosional.

Mata Mama Ratna Menyipit.

“Lho?”

Tatapannya berpindah cepat.

Ke Rania.

Yang pulang sendirian.

“…Mana Gavin?”

Rania membuka mulut.

Menutupnya lagi.

Tidak tahu harus jawab apa.

Bagian yang bahkan ia sendiri belum siap menjelaskan.

“Dia… ada kerjaan,” jawabnya pelan.

Mama Ratna langsung mengernyit.

“Kerjaan?”

“Malam begini?”

Belum sempat Rania menjawab—

Ting.

Ponsel Mama Ambar berbunyi.

“Oh?” gumamnya.

“Ini Gavin, bukan?”

Rania refleks menoleh.

Entah kenapa—

dadanya langsung tidak nyaman.

Mama Ambar membuka layar chat keluarga.

Lalu—

diam.

Ekspresinya berubah sedikit.

Mama Ratna ikut mendekat.

“Apa?”

“Ini…”

Layar ponsel perlahan diputar.

Dan dunia Rania mendadak terasa terlalu sunyi.

Karena di layar—

ada foto.

Gavin.

Di kantor.

Masih memakai kemeja navy yang tadi.

Dan di sebelahnya—

Clarissa.

Terlalu dekat.

Sedang duduk di ruang kerja.

22:47

Caption dari salah satu staf kantor:

“Masih lembur sama Bu Clarissa 😭 Direksi belum pulang.”

Melihat itu.

Sesuatu di dadanya turun.

Pelan.

Berat.

Bodohnya—

kenapa sakit?

Bukannya ini memang sewajarnya?

Bukannya dari awal—

hubungan ini cuma sementara?

Bukannya dia sendiri yang terus bilang:

Ini kontrak.

Lalu kenapa sekarang—

rasanya seperti baru saja kehilangan sesuatu—

yang bahkan belum pernah benar-benar ia punya?

Mama Ratna langsung berdiri tegak.

“LHO KOK SAMA CLARISSA?!”

Mama Ambar menyipit.

“Ratna…”

Rania buru-buru tersenyum kecil.

Senyum yang terlalu cepat.

Terlalu rapi.

“…Kerjaan kok, Ma.”

Dan entah kenapa—

justru karena senyum itu—

Mama Ratna langsung tahu:

Ada yang tidak baik-baik saja.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!