NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29 : Rosline dicurigai

Rosline masih membeku beberapa detik setelah tangan Bara menyentuh kepalanya tadi. Jantung gadis itu berdetak aneh sekarang. Terlebih karena Bara mengucapkannya dengan nada datar seperti biasa… namun justru terasa jauh lebih membuatnya gugup.

Sedangkan Bara langsung berjalan melewatinya menuju pintu mansion tanpa menunggu jawaban.

“Masuk.” ulangnya dingin.

“I-iya…”

Rosline buru-buru mengikuti dari belakang sambil menggenggam jas hitam milik pria itu yang masih berada di pundaknya.

Edwin berjalan paling belakang sambil memperhatikan dua orang itu diam-diam. Sudut bibirnya sempat terangkat tipis sebelum akhirnya ia menghela napas.

Begitu masuk ke dalam mansion, suasana langsung terasa hangat dibanding udara pelabuhan tadi. Namun ketegangan tetap terasa jelas dari para penjaga yang masih berjaga di berbagai sudut mansion.

Kakek Alberto yang sejak tadi duduk di ruang tengah langsung berdiri begitu melihat mereka masuk.

“Akhirnya kalian kembali juga.” gerutunya. “Aku hampir menyuruh seluruh mansion mencari kalian.”

“Kami baik-baik saja, Opa.” jawab Edwin santai sambil melepas jasnya.

Tatapan pria tua itu langsung beralih pada Bara. “Dan kau?”

“Aku tidak mati.” jawab Bara pendek.

Kakek Alberto langsung mendecak kesal. “Mulutmu tetap menyebalkan.”

Namun beberapa detik kemudian, sorot mata pria tua itu perlahan berubah serius saat melihat wajah dingin cucunya. “Apa kalian bertemu Victor?”

Suasana ruang tengah langsung sedikit hening.

Edwin mengangguk kecil. “Kami terlambat.”

“Dia sengaja mempermainkan kita.” lanjutnya rendah.

Tatapan Kakek Alberto langsung berubah tajam penuh ketidaksukaan. “Anak ular itu…”

Rosline yang berdiri tidak jauh dari sofa langsung menunduk pelan saat mendengar nama Victor lagi. Entah kenapa, hanya mendengar namanya saja sudah membuatnya tidak nyaman sekarang.

Dan Bara langsung menyadarinya. Tatapan pria itu otomatis tertuju pada Rosline beberapa detik. Wajah gadis itu terlihat lelah. Matanya bahkan mulai sedikit merah karena menahan kantuk dan stres sejak tadi.

“Kau belum tidur?” tanyanya tiba-tiba.

Rosline tersentak kecil lalu menggeleng pelan. “Belum…”

“Kenapa?”

Rosline langsung salah tingkah. “Ka-karena menunggu…”

Kalimat itu keluar begitu saja sebelum gadis itu sadar. Ruangan langsung mendadak sunyi.

Edwin spontan menunduk pura-pura batuk kecil menahan reaksinya sendiri. Sedangkan Kakek Alberto justru mulai menyipitkan mata penuh arti.

Rosline baru sadar apa yang ia katakan dan wajahnya langsung memerah panik. “Bu-bukan maksud saya…”

Namun Bara justru menatapnya diam beberapa detik terlalu lama. Lalu akhirnya pria itu berkata. “Lain kali tidak perlu menunggu.”

Rosline perlahan menunduk lagi. “Iya…”

Meski begitu… entah kenapa sudut bibir Bara justru bergerak tipis hampir tidak terlihat. Dan itu tidak luput dari penglihatan Edwin.

Namun suasana hangat singkat itu langsung menghilang saat Daniel kembali masuk ke ruang tengah dengan wajah serius.

“Tuan Bara.”

Tatapan Bara langsung berubah dingin lagi. “Apa lagi!”

“Kami menemukan sesuatu.”

Semua orang langsung menoleh.

Daniel berjalan mendekat sambil menyerahkan sebuah tablet. “Salah satu kamera keamanan mansion sempat mati tiga menit sebelum sistem diretas Black Viper.”

Edwin langsung mengernyit. “Hanya satu kamera?”

Daniel mengangguk. “Dan letaknya…”

Tatapannya perlahan beralih ke arah tangga lantai dua. "Koridor menuju kamar Nona Rosline.”

Rosline langsung membeku. Sedangkan suasana ruang tengah berubah dingin seketika.

Tatapan Bara perlahan mengeras menakutkan sekarang. “Siapa petugas jaga di area itu malam ini?”

Daniel menelan ludah kecil. “Salah satu penjaga baru, Tuan.”

“Mana orangnya?”

Wajah Daniel langsung berubah sedikit buruk. “Itu masalahnya…”

Tatapan Bara langsung tajam.

“Orangnya menghilang.”

Suasana ruang tengah langsung berubah mencekam.

Rosline refleks menegang. “Me-menghilang…?”

Daniel mengangguk dengan wajah serius. “Penjaga itu tidak ditemukan di pos keamanan maupun area mansion.”

Edwin langsung berdiri tegak dari sofa. “Sejak kapan dia hilang?”

“Kemungkinan tepat setelah sistem mansion diretas.” jawab Daniel cepat. “Dan identitasnya ternyata palsu.”

Tatapan Bara berubah benar-benar dingin sekarang. Ruangan langsung terasa menyesakkan hanya karena aura pria itu. Bahkan beberapa penjaga di sekitar ruang tengah sampai tidak berani bergerak sembarangan.

“Jadi Victor memang sudah menyusupkan orang ke mansion.” gumam Edwin rendah.

Kakek Alberto mendecak kasar sambil memukul tongkatnya ke lantai. “Sudah aku katakan, kalau keamanan mansion terlalu longgar beberapa bulan terakhir.”

Sedangkan Rosline perlahan mundur satu langkah tanpa sadar. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat sekarang.

Koridor menuju kamarnya. Berarti sejak tadi… ada seseorang yang mungkin mengawasi dirinya dari dekat. Dan kemungkinan orang itu masih berada di dalam mansion sebelumnya. Rosline langsung merasakan bulu kuduknya berdiri.

Namun tiba-tiba...

“Daniel.” Suara Bara terdengar menyeramkan, membuat semua orang terdiam.

“Ya, Tuan.”

“Kunci seluruh akses keluar mansion.” perintah Bara dingin. “Tidak ada satu pun staf yang boleh pergi malam ini.”

“Baik, Tuan!”

“Periksa seluruh identitas pegawai baru tiga bulan terakhir.” lanjutnya tajam. “Aku ingin semua data mereka di mejaku sebelum pagi.”

“Siap.”

Tatapan Bara lalu perlahan beralih ke arah Rosline. Dan kali ini sorot matanya berubah sedikit berbeda. Bukan marah, tapi jauh lebih serius.

“Kau ikut denganku.”

Rosline berkedip gugup. “Eh?”

“Sampai kita menemukan orang itu…” Bara berjalan mendekatinya perlahan. “Kau tidak boleh sendirian.”

Rosline langsung salah tingkah. “Ta-tapi saya bisa tetap di kamar.”

“Tidak aman.” Jawaban Bara terdengar cepat dan mutlak.

Edwin yang melihat itu langsung menghela napas kecil sambil memijat pelipisnya sendiri. “Kalau begitu biarkan Rosline pindah ke kamar tamu dekat ruang kerja dulu.”

Namun Bara langsung menggeleng tipis. “Dia tetap di lantai yang sama denganku.”

Kalimat itu membuat semua orang diam beberapa detik.

Rosline langsung membulatkan matanya kaget. “Hah?”

Bahkan Daniel sampai salah menelan ludah sendiri.

Sedangkan Edwin kini benar-benar menatap kakaknya dengan ekspresi rumit. Karena keputusan itu terlalu tidak biasa untuk Bara Alexander. Namun pria itu terlihat sama sekali tidak peduli dengan reaksi sekitar.

Tatapannya masih lurus pada Rosline. “Itu lebih aman.”

Rosline langsung panik. “Ti-tidak perlu seperti itu Tuan Bara! Saya tidak apa-apa!”

“Kau pucat.” potong Bara dingin.

Rosline langsung diam.

“Dan target utama mereka malam ini adalah dirimu.” lanjut Bara rendah. “Aku tidak akan mengambil risiko.”

Jantung Rosline kembali berdetak aneh. Entah kenapa… cara Bara mengatakan itu membuat dadanya terasa panas sekaligus gugup.

Namun sebelum suasana berubah semakin aneh...

Bip.

Salah satu monitor keamanan tiba-tiba berbunyi keras..Semua orang langsung menoleh cepat.

Salah satu penjaga muncul di layar CCTV dengan wajah panik. “Tuan Bara!”

Tatapan Bara langsung tajam. “Apa lagi?”

Pria itu terlihat pucat. “Kami menemukan sesuatu di koridor lantai dua.”

“Apa?”

Penjaga itu menelan ludah, sebelum perlahan mengangkat sesuatu ke arah kamera. Dan detik berikutnya, Rosline langsung membeku. Karena benda di tangan penjaga itu adalah boneka kecil beruang putih.

Boneka yang tadi siang sempat Rosline lihat di minimarket… namun tidak jadi ia beli. Di leher boneka itu tergantung secarik kertas merah kecil.

Tulisannya terlihat jelas di layar monitor. “Rosline... sebaiknya kau pergi dari mansion Alexander, karena di sana nyawamu terancam.”

1
Arditya
wiihh, jadi ini yang namanya victor. tangkap bara jangan kasih ampun😄
It's me Sky: terimakasih ka🙏
total 1 replies
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!