Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 31
**
Cowok Rese Yang Ngak Mau Tahu
**
Suasana canggung kembali menyelimuti ketika Some dan Dinner sama - sama tahu prestasi masing - masing. Hal itu memungkinkan bahwa mereka jelas berbeda, menjalin hubungan atau pertunangan dengan orang berbeda jelas punya tantangan sendiri. Dan untuk Some sebenarnya apapun caranya ia harus rela melakukannya. Tapi untuk Dinner yang suka cewek pintar itu, sedangkan dirinya selalu berprestasi dengan caranya kayaknya akan terasa lebih menantang.
"Loe beneran kayak cowok yang suka diceritakan selain karena orang tua loe berada, juga pintar dan pastinya loe suka bisnis," ujar Some terdengar tidak berkomentar. Sekalipun semua wanita itu sama saja menilai dan menilai, tapi Dinner tahu Some hanya cukup ingin tahu.
"Enggak juga, gue bukan deskripsi pria idaman, gue terdengar patuh pada mereka tidak disebut semua keinginan gue. Loe lebih baik dari gue," ujar Dinner dengan senyum kecil. Jelas kelebihannya hanya sebuah identitas untuk merujuk pada setujukah calon pada itu semua. Termasuk rasa ingin tahunya, benarkah ia mau.
"Tapi apapun kalau caranya baik itu baik juga buat masa depan loe Din. Loe setuju kalau orang tua gue juga berpikir terbaik untuk gue," balas Some merasa kagum secara pribadi sama Dinner. Dia mengagumi dia yang karismatik dan style dia bukan prestasinya.
"Jadi maksud loe jalan pertunangan ini juga merujuk pada hal baik? Well, gue sempat mau menolak mentah Some," kata Dinner sambil terkekeh kecil. Benar ia memang menuruti keinginan orang tuanya untuk datang, tapi benarkah niat itu baik dan jalan yang akan datang dari ini juga baik.
"Mentah? Sama saja gue sempat menolak cowok - cowok yang pernah jalan sama gue, termasuk loe kala itu," ujar Some sambil menunduk. "Tapi loe bilang papa dan mama melakukan yang terbaik untuk gue, jadi gue pikir kita terjebak," lanjut Some. Dinner memperhatikannya sambil menggaruk tengkuknya tiba - tiba rasa gugupnya kembali datang.
"Terjebak dinner ini? Please rencana orang tua itu absurd banget, padahal udah pernah juga kita ngabisin waktu buat kenalan ini, dan sekarang," ujar Dinner kesal. Tapi sebisa mungkin agar terlihat tenang ia nggak mau kesan dinner dia kalah dengan dinner cowok lain yang kalem dan santai. Apapun harus ia lakukan supaya terlihat lebih jago, dia harus selalu bisa melakukannya.
"Seornag itu secara resmi, jadi apa loe sudah ngambil keputusan, padahal kenal juga baru prestasi doang, nggak usah banyak ngomong deh," ujar Some sambil menampilkan wajah keki yang membuat Dinner diam kaku. Dia merasa tersudut padahal ia merasa Some hanya wanita biasa, tak lain mantan - mantannya.
"Loe kan cewek yang masih sekolah, kenapa bisa kenal sama sosmed, bahaya dan larangan itu?" tanya Dinner karena benar dia tidak suka wanita yang tampilan terbuka, apalgi untuk calon tunangan. Itu pasti pilihan tersulit dalam hidupnya.
"Gue suka aja Din, kalau loe suatu saat suka diri gue yang terlanjur bebas, nanti juga loe perlahan mencintai gue seperti hidup loe sendiri," ujar Some sambil mendelik. Ia merasa tak suka ketika hobinya hanya menjadi sesuatu kekurangan bahkan dalam hubungan. Tergantung siapa dirinya dan sosmed itu sendiri.
"Kenapa langsung mencintai, emangnya perjodohan ini akan berhasil. Dan perlahan jadi loe wanita yang pintar itu?" tanya Dinner heran.
"Gue pintar seadanya masuk kelas unggulan, juara lomba fisika se-provinsi, dan gue masuk kelas unggulan setiap tahun. Juga gue Something yang menjuarai banyak audisi sosial media, misal model sosmed," ujar Some bangga sambil mengangkat dagunya tidak peduli.
Dinner mengangguk mengerti, pintar di matanya adalah dia bisa menjadi pesaingnya di kelas bukan pintar macam ini. Tapi nggakpapa sih, Some terlalu pintar untuk disebut caper aja di sekolah. "Loe pernah punya pacar? Itu aja bukannya artis sosmed bisa aja ada hal yang lain," tanya Dinner penuh intimidasi.
"Gila loe, ada juga gue yang tanya loe udah punya pacar berapa, bukan gue," jawab Some agak kesal hampir saja tidam mau menanggapi teman date.
"Baik, gue pernah pacaran di sekolah sama teman - teman SMA gue. Dan di dua tahun terakhir, hubungan gue cuma antara itu dan itu," kata Dinner merasa malu untuk mengakui semuanya.
"Sama saja sih, pacaran yang pernah gue lalui juga itu - itu aja. Hanya saja itu akan bersikap larangan, mengingat ini adalah perjodohan," ujar Some mengingat Daniel.
"Setuju, itu bisa kita pikirkan lain waktu. Ternyata loe cewek baik - baik ya, maksudnya loe emang nurut aja kata orang tua loe, dan loe berusaha menampilkan yang terbaik untuk mereka," kata Dinner selalu paham ketika dia menyukai Some pas pertama kali melihatnya di sekolah. Perkenalan di resto itu hanya membuatnya berpikir kritis, dan tak pernah menyadari orang yang ia sukai di sekolah adalah orang yang sama.
"Thanks loe mulai suka ya sama gue?" tanya Some dengan senyum kecil. Rasanya terlalu bahagia ketika orang yang kita anggap iya itu ternyata menyukai kita yang menampilkan diri sendiri.
"Iya, gue suka aja bukan berarti ada hal lain ya, karena rasa suka itu datang dari cara kita berkenalan. Well itu mengesankan, untuk date hari ini," jujur Dinner sambil tersenyum tulus. Benarkan dirinya terlalu penurut bahkan menganggap pertunangan ini jalan terbaik.
"Ya gue ikut senang. Tapi bagaimana jika orang itu punya penyakit, seperti yang pernah loe dengar dari mama dan papa mungkin," ujar Some kata - kata yang sebenarnya berusaha ia tahan. Karena ia tidak mau merusak hal yang sudah direncanakan dengan sebagus mungkin.
Jantung Dinner rasanya berhenti berdetak, ia hanya mendengar beberapa kata tidak lebih. Namun tentang penyakit, seperti pilihan hidupnya itu adalah takdir Allah SWT. "Gue nggak keberatan Some, mungkin akan mencoba mengimbangi kesehariannya," jawab Dinner menatap Some tulus. Kata - kata yang Some harapkan dari seseorang untuk menerimanya.
"Gue sebenarnya pernah punya gejala paru - paru, dan kemarin gue operasi paru karena banyak kebocoran, dan dari kebocoran lunak itu, gue bisa saja kena kanker," jawab Some tapi dia tahu kata - katanya terdengar seperti suara merdu menyambut pagi. Tapi jujur itu adalah terserius yang mungkin di dengar orang yang menyukainya.
Dinner sempat tercengang, jangankan untuk menerima orang baru di hidupnya. Lalu perlahan mencintai, dan sekarang menerima penyakitnya. Bukankah terdengar klise, tapi benarkah semua itu terjadi pada orang yang ia taksir selama ini. Ia nampak ragu, tapi kesehatan dan penyakit adalah hal yang sulit dijalani, apalagi sama Some. Ia jelas tidak mau melihatnya sedih dalam kesendirian. Tapi benarkah, ia harus menyetujuinya? Iya.
"Nggak masalah Some, gue bisa temani loe check up dan menemani loe kapan loe membutuhkan gue, itu kan yang loe butuhkan?" kata Dinner tulus, namun aneh semua orang juga tahu kalau itu hanya berupa simpati dan keraguan. Tapi.. Some nggak mau mengecewakan orng tuanya, dan membatalkan semuanya.
"Iya, gue juga sama loe," ujar Some sambil tersenyum berusaha memberikan kesan terbaik dari perkataanya yang mungkin sedikit membebani. Dinner nampak tidak memedulikan, tapi ia memegang pergelangan tangan Some yang bersandar pada meja. Berusaha memberikan kehangatan.
"Gue bilang iya, dan semoga pilihan gue kali ini nggak salah," ujar Dinner memberi keyakinan.
**
Setelah date selesai Some memutuskan untuk pulang lebih dulu, melihat malam semakin tinggi. Ia melangkahkan kaki dengan sepatu haknya, keluar dari area resto. Langkahnya terdengar pelan, seiring dengan masa depan yang selalu ia pikirkan. Sebenarnya bisa saja ia meminta diantar pulang oleh Dinner, namun ia merasa cowok itu hanya asing. Yang kebetulan singgah di kehidupannya. Jadi rencananya gadis itu akan memesan taksi online, namun setelah melihat layar hpnya. Dia nampak terkejut jam sepuluh malam bukan waktu yang tepat untuk memesan.
Some nampak memegang hpnya resah, ia berdiri di depan resto dengan wajah gugup sambil mundar - mandir. Dinner sedang asik memainkan hp, nampak Tidka peduli pada Some karena tahu kalau Some bisa pulang sendiri. Selesai dengan itu ia mengambil kunci mobil, dan terdiam di tempat duduknya dengan wajah memerhatikan gadis yang sedang memeluk tubuhnya itu.
Dia mendekatinya, nampak mulai sadar sedari tadi hanya menyibukkan diri dengan pikirna sendiri. Tanpa ia yakini keputusannya membawa arti lain di hidupnya, "Some!" katanya sambil memegang pundak gadis itu.
Gadis itu nampak tersadar, "Apa gue bisa pulang sendiri kok, sebentar lagi taksi onlinenya datang, loe mau pamit ya?" reaksi Some terdengar seperti cewek yang egois karena memikirkan dirinya sendiri juga.
"Iya, tadinya. Tapi gue kayaknya ada yang menemani, yuk mau pulang jam sekarang kan, gue pikir loe masih ada waktu buat date," ujar Dinner terdengar tulus. Ia menunjukan sikap ramahnya, karena ia juga tidak mau hidup dalam ketidakpastian.
"Nggak usah," tolak Some.
Dinner memegang tangan Some yang kedinginan itu lalu menariknya perlahan dan membawanya ke depan mobilnya. Setelah membuka kunci mobil, dan pintu depan, ia memasukan gadis itu. "Nanti gue bilangin kalau mama loe ngomel sebab lama date-nya," katanya lalu terkikik geli.
Some memerhatikan tapi kemudian tertawa kecil, "Lain kali bilang aja ya kalau merasa nggak enak, makasih Din," jawab Some perlahan menampilkan senyum manisnya. Dinner memerhatikan dan lalu berusaha fokus menyetir, meskipun sebenarnya ia tidak pernah membawa penumpang lain, apalagi untuk kali pertama seorang wanita.
**