Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Plak!
"Siapa kalian?" Ia memegangi pipinya yang terasa berdenyut nyeri.
"Sudah bangun! Bagus! Saatnya kau pergi bekerja. Dapatkan uangnya jika tidak kedua adikmu tidak akan bisa bersekolah dan kakakmu akan gagal melamar gadis incarannya," sentak suara seorang wanita paruh baya dengan galak.
Gadis itu menoleh kepadanya, mengernyit dahinya saat tidak mengenali sosok perempuan itu.
"Siapa kau? Kenapa aku ada di sini? Dan kenapa kau memintaku untuk bekerja?" tanyanya dengan bingung. Menatap wajah asing mereka satu per satu.
Bukankah seharusnya aku sudah mati di gudang rumah sakit? Jasadku dijual untuk dijadikan percobaan. Kenapa bisa di sini?
Sekali lagi ia memutar pandangan, menatap sekitar ruangan. Bukan rumahnya, bukan pula rumah suaminya. Atau pun rumah sakit ternama di kota Anggrek. Itu persis seperti gubuk yang hanya diatapi oleh seng.
Plak!
Sekali lagi pukulan mendarat di punggungnya dengan keras. Pukulan dari sebatang rotan yang menghantam punggungnya yang ringkih. Ia benar-benar tidak memiliki persiapan apapun.
Argh!
Ia menjerit memegangi bagian lengannya yang terasa ikut berdenyut. Ia mendongak, menatap laki-laki paruh baya yang asing di matanya itu.
"Kenapa kau memukulku? Sebenarnya siapa kalian? Kenapa aku bisa ada di sini?" Sekali lagi ia bertanya, menatap setiap wajah yang dipenuhi kebencian di hadapannya itu.
Tak ada keramahan dari mereka, berpasang-pasang mata itu memancarkan kebencian yang tak berujung. Setelah beberapa saat, ia baru menyadari seluruh tubuhnya terasa sakit dan lemah. Apa yang terjadi? Ia sendiri pun tak tahu.
"Bagus! Setelah pingsan kau pura-pura hilang ingatan untuk bisa lolos. Sekarang juga kau pergi bekerja! Jangan pulang sebelum kau mendapatkan uangnya!" bentak wanita paruh baya itu menunjuk pintu keluar dengan tangan kasarnya.
Wajahnya merah padam, setiap garisnya mengeras dipenuhi amarah. Tak ada cinta dan kasih sayang yang dulu pernah ia rasakan. Suara lembut suaminya ketika bekerja, pelukan hangat penuh cinta. Kata-kata manis dan mesra yang setiap hari menyapa telinga, hilang begitu saja.
"Kenapa aku harus bekerja untuk kalian?" Ia mendesah berat, merasakan seluruh tubuhnya yang teras sakit. Ia pikir semua kesakitan dan kelemahan itu karena pasca melahirkan atau siksaan yang dialaminya sebelum menjadi kelinci percobaan di sebuah laboratorium.
"Sania! Kau benar-benar membuat kesabaranku habis! Hari ini juga aku akan memberimu pelajaran sampai kau pergi bekerja!" Lengkingan suara itu bagai petir menyambar.
Suara berat dan memberinya tekanan yang luar biasa. Rania, jiwanya menggantikan seorang gadis nelayan yang hidup di pesisir pantai nun jauh dari kotanya. Kembali ke dunia karena tangisan sang anak. Jiwa Sania si gadis nelayan yang lemah, merelakan tubuhnya untuk Rania. Ia sudah lelah menjalani kehidupannya sebagai sapi perah. Kepalanya berdenyut, ingatan milik gadis itu berputar-putar tak terkendali.
Sania?
Gadis yang malang, kehidupan sehari-hari harus memenuhi semua kebutuhan keluarga itu. Akan tetapi, apa hubungan gadis itu dengannya? Kenapa jiwanya bisa menarik jiwa Rania dari alam bawah?
Belum semoga mencerna gambaran itu, sebuah pukulan yang sangat keras kembali menghantam punggungnya. Rania tak sempat mengelak, ia merintih pelan, tapi kemudian matanya berkilat penuh amarah. Seumur hidup tak pernah ada yang memperlakukannya dengan kasar seperti itu.
"Cukup sudah!" teriak Rania. Suaranya menggeram dingin, garis wajahnya mengeras. Tangan kanannya menangkap tongkat rotan yang melayang di udara hendak menghantam tubuhnya.
Darah merembes dari sela bibir, pakaiannya terkoyak dan mengeluarkan darah dari luka sabetan rotan. Ia bangkit, menatap laki-laki yang memukulinya dengan tajam. Rania menarik rotan itu dengan kuat hingga terlepas dari tangan laki-laki tersebut.
Suaranya berubah, semilir angin pantai tak lagi terasa menyejukkan. Wajah mereka menganga seperti orang bodoh, menatap Rania yang dikuasai oleh amarah.
"Di-dia berubah?" Wanita paruh baya di sana bergumam lirih dan terbata.
Mata Rania tak lagi sama, Sania yang dulu tak pernah menatap mereka dengan tajam seperti saat ini. Sania adalah gadis pengecut yang tak pernah melawan. Ia hanya menunduk ketika direndahkan. Menerima ketika dipukul, tapi saat ini jiwanya adalah Rania. Wanita yang tak pernah rela dirinya direndahkan oleh siapapun.
Bugh!
Argh!
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄