Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Jangan Tinggalkan Aku
“Saya Dimas. Mantan kekasih Adelin.” Kalimat darinya terngiang di telingaku. Aku mematung. Suaraku bagai tercekat di tenggorokan. Kecemasan kini meliputi dada. Setega itu ia berbohong demi menjatuhkan harga diriku dan mendapatkan hatiku kembali.
“Nggak! Nggak, Mas. Aku memang mengenalnya. Tapi dia cuma teman kantorku. Hubungan kami tak lebih dari itu,” jelasku pada Mas Afwan. Aku memegang erat lengannya. Sementara Hamzah kini berada dalam gendongan Mas Afwan.
“Adelin! Kamu lupa kejadian malam itu?” Mataku membelalak. Napasku memburu. Ingatanku kembali berlabuh pada memori beberapa waktu yang lalu. Aku memejamkan mata. Mas Afwan kini menoleh kepadaku dengan tatapan serius.
“Ada apa, Sayang?” tanyanya padaku.
Dimas tertawa sumbang. Lantas menjawab tanpa nurani. “Bibirnya, telah kurebut lebih dulu darimu.”
“Dimas! Kamu jangan bohong! Aku justru menghindar karena kamu maksa aku. Sayang, Mas … jangan percaya dia.”
Mas Afwan kini menebar senyuman. Tanpa ada amarah sedikit pun dari wajahnya. Ia pun menjawab dengan bijaknya.
“Setiap manusia punya masa lalu. Dan siapa pun pernah berbuat dosa. Termasuk saya. Dan Anda, salah sasaran. Saya mencintai istri saya yang sekarang. Bukan berkaca pada masa lalunya. Dan satu hal lagi ….”
Kulihat rahang Dimas mengeras. Matanya menatap tajam Mas Afwan.
“Dia sekarang adalah istri saya. Saya harap Anda paham sampai di sini.”
Dimas mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Ia tampak menarik napas kuat lalu mengembuskannya dengan kasar.
“Kami permisi. Assalammualaikum.” Mas Afwan berlalu meninggalkan Dimas, sembari menggenggam tanganku. Aku yakin, di dalam hatinya kini ada bara yang sulit diredam. Tampak dari wajahnya yang terlihat memerah walau kata-katanya berusaha ia kendalikan.
Aku sama sekali tak menolehkan pandangan lagi ke arah belakang. Hingga tiba-tiba … aku mendengar sebuah teriakan dari belakang sana. Dimas adalah tersangkanya. Mas Afwan tersenyum menyindir. Seraya merangkul bahuku.
Teriknya mentari semakin terasa kala jam menunjuk angka sepuluh pagi. Bunyi klakson kendaraan mulai memenuhi jalanan. Debu dan asap knalpot adalah teman setia jalanan di kota padat seperti Jakarta. Aku melirik ke kiriku saat berada di atas motor ini. Menyaksikan gedung-gedung yang menjulang tinggi itu.
Tiba-tiba … aku melihat sebuah apartemen yang berdiri megah di antara bangunan tinggi itu. Pikiranku kembali melayang pada memori kelam masa itu. Rasa cemas menghantui. Pikiranku kalang kabut. Hingga tangan ini spontan memeluk erat pinggang Mas Afwan.
Kurasakan genggaman hangatnya menyentuh tanganku. Hingga kepanikan itu, kini sirna kembali.
Ia membuka helmnya lalu berkata …. “Peluk yang erat, ya! Biar nggak jatuh,” ucapnya padaku.
Kulihat, Hamzah sedang asyik menikmati pemandangan kota Jakarta di depan sana. Tiba-tiba … ia berkata.
“Abaty, ngantuk. Mau tidul,” ucapnya dengan nada berteriak. Seolah ingin mengalahkan deru angin.
“Di belakang, ya sama Umi.”
Kami pun berhenti di tepi jalan. Kemudian mengubah posisi duduk Hamzah agar ia duduk di belakang bersamaku. Motor Beat ini kembali melaju dengan kecepatan sedang. Hamzah seketika terlelap dalam pangkuanku. Kubelai lembut rambutnya seraya mengecup punggung tangannya. Ia … adalah salah satu alasan terbesarku memilih Mas Afwan sebagai suamiku.
***
Siang itu, setelah melaksanakan salat zuhur, aku dan keluarga besarku yang baru makan siang bersama di meja makan. Saat tengah makan siang, tiba-tiba Mas Afwan menyampaikan sesuatu yang membuat Umi mengernyitkan dahinya heran.
“Umi, lusa kami akan pindah ke Bandung.” Aku lantas menghentikan aktivitas makanku. Kulirik Umi yang kini membelalak tak percaya mendengar pernyataan anaknya.
“Kenapa pindah, Nak?” tanya Umi di sela makannya.
“Aku akan mengisi kajian rutin di sana, Umi. Juga ada cabang bisnis baruku di sana. Kalau bolak balik, takut menghabiskan waktu. Jadi, lebih baik aku tinggal di sana bersama Hamzah dan Adelin.”
“Tapi, Nak. Adelin bagaimana? Apa ia setuju? Kalau kamu juga ujung-ujungnya nanti sibuk di sana, Adelin nanti kesepian. Dan repot urus Hamzah sendiri.”
“Justru itu, Umi. Aku ingin ia belajar mandiri. Tidak lagi bergantung pada Umi maupun Bi Ani.”
Umi menatapku lama. Lantas, ia bertanya.
“Nak, kamu setuju pindah?”
“A … aku.” Kuperhatikan wajah Mas Afwan dan Umi bergantian. Kemudian menjawab.
“Aku ikut Mas Afwan, Umi.” Raut wajah Mas Afwan kini berubah menjadi tersenyum lega. Tangan itu lantas membelai lembut rambutku, lantas sebuah kecupan mendarat di puncak kepalaku.
“Baiklah, kalau itu adalah pilihanmu, Umi maklumi. Apa pun yang membuatmu bahagia, Umi ikut bahagia, Nak,” ujar Umi seraya memelukku erat.
Lusa itu datang. Aku dan Mas Afwan serta Hamzah, kini bersiap-siap hendak pindah rumah. Jam menunjuk pukul delapan pagi. Perjalanan dengan mobil melewati jalan tol butuh waktu tempuh dua hingga empat jam lamanya. Sehingga kami memilih waktu pagi untuk berangkat ke Bandung.
Pagi itu, kabut tipis di sepanjang jalan bagai menyambut kedatangan kami. Mas Hamzah mematikan AC mobil, kemudian menurunkan kaca jendela. Membiarkan udara dingin pegunungan menusuk kulit, dan menyapa wajah.
“Lihat! Pemandangannya asri, kan?” Tunjuk Mas Afwan pada kebun sayur dan pohon pinus yang menyegarkan mata. Aku tersenyum. Kurasakan denyut jantungku berdetak teratur. Menikmati pemandangan yang meneduhkan ini.
Di kursi belakang, Hamzah telah terlelap. Bersama mainan robot kesayangannya. Kutuai senyuman seraya mengembalikan pandanganku ke arah depan. Saat ini, rasanya begitu aneh. Ada rasa gugup yang diam-diam merayap di dada. Bandung dengan segala suasana tenangnya seakan berbisik, bahwa kehidupan baru kami di sini akan baik-baik saja.
“Kita sampai.” Mas Afwan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah sederhana yang tampak sejuk di mata. Aku tersenyum kala melihat pemandangan di sekitarnya.
Mas Afwan turun lebih dulu, kemudian membukakan pintuku. Kami membiarkan Hamzah tetap terlelap di dalam mobil. Sementara kami, sibuk memasukkan barang-barang kami dari Jakarta ke dalam rumah baru kami.
“Mas, rumah ini … kontrak?” tanyaku penasaran. Karena memang rumah ini terlihat sudah rapi.
“Tidak. Mas beli buat kita menetap di sini. Alhamdulillah, bisnis madu kita berjalan lancar. Doakan Mas selalu, ya. Supaya bisnis kita semakin berkembang.”
Aku mengangguk pelan. Kemudian beralih menaruh koper-koper kami di dalam kamar. Sejenak aku menatap ke arah depan. Pemandangan kebun sayur tampak asri. Udaranya sejuk membuat siapa pun akan betah menetap di sini.
“Tolong tutup pintunya, Sayang,” ucap Mas Afwan memintaku menutup pintu mobil. Tampak Hamzah kini berada dalam gendongannya. Aku pun bergegas menuju kamar, dan membersihkan kasur dengan pemukul kasur yang tergantung di gantungan pintu kamar.
Mas Afwan menaruhnya pelan setelah aku membersihkan kasurnya. Kami pun menatap Hamzah yang kini tertidur lelap. Tiba-tiba … Mas Afwan membelai lembut wajahku. Lalu berkata ….
“Mumpung anak kita tidur. Gimana kalau ….” Aku menahan napas. Tak sanggup berkata apa pun saat ini.
“Masak mie?” Kuembuskan napas lega, saat mendengar kalimat itu. Aku lekas mengangguk cepat, kemudian mulai mengambil mie yang ada di dalam kresek plastik.
Kepulan asap di dapur sederhanaku terbang menuju sebuah ventilasi kayu yang membiarkan udara dingin masuk dan segera membaur. Saat aku tengah memasak, sepasang tangan tiba-tiba memelukku dari arah belakang. Kemudian sebuah kecupan mendarat di pipiku. Jantungku kembali berdegup kencang. Namun, iramanya masih teratur.
“Masak yang enak ya, Sayang,” ucap Mas Afwan padaku. Aku mengangguk lantas tersenyum padanya.
Selepasnya, kami menyantap mie ini bersama. Namun, tiba-tiba setelah makan … Mas Afwan menyampaikan sesuatu padaku.
“Aku akan pergi mengisi kajian sore ini. Kamu … nggak keberatan, kan aku tinggal sebentar?” Aku mengangguk. Walau sejatinya dalam hatiku penuh kecamuk. Aku … takut sendirian.
“Apa aku boleh ikut?” tanyaku kemudian.
“Ini kajian khusus ikhwan. Lagi pula, Hamzah sedang tidur.” Aku lagi-lagi mengangguk pasrah. Membiarkan Mas Afwan pergi sejenak. Ya, ia pasti hanya sejenak.
***
“Aku pamit sebentar ya, Sayang.” Ia mencium keningku lembut. Kemudian melambaikan tangannya.
“Fii amanillah,” jawabku sambil membalas lambaian tangannya.
“Ma’asalamah.” Ia berlalu, kemudian menutup kaca mobilnya.
Entah mengapa rasa cemas tiba-tiba merayap dalam dadaku. Aku … bagai anak kecil yang ditinggal pergi orang tuanya. Aku menepi sejenak. Duduk di dalam kamar bersama Hamzah yang masih terlelap. Kucoba menyentuhnya. Berharap ia bangun dan aku bisa memiliki teman bermain saat ini. Namun, nihil. Ia sepertinya sangat lelah.
***
Malam menyapa. Nuansanya lebih mencekam dari yang kukira. Suara burung hantu dan jangkrik saling bersahutan. Menambah kesan sunyi di kampung ini. Bukan setan yang kutakuti. Namun, aku sendiri heran … entah apa yang membuatku takut ditinggal sedari tadi.
Jam menunjuk pukul sepuluh malam. Mas Afwan tak kunjung pulang. Pesanku sedari tadi tak kunjung ia jawab. Hujan badai yang mulai turun membuat menara pemancar di lembah sana terganggu. Aku mencoba keluar rumah, membiarkan angin kencang menerpaku.
Telepon tersambung. Tapi, tak ada jawaban. Kali ini, ketakutan seolah mencengkeram jiwaku kuat-kuat. Hingga aku kesulitan membedakan mana realita dan isi pikirku yang kacau. Tiba-tiba … sebuah pikiran muncul di kepala.
“Sesuatu terjadi pada suamimu.” Aku bergidik. Lantas menangis tersedu. Hamzah telah kembali lelap setelah sore tadi sempat bangun. Sunyi menyamar menjadi sepi yang menusuk pelan-pelan.
Aku mundur ke sudut ruangan. Menekuk lututku dan terduduk di sana. Hingga tiba-tiba … sebuah teriakan lolos dari tenggorokanku.
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?