masih up, cuma jarang!
Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05. Peraturan baru
05.
Morline mendengus dengan senyuman. "Baiklah aku mengerti." Dia melangkah mendekat dan menatap hidangan yang belum sempat para pelayan makan. "Apa tuan Kasha merasa para pelayan tidak layak memakan masakan anda?" Lalu Morline menatap pria itu lagi.
Kasha tersentak, tapi dia tak membalas apapun. Para pelayan mulai merasa ketegangan di dapur itu.
"Tapi, coba pikirkan dari mana sumber daya bahan-bahan yang anda masak ini? Dari para petani, rakyat biasa. Bukankah dengan kita membuang makanan ini, begitu saja kita tak menghormati kerja keras mereka? Aku hanya merasa sayang terhadap makanan ini jika di buang begitu saja. Jadi tuan Khasa, aku harap anda berlapang dada, masakan yang anda masak juga ikut dirasakan oleh mereka. Itu tidak merugikan siapapun, bukan?"
Khasa tampak menghela nafas. Dia menatap Morline dengan pandangan lurus. "Memang tak merugikan siapapun, tapi peraturan di istana memang begitu. Hidangan istana memang harus di buang setelah di makan, habis ataupun tidak, untuk menjaga ke-ekslusif-an dari hidangan yang tersaji. Maaf jika saya terkesan membantah yang mulia ratu." Kasha menunduk hormat, tapi Morline bisa merasakan bahwa permintaan maaf itu tidak tulus.
"Tidak apa-apa. Tapi aku punya satu pertanyaan untukmu. Apa anda tahu kericuhan yang terjadi di kota Sentra?"
Kasha menggeleng. "Tidak yang mulia."
Morline mengangguk pelan. "Baiklah aku bisa memahami karena anda memang tak tahu. Para petani dan pedagang menuntut Juandar, yang sekarang sudah dieksekusi karena menerapkan pajak terlalu tinggi. Ada anak bernama Yuhan yang berdiskusi denganku mengenai kondisi para petani. Dia bilang; menjadi petani itu sulit, sebagian besar mengandalkan alam, jadi tak bisa diprediksi apakah akan panen besar atau justru gagal panen.
Dia juga bercerita bagaimana sulitnya menanam gandum saat hujan tak kunjung turun. Bukan hanya dia yang mengatakan hal seperti padaku, tapi para petani lain juga. Jadi, ketika aku sadar makanan ini dibuang begitu saja padahal masih layak di makan, membuatku teringat perjuangan para petani. Aku juga ingin kau menghargai mereka dengan membuat makanan lezat, lalu mulut-mulut kami bisa menikmati hidangan yang dihasilkan dari kerja keras seseorang di luar sana termasuk dirimu."
Mata para pelayan berdiri di pojok ruangan memerah bahkan ada yang diam-diam menghapus air matanya.
"Yang mulia." Salah satu pelayan yang berada di belakang beberapa pelayan mengalihkan atensi Morline dari Kasha. "Maaf jika saya lancang bicara pada anda, tapi apa yang anda katakan membuat saya terharu. Saya adalah anak petani dan memang benar apa yang anda katakan pada tuan Kasha bahwa kehidupan petani itu tidaklah mudah.
"Setia harinya kami bekerja di ladang, menghadapi terik panas matahari, kadang badai, kadang juga badai salju. Ketika panen gagal, kami sampai tak bisa makan. Jadi ketika yang mulia mengatakan itu, saya teringat keluarga saya di desa. Maaf jika saya lancang memotong pembicaraan, tapi apa yang dikatakan yang mulia ratu memang benar." Pelayan itu menunduk, kedua tangannya terlihat bergetar. Teman-teman sesama pelayan mencoba menguatkan dengan menepuk bahunya.
"Mulai sekarang peraturan jika setiap hidangan istana itu harus di buang setelah selesai disajikan, harus di hapuskan." Kata Morline.
Kasha menatap pelayan yang menangis itu, alisnya mengkerut. Masih merasa kurang sepakat dengan keputusan Morline. "Yang mulia, tapi saya kurang sepakat."
"Ya katakan."
Kasha mendelik, tampak terkejut. Dia tak menduga jika Morline akan mendengarkan keluhannya. Dia kira gadis yang baru menjabat sebagai ratu ini akan memutuskan secara sepihak. Kasha berdehem. "Seandainya setiap hari hidangan istana tersisa dan para pelayan memakannya, bukankah itu akan menimbulkan keributan antar pelayan? Karena tidak semua pelayan bisa menikmati hidangan istana, bisa saja ada diantara mereka yang cemburu dan itu akan menimbulkan konflik antar pelayan. Bagaimana anda mengatasinya."
"Pertama, jangan membuat hidangan istana terlalu banyak. Namun jika ada tamu yang datang, hidangan berbagai macam makanan, itu dianjurkan. Kedua, akan ada hari khusus dimana semua pekerja di istana memakan hidangan istana. Aku akan mendiskusikannya dengan raja nanti, aku tak mungkin mengambil keputusan sendiri. Kalian hanya perlu menunggu kabar baiknya."
Morline memberi senyum pada semua pelayan di dapur, lalu menatap kembali Kasha yang wajahnya masih di tekuk.
────୨ৎ────
"Katanya akan ada hari khusus untuk para pelayan memakan hidangan istana ya?" Pelayan yang sedang menjemur kain itu tampak bersemangat ketika mendengar kabar itu.
Meski ada hidangan yang bisa diam-diam mereka makan, tapi tak semua pelayan dapat merasakan hidangan mewah dan lezat yang dimasak langsung oleh koki istana. Ketika ada desas-desus bahwa raja akan menetapkan hari khusus untuk mereka bisa makan lezat, bagi para pekerja seperti mereka tidak ada yang tidak senang dengan kabar itu.
"Ya, aku juga dengar berita itu. Katanya yang mulia ratu ingin semua pekerja bisa merasakan hidangan istana yang katanya lezat itu. Aku jadi tidak sabar."
"Tapi belum tentu itu bisa terjadi, kan?" Pelayan lain yang baru datang membawa kain basah menyela. Kedua pelayan yang sedang menjemur kain itu menoleh padanya. Dia meletakkan baskom ke tanah dan menatap keduanya. "Rata-rata bangsawan kan selalu menjanjikan hal-hal yang manis tapi kemudian tak bisa mereka wujudkan. Bukankah itu sering terjadi?"
"Benar juga yang kau katakan."
"Berarti kita tak boleh senang dulu, ya?"
"Ah, benar-benar. Rakyat rendahan seperti kita memang sangat sulit mendapatkan kebahagiaan kecil."
Dari kejauhan, Joseph mendengar percakapan mereka. Dia memang sudah tahu kabar itu ketika dia bangun pagi hari ini. Sebenarnya dia sendiri juga ragu apakah hal seperti itu akan terwujud? Rasanya aneh jika seorang bangsawan apalagi seorang ratu bersikap ramah dan peduli pada rakyat biasa dan para pekerja di sini.
Sepanjang hidupnya, Joseph hampir tak pernah melihat bangsawan yang mempedulikan para pekerjanya. Jika adapun, jelas hanya dipermukaan dan kata-kata manis mereka memang hanya di mulut saja. Jadi keraguan itu masih ada di hati Joseph.
Meski dia sendiri memiliki jabatan yang lebih tinggi dari rata-rata pekerja di istana ini, tapi tetap saja selalu ada tekanan dari atasannya yang bisa membuat Joseph kehilangan satu persatu helai rambutnya yang sudah memutih.
Joseph menaikkan kacamatanya yang turun, dia melangkah lebih cepat ke taman belakang istana.
Melihat sosok tinggi membelakanginya, Joseph menunduk. "Yang mulia memanggil saya?"
"Apa topeng yang aku pesan sudah sampai?"
"Akan di kirim hari ini, mungkin tiba sore nanti. Apa anda membutuhkannya segera?"
Cedric mengangkat tangannya, Joseph bisa melihat bekas luka bakar di punggung tangannya. "Tidak. Aku belum terlalu membutuhkannya." Tangan itu turun , bergerak merah bunga putih yang sedang mekar indah. Cedric menariknya kasar. "Arten mengatakan jika dia belum bisa membuat obat yang aku inginkan. Joseph, menurutmu apa luka ini akan sembuh? Apa Arten bisa membuat obat itu?"
"Yang mulia...." Joseph tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak bisa memberikan janji pada seorang raja, tapi tidak juga meruntuhkan harapannya untuk sembuh. "Anda hanya perlu percaya pada diri anda sendiri, mungkin tidak masalah jika anda tampil berbeda."
"Tidak!" Cedric hampir berteriak, suaranya tertahan oleh emosi yang Joseph bisa rasakan, emosi benci dan amarah. "Aku tidak mau tampil buruk rupa di depan umum! Itu memalukan Joseph! Tau kah kau, kalau orang-orang itu membicarakan kekalahanku saat duel? Mereka pasti akan menertawakan aku, Joseph!"
Joseph memejamkan matanya ketika aura tak nyaman pria yang sedang membelakanginya menguar bagai asap beracun yang mampu menekan pernapasannya. Dia tak bisa mengelak bahwa Cedric adalah keturunan dari raja Hatranas, seorang raja yang mampu membuat kaki musuhnya bergetar hanya dengan mendengar namanya saja.
Saat anak-anak dulu, Joseph pernah menyaksikan betapa agungnya kakek Cedric saat itu. Dia masih teringat bagaimana, raja Hatranas berorasi, membangkitkan semangat juang para prajurit untuk mempertaruhkan segalanya demi negara mereka tercinta.
"Aku akan kembali ke kamarku, ambilkan aku jubahnya."
Joseph hanya mengangguk tanpa menjawab, dia berbalik pergi untuk mengambil jubah sang raja yang akhir-akhir ini selalu dia pakai.
Di tinggal Joseph. Cedric menunduk, melihat bunga mawar putih yang indah kini telah hancur dengan kelopak yang berceceran di tanah akibat ulahnya. Dia menghembuskan nafas panjang, lalu menatap ke depan. Tepat ke hamparan bunga-bunga indah itu.
Cedric teringat malam tadi. Gadis itu mengetuk pintunya beberapa kali, dan dengan suaranya yang seperti kicauan burung meminta dia agar mengesahkan hari perayaan untuk menghormati para petani dan sebagai bentuk syukur atas berkah dari dewa.
Sebenernya itu ide yang bagus, Cedric menyetujuinya. Namun, yang membuatnya heran adalah keberanian Morline. Keberanian yang tak pernah gadis itu tunjukkan sebelumnya.
Cedric masih memikirkannya hingga kini. Kenapa? Kenapa harus sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Jika dia bertindak seperti ini dari dulu, mungkin posisinya masih teguh dan semakin kuat karena dukungan dari Morline.
Namun di saat posisinya mulai goyah, akibat permasalahan di masa lalu dan kekuatan Edward yang dia bangun sengaja atau tanpa sengaja itu. Gadis itu justru mulai bertindak? Apakah dia menyadari sesuatu? Atau ada hal lain di balik perubahannya?
Terdengar langkah kaki mendekat, lamunan Cedric tentang Morline buyar ketika Joseph datang dan memberikannya jubah.
────୨ৎ────
Tiga hari kemudian.
"Kyaaaa!"
"Apa? Ada apa? Kenapa berteriak begitu?"
"Hari khusus itu akhirnya di sah kan, dan akan tiga di tanggal 16 bulan ini."
"Hah serius? Dapat berita dari mana?"
Dia mengeluarkan koran dan menunjukkannya. "Ini, bacalah."
"Di tanggal 16 bulan 6, akan diadakan perayaan rasa syukur pada dewa dengan acara makan bersama. Wah, ini benar? Apa ini berita bohong?"
"Mana mungkin bohong."
Tanggal 16 di bulan 6, sekitar 3 hari dari sekarang. Morline yang memang sedang jalan-jalan untuk membantu pencernaannya setelah selesai makan siang, tak sengaja mendengar para pelayan berteriak kegirangan.
Tak tahan, dia berjalan mendekati mereka bersama dia dayang pribadinya. "Itu benar, yang mulia raja telah menyetujuinya."
3 pelayan itu tersentak, segera berbalik lalu membungkuk dengan gerakan panik dan kaku. "Salam yang mulia ratu!"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bilang bahwa rakyat Hesperias di tanggal 16 akan merayakan hari perayaan sebagai ucapan syukur kita pada dewa. Itu janjiku pada kalian."
Sebenarnya mereka masih tidak percaya dengan berita yang baru saja mereka dapatkan, akan tetapi seorang ratu telah bicara dan mengatakannya di depan wajah mereka. Tidak ada yang tidak percaya jika sang penguasa sudah berkata demikian.
Meski diliputi perasaan dagu, tapi mereka tetap merasa senang."Terimakasih yang mulia."
"Sama-sama, asal kalian jadi warga negara yang taat saja, itu sudah cukup sebagai imbalannya." Morline kembali ke ruangannya setelah sedikit berbincang dengan 3 pelayan tadi. Dia melanjutkan membaca dokumen dan menyelesaikan pekerjaannya.
Di temani dengan kopi yang Morline minta pada Joseph 4 hari yang lalu, yang masih mengepul hangat dan mengeluarkan aroma kopi lembut, membuatnya lebih berkonsentrasi.
"Nina!" Teriak Morline.
Nina yang berada di luar ruangan segera membuka pintu. "Anda memanggil saya?"
"Panggilkan 5 prajurit, datang ke ruanganku."
"Baik yang mulia."
Morline ingin mengutus prajurit itu untuk datang ke ladang gandum dan membantu para warga mempersiapkan jamuan makan bersama ketika hari perayaan taba. Selain itu, Morline juga memberikan beberapa hal yang harus dilakukan oleh prajurit-prajurit itu lalu menjelaskan semuanya pada warga sekitar.
Di tanggal 16.
"Ibu kenapa ibu memasak begitu banyak makanan?!"
"Tentu saja ibu ingin ikut perayaan rasa syukur. Ambilkan ibu air."
"Ah! Aku tahu ibu akan mengikuti perayaan itu, tapi kenapa masak banyak? Bukankah semua keluarga juga akan memasak?"
"Memangnya kenapa? Ibu memasak sebagai bentuk syukur ibu."
"Aku mengerti ibu penuh rasa syukur, tapi kita harus menghemat makanan. Kita hanya tiga orang, aku, ibu dan adik."
Ibu Yuhan melambaikan tangannya. "Sudahlah, ibu sudah terlanjur masak. Mau bagaimana lagi. Ambilkan ibu air."
"Ah!" Yuhan tersadar dan segera mengambil segelas air untuk ibunya.
"Ayo, kita bawa semua makanan ini ke ladang. Menurut Hamy para pria sudah menyiapkan tempatnya."
Yuhan mengangguk. Dia mambantu ibunya mengemasi makanan yang sudah ibunya masak sejak matahari belum terbiasa ke dalam rantang. Dia menentengnya di tangan kanan, sementara tangan kirinya membawa air minum.
Yuhan dan ibunya berjalan bersama warga lain yang berbondong-bondong menuju ladang. Sesekali orang-orang menyapanya dan ibunya, beberapa kali ibunya mengobrol dengan wanita-wanita yang juga ikut perayaan.
"Yuhan!"
Dia menoleh, dua temannya menghampiri. Mereka juga membawa wadah makanan. "Kau juga ikut?"
Yuhan mengangguk.
"Aku awalnya tidak yakin kalau akan ada perayaan syukuran, tapi prajurit istana datang ke ladang dan membantu merapihkan ladang agar nyaman di gunakan, aku mulai percaya. Aku sempat tanya pada mereka, katanya yang mulia ratu yang mengusulkan ide ini pada raja. Bukankah ini keren? Kita baru pertama kali mengadakan acara seperti ini?"
"Iya, aku juga setuju. Ayahku bilang yang mulia ratu itu baik. Beliau adalah ratu yang pantas kita hormati." Ganus, putra sulung Gerald yang sekaligus teman dekatnya melangkah ke samping, berjalan di sisi Yuhan. "Bukankah kau pernah bicara padanya, bagaimana pendapatmu tentang ratu kita?"
"Kita tak bisa menilai orang hanya dalam sekali bertemu, apalagi beliau adalah ratu. Namun, untuk saat ini, aku tidak bisa tidak mengakui beliau, bahwa beliau adalah ratu yang memikirkan rakyatnya."
"Wah, lihat itu!"
Yuhan menoleh kedepan. Hamparan ladang kosong setelah panen kini telah di penuhi banyak orang. Tanah yang gundul berwarna coklat kini dipenuhi langkah kaki dari orang-orang yang antusias mengikuti perayaan syukuran.
Beberapa prajurit istana terlihat membantu para pria menggelar alas besar, seperti terpal. Para wanita berjalan membawa keranjang dan tas menuju ke ladang, suara percakapan dan tawa saling bersautan dengan suara anak-anak yang berlari dan tertawa.
Di ujung sana mentari yang terbit memunculkan sinar hangatnya, cahaya lembutnya menerpa ladang yang luas membuat bayangan hitam yang memanjang seperti guratan tinta yang halus.
Di pandangan Yuhan pemandangan itu seperti lukisan yang hidup. Begitu indah dan bermakna. Suara bising dari anak-anak yang bermain dan ramai dari langkah-langkah kaki serta percakapan orang-orang menjadi hal yang justru lebih indah dari suara musik di ibu kota.
"Hahaha keren sekali." Tawa temannya menyadarkan Yuhan dari lamunan. "Aku baru pertama kali melihat hal seperti ini."
Benar, ini baru pertama kali. Namun justru ini adalah momen yang tak pernah Yuhan lupakan seumur hidupnya.
"Hei kalian cepat kemari!" Teriakan ibunya membuat mereka mempercepat langkah.
Yuhan dan teman-temannya segera mendekat. Mereka satu-persatu melepaskan alas kaki. Duduk di atas terpal bersama keluarga masing-masing. Yuhan dan Ganus duduk berseberangan, Gerald di sebelahnya Ganus sementara ada adik Yuhan yang dihimpit ibu dan dirinya.
Ibunya membukuk rantang dan menyusun makanan di depan mereka.
Sang adik mengulurkan tangan berniat mengambil paha ayam.
Plak!
"Jangan makan dulu! Tunggu yang lain." Ibunya memukul tangan adik Yuhan.
"Bu, biarkan saja. Toh cuma paha."
"Tetap jangan."
Yuhan menatap adiknya. "Menurutlah pada ibu."
Adiknya cemberut dan tangannya terlipat di dada, terlihat sekali kesal.
"Ahahah, apa adikmu marah. Kasian, tak bisa makan." Ganus di samping Yuhan meledeknya.
"Kakak." Sang adik memeluk Yuhan, merengek. "Ka Ganus meledekku."
"Ganus jangan ganggu Yasha." Gerald menegur anak sulungnya.
Di ujung ladang, segerombol orang melangkah. Ada dua pria bertubuh kekar dengan pakaian ksatria yang memimpin jalan, di belakang mereka seorang perempuan bergaun hijau dengan panjang semata kaki melangkah dengan ringan. Kedua tangannya saling bertaut di depan perutnya.
Yuhan dan yang lain segera berdiri saat menyadari siapa yang datang. Mereka segera membungkuk. "Salam yang mulia ratu."
Rombongan itu semakin dekat. Yuhan bisa melihat senyuman lembut di bibir sang ratu, tatapan matanya yang hangat seperti mentari hari ini tak bisa membuat Yuhan berpaling.
"Aku datang untuk melihat apakah perayaannya berjalan lancar, ternyata cukup lancar."
Dua dayang menggelar tikar yang terbuat dari anyaman serat lalu di jahit dengan kain wol agar terasa lembut dan nyaman. Mereka lalu meletakkan beberapa hidangan.
"Ayo duduk, kita makan bersama-sama."
"Ah! Baik!" Dengan rasa tak percaya, mereka duduk di tempatnya masing-masing.
Yuhan sampai tak bisa mencerna apa yang terjadi. Ini pertama kalinya bagi Yuhan melihat seorang bangsawan bahkan ratu! Seorang ratu! Duduk bersama dengan rakyat jelata seperti mereka. Bagi Yuhan ini seperti sebuah mimpi.
Morline dan rombongan duduk di alas yang mereka sediakan sendiri. Di depan mereka sudah ada hidangan yang tersaji.
"Ayo, silahkan pimpin doa dan kita makan."
"Ah! Doa! Siapa yang ingin memimpin doa?" Gerald tersadar dan menoleh pada jejeran di sebelahnya, terutama pada pria. "Pendeta Saron, anda lebih pantas memimpin doa." Gerald menunjuk seorang pria tua dengan kemeja sederhana di barisannya.
"Saya sudah berhenti jadi pendeta, saya bukan pendeta lagi."
"Tidak apa-apa, bukan pendeta pun tak apa. Hanya pimpin doa sebelum makan." Kata Morline.
"Ba-baik yang mulia. Saya bersedia." Pria tua bernama Saron itu berdiri, dia menggenggam tangannya di depan dada dan menunduk.
Semua orang mengikuti gerakannya, memejamkan mata dan menyatukan tangan mereka di depan dada.
"Kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, pada zat yang tidak tandingannya. Kami, hamba-hambamu berucap syukur dan terimakasih. Pada zat yang paling murni, kami memohon berkah dan belas kasihanmu wahai Tuhan kami.
Terimakasih atas apa yang engkau berikan pada kami hingga hari ini, terimakasih atas belas kasihanmu atas dosa-dosa yang kami perbuat, jadikanlah kami manusia yang selalu memperbaiki diri dan jadikanlah kami orang yang selalu mengingatmu. Tuhan kami yang maha pengasih, berkahilah makanan yang kami makan dan lancarkan segala urusan kami. Amine."
"Amine!" Serempak semua orang berucap amin.
Morline membuka kotak makanannya. Semua orang juga menyiapkan hidangan mereka masing-masing. Yuhan menatap piring di depan Morline, ada kentang, buah beri dan potongan pisang.
Yuhan menatap hidangannya sendiri, melihat ada ayam. Dia mengerutkan kening. Mengumpulkan keberanian untuk bersuara, Yuhan menatap Morline. "Yang mulia, saya punya ayam. Anda bisa memakannya."
Ganus menatap Yuhan lalu Morline, tanpa sengaja melihat isi piring sang ratu muda itu. Dia juga mengangkat piringnya. "Saya juga punya kue buatan ibu saya, rasanya enak yang mulia cobalah."
"Saya juga punya kue beri yang mulia bisa ambil."
"Saya masak ayam kalkun hari ini, yang mulia silahkan makanlah."
Morline terkejut ketika satu persatu orang menawarkan makanan padanya. Sepertinya sinar mentari pagi ini menembus masih ke hatinya, rasanya hangat dan menyenangkan. Morline tertawa, karena senang dan gembira.
setia menunggu up berikut nya 😁👍
lanjuuttttt lagiiii 💪💞
Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
lanjut lagiiii 👍👍👍😍