NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25: Senyum di Balik Selimut dan Tamu Tak Diundang

Jarum jam dinding sudah lama melewati angka sebelas malam. Di luar, rintik hujan tipis mulai turun membasahi jalanan, menciptakan irama monoton yang menenangkan. Namun, di dalam kamarnya yang temaram, Savya justru sedang mengalami pergulatan batin yang luar biasa dahsyat. Ia berguling ke kanan memeluk gulingnya erat-erat, lalu tiga detik kemudian berbalik ke kiri sambil menendang selimutnya dengan frustrasi.

Pikirannya benar-benar sudah tidak waras karena terus memutar satu nama tanpa henti: Valerius.

“Menu spesial hari ini... ternyata tidak sebanding dengan manisnya pemilik kedai.”

"Aaaah! Vale, stop! Kenapa suaramu kedengaran nyata banget sih di sini?!" pekik Savya tertahan, langsung menenggelamkan wajahnya ke bantal demi meredam pekikan gemasnya sendiri.

Dada Savya bergemuruh begitu hebat. Setiap kali ia memejamkan mata, memori saat jemari kokoh pria itu menahan nampan di atas punggung tangannya, lalu posisi intim saat ia harus mengikat tali celemek di pinggang belakang Valerius, langsung berputar dengan kualitas super jernih. Savya memegang pipinya yang terasa panas membara.

Bagaimana bisa seorang pria kantoran biasa punya efek sedahsyat ini?! Dia hanya memakai kemeja putih gulung siku dan celemek hitam polos, tapi kenapa di mataku ketampanannya mengalahkan seluruh aktor di dunia? Hatiku benar-benar meleleh, runtuh, hancur lebur tanpa sisa hanya karena satu senyuman tipisnya! Savya mengomeli dirinya sendiri, lalu menarik kembali selimutnya hingga membungkus seluruh tubuhnya seperti kepompong. Di balik kegelapan kain itu, ia tersenyum lebar sendirian kegirangan. Malam itu, Savya resmi menyerah pada rasa kasmarannya yang luar biasa lebay.

Keesokan paginya, suasana di Thalassa Coffee terasa sangat cerah. Sesuai kesepakatan, hari ini bukan jadwal untuk menu kue baru, sehingga anak-anak kedai bisa bekerja dengan ritme yang santai.

Savya melangkah masuk ke balik meja bar dengan langkah ringan, bahkan ia tanpa sadar bersenandung kecil sambil mengelap mesin espresso. Sila yang menyadari hal itu langsung menyenggol lengan Arka dan berbisik, "Arka, lihat deh. Bos kita pagi ini jalannya kayak lagi melayang di atas awan."

Arka langsung mengeluarkan cengiran usilnya yang paling lebar. Ia sengaja berjalan mendekati meja kasir untuk menaruh daftar menu. "Wah, selamat pagi, Mbak Savya. Cerah sekali hari ini. Boleh tahu tidak, Mbak, ramuan apa yang bikin wajah Mbak Savya glowing tanpa skincare pagi ini? Jangan-jangan efek mimpi indah digandeng Mas Valerius ya semalam?"

Savya menghentikan senandungnya, melirik Arka dengan mata membelalak. "Arka, jangan mengada-ada. Buruan lap meja depan."

Farel yang sedang menata cangkir di rak atas ikut melongokkan kepalanya. "Jangan bohong, Mbak Savya. Dari tadi Mbak senyum-senyum sendiri ke arah mesin espresso. Mesinnya sampai kalah hangat sama senyuman Mbak."

"Betul banget, Mas Farel!" timpal Sila sambil terkekeh geli. "Pantas saja Mbak Savya kemarin langsung bikin aturan menu kue dikurangi. Biar sisa harinya bisa dipakai buat pacaran di balik bar bareng Mas tampan ya, Mbak?"

Savya menggelengkan kepalanya pasrah dengan pipi yang merona merah akibat dikeroyok candaan mereka. "Kalian ini kompak sekali ya kalau urusan meledek saya. Sudah, cepat kembali kerja. Kalau tidak, bonus bulanan kalian semua saya potong sepuluh persen!"

"Yah, dipotong! Tapi gak apa-apa deh, demi melihat Mbak Savya meleyot karena jatuh cinta, kami ikhlas!" sahut Arka yang langsung disambut tawa heboh dari Sila dan Farel. Savya hanya bisa menahan senyum gembiranya. Suasana hatinya terlalu bahagia pagi ini.

Namun, kedamaian itu mendadak menguap tanpa sisa ketika lonceng pintu depan berdenting nyaring.

Ting!

Suara denting itu terasa memotong paksa tawa di dalam kedai. Bersamaan dengan terbukanya pintu, langkah kaki yang angkuh dari sepasang sepatu hak tinggi terdengar mengetuk lantai keramik dengan ritme yang tajam dan mengintimidasi. Seorang wanita berpakaian sangat modis dan glamor melangkah masuk dengan mantel berbulu mahal. Ia melepaskan kacamata hitamnya dengan gerakan lambat, memamerkan sepasang mata yang menatap merendahkan seisi interior kedai.

Itu adalah Katya.

Sila, Arka, dan Farel seketika menghentikan tawa mereka karena merasakan perubahan atmosfer kedai yang mendadak mencekam. Katya berjalan lurus, lalu berhenti tepat di depan meja kasir tempat Savya berdiri. Ia melipat kedua tangannya di dada sambil melempar senyum sinis yang sarat akan kebencian.

"Jadi... di tempat sekecil dan sekumuh ini kamu bersembunyi sekarang, Savya?" tanya Katya, suaranya yang melengking tajam memecah keheningan.

Savya tidak membalas dengan kepanikan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu menatap Katya dengan sepasang mata yang tenang dan teduh. Cukup sudah tahun-tahun di mana ia membiarkan dirinya hancur digerogoti penyesalan. Savya tahu, meratapi rasa bersalah terus-menerus tidak akan mengembalikan nyawa Dia—sosok yang dengan berani menjadi tameng hidup demi menyelamatkannya. Savya sudah memilih untuk melangkah maju dan berdamai dengan takdir kelam itu.

"Kedai ini terbuka untuk siapa saja yang ingin menikmati kopi, Katya," jawab Savya dengan nada datar, tenang, dan stabil. "Jika kamu datang sebagai pelanggan, silakan duduk. Tapi jika kamu datang hanya untuk membawa kemarahan mu yang lama, kurasa tempat ini bukan ruang yang tepat."

Ketenangan Savya justru menjadi pemantik yang membakar habis kesabaran Katya. Rahang wanita glamor itu seketika mengeras menahan dongkol karena dia ingin melihat Savya hancur menderita seperti dirinya semenjak kehilangan sosok berharga tersebut.

Katya maju satu langkah, menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja bar hingga tubuh mereka saling berhadapan dekat. "Kamu tidak berhak untuk tenang, Savya! Tidak akan pernah!" bisik Katya dengan nada bergetar menahan amarah yang meluap-luap. "Kamu bisa membangun kedai ini, kamu bisa tersenyum seolah tidak pernah terjadi apa-apa, tapi bagiku, tanganmu tetap berlumuran darah! Dia mati demi menyelamatkan perempuan tidak tahu diri sepertimu! Dia... orang yang paling kucintai di dunia ini, harus kehilangan nyawanya karena kamu!"

Savya tetap diam, menatap Katya tanpa gentar. Tatapannya yang teduh menyiratkan bahwa dia tidak akan membiarkan dirinya ditarik kembali ke dalam jurang rasa bersalah yang kelam.

Katya mencengkeram tepi meja bar semakin kuat, menatap lurus ke dalam manik mata Savya dengan kilat dendam yang egois. "Rasa bersalah adalah hal paling minimal yang harus kamu tanggung seumur hidupmu, Savya. Dan karena kamu menolak untuk hancur karena rasa bersalah itu... maka biar aku sendiri yang memaksakan kehendak ku untuk menjatuhkan mu. Aku akan memastikan seluruh dunia tahu alasan di balik kematiannya, dan aku tidak akan berhenti sampai kedai sialan ini rata dengan tanah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!