Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunjukan dimulai
Nova menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya yang tadi merah padam menahan amarah, kini berubah menjadi pucat pasi karena rasa malu yang luar biasa. Di balik pintu yang terbuka sebagian itu, puluhan pasang mata kini tertuju padanya—bukan lagi dengan pandangan hormat atau takut seperti dulu, melainkan pandangan yang seolah menilai dan menunggu. Dia berusaha mengatur napas, memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak dan mempertahankan wibawa yang mulai runtuh.
"Maaf, aku... aku terjebak macet parah di jalan. Dan... dan ada urusan mendadak yang harus kuselesaikan dulu," jawab Nova terbata‑bata, berusaha mencari alasan seolah keterlambatannya itu hal yang wajar. Pria itu melangkah masuk perlahan, langkahnya berat seolah ada beban berat yang menindih bahunya.
Alma tertawa kecil, tawa yang terdengar halus tetapi sangat merendahkan dan menusuk hati Nova. Wanita itu kembali menatap jam tangannya sekilas, lalu menatap Nova kembali dengan sorot mata dingin dan tajam, seolah sedang menatap serangga kecil yang tidak berharga.
"Oh, macet, ya?" ulang Alma pelan, suaranya begitu tenang. "Maaf ya, Pak Nova. Anda seorang pemimpin seharusnya bisa bersikap disiplin dan menjadi contoh bagi bawahannya. Bukan malah mencari alasan untuk pembenaran diri. Apalagi di saat ada rapat penting seperti sekarang!"
"Kali ini saya memakluminya, tapi untuk selanjutnya, saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi pada siapapun! Dan saya akan menindak tegas bagi siapa saja yang tidak patuh pada aturan!" ucap Alma dengan tegas dan lugas.
Ruangan hening seketika. Beberapa kepala divisi saling pandang. Kebanyakan dari mereka setuju dengan kebijakan yang Alma buat, karena Nova memang sering terlambat. Namun, ada juga yang diam-diam merasa keberatan, tetapi mereka hanya bisa diam tanpa berani bersuara.
Nova terdiam, bibirnya kelu untuk sekedar membalas ucapan Alma. Sebab, kata‑kata itu seperti tepat sasaran, memukul telak egonya habis‑habisan di depan semua orang. Dia menggenggam tas kerjanya makin erat, rasa benci di hatinya kian membara.
"Baiklah, silakan duduk di kursi yang tersedia," ucap Alma sambil menunjuk kursi kosong di deretan paling pinggir.
Nova menatap kursi yang ditunjuk itu dengan mata terbelalak tak percaya. Rasa malu dan marah bercampur aduk menjadi satu memenuhi rongga dadanya.
Namun, melihat tatapan semua orang yang seakan menunggunya, dia pun tak punya pilihan selain menurut. Dengan langkah malas dan wajah tertunduk, Nova berjalan menuju kursi itu lalu duduk dengan pelan. Ingin sekali rasanya dia berharap lantai di bawahnya membelah dan menelannya saat itu juga.
Kemudian pandangan Alma, menyapu ruangan, dengan senyum anggun dan ramah. Raut wajahnya terlihat tenang dan berwibawa, seolah tidak terjadi sesuatu.
"Baiklah rekan‑rekan, mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita. Tadi kita sudah sepakat mengenai efisiensi biaya operasional dan penataan ulang jadwal kerja. Ada yang ingin ditambahkan lagi sebelum kita masuk ke poin selanjutnya?" tanyanya lembut tetapi penuh penegasan.
Diskusi pun kembali berjalan lancar. Semua orang berbicara leluasa, menyampaikan pendapatnya, dan mereka bisa menerima arahan Alma dengan tangan terbuka. Mereka mulai menyadari, bahwa Alma jauh lebih menguasai materi, memberi solusi sangat gamblang dan mudah dimengerti. Sangat jauh dengan Nova yang hanya memerintah tanpa bisa memberikan kontribusi.
Sementara itu, di tempat duduknya, Nova hanya bisa diam terpaku, mendengar dan menyaksikan tanpa turut serta dalam diskusi tersebut. Karena di benaknya dia justru sibuk sendiri, memikirkan cara bagaimana menjatuhkan Alma dan merebut apa seharusnya menjadi miliknya.
"Sialan...! Seharusnya aku yang duduk di kursi itu dan memimpin rapat ini!"
"Gara-gara wanita tak tahu diuntung itu, aku harus kehilangan impianku!"
Nova mengepalkan tangannya di atas paha, kuku‑kukunya hampir menancap ke kulit. Di dalam hatinya, dia berjanji akan membalas ini semua. Namun, saat dia menatap wajah Alma dan pandangan mereka berserobok, tiba-tiba tubuhnya begidik ngeri. Seakan menyadari bahwa Alma bukan lagi wanita yang lemah dan penurut yang dulu bisa dia atur sesuka hati. Wanita di depannya kini adalah seorang pemimpin yang didukung penuh oleh pusat, dan kini memegang kendali penuh atas nasibnya.
"Ini baru permulaan, Nova...!" batin Alma saat matanya tak sengaja bertatapan sekilas dengan Nova. "Nikmatilah rasanya menjadi tak berarti dan nggak dianggap ... seperti apa yang telah kau lakukan padaku!"
Rapat itu berlanjut hingga selesai. Nova keluar ruangan dengan perasaan kalah telak. Sementara Alma - wanita itu terus mendapatkan pujian dengan penuh kekaguman dan rasa hormat dari seluruh karyawan yang kini percaya pada kemampuannya.
...
Sore itu, menjelang pulang kantor, pekerjaan Alma telah selesai. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya. "Sepertinya sangat menyenangkan jika pertunjukan dimulai sekarang."
Senyum tipis terbit di bibirnya, lalu ia menghubungi Wanda-sekretarisnya.
"Wanda, tolong panggil Pak Nova ke ruangan saya sekarang juga. Dan minta dia membawa berkas laporan hasil kerjanya hari ini!" perintahnya melalui interkom.
"Baik, Bu. Segera saya laksanakan," jawab Wanda.
Gadis itu lantas pergi ke ruangan Nova. Ia mengetuk pintu pelan sebelum masuk. Di dalam sana, Nova sedang merapikan barang‑barangnya dengan santai, bersiap untuk pulang.
"Permisi, Pak," sapanya sopan.
Nova mengangkat wajah dengan sedikit kesal. "Ada apa?"
"Maaf, Pak. Bu Alma meminta Anda menghadap beliau ruangannya sekarang juga. Beliau juga berpesan agar Anda membawa laporan lengkap hasil kerja hari ini," jelas Wanda sopan, lalu segera berbalik pergi.
Nova mendengus kasar. Wajahnya berubah masam menahan kekesalan. "Baru menjabat direktur sebentar saja sudah mengatur seenaknya!" gerutunya pelan.
Dengan terpaksa Nova meraih map berisi berkas hasil kerjanya, lalu pergi ke ruangan Alma, meski langkahnya terasa berat.
Sesampainya di depan pintu besar itu, Nova mengetuknya dengan kasar, lalu masuk begitu saja tanpa menunggu jawaban. Dia berjalan mendekat, lantas meletakkan map itu ke atas meja kerja Alma dengan keras.
"Itu laporannya. Aku sudah mengerjakan semua dengan benar dan teliti. Aku mau pulang, ini sudah sore!" ucapnya ketus sembari bersiap untuk berbalik badan.
"Stop...!" ucap Alma keras seraya menatap Nova sekilas dengan pandangan datar, membuat langkah Nova terhenti.
"Siapa yang mengijinkanmu pulang? Apa kamu pikir ini perusahaan nenek moyangmu?" tanyanya dengan sinis.
Ia lantas mengambil map dan mulai memeriksa lembar demi lembar berkas tersebut dengan teliti.
Suasana ruangan begitu hening, hanya terdengar suara kertas yang dibalik perlahan. Nova terdiam di tempatnya dengan pandangan malas. Namun, tak lama kemudian, raut wajah Alma berubah dingin. Tangannya berhenti bergerak di satu halaman, lalu dengan gerakan cepat membolak‑balik kertas lainnya. Hingga kemudian menghempaskan map tersebut ke atas meja dengan kasar. Ia menatap Nova -- pandangannya begitu tajam dan menusuk.
"Laporan apa ini? Bagaimana mungkin seseorang yang sudah lama bekerja dan menjabat sebagai kepala bagian, tapi membuat laporan kerja saja seperti anak SD yang baru belajar mengenal tulisan? Apa saja kerjamu selama ini?"