NovelToon NovelToon
Pria Pembuly Yang Menjadi Takdirku

Pria Pembuly Yang Menjadi Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nana_riana

Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2 — Luka yang Belum Sembuh

Sejak pertemuan di ruang meeting itu, hidup Alya terasa jauh lebih kacau dari biasanya.

Ia tidak pernah menyangka perusahaan tempatnya bekerja ternyata menjalin kerja sama besar dengan Mahardika Group—perusahaan milik Reno. Itu berarti mereka akan sering bertemu.

Dan Alya sangat membenci kenyataan itu.

“Alya, nanti sore kamu ikut survei lokasi hotel bareng Pak Reno, ya.”

Ucapan atasannya membuat tangan Alya berhenti mengetik.

“Apa harus saya?” tanyanya pelan.

“Tentu. Kamu desainer utama proyek ini.”

Alya menggigit bibir bawahnya. Tidak ada alasan untuk menolak.

“Baik, Pak.”

Sore harinya, Alya tiba di lokasi pembangunan hotel yang berada di pusat kota. Angin sore berembus cukup kencang, membuat rambut panjangnya berantakan.

Dari kejauhan, sebuah mobil hitam memasuki area proyek.

Reno turun sambil melepas kacamata hitamnya. Beberapa pekerja langsung menyapa hormat padanya.

Alya buru-buru memalingkan wajah.

Namun Reno berjalan mendekatinya.

“Kamu datang lebih dulu,” katanya.

Alya hanya mengangguk singkat. “Kita langsung mulai saja.”

Sepanjang survei lokasi, suasana terasa canggung. Alya fokus menjelaskan konsep ruangan dan struktur bangunan, sementara Reno lebih banyak diam memperhatikannya.

Sampai akhirnya Reno membuka suara.

“Kamu masih marah sama aku?”

Alya berhenti berjalan.

Ia menatap Reno dengan mata dingin.

“Menurutmu?”

Reno terdiam beberapa detik sebelum mengembuskan napas pelan.

“Aku tahu aku salah waktu sekolah dulu.”

“Kamu nggak cuma salah.” Suara Alya mulai bergetar menahan emosi. “Kamu bikin hidupku hancur.”

Reno menunduk.

Dan itu membuat Alya semakin kesal.

“Karena kamu, aku takut datang ke sekolah. Karena kamu, aku nggak punya teman.” Mata Alya mulai berkaca-kaca. “Kamu tahu rasanya nangis sendirian tiap malam?”

“Alya…”

“Dan sekarang kamu datang lagi seolah semuanya bisa biasa aja?”

Reno mengepalkan tangan pelan.

“Aku nggak pernah menganggap itu biasa.”

Suasana mendadak sunyi.

Untuk pertama kalinya, Alya melihat tatapan Reno yang penuh penyesalan.

Bukan pura-pura.

Bukan main-main.

Benar-benar menyesal.

“Aku sadar semuanya terlambat,” ucap Reno lirih. “Tapi kalau aku bisa mengulang waktu, aku pasti nggak akan nyakitin kamu.”

Alya tertawa kecil, pahit.

“Sayangnya waktu nggak bisa diputar balik, Reno.”

Setelah mengatakan itu, Alya berjalan pergi meninggalkannya.

Namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba langit berubah gelap dan hujan turun deras.

“Astaga…” gumam Alya.

Para pekerja langsung berlarian mencari tempat berteduh. Alya ikut berlari menuju bangunan setengah jadi di dekat sana.

Tanpa ia sadari, lantai proyek yang licin membuat langkahnya terpeleset.

“Alya!”

Tubuhnya hampir jatuh jika saja Reno tidak dengan cepat menarik tangannya.

Bruk.

Alya jatuh tepat ke pelukan Reno.

Napas keduanya seketika tercekat.

Hujan turun semakin deras di luar bangunan, sementara mereka saling menatap dalam jarak yang sangat dekat.

Degup jantung Alya terasa kacau.

Dan yang paling membuatnya panik…

Untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan kebencian di matanya sendiri saat melihat Reno.

Alya langsung menjauh dengan wajah panik.

“Lepas.”

Reno perlahan melepaskan tangannya, tetapi sorot matanya masih tertuju pada Alya. Hujan di luar semakin deras, menciptakan suara gemuruh yang memenuhi bangunan setengah jadi itu.

Alya membenarkan rambutnya yang basah sambil menghindari tatapan Reno.

“Aku bisa berdiri sendiri.”

“Aku tahu,” jawab Reno pelan.

Entah kenapa nada suaranya terdengar berbeda. Tidak ada ejekan, tidak ada kesombongan seperti dulu. Justru itu yang membuat Alya semakin tidak nyaman.

Karena jika Reno tetap menjadi pria menyebalkan seperti masa sekolah, mungkin akan lebih mudah untuk membencinya.

“Alya…” Reno kembali membuka suara. “Aku serius soal permintaan maafku.”

Alya tersenyum miring.

“Permintaan maaf nggak bisa ngilangin luka.”

“Aku tahu.”

“Tidak, kamu nggak tahu.” Alya menatap tajam ke arah Reno. “Orang kayak kamu nggak akan pernah ngerti rasanya dihina tiap hari.”

Reno terdiam.

Hanya suara hujan yang terdengar di antara mereka.

Beberapa detik kemudian, Reno duduk di atas tumpukan kayu dekat dinding bangunan. Ia menunduk sambil mengusap wajahnya pelan.

“Ayahku sangat keras waktu aku kecil,” katanya tiba-tiba.

Alya mengernyit bingung. “Apa hubungannya sama aku?”

“Aku tumbuh jadi orang yang salah.” Reno tersenyum hambar. “Aku pikir jadi kuat berarti harus ditakuti.”

Alya tetap diam.

“Dulu aku sering marah ke semua orang. Dan kamu…” Reno menatapnya penuh penyesalan. “Kamu jadi pelampiasannya.”

Kalimat itu justru membuat dada Alya semakin sesak.

Jadi selama ini ia hanya sasaran kemarahan Reno?

Betapa tidak berharganya dirinya dulu.

“Kamu egois,” bisik Alya lirih.

“Iya.”

“Kamu jahat.”

“Iya.”

“Kamu bikin aku benci diri sendiri bertahun-tahun.”

Reno mengepalkan tangannya kuat-kuat, seolah menahan sesuatu.

“Aku tahu.”

Alya memalingkan wajah cepat karena air matanya mulai jatuh lagi. Ia membenci dirinya sendiri yang masih begitu rapuh saat membahas masa lalu.

Padahal ia sudah berusaha keras melupakan semuanya.

“Aku pernah nggak mau sekolah gara-gara kamu,” ucap Alya pelan. “Aku pernah berharap pindah kota supaya nggak ketemu kamu lagi.”

Tatapan Reno langsung berubah.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, pria itu terlihat benar-benar terluka.

“Aku separah itu buat hidup kamu?”

Alya tertawa kecil sambil menghapus air matanya kasar.

“Kamu bahkan nggak sadar, kan?”

Reno tidak menjawab.

Karena memang benar.

Dulu baginya, semua itu hanya candaan remaja bodoh. Ia tidak pernah berpikir luka yang ditinggalkannya akan sebesar ini.

Rasa bersalah perlahan menghantam dadanya.

“Maafin aku…” gumamnya lirih.

Alya menggeleng pelan.

“Aku belum bisa.”

Dan Reno sadar ia memang tidak pantas langsung dimaafkan.

Hujan baru reda hampir satu jam kemudian.

Langit mulai gelap ketika mereka keluar dari bangunan proyek. Alya berjalan lebih dulu menuju jalan depan untuk memesan taksi online.

Namun berkali-kali aplikasi di ponselnya gagal mendapatkan driver.

“Jaringan buruk,” keluhnya pelan.

“Aku antar pulang,” kata Reno dari belakang.

“Nggak usah.”

“Hari udah malam.”

“Aku bisa sendiri.”

Reno menghela napas panjang. “Alya, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu.”

Alya langsung terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa membuat suasana menjadi canggung.

Akhirnya setelah beberapa menit, Alya masuk juga ke mobil Reno karena tidak ada kendaraan lain yang tersedia akibat hujan deras.

Sepanjang perjalanan, suasana terasa sunyi.

Alya menatap keluar jendela, sementara Reno sesekali mencuri pandang ke arahnya.

Sampai tiba-tiba mobil berhenti di lampu merah.

“Alya.”

“Hmm?”

“Aku senang bisa ketemu kamu lagi.”

Alya menoleh cepat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

Reno tersenyum kecil, tapi ada kesedihan di matanya.

“Meskipun kamu pasti benci lihat aku.”

Untuk beberapa detik, Alya tidak mampu menjawab.

Karena anehnya…

Ada sesuatu di dalam dadanya yang perlahan mulai berubah.

Dan itu justru hal yang paling ia takuti.

1
tinuet'z
sangat menarik
partini
hoki Banggt si Reno di cinta ugal-ugalan wehhh mau sakiti Ampe darah" tetep cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!