Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 29
Ayunda enggan menanggapi, menepis tangan Daksa yang mengelus perutnya. Dia mundur sampai pelukan terlepas. “Aku pulang.”
“Saya hubungi Yeri dulu,” pria itu tidak terlihat kecewa, raut wajahnya tetap santai.
Tidak sampai sepuluh menit, Yeri menekan bel, tanpa masuk dia menunggu di luar pintu.
Ayunda keluar dengan mengenakan kemeja kebesaran, celana olahraga longgar milik Daksa.
Pintu apartemen ditutup kembali oleh pemiliknya setelah memastikan Ayunda masuk ke dalam lift.
***
“Yeri, anggap saja rumah sendiri. Aku gak tahu kalau kamu bakal tinggal disini, jadi belum ada persiapan apa-apa.” Ayunda baru saja tiba di apartemennya.
“Jangan pikirkan saya, Nyonya. Ini juga tadi Ardo sempat belanja kebutuhan dapur di swalayan.” Yeri membawa dua tas besar ke meja dapur. “Apa boleh saya menyusunnya, Nyonya?”
“Silahkan. Aku jarang masak, beli menu matang lebih praktis.” Ayunda meninggalkan Yeri, memilih masuk ke dalam kamar, menutup rapat pintunya.
“Dimana kusimpan pil KB itu?” Pintu lemari dibuka lebar, laci diperiksa, tapi keberadaan benda yang ternyata tidak manjur, raib entah kemana.
Ayunda masih belum menyerah. Seingatnya masih ada sisa satu tablet untuk sebulan.
"Oh iya, meja rias,” gumamnya, lalu mencari di tempat barusan disebut. Akhirnya dapat.
Diamatinya pil KB belum di minum satu butir pun, dibaca juga tanggal kadaluarsa masih tahun depan.
Ayunda menyimpan pil kontrasepsi ke dalam tas kerja, ada yang harus dicari tahu agar rasa penasarannya terjawab.
***
Tanpa pemberitahuan, enggan melapor kebagian HRD, malas pula minta izin ke atasan, Ayunda bolos kerja selama dua hari.
Keputusannya diambil saat suasana hati masih kacau belum teratasi, mudah terprovokasi, dan mood naik turun, belum lagi malas mendapatkan pertanyaan tentang kejadian di kolam renang sebuah hotel kepulauan seribu.
Ayunda juga kesal, Daksa keluar jalur, terlalu mencampuri urusannya dengan dalih tengah mengandung benihnya.
Pria itu memang tidak datang, lewat Yeri titahnya tetap tak terbantahkan. Cerewet sekali memaksa minum susu ibu hamil, istirahat cukup, melarang makanan cepat saji, dan masih banyak lagi.
Tepat di hari Selasa, Ayunda mulai lagi masuk kerja. Berpenampilan seperti biasanya – elegan dalam balutan setelah blazer sedikit longgar.
“Yeri, aku mau menyetir sendiri!” sebelum sang pengawal protes, dia menambahkan. “Tuan mu sudah setuju.”
Setuju yang dimaksud Ayunda, mengirim pesan izin mengemudi tanpa menunggu balasan. Ponselnya sudah dikembalikan lewat Yeri.
“Baik, Nyonya. Hati-hati berkendaranya.”
Ayunda mengangguk, menenteng tas kerja dan keluar dari apartemennya.
Kala tiba di basement, bergegas masuk ke dalam mobil. Tujuannya pagi ini tidak langsung kantor, tapi singgah dulu ke suatu tempat.
Mobil putih itu melaju dengan kecepatan sedang, berbelok arah yang seharusnya lurus ke perusahaan Wangsa group.
Ayunda memarkirkan kendaraannya di halaman gedung laboratorium swasta. Segara keluar, lalu masuk kedalam.
Karyawan bagian resepsionis bertanya, dan Ayunda mengatakan maksud kedatangannya.
Kemudian seseorang menghampiri, membawa Ayunda ke ruang khusus. Dia tidak diperiksa, cuma menyerahkan pil pencegah kehamilan yang sudah satu tahun ini dikonsumsi. Sebelumnya Ayunda KB suntik, tapi Daksa melarang dan menyuruhnya ganti pil.
Hasil tes baru bisa diketahui besok, dan Ayunda akan dihubungi terlebih dahulu.
Kala tidak ada lagi keperluan, wanita anggun itu pergi dari sana.
.
.
Saat tiba di perusahaan, Ayunda telat satu jam. Para karyawan sudah mulai beraktivitas, sedangkan dia baru masuk ke dalam lift menuju lantai 21.
“Selamat pagi bu Ayunda,” sapa ramah satpam di lantai atas.
“Pagi juga, Pak.” Langkahnya mundur, lalu matanya berbinar memperhatikan penampilan seorang security berumur empat puluh tahun. “Tadi saya sempat hampir nggak mengenali, ternyata bapak potong rambut. Pantesan kelihatan seger.”
“Wah, beneran Bu?” Pak satpam mengusap rambutnya, senyum-senyum tidak jelas.
“Serius. Pak … jangan lupa bagi-bagi informasi, ya? Jangan seperti kapan hari, aku sama bu Yusniar kepergok lagi leha-leha,” candanya memiliki makna berharap.
“Beres, Bu.” Kedua jari jempolnya teracung.
Ayunda pun berlalu, melangkah lebar, lalu berseru pelan. “Mbak, Niar!”
“Ayunda, akhirnya kamu masuk kerja juga. Aku kira udah lupa sama kantor!” selorohnya heboh.
"Gak lah. Sayang gajiku diawal bulan nanti, Mbak,” ia balas bercanda, seolah kejadian di rumah sakit tempo lalu tidak pernah terjadi.
Yusniar juga bersikap biasa saja, tidak bertanya, maupun menyinggung hal itu. “Kamu beneran udah baikan?”
“Kalau belum mana mungkin aku disini, Mbak,” kekehnya, meletakkan tas pada laci, lalu duduk di kursinya.
Hem …. “Dia baik-baik saja?”
Ayunda mengikuti arah pandang Yusniar. “Kata dokter, baik,” jawabnya seadanya.
“Syukurlah. Kalau gitu kamu udah siap ngebut lah?” Niar mengalihkan pertanyaan.
“Ayo!” Tangannya terkepal, senyum tersungging.
Pagi ini ada yang berbeda, sang bos tidak minta dibuatkan teh, enggan pula memanggil Ayunda. Entah apa sebabnya, dan hal tersebut membuat mood ibu hamil stabil sampai masuk jam makan siang.
“Kamu mau makan dimana? Kafetaria kantor atau tempat lain?” Yusniar merapikan meja, lalu mengambil dompet.
“Aku gak selera makan, Mbak. Cuma mau ngunyah buah aja,” jawabnya lesu.
“Jangan gitu, nanti lemas kamu. Bareng aku ke kafetaria yuk? Kebetulan suamiku ada kerjaan diluar kota, jadi gak ngajak makan siang.”
Wajah murung Ayunda langsung berbinar, bergegas dia berdiri, memeluk lengan Yusniar.
“Eh, dua bidadari ku mau kemana ni?” goda Iyan, dia dan Daksa sama-sama keluar dari ruangan direktur utama.
Yusniar mendengus, tapi sungkan mau memperlihatkan raut masam, sebab sang tuan menatap ke arahnya, lebih tepatnya Ayunda.
“Makan, Pak. Apa mau ikut, biar ada yang bayarin?” Yunda balas bercanda, mengabaikan sepasang mata menatap sedikit tajam.
“Maaf, Yunda. Lagi bokek. Bulan ini tekor. Tiga kekasih gelapku sama-sama ulang tahun. Mungkin emak bapaknya dulu sewaktu buat mereka, pada janjian,” jawabnya asal.
Yusniar terkekeh, Ayunda mencebik, lalu mereka menunduk sopan pada sang atasan, membiarkan Daksa lebih dulu jalan.
“Kenapa gak mau barengan aja, Yunda? Kan menghemat waktu?” tanya Niar, berdiri di lift khusus karyawan yang sepertinya sedang penuh sehingga lama sampai atas. Tadi mereka ditawari oleh Iyan, tapi Ayunda tolak.
“Malas, Mbak. Gak bisa napas nanti aku satu ruangan sama bos,” alibinya.
Yusniar senyum-senyum tidak jelas, sengaja tidak memperlihatkannya ke Ayunda.
Setelah sekian menit, lift pun tiba, mereka masuk dan turun ke lantai dasar.
***
“Ayunda! Wah, aku seneng banget kamu udah masuk kerja? Yunda, maaf banget ya waktu itu.” Dwira memeluk sahabatnya, mimik wajahnya nelangsa penuh rasa bersalah.
“Bukan salahmu, aku aja yang gak hati-hati. Seila mana?” Yunda menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan penolongnya.
“Entah kenapa tu orang, gitu tahu kamu masuk kerja, gak mau kuajak makan bareng. Kalian lagi marahan, ya?”
.
.
Bersambung.
Selia ini nanti kayaknya bakalan jadi pawangnya pak iyan🤭.
Bu Niar...,, mqkn sudah mengetahui sesuatu yang tersembunyi d antara padak dan Yunda...,, tapi qta belum tau apa yang d sembunyikan oleh Dwira🤔.
ini gmn ya
apa karna tau mantunya hamil jd mau menetap
wis mboh lah
tauuu aja🤭
Amran tabarik-Daksa wangsa
daksa ga doyan yang udah di laletin
doyannya yg tertutup kaya Yunda hanya daksa yg buka .
ga kaya kamu di obral di ewer2 ke semua orang,,
jangan sampai kepulangan orang tua daksa untuk memaksa pernikahan sapi sama daksa. awas aja kalau kontrak belum selesai dah nikah lagi aku potong itu burung mu😤