Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Merusak Suasana
Sepeda pun berhenti di depan gerbang sebuah rumah yang sangat mewah. Devina turun dari sepeda dengan penuh tanda tanya. Ia heran mengapa Aksa bisa tahu rumahnya padahal ia tidak pernah memberitahu Aksa dimana alamat rumahnya itu.
"Tunggu sebentar! Kok loh bisa tahu sih, alamat rumah gue? Perasaan gue belum ngasih tahu alamat rumah gue sama loh? "
"Ooh. Hari itu, tanggal 7 hari minggu loh pesan pizza morning delivery, kan? Dan pesanannya atas nama Devina Laura Cahaya, dengan alamat yang tertera dan nomor ponsel, serta ada caption tambahan, putri tunggal Arga Dwitama Cahaya. Wah, memangnya siapa yang tidak kenal dengan Pak Arga Dwitama Cahaya tokoh terpandang yang hebat dan kaya raya." sahut Aksa sedikit menggoda Devina.
Devina tersenyum malu. "Jadi loh yang waktu itu nerima pesanan dan yang nganterin pizza ke rumah? Gue gak tahu. "
"Hmm... Dan dengan sombongnya loh berkata di telepon. 'Tolong jangan sampai terlambat semenit saja, atau saya akan memberikan ulasan yang buruk. ' Begitu katanya. Gue sempat berpikir, waktu itu apakah dia benar-benar Devina yang gue kenal di sekolah atau bukan? " sambung Aksa sedikit mengejek nya.
"Hehehe.. Waktu itu gue cuma lagi gabut aja sih. Jangan salah paham. Seseorang terkadang melakukan kesalahan iyah, kan? " balas Devina mengelak.
"Gue tahu! Hari itu loh ulang tahun, kan? Loh pesen pizza karena gak ada yang rayain ulang tahun loh. Pelayan loh yang bilang. Dan setelah gue tahu, mungkin loh cuma lagi kesal saja saat itu. "
Devina mengangguk kecil. "Jadi ucapan selamat itu juga dari loh? " tanya Devina dengan ragu.
"Yah, maaf kalau gue lancang. Tapi, gue cuma berniat mau menghibur loh aja. Tapi, kalau loh merasa ucapan selamat dari gue itu membuat loh kesal, gue minta maaf."
"Nggak juga. Gue suka dan sedikit merasa lebih baik saat melihat catatan ucapan selamat itu. Terima kasih, " balas Devina lagi sambil tersenyum lebar.
Aksa ikut tersenyum senang melihat kedua mata Devina berbinar-binar.
Tuk!
Aksa dengan sengaja menyentil dahi Devina pelan-pelan.
"Hei! "
Devina kaget dan menyentuh dahinya yang kena sentil itu walaupun tidak sakit. Keningnya berkerut diiringi bibirnya yang mengerut maju kedepan.
"Cepat masuk sana! Gue bisa telat gara-gara loh ngajakin ngobrol terus! " seru Aksa kemudian.
"Iyah iyah. Terima kasih buat hari ini. Karena loh gue bisa ketemu sama tante Santi. Dan karena loh, gue bisa makan gratisan sampai kenyang, " ucap Devina lagi seraya menepuk-nepuk perutnya yang masih buncit karena kebanyakan makan.
"Iyah. Gue pergi! " seru Aksa sambil memutar arah sepedanya.
"Bye! "
Devina melambai ragu dan canggung ke Aksa. Namun, Aksa hanya membalas dengan senyuman kemudian berlalu pergi menaiki sepeda tuanya. Devina menatap kepergiaannya sampai punggung Aksa benar-benar tidak terlihat lagi. Baru ia masuk ke dalam rumah.
Setibanya di kamar, Devina langsung membanting tubuhnya diatas kasur yang empuk dan lembut serasa tidur diatas awan. Devina mengambil boneka teddy bear miliknya dan menatap boneka itu dengan mata yang berbinar-binar penuh kebahagiaan. Lalu, sesaat kemudian ia berguling-guling seperti cacing kepanasan.
"Aksa Aksa Aksa! Loh benar-benar membuat gue mabuk kepayang. Aaaaahhhh~"
Devina seperti orang kesurupan. Ia tertawa sendiri lalu kemudian berguling-guling kesana kemari dengan kaki yang di hentakkan dengan cepat.
"Tante Santi bilang, kalau gue adalah cewek pertama yang Aksa bawa ke rumahnya. Aaaahhh~ gue jadi makin sukaaaa. Tapi, biasanya kan Aksa cuek banget sama cewek. Tapi kok ke gue nggak yah? Apa mungkin Aksa suka sama gue? Aaaahhh~ kalau iyah gue pasti akan jadi cewek yang paling bahagia sedunia."
Devina mengoceh sendirian ngaler ngidul. Tidak lama kemudian, Devina duduk sambil berpikir.
"Tapi, kalau Aksa suka sama gue, kenapa dia gak nyatain perasaannya ke gue, yah? Padahal kan dia pasti sadar kalau gue suka sama dia. Kan gue sering bangat ngasih kode yang jelas sama dia. Hmmm... Kira-kira alasan dia belum nembak gue kenapa yah? Atau cuma gue aja yang ke geer ran? Duh! Kok gue jadi pusing gini sih!"
Devina kembali menjatuhkan tubuhnya kebelakang hingga ia tertidur terlentang. Menatap langit-langit kamarnya yang dicat biru muda warna kesukaannya. Lalu setelahnya ia kembali berguling-guling kesana kemari sampai tidak sadar ia terjatuh dari ranjang.
Bruk!
"Awww! " Devina memegangi pinggangnya yang terasa sakit.
Tok tok tok!
Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Devina dengan sopan. "Nona? Nyonya sama Tuan Besar menunggu Nona untuk makan bersama, " ucapnya dari balik pintu.
Devina segera bangkit dan membuka pintu. "Bilang saja, kalau aku sudah makan, " balas Devina lalu kembali masuk ke kamarnya.
Lantas, pelayan itu pergi untuk melaporkan balasan dari Devina kepada majikannya itu. Suasana hati Devina seketika menjadi buruk. Padahal, ia baru saja mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara. Tapi malah dirusak begitu saja.
"Cih! Sejak kapan, mereka ingin makan bersama gue? Selama ini, gue yang minta selalu diabaikan." Gerutu Devina kesal seketika seraya memukul boneka teddy bear nya untuk meluapkan kekesalannya.
Tetapi, beberapa saat kemudian, kedua orang tua Devina datang sendiri ke kamar Devina untuk menemuinya.
Kret~
Mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Devina menoleh dan memutar malas kedua bola matanya saat tahu Papah, Mamahnya mendatanginya.
"Kamu tidak mau makan bersama kami? " tanya Arga sambil duduk di samping Devina.
"Aku kan udah bilang. Aku sudah makan, " balas Devina judes dan jutek.
"Kamu masih marah sama kita? Sudah satu bulan loh, kita gak ketemu dan kamu gak pernah ngabarin kita, " sahut Citra, Mamahnya Devina.
"Udah deh, Mah. Sebelumnya juga kalian gak pernah merespon setiap kali aku kabarin? Kalian juga gak ada niat kan, buat ngabarin aku. Jadi buat apa?"
Arga hanya menarik nafas panjang. Ia memaklumi sikap putri semata wayangnya itu. Karena ia juga merasa kalau ia memang tidak pernah punya waktu untuknya dan selalu sibuk berkerja.
"Yaudah, Papa sama Mamah minta maaf. Ini ada uang jajan tambahan kamu. Jadi, kalau kamu mau apa-apa kamu beli aja, yah? "
Arga memberikan sebuah kartu ATM tambahan untuk Devina. Terlihat jelas Devina sangat muak dengan semua uang itu. Padahal yang ia inginkan bukan uang mereka, tetapi waktu mereka, perhatian mereka, dan kasih sayang mereka untuk Devina. Ingin sekali rasanya Devina meluapkan semuanya, tetapi ia pikir itu tidak ada gunanya. Pada akhirnya uang dan pekerjaan adalah yang utama bagi kedua orang tuanya.
Devina membuat garis lengkung dikedua sudut bibirnya dengan terpaksa. "Yaudah, makasih yah, Pah. Aku mau istirahat, jadi silahkan Mamah, Papah keluar dari kamar aku, " pinta Devina mengusir mereka pergi dengan begitu dingin.
"Baiklah. Selamat ulang tahun, sayang. Walaupun sudah terlambat Ayah sudah menyiapkan kado ulang tahun buat kamu di bawah. Nanti kamu lihat sendiri, yah. Malam ini Papah sama Mamah harus pergi lagi, " tukas Arga lagi sambil mencium puncak kepala Devina kemudian berlalu pergi.
"Mamah sayang kamu, " timpal Citra juga ikut menciumnya sebelum pergi.
Kedua telapak tangan Devina terkepal sangat erat. Dada Devina terasa sangat sesak. Ia mencoba menarik nafas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan. Setelah kedua orang tuanya keluar dan menutup pintu. Devina melempar kartu ATM itu dengan sangat marah.
"Pergi saja. Aku tidak butuh kalian. Kalian benar-benar merusak suasana. Membuat jengkel saja! " Geram Devina dadanya naik turun karena menahan marah.
"Tenang Vina! Tarik nafas! Huuuuuhh~ Pikirkan saja Aksa. Fokus!"
_____________________
Ya ampun, ya ampun, ya ampun! 🤦♀️ Like sama komen nya dong! Masa lupa terus! 😤