NovelToon NovelToon
Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Dokter / Menikah Karena Anak
Popularitas:293.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.

Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.

Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Setelah kejadian itu, suasana toko bunga perlahan mulai tenang kembali. Lina dan Rani sibuk membereskan pot bunga yang pecah dan menyapu tanah yang berserakan di depan toko. Beberapa bunga yang rusak dikumpulkan di sudut ruangan dengan wajah sedih.

Sementara di bagian dalam toko, Sahir duduk di atas karpet bulu kecil sambil memeluk boneka kainnya.

Di sampingnya, Ririn menemani dengan sabar sejak tadi. Wanita itu sesekali mengusap lembut rambut Sahir yang masih sedikit berantakan setelah menangis tadi.

“Udah nggak takut lagi?” tanyanya lembut.

Sahir mengangguk kecil.

“Ndak…”

Meski begitu, anak kecil itu masih terlihat lebih pendiam dari biasanya. Tak lama kemudian, Sahira keluar dari dapur kecil sambil membawa beberapa gelas minuman hangat di atas nampan. Ia meletakkannya perlahan di meja kecil depan sofa.

“Minum dulu,” ujarnya pelan.

Revano langsung mengangguk kecil.

“Makasih.”

Sahira duduk perlahan di sofa seberang mereka. Wajahnya masih terlihat lelah setelah kejadian tadi. Lalu dengan nada tidak enak hati, ia berkata pelan,

“Maaf ya…”

Tatapan Revano dan Ririn langsung tertuju padanya.

“Harusnya kalian nggak perlu lihat pemandangan kayak tadi.”

Sahira menundukkan pandangannya pelan. Ia benar-benar malu. Setiap kali Revano datang, pria itu selalu melihat sisi hidupnya yang berantakan.

Revano langsung menggeleng,

“Nggak apa-apa.”

Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menghela napas pelan.

“Lagian ini juga bukan pertama kali.”

Sahira tersenyum pahit.

“Iya…”

“Kita juga udah sering lapor polisi,” lanjut Revano kesal. “Tapi mereka tetap aja nggak jera.”

Tatapan pria itu berubah dingin mengingat Diana dan Aldo tadi. Kalau saja bukan karena Sahira menahan dirinya, mungkin tadi ia benar-benar sudah menghajar Aldo lebih parah.

Ririn yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara pelan,

“Kasihan Sahir…” Tangannya kembali mengusap kepala kecil bocah itu dengan lembut. Sahir langsung mendongak menatapnya polos.

Ririn tersenyum hangat.

“Anak kecil nggak seharusnya lihat hal seperti tadi.”

Mata Sahira langsung terasa panas dan menatap Ririn penuh rasa bersalah.

“Terima kasih ya, Ririn…” ucapnya tulus. “Kamu udah baik banget sama aku dan Sahir.”

Ririn tersenyum lembut.

“Nggak usah bilang begitu.”

Sebelum Sahira sempat bicara lagi, Revano lebih dulu menyela santai—l,

“Jangan sungkan sama dia.”

Ririn menoleh sekilas pada tunangannya.

Sementara Revano melanjutkan dengan nada ringan,

“Lagipula aku udah nganggep Sahir kayak anak sendiri.”

Kalimat itu membuat suasana mendadak sedikit hening. Sahira menunduk pelan. Sementara Ririn tersenyum kecil, meski entah kenapa ada rasa aneh di dalam hatinya setiap kali melihat cara Revano memperlakukan Sahira dan Sahir.

Sahir tiba-tiba mengangkat tangan kecilnya.

“Papa Levano!”

Revano langsung menoleh.

“Iya?”

Anak kecil itu tersenyum lebar lalu mulai mengoceh polos,

“Tadi Sahel ketemu Doktel tampan lagi!” Sahir berbicara penuh semangat sambil memeluk boneka kecilnya.

Revano yang tadi sedang mengambil gelas langsung berhenti bergerak.

Keningnya sedikit berkerut.

“Dokter tampan?” ulangnya pelan.

Sahir mengangguk cepat.

“Iya! Doktel yang beliin Sahel es klim!”

Ririn terkekeh kecil mendengar cara bicara cadel bocah itu. Berbeda dengan Ririn tatapan Revano perlahan beralih pada Sahira. Seolah meminta penjelasan tanpa perlu bertanya langsung.

Sahira yang menyadari tatapan itu perlahan menunduk. Lalu beberapa detik kemudian dia mengangguk kecil.

Jantung Revano langsung berdetak tidak nyaman.

Sementara Sahir masih terus bercerita polos tanpa menyadari perubahan suasana di antara orang dewasa di sana.

“Doktelnya baik banget,” lanjut Sahir semangat. “Sahel diajak jalan-jalan sama dikasih es klim stoberi campur mata.”

“Matcha?” tanya Ririn sambil tersenyum geli.

“Iya itu!”

Ririn tertawa kecil tetapi Revano sama sekali tidak ikut tertawa. Tatapannya masih tertuju pada Sahira.

“Aku ketemu dia di rumah sakit,” ucap Sahira akhirnya pelan.

Suasana mendadak terasa sedikit berat.

“Dia dokter baru di sana,” lanjut Sahira lirih. “Yang nangani Sahir waktu demam.”

Revano menarik napas perlahan.

Pikirannya langsung kembali pada firasat buruk yang ia rasakan sejak kemarin.

“Dia tahu tentang Sahir?” tanya Revano hati-hati.

Sahira terdiam beberapa detik sebelum menjawab,

“Dia cuma tahu Sahir anakku.”

“Dan?”

Tatapan Sahira perlahan berubah gelisah.

“Dia mulai curiga…”

Kalimat itu membuat rahang Revano langsung menegang. Sementara di atas karpet, Sahir masih sibuk bermain sendiri sambil sesekali mengoceh kecil.

Sahir kini sibuk bermain mobil-mobilan kecil bersama Ririn di atas karpet, sementara Lina dan Rani masih membereskan sisa kekacauan di depan toko.

Sementara itu, Sahira duduk diam sambil meminum teh hangatnya perlahan.

Wajah wanita itu terlihat lelah. Seolah kejadian tadi benar-benar menguras tenaganya. Revano yang duduk tak jauh darinya sesekali memperhatikan Sahira diam-diam.

Pikirannya masih penuh sejak mendengar Saga kembali. Getaran ponsel di atas meja membuat Revano tersadar dari lamunannya.

Satu notifikasi pesan masuk muncul di layar. Nama pengirimnya langsung membuat tatapan Revano berubah, My Bro Saga, masih nama yang dulu. Jantungnya berdetak sedikit lebih keras.

Perlahan Revano membuka pesan itu.

[Temui Gue!]

Pesan berikutnya langsung menyusul.

[Tempat biasa waktu SMA.]

Revano langsung mengerutkan kening. Tak perlu dijelaskan lebih detail, ia langsung tahu tempat yang dimaksud Saga. Tempat tongkrongan lama mereka bertiga.

Tempat yang dulu hampir setiap sore menjadi saksi tawa mereka sebelum semuanya hancur lima tahun lalu. Napas Revano terasa sedikit berat.

'Saga pasti ingin membicarakan sesuatu.' Batin Revano.

Tatapan Revano perlahan beralih pada Sahira yang sedang menunduk diam sambil memegang cangkir tehnya. Wanita itu terlihat begitu rapuh sore ini. Dan Revano tahu satu hal kalau Sahira tahu Saga mengajaknya bertemu, wanita itu pasti akan melarangnya.

Karena Sahira selalu takut masa lalu mereka kembali terbuka. Perlahan Revano mematikan layar ponselnya tanpa membalas pesan itu.

1
Susma Wati
mungkinkah ini jebakan untuk clara, sebenarnya dalam kamar rias pengantin ada cctv yang tersembunyi dan di sambungkan dengan layar di ruangan resepsi, jadi orang2 tahu apa yang di lakukan clara dan membuat papanya tidak bisa berkutik lagi dengan aib yang di lakukan clara, pembunuhan berencana, pengancaman
Lilik Juhariah
ini jebakan buat Clara atau gimana thor
Uyen Uyen
ini gimana ceritanya sampai Clara sampai bisa masuk katanya penjagaan sangat ketat
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
cerita yg bikin kesel, ap in jebakan untuk mengakui smuanya kejahatan clara dan disana direkam atau ad kamera cctv yg merekam sehingga disaksikan live streaming smua orang, atau mm smua bodoh masak hr pernikahan gakda 1 orangpun yg wira wiri yg nemenin pengantin, cerita yg gak masuk akal, begitu gobloknya saga dll, atau mm in sdh direncanakan unt menjebak clara
mimief
nanggung banget dah thor😭😭😭
Rieya Yanie
masa mau nikahan g ada orang di ruang rias kok aneh banget
Hanifah 76
Luar biasa
tiara
Saga dimana sih,cepat tolongin Sahira si Clara udah tambah ngamuk tuh
Oma Gavin
tinggal nunggu part sahira kritis mau mati dibunuh Clara dan pernikahan gagal pemenang nya tetap Clara yg jahat selamat Clara misi mu berhasil 👏👏👏
Aidil Kenzie Zie
katanya akan ada yang ngawasi Clara tapi kok masih bisa masuk 🤔🤔🤔🤔 lagian karyawannya kok pergi semua mana pengawalan untuk Sahira 🤔🤔🤔😡😡😡
stela aza
ceritanya g jelas udh tau kejahatan Clara udh terbongkar dan ada buktinya kenapa g di laporin ke polisi ,,, kumaha sie 🤦
sri hastuti
ini gimana sih kok gak ada yg nolong i, apa jangan2 ada kamera di kamar itu , sehingga semua pangakuannya terekam semua ,ayo thor jangan lama2 lanjuuuuttt
Riska Nianingsih
acara pernikahan itu kan banyak orang, mosok gk ada satu orang pun melihat ada keributan diruang rias pengantin, hadeh gk masuk akal banget
Fa Yun
sepertinya ada kamera tersembunyi deh buat ngerekam omongan Clara
Anita Rahayu
ah kampret lu thor buat cerita nanggung amat nunggu sahira metong baru pahlawan nongol kayak indonesia udah mau runtuh baru nongol pak purbaya
Esther
Semoga lekas sembuh thor.

Ayo Sahira lawan Clara
Dini Anggraini
Kakak author ini apa nunggu sahira meninggal dulu ya kok gak ada satupun yang nolong sahira dari Clara. Dan semua kejahatan clara semoga tempat rias ada CCTV dan bisa terhubung ke internet jadi semuanya yang di lakukan clara bisa jadi siaran langsung di semua online jadi kejahatan clara semua media sosial manapun tahu keluarganya clara gak bisa lagi menolong clara bahkan perusahaan Louis yang slalu di banggakan selama ini bisa hancur gara2 clara. 😡😡😡😍😍😍😍
Dini Anggraini: 👍👍😍😍😍
total 2 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
up lagi dong
Retno Harningsih
up
Fia Ayu
astaga lagi tegang2nya di cut😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!