Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Kamar Terlalu Cepat.
Enam bulan.
Enam bulan dari malam pasar malam itu, dari bangku taman, dari tangan kecil Wida yang menggenggam tanganku erat. Enam bulan dari pesan pagi pertama yang masuk di layar retak ponselku.
Dan enam bulan itu terasa berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Bukan karena semuanya sempurna. Bukan karena tidak ada yang mengganjal sama sekali. Tapi karena aku memilih untuk tidak terlalu lama berdiri di depan hal-hal yang mengganjal itu. Aku lewati. Aku lanjutkan. Aku bilang ke diri sendiri bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada hubungan yang bebas dari gesekan dan itu semua wajar.
Tapi jujur, ada satu hal yang tidak bisa aku abaikan sepenuhnya.
Cara Nirmala memperlakukan Wida.
Bukan selalu keras. Tidak selalu. Ada sore-sore di mana dia sangat sabar, tertawa sama Wida, ngajak jalan-jalan, membelikan jajan. Tapi ada momen-momen tertentu yang tidak bisa aku jelaskan polanya, momen di mana dia bisa berubah sangat cepat, di mana tangan yang tadi lembut tiba-tiba jadi terlalu keras untuk ukuran kesalahannya.
Aku selalu mencari penjelasan yang masuk akal setiap kali itu terjadi. Mungkin dia lelah. Mungkin ada masalah di kerjaan. Mungkin Wida memang sedang susah diatur hari itu. Ada selalu penjelasan yang bisa aku temukan kalau aku cukup keras mencarinya.
Dan aku selalu mencarinya.
Lalu suatu malam Nirmala mengirim pesan panjang.
Tentang halal haram. Tentang statusnya yang janda dengan anak. Tentang orang-orang yang mulai ngomongin karena sering terlihat bersama aku. Tentang Wida yang sudah mulai tanya-tanya Kak Satria itu siapa dan kenapa sering ada.
Pesan itu tidak secara langsung bilang apa-apa. Tapi maksudnya jelas.
Aku tidur malam itu dengan pesan itu masih terbuka di layar ponselku.
Dan waktu subuh, setelah shalat, aku duduk di tepi kasur dan ada satu keputusan yang sudah selesai terbentuk di kepalaku tanpa aku sadari prosesnya.
Aku akan melamar.
Bukan karena ada tekanan. Bukan karena takut kehilangan. Tapi karena... aku tidak mau sendirian lagi. Sudah terlalu lama sendiri. Sudah terlalu lama pulang ke rumah yang sepi dan makan sendirian dan tidak ada yang menunggu dan tidak ada yang menanyakan hari ini bagaimana. Wida sudah mulai memanggil namaku dengan cara yang berbeda. Nirmala ada setiap hari di layar ponselku.
Ini cukup.
Atau aku mau percaya ini cukup.
Aku ke toko emas kecil di pasar. Bukan toko besar, bukan yang ada di mall, tapi toko kecil dengan etalase kaca yang agak buram dan bapak penjualnya yang sudah tua dengan kacamata tebal.
Cincin perak.
Bukan emas. Belum mampu untuk emas. Tapi perak yang bagus, yang ada ukiran kecil di sisinya, yang waktu aku lihat di etalase langsung mengingatkan aku pada sesuatu yang sudah lama aku tidak izinkan diri sendiri untuk ingat.
Cincin yang dulu.
Cincin yang aku beli empat tahun lalu dengan tabungan empat bulan. Cincin yang akhirnya aku letakkan di tangan Aisyah di depan gerbang pabrik garmen itu karena tidak bisa jadi lamaran tapi tidak bisa juga disimpan sendiri.
Ini bukan cincin itu. Tapi jenisnya sama. Perak. Sederhana. Serius.
Aku beli.
Malamnya aku ke kontrakan Nirmala. Wida sudah tidur. Nirmala membukakan pintu dengan wajah yang tidak kaget, entah karena sudah menduga atau karena memang sudah menunggu.
Aku tidak punya kalimat panjang. Tidak punya persiapan yang dramatis. Cuma duduk di depannya, mengeluarkan cincin dari saku, dan bilang, "Aku mau serius. Mau melamarmu."
Nirmala melihat cincinnya.
Lalu senyum itu muncul.
Lebar. Sangat lebar. Dan aku melihatnya, aku benar-benar melihat senyumnya, dan ada sesuatu yang sangat kecil di sudut kepalaku yang mencatat sesuatu yang tidak seharusnya dicatat di momen seperti ini.
Senyum itu tidak sampai ke matanya.
Matanya tidak ikut senyum. Matanya tetap sama seperti sebelumnya, seperti seseorang yang sedang menunggu giliran, seperti seseorang yang baru saja mencentang sesuatu dari daftarnya.
Tapi aku tutup catatan itu. Aku lipat rapi dan aku taruh di tempat yang tidak akan aku buka lagi malam itu.
"Iya," kata Nirmala.
Satu kata. Dan aku terima itu.
Keesokan harinya aku cerita ke Ibu.
Beliau mendengarkan. Duduk di kursi rotannya, tangan di pangkuan, mendengarkan sampai aku selesai. Dan aku perhatikan cara beliau mendengarkan malam itu berbeda dari biasanya. Tidak ada pertanyaan di tengah. Tidak ada anggukan kecil yang biasanya muncul waktu beliau mengikuti cerita.
Cuma diam.
Sampai aku selesai.
"Ibu dapat kabar dari Bu Ratna," beliau bilang akhirnya. Pelan.
Bu Ratna. Tetangga yang rumahnya di ujung gang, yang banyak tahu tentang banyak orang karena duduk di depan rumah dari pagi sampai malam.
"Suami pertama Nirmala," Ibu melanjutkan, "diusir dari kontrakan lamanya. Kata yang punya kontrakan karena sering ada suara ribut. Sering ada suara anak menangis sampai tengah malam."
Aku diam.
"Bukan sekali dua kali, kata Bu Ratna. Sudah sering. Sampai tetangga-tetangga kontrakan lama itu komplain."
Sepi.
Di ruang tengah yang kecil itu jadi sangat sepi tiba-tiba.
Dan di dalam sepi itu ada sesuatu yang bergerak di dadaku yang tidak mau aku akui namanya. Sesuatu yang sudah mulai terbentuk sejak es krim tumpah di lengan baju Nirmala empat bulan lalu dan tangan itu bergerak terlalu cepat dengan proporsi yang terlalu besar.
Sesuatu yang sudah dari dulu coba bicara tapi aku tutup terus.
"Satria, Ibu hanya—"
"IBU SELALU ADA ALASANNYA."
Suaraku keluar terlalu keras.
Terlalu keras untuk ruangan sekecil ini. Terlalu keras untuk malam yang sudah sunyi. Dan dari cara Ibu diam setelahnya, dari cara beliau tidak bergerak, dari cara matanya menatapku dengan sesuatu yang sangat susah aku hadapi, aku tahu aku baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa langsung dibatalkan.
"Aku cuma mau hidup, Bu." Suaraku turun. Tapi tidak minta maaf. Belum. Harusnya sudah, tapi belum. "Aku gak mau terus sendirian. Aku sudah dua puluh tiga tahun. Ibu bilang firasat, tetangga bilang ini itu, tapi tidak ada yang tahu Nirmala seperti aku tahu. Tidak ada yang kenal dia seperti aku kenal."
Ibu tidak membalas.
Berdiri. Melangkah ke kamarnya. Dan di ambang pintu kamar, dengan punggung yang sudah menghadap ke arahku, dengan tangan yang memegang kusen pintu pelan, beliau bilang satu kalimat.
Satu kalimat saja.
"Hati-hati, Nak."
Pintu kamar tertutup.
Tidak dibanting. Tidak keras. Cuma ditutup pelan, dengan cara yang entah kenapa lebih sakit dari kalau dibanting.
Aku berdiri sendirian di ruang tengah.
Di dadaku ada sesuatu yang berperang. Dua bagian yang menarik ke arah yang berlawanan dan tidak ada yang mau mengalah. Bagian yang tahu Ibu tidak pernah salah soal hal-hal seperti ini. Dan bagian yang terlalu lelah untuk memulai dari nol lagi, terlalu lelah untuk sendirian lagi, terlalu lelah untuk melepaskan satu-satunya hal yang terasa seperti pegangan dalam waktu yang sudah cukup lama.
Aku tidak mengetuk pintu kamar Ibu malam itu.
Tidak minta maaf.
Masuk kamar sendiri. Berbaring. Menatap langit-langit yang sama, retak di sudut kiri yang sama, dalam gelap yang sama.
Di kamar sebelah, tidak ada suara.
Tapi aku tahu Ibu tidak tidur. Beliau tidak pernah bisa langsung tidur setelah ada sesuatu yang berat. Dan malam ini lebih berat dari biasanya karena anaknya menaikkan suara ke beliau untuk kedua kalinya dan belum juga meminta maaf.
Aku menutup mata.
Besok. Besok aku minta maaf.
Tapi besok datang dan aku pergi jualan sebelum Ibu bangun. Dan besoknya lagi ada kesibukan. Dan hari-hari sesudahnya kami kembali ke obrolan normal, tentang lauk, tentang cuaca, tentang hal-hal kecil, dan kata maaf itu tidak pernah benar-benar keluar.
Tidak pernah.
Dan itu, bersama dengan malam di bab sebelumnya, adalah dua hutang yang sampai sekarang belum bisa aku bayar lunas ke orang yang paling tidak pernah minta apa-apa dariku.
Ibuku.