Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Lahirnya Aini Zahra Nurohman.(2019)
Delapan jam.
Delapan jam aku duduk di kursi plastik di luar ruang bersalin dengan tangan yang tidak tahu harus diapakan. Kadang dilipat di dada. Kadang di lutut. Kadang satu tangan menggenggam yang lain karena ada sesuatu yang perlu dipegang tapi tidak ada yang bisa dipegang.
Suara dari dalam kadang terdengar. Kadang tidak.
Aku tidak berdoa dengan kata-kata yang rapi atau terstruktur. Lebih ke percakapan yang berantakan di dalam kepala, yang langsung ke atas, yang isinya cuma tolong, tolong, tolong, berulang-ulang dengan cara yang tidak elegan sama sekali tapi itu satu-satunya yang bisa keluar.
Jam ketiga, seorang suster keluar dan bilang masih proses, semua normal.
Aku mengangguk. Duduk lagi.
Jam keenam, ada suara yang berbeda dari dalam. Suara yang lebih tinggi, lebih intens, dan aku berdiri sendiri tanpa sadar lalu duduk lagi karena tidak ada yang bisa aku lakukan dengan berdiri.
Jam ketujuh lebih tiga puluh menit, suster yang sama keluar dengan ekspresi yang sudah cukup aku baca artinya sebelum dia membuka mulut.
"Pak Satria. Sudah lahir."
Aku masuk.
Nirmala ada di kasur, kelelahan, rambutnya basah, mukanya pucat dengan cara yang berbeda dari pucat biasa, pucat orang yang baru melewati sesuatu yang menguras segalanya. Ada suster di sebelahnya yang sedang merapikan sesuatu.
Dan di pojok ruangan, suster yang lain sedang membungkus sesuatu yang kecil dengan kain putih.
Aku melangkah ke sana.
Suster menyerahkannya ke tanganku.
Dan aku menggendongnya untuk pertama kali.
Dia sangat kecil. Terlalu kecil untuk ditaruh di tangan yang biasa mengangkat sak semen dan mendorong gerobak dan memukul tanah di makam Bapak. Tangan yang kapalan dan kasar dan pernah berdarah di beberapa bagian ini sekarang menggendong sesuatu yang beratnya tidak ada apa-apanya tapi terasa seperti menanggung seluruh dunia sekaligus.
Matanya tertutup.
Mulutnya kecil sekali, separuh ukuran ibu jariku, sedikit terbuka. Hidungnya seperti hidung bayi di foto-foto yang pernah aku lihat, tapi ini bukan foto. Ini nyata. Ini di tanganku. Ini hangat.
Aku menangis.
Tidak ada dramatisasi. Tidak ada suara besar. Hanya air mata yang mengalir sendiri di pipi, menetes ke kain putih yang membungkus bayiku, dan aku bahkan tidak mencoba menyekanya karena kedua tanganku sedang sibuk menggendong sesuatu yang jauh lebih penting dari urusan air mata.
Bayiku.
Darah dagingku.
Sesuatu yang ada di dunia ini karena aku.
Aku ingat Bapak di kasur nomor tujuh itu. Aku ingat tangannya yang menggenggam tanganku sebelum napas terakhirnya. Aku ingat kata-katanya yang terakhir. Dan aku tidak tahu kenapa, di momen ini, di momen yang seharusnya tentang aku dan bayi di tanganku ini, aku malah sangat merindukan Bapak dengan cara yang sangat fisik, sangat menyakitkan, seperti ada tangan yang menarik rusukku dari dalam.
Bapak tidak akan pernah lihat ini.
Tidak akan pernah lihat cucunya. Tidak akan pernah mendengar namanya disebut. Tidak akan pernah tahu bahwa anaknya, bocah yang dulu berdiri di makamnya sambil menangis tidak karuan di bawah hujan, hari ini berdiri di pojok ruang bersalin dengan cucunya di tangan.
Tapi nama itu. Nama itu aku bawa.
Aku dekatkan mulutku ke telinga kanan bayiku yang kecil itu.
Suaraku gemetar dari awal. Tidak bisa tidak gemetar. Ini bukan karena aku tidak latihan atau tidak tahu kata-katanya, tapi karena ada sesuatu di momen ini yang membuat suara apapun terasa terlalu kecil untuk ruang yang terlalu besar.
Allahu Akbar. Allahu Akbar.
Kudengar suaraku sendiri bergetar di ruang yang kecil itu. Suster yang di sisi Nirmala berhenti bergerak sebentar.
Allahu Akbar. Allahu Akbar.
Bayi di tanganku tidak bereaksi. Tetap tidur. Tetap tenang. Dengan cara bayi baru lahir yang belum tahu betapa berat dan betapa indah dunia yang baru saja menerimanya.
Aku selesaikan adzan sampai habis.
Lalu aku bisikkan namanya, langsung ke telinga kanannya yang kecil itu.
"Namamu Aini Zahra Nurrohman. Aini, dari kata ain, mata. Zahra, bunga. Dan Nurrohman, cahaya dari Yang Maha Pengasih." Aku berhenti sebentar. Tenggorokanku terasa penuh. "Marga Bapakku yang sudah tidak ada. Bapakku namanya Abdul Rahman. Kamu tidak akan pernah ketemuin dia. Tapi marga itu sekarang ada di namamu. Jadi dia tetap ada."
Mataku panas lagi.
"Ini Ayah, Aini. Ini Ayah kamu."
Kata itu, Ayah, pertama kali aku ucapkan ke seseorang yang benar-benar memanggil aku dengan itu, dan terasa seperti sesuatu yang sangat baru sekaligus seperti sesuatu yang sudah aku kenal lama sekali dari tempat yang berbeda.
Dari posisi yang dulu aku yang ada di sisinya.
Sekarang aku yang ada di sisi ini.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana menggendong Aini.
Yang aku tahu berikutnya adalah suara keras dari arah kasur Nirmala.
"Suster ini apaan sih, nasinya dingin begini kasih ke pasien!"
Aku mengangkat kepala.
Nirmala duduk dengan kotak nasi di tangan, wajahnya sudah berubah dari tadi, dari pucat kelelahan ke merah yang berbeda warnanya.
"Ini nasi udah basi kali, gak berasa apa-apanya. Pasien habis melahirkan dikasih makan kayak gini?"
Suster yang ada di sisinya mencoba menjelaskan sesuatu dengan suara yang tetap tenang dan profesional. Tapi Nirmala tidak mendengarkan.
Kotak nasi itu dilempar.
Menghantam lantai. Isinya berhamburan. Nasi, lauk, semua berantakan di lantai klinik yang tadi bersih.
Ruangan itu sunyi selama satu detik.
Pasien di kasur sebelah, yang dipisah gorden tipis, tidak bersuara. Suster muda yang ada di dekat pintu mematung.
Aku masih menggendong Aini.
Aku turunkan pandangan ke bayi di tanganku yang masih tidur tenang, tidak tahu ada apa di sekitarnya, tidak tahu apa yang baru saja terjadi tiga meter dari tempatnya.
Aku titipkan Aini ke suster yang tadi menyerahkannya ke aku.
Lalu aku berlutut.
Di lantai klinik itu, di depan nasi yang berhamburan, aku pungut satu per satu. Tidak bicara. Tidak melihat ke Nirmala. Tidak melihat ke suster yang masih mematung. Tidak melihat ke arah gorden yang memisahkan ruangan ini dengan pasien sebelah yang pasti sudah mendengar semuanya.
Aku cuma pungut nasinya. Taruh kembali ke kotak yang sudah penyok itu. Satu suapan nasi. Dua. Tiga. Semuanya.
Wajahku tidak bergerak.
Bukan karena aku tidak merasakan apa-apa. Justru sebaliknya. Di dalam wajah yang tidak bergerak itu ada sesuatu yang sedang bergerak sangat keras, sesuatu yang berbenturan dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa dikeluarkan di sini, di tempat ini, di momen ini.
Jadi aku simpan.
Lagi.
Nasi selesai dipungut. Aku berdiri. Buang kotak nasi ke tempat sampah di sudut ruangan.
Tidak ada yang bicara.
Aku ambil Aini kembali dari suster.
Malam itu, setelah semua urusan klinik selesai, setelah Nirmala tidur di kasur dengan napas yang sudah kembali teratur, aku keluar ke teras klinik yang kecil itu.
Sepi. Tidak ada orang. Lampu teras yang kuning dengan satu atau dua serangga yang terbang-terbang di sekitarnya. Suara jauh dari jalan raya yang hampir tidak terdengar di jam sesunyi ini.
Aku duduk di kursi plastik teras itu dengan Aini di gendongan.
Dia tidur.
Mukanya tenang dengan cara yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang belum tahu apa-apa tentang dunia ini. Tenang yang murni. Tenang yang belum pernah dilukai apapun.
Aku menatapnya lama sekali.
Dan kemudian aku berbisik. Bukan untuk Nirmala. Bukan untuk siapapun yang ada di dalam klinik itu. Tapi untuk Aini saja, untuk telinga kecil itu yang bahkan belum bisa mendengar dengan sempurna, untuk seseorang yang belum bisa mengerti sepatah kata pun tapi aku perlu mengucapkannya tetap.
"Ayah tidak tahu pernikahan ini akan ke mana, Aini." Suaraku hampir tidak ada. "Ayah tidak tahu banyak hal sekarang. Tapi satu yang Ayah tahu pasti."
Aku tahan napas sebentar.
"Ayah akan jaga kamu. Apapun yang terjadi. Apapun yang harus Ayah hadapi di luar sana, kamu aman. Ayah jamin itu."
Aini tetap tidur.
Bibirnya bergerak sedikit, reflek bayi baru lahir yang tidak punya makna tapi aku pilih untuk membacanya seperti yang aku mau.
Seperti dia mendengar.
Seperti dia tahu.
Aku genggam jarinya yang kecil itu dengan ibu jariku. Dia menggenggam balik, dengan cara yang bayi lakukan tanpa sadar, tapi cukup erat, cukup nyata untuk dirasakan di kulit yang sudah terlalu lama kapalan.
Dan untuk pertama kali sejak lama, aku tidak merasa sendirian.
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain