Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 229
Perbatasan Lautan Hampa – Wilayah Pulau Tulang.
Tiga titik hitam muncul di kejauhan, membelah kabut ungu kehampaan.
Itu adalah tiga Bahtera Perang berwarna hitam legam, berbentuk pipih dan tajam seperti mata tombak. Bendera bergambar Kepala Anjing Serigala berkibar di tiang tertinggi, memancarkan aura niat membunuh yang dingin.
Armada Kelompok Anjing Pemburu (The Hounds). Mereka adalah momok bagi para pelintas batas. Mereka tidak meminta harta, mereka menginginkan nyawa.
Di geladak Bahtera Teratai Merah, ratusan prajurit Klan Barbar Tulang berdiri berdesakan. Otot-otot mereka yang sekeras baja menegang, urat-urat menonjol di kulit perunggu mereka. Mereka tidak membawa pedang terbang atau jimat sihir. Mereka hanya membawa gada tulang, kapak batu, dan tinju mereka sendiri.
Gu Man, Kepala Suku Barbar, berdiri di haluan samping Shi Hao. Dia menenggak habis satu gentong arak, lalu membanting gentong itu hingga pecah.
"Daging segar sudah datang!" raung Gu Man, matanya merah karena mabuk perang. "Saudara Shi Hao, kapal besimu ini cukup kencang untuk menabrak mereka?"
Shi Hao tersenyum tipis, angin hampa menerpa rambut peraknya.
"Kita tidak akan menabrak. Kita akan melindas."
Shi Hao menghentakkan kakinya, menyalurkan Qi ke inti penggerak kapal.
"Wuming! Aktifkan Formasi Pedang Pelindung! Lindungi lambung kapal!" "Luo Tian! Bidik kapal utama di tengah! Hancurkan Meriam Roh mereka!"
"MAJU!"
VROOOM!
Bahtera Teratai Merah melesat maju, meninggalkan jejak api putih di belakangnya. Kapal itu tidak menghindar, melainkan lurus menerjang ke arah formasi tiga kapal musuh.
Di kapal utama Anjing Pemburu, Kapten Gui Ying (Bayangan Hantu) menyipitkan mata. Dia mengenakan jubah hitam ketat dengan topeng setengah wajah.
"Mereka ingin adu tabrak? Bodoh," desis Gui Ying. "Aktifkan Jaring Penjerat Roh. Tangkap kapal itu."
Tiga kapal hitam itu menembakkan jaring energi raksasa untuk menahan laju Bahtera Teratai Merah.
Namun, Shi Hao sudah menduganya.
"Gu Man! SEKARANG!"
Tanpa perlu perintah dua kali, Gu Man meraung.
"ANAK-ANAK! LOMPAT!"
Tiga ratus prajurit Barbar Tulang melompat serentak dari geladak Bahtera Teratai Merah.
Mereka tidak terbang. Mereka melompat.
Kekuatan ledakan otot kaki mereka begitu besar hingga geladak kapal Shi Hao penyok ke bawah. Tiga ratus tubuh raksasa melayang di ruang hampa seperti hujan meteor hidup, menembus jaring energi musuh dengan tubuh fisik mereka yang kebal sihir.
DUM! DUM! DUM!
Prajurit Barbar mendarat di atas geladak kapal-kapal hitam musuh.
Suara pendaratan mereka seperti suara genteng yang pecah. Tabir pelindung kapal musuh hancur seketika diinjak oleh kaki-kaki raksasa itu.
"Apa ini?!" Para kru Anjing Pemburu panik. Mereka adalah kultivator yang terbiasa bertarung jarak jauh dengan teknik sihir. Tiba-tiba ada raksasa di depan wajah mereka.
"Pukul!" teriak Gu Man.
Seorang prajurit Barbar menangkap kepala dua musuh dan mengadunya seperti memecahkan kelapa. Gada tulang berayun, melemparkan tubuh musuh keluar dari kapal, hanyut ke kehampaan abadi.
Di tengah kekacauan itu, Shi Hao melesat keluar.
Dia tidak mendarat di geladak. Dia terbang lurus menuju anjungan kapal utama, tempat aura terkuat berada.
Geladak Kapal Utama Musuh.
Kapten Gui Ying melihat pasukannya dibantai oleh orang-orang biadab itu. Dia mendengus dingin.
"Kumpulan sampah otot."
Tiba-tiba, atap anjungan di atas kepalanya meledak.
BLAR!
Pecahan kayu dan logam berhamburan. Shi Hao mendarat di tengah ruangan kemudi, pedang Leviathan Asura di tangan kanan, api putih menyala di tangan kiri.
Para pengawal elit Gui Ying—lima pembunuh berjubah hitam—langsung menyerang.
"Mati!"
Shi Hao tidak berhenti berjalan. Dia mengayunkan pedangnya membentuk lingkaran.
"Tebasan Bulan Sabit."
SRET.
Lima kepala melayang ke udara bersamaan. Darah menyembur, menodai peta navigasi di meja.
Shi Hao mengibaskan darah dari pedangnya, lalu menatap Gui Ying yang masih duduk tenang di kursi kaptennya.
"Kau memegang sesuatu yang bukan milikmu," kata Shi Hao dingin. "Serahkan Batu Kunci Dimensi itu, dan aku akan membiarkanmu mati dengan cepat."
Gui Ying terkekeh. Suaranya serak dan bergema, seolah datang dari segala arah.
"Shi Hao... Sang Buronan. Kepalamu berharga sepuluh planet di pasar gelap."
Gui Ying perlahan berdiri. Tubuhnya mulai memudar, menjadi transparan seperti asap.
"Kau pikir kau bisa menangkap bayangan?"
WUSH.
Gui Ying menghilang.
Shi Hao diam di tempat. Dia menutup matanya. Dia tidak menggunakan mata fisik, tapi menggunakan Indera Dewa dan persepsi panas dari Api Sembilan Yang.
"Di kiri."
Shi Hao menebas ke kiri.
TING!
Pedangnya beradu dengan sebilah belati hitam yang muncul dari udara kosong.
"Cepat juga," suara Gui Ying terdengar dari belakang. "Tapi tidak cukup."
SRET!
Punggung Shi Hao tergores. Sebuah jarum hitam tipis menancap di sana, menyebarkan racun pelumpuh saraf.
Gui Ying adalah pembunuh tipe kecepatan dan ilusi. Dia bergerak di celah bayangan, menyerang titik buta.
"Racun ini adalah Bisa Ular Void," bisik Gui Ying, muncul dan menghilang lagi. "Dalam sepuluh napas, darahmu akan membeku."
Shi Hao mencabut jarum itu tanpa ekspresi. Lukanya langsung mendesis dan menutup, racun itu terbakar habis oleh darah naganya yang panas.
"Trik murahan," kata Shi Hao.
"Kau suka bermain petak umpet di dalam bayangan?"
Shi Hao membuka matanya. Pupil emasnya berputar.
"Kalau begitu, mari kita hilangkan bayangannya."
Shi Hao menghentakkan kaki.
"Domain: Matahari Terbit Sembilan Penjuru!"
BOOM!
Ledakan api putih kebiruan menyembur dari tubuh Shi Hao, memenuhi seluruh ruangan anjungan kapal. Cahaya itu begitu terang, begitu menyilaukan, hingga tidak ada satu pun sudut gelap yang tersisa.
Bayangan tidak bisa ada tanpa objek penghalang. Tapi jika cahaya datang dari segala arah, bayangan musnah.
"ARGH!"
Terdengar teriakan tertahan. Di sudut ruangan, sosok Gui Ying terpaksa muncul kembali. Jubah bayangannya terbakar oleh cahaya suci itu. Kulit pucatnya melepuh.
"Ketemu," Shi Hao menyeringai.
Dia melesat maju. Gui Ying mencoba menangkis dengan belati kembarannya.
TRANG!
Shi Hao mematahkan kedua belati itu dengan satu tebasan pedang Leviathan yang dilapisi api.
Tangan kiri Shi Hao—yang kini berbentuk cakar naga—mencengkeram leher Gui Ying, mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Uhuk... Lepas..." Gui Ying meronta, kakinya menendang-nendang udara.
"Di mana kuncinya?" tanya Shi Hao, cengkeramannya mengerat.
Gui Ying mencoba meludahi wajah Shi Hao, tapi ludahnya menguap sebelum kena.
Shi Hao mendengus. Dia menggunakan tangan kanannya untuk merobek paksa kantong penyimpanan di pinggang Gui Ying.
Dia menuangkan isinya.
Di antara tumpukan racun dan senjata rahasia, jatuhlah sebuah batu kristal berwarna biru langit yang memancarkan gelombang ruang angkasa yang stabil.
Batu Kunci Dimensi.
"Benda ini terlihat cocok untuk pintu rumah teman baruku," kata Shi Hao.
Dia menyimpan batu itu.
Gui Ying, menyadari dia akan mati, matanya memerah gila.
"Kau... Kau tidak akan lolos... Tuan Besar kami... Kaisar..."
"Ssst," Shi Hao menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. "Simpan ceritamu untuk Raja Neraka."
Shi Hao mengalirkan Api Sembilan Yang ke tangan yang mencengkeram leher Gui Ying.
"Terbakar."
FWOSH!
Dalam sekejap mata, tubuh Gui Ying terbakar habis menjadi abu, tidak menyisakan tulang sedikit pun.
Shi Hao melempar abu itu ke lantai.
Dia berjalan ke jendela anjungan yang pecah.
Di luar, pertempuran sudah hampir selesai. Pasukan Barbar Gu Man telah menguasai ketiga kapal musuh. Mayat-mayat kru Anjing Pemburu bergelimpangan. Kapal-kapal hitam itu kini terbakar dan rusak parah.
Shi Hao mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, memberi sinyal.
"MUNDUR! KEMBALI KE BAHTERA!"
Para prajurit barbar bersorak. Mereka menjarah senjata dan kepala musuh sebagai trofi, lalu melompat kembali ke Bahtera Teratai Merah dengan tawa kemenangan.
Shi Hao melompat kembali ke kapalnya sendiri.
Gu Man menyambutnya dengan pelukan beruang (lagi).
"Hahaha! Saudara Shi Hao! Lihat kapak baru ini! Bagus kan?"
Shi Hao menunjukkan batu kristal biru di tangannya.
"Kapak itu bagus. Tapi ini lebih bagus."
Gu Man melihat batu itu dan matanya melebar.
"Batu Kunci Leluhur!" teriak Gu Man haru. "Kau mendapatkannya kembali!"
"Ayo pulang," kata Shi Hao. "Kita buka pintu itu, dan tinggalkan tempat ini sebelum bangkainya mengundang hiu yang lebih besar."
Satu Jam Kemudian – Di Depan Rahang Tengkorak.
Shi Hao memasang Batu Kunci itu pada altar kuno di depan gerbang portal yang terletak di dalam mulut tengkorak pulau itu.
Altar berdengung. Rune-rune kuno menyala terang.
Pusaran energi biru yang stabil terbuka di tengah gerbang. Jalan menuju Sektor Pusat jantung alam semesta—akhirnya terbuka.
"Terima kasih, Saudara," kata Gu Man, menepuk bahu Shi Hao. "Portal ini sekarang milikmu. Tapi ingat, jika kau butuh tempat untuk mabuk atau memukul orang, Pulau Tulang selalu terbuka untukmu."
Shi Hao mengangguk hormat.
"Jaga diri kalian. Jangan biarkan orang lain mencurinya lagi."
Tim Asura kembali naik ke Bahtera Teratai Merah..
Kapal merah itu perlahan melaju, masuk ke dalam cahaya biru portal, meninggalkan Pulau Tulang dan Sektor Pinggiran di belakang mereka.
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛