Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Janji di Bawah Langit Mendung
(Content warning: Scene panas dan eksplisit di akhir bab. Mengandung deskripsi intim, posesif, dan dominasi ringan sesuai permintaan. Skip jika tidak nyaman.)
***
Pagi di Wisma Adiwinata terasa lebih tenang daripada biasanya. Hujan semalam telah reda, meninggalkan udara segar yang bercampur aroma tanah basah dan melati yang masih mekar di taman belakang. Pendopo besar di halaman tengah kini sepi, hanya ditemani suara burung gereja yang berkicau pelan dan hembusan angin yang membawa sisa dingin malam.
Livia duduk di salah satu kursi kayu jati yang mengelilingi meja bundar di tengah pendopo. Ia mengenakan hoodie abu-abu longgar dan celana olahraga hitam—pakaian yang sama seperti yang ia pakai semalam saat berlari ke rumah sakit. Rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa makeup, tapi matanya masih merah karena kurang tidur dan air mata yang sempat jatuh di koridor RS Sardjito.
Rangga muncul dari arah rumah utama. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku dan celana chino gelap. Wajahnya tampak lelah, tapi ada ketenangan baru di sana—seperti beban yang selama ini ia pikul mulai sedikit terangkat. Di tangannya, ia membawa dua cangkir kopi hitam panas dan sepiring pisang goreng yang masih mengepul.
“Papa masih tidur,” katanya pelan sambil meletakkan cangkir di depan Livia. “Dokter bilang beliau stabil. Mama sedang di kamar, menemaninya.”
Livia mengangguk tanpa menjawab. Ia menatap cangkir kopi itu sejenak, lalu mengambilnya. Uap panas menyentuh wajahnya, membawa aroma pahit yang menenangkan.
Rangga duduk di seberangnya. Jarak di antara mereka terasa lebih dekat daripada biasanya—bukan karena fisik, tapi karena keheningan yang tak lagi penuh amarah. Mereka diam cukup lama, hanya ditemani suara angin dan kicau burung.
Akhirnya, Rangga yang memecah keheningan.
“Livia... aku minta maaf.”
Livia mengangkat mata. “Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Untuk menyuruhmu nurut. Untuk tidak langsung mengusir Nadia kemarin malam. Untuk membiarkanmu merasa seperti kamu hanya pilihan kedua. Aku... aku panik. Aku takut kehilangan Papa, aku takut kehilanganmu, aku takut semuanya runtuh. Tapi aku salah cara.”
Livia menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Rangga yang berbeda—bukan lagi dominasi posesif yang biasa ia tunjukkan, melainkan kerapuhan yang jujur.
“Aku juga minta maaf,” balas Livia pelan. “Aku terlalu impulsif. Aku langsung menuduhmu, aku langsung marah tanpa mendengarmu dulu. Aku takut... aku takut kamu kembali ke Nadia. Aku takut kamu memilih jalan yang lebih mudah, yang lebih 'cocok' dengan keluargamu.”
Rangga menggeleng. “Nadia bukan pilihanku, Livia. Dia masa lalu. Dia hanya teman kecil yang keluarganya dekat dengan keluargaku. Papa dan Mama yang selalu bilang dia 'ideal', tapi aku tidak pernah merasa begitu. Aku memilihmu. Dari awal aku memilihmu.”
Livia tersenyum tipis, tapi ada air mata yang menggenang lagi. “Tapi kamu membiarkan dia memelukmu kemarin.”
“Aku salah,” jawab Rangga cepat. “Aku sedang shock, sedang panik soal Papa. Aku tidak berpikir. Tapi begitu kamu datang, aku langsung tahu—aku tidak mau siapa pun selain kamu yang ada di sisiku saat itu.”
Ia meraih tangan Livia di atas meja. Jari-jarinya hangat, kontras dengan udara pagi yang dingin. “Aku janji, Livia. Mulai hari ini, aku akan melawan semua demi kamu. Aku sudah menelepon pengacara keluarga pagi ini. Kita akan mengajukan banding ke imigrasi untuk paspormu. Aku juga akan bicara dengan PBSI—aku punya kenalan di sana. Aku tidak akan membiarkan kariermu hancur karena ini.”
Livia memandang tangan mereka yang bertaut. “Kamu serius?”
“Serius,” jawab Rangga tegas. “Dan aku juga akan bicara dengan Mama. Aku tidak mau lagi ada orang ketiga di antara kita. Nadia... aku akan pastikan dia tidak muncul lagi. Aku akan bilang langsung kepadanya, dan kepada Mama, bahwa aku memilihmu. Sepenuhnya.”
Livia menarik napas panjang. Ada beban yang terangkat dari dadanya, meski belum sepenuhnya hilang. “Aku ingin mempercayaimu, Rangga. Tapi aku juga ingin bukti. Bukan hanya kata-kata.”
Rangga mengangguk. “Aku akan membuktikannya. Setiap hari.”
Mereka diam lagi. Angin bertiup lembut, membawa aroma bunga melati yang lebih kuat. Livia menatap Rangga lama, lalu tersenyum kecil—senyum pertama yang tulus setelah berhari-hari.
“Kamu tahu tidak,” katanya pelan, “aku hampir kabur semalam. Vania mau mengirim helikopter.”
Rangga tertawa kecil, suara yang ringan dan lega. “Aku tahu. Supirku bilang ada mobil asing menunggu di gerbang belakang. Aku hampir panik berpikir kamu benar-benar pergi.”
Livia mengangkat bahu. “Aku hampir pergi. Tapi aku berpikir... kalau aku pergi sekarang, aku tidak akan pernah tahu apakah kamu benar-benar memilihku atau tidak.”
Rangga menarik tangan Livia lebih dekat, hingga ia harus bangkit dari kursi dan berpindah ke sampingnya. Livia duduk di pangkuannya tanpa ragu, punggungnya bersandar ke dada Rangga. Tangan pria itu melingkar di pinggangnya, dagunya bertumpu di bahu Livia.
“Aku memilihmu,” bisik Rangga di telinga Livia. “Dari awal aku memilihmu. Bahkan ketika aku pertama kali melihatmu melakukan smash di Istora, aku sudah tahu—aku ingin kamu menjadi milikku. Bukan karena kontrak, bukan karena Papa, tapi karena aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu.”
Livia memutar tubuhnya sedikit, menghadap Rangga. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Napas mereka bercampur, hangat dan cepat.
“Kamu sangat posesif,” gumam Livia, tapi ada senyum kecil di bibirnya.
“Kamu juga,” balas Rangga. “Kamu memelukku di depan Nadia kemarin. Itu posesif, Livia. Dan aku menyukainya.”
Livia tertawa pelan. “Aku hanya menunjukkan wilayah.”
Rangga tersenyum, lalu mencondongkan wajahnya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lambat, lembut, berbeda dari ciuman penuh amarah di balkon semalam. Kali ini tidak ada paksaan, tidak ada kemarahan—hanya kelembutan dan janji yang baru saja diucapkan.
Tapi Livia tiba-tiba menarik diri pelan, menatap Rangga dengan mata yang gelap penuh hasrat.
“Rangga...” bisiknya, suaranya serak. “Aku ingin kamu menunjukkan sisi posesifmu yang sebenarnya. Aku ingin kamu mengklaimku... sepenuhnya. Di sini. Sekarang. Lebih intens. Aku ingin merasakan kamu tidak akan pernah melepaskanku.”
Rangga terkejut sejenak, tapi matanya langsung berubah—gelap, lapar, penuh api yang membara. “Kamu yakin? Ini tidak akan lembut.”
Livia mengangguk, tangannya menyusup ke kerah kemeja Rangga, menariknya lebih dekat. “Aku meminta. Aku ingin kamu buktiin kalau aku benar-benar milikmu. Aku ingin kamu kasar kalau perlu. Aku ingin tanda yang nggak bisa hilang.”
Rangga tidak menunggu lagi. Ia menarik Livia dengan kekuatan yang membuat meja bergetar, membalik posisi hingga Livia terbaring telentang di atas meja pendopo yang lebar. Selimut kecil dari kursi ditarik kasar untuk alas. Bibirnya menyerang bibir Livia dengan ganas, ciuman yang penuh dominasi—lidahnya menjelajah dalam, mengklaim setiap inci mulut Livia seperti wilayah yang tak boleh disentuh orang lain. Giginya menggigit bibir bawah Livia cukup keras hingga terasa nyeri manis, membuat Livia mengerang keras.
“Kamu milikku, Livia,” desis Rangga di antara ciuman, suaranya rendah, bergetar penuh ancaman. “Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku. Tidak ada yang boleh melihatmu seperti ini selain aku. Kamu mengerti?”
Livia mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Ya... aku mengerti... aku milikmu...”
Tangan Rangga menyusup ke bawah hoodie Livia, meremas pinggangnya dengan kekuatan yang membuat Livia menggeliat. Ia menarik hoodie itu ke atas dengan satu tarikan kasar hingga robek sedikit di bagian lengan, melemparkannya ke lantai tanpa peduli. Bibirnya turun ke leher Livia, menggigit dan menghisap kulit di sana hingga meninggalkan tanda merah keunguan yang jelas—tanda kepemilikan yang akan bertahan berhari-hari.
“Rangga...” Livia mengerang, tangannya mencakar punggung pria itu melalui kemeja, meninggalkan goresan merah.
“Lebih keras,” desah Livia lagi, suaranya penuh tantangan. “Aku ingin kamu kasih tanda yang nggak bisa disembunyikan. Aku ingin Nadia tahu—kalau dia lihat, dia tahu aku milikmu.”
Rangga menggeram pelan, suara yang rendah dan berbahaya. Ia menarik celana olahraga Livia turun dengan gerakan cepat dan kasar, hampir merobek kainnya. Tangannya menyusuri paha dalam Livia, meremas keras hingga meninggalkan bekas jari. Livia menggeliat, tapi bukannya menolak—ia justru membuka pahanya lebih lebar, mengundang.
“Kamu meminta ini,” bisik Rangga, suaranya serak penuh hasrat. “Kamu yang bilang ingin aku posesif. Sekarang rasakan.”
Ia menekan tubuhnya ke Livia, gerakannya tegas dan tanpa ampun. Tangan kirinya menahan kedua pergelangan Livia di atas kepala dengan satu tangan saja, menahannya di meja, sementara tangan kanannya menjelajah ke bawah, menyentuh dan merangsang dengan jari-jari yang terampil tapi kasar—membuat Livia menjerit kecil karena campuran sakit dan kenikmatan.
“Katakan lagi,” perintah Rangga, giginya menggigit cuping telinga Livia hingga terasa perih. “Katakan kalau kamu milikku. Katakan kalau kamu tidak akan pernah pergi.”
“Aku... milikmu... Rangga...” Livia mengerang, tubuhnya gemetar. “Aku tidak akan pergi... aku milikmu... selamanya...”
Rangga mempercepat gerakan, bibirnya kembali menyerang leher dan dada Livia, meninggalkan lebih banyak tanda gigitan dan hisapan. Saat Livia hampir mencapai puncak, Rangga tiba-tiba berhenti—membuat Livia memprotes dengan erangan frustrasi.
“Belum,” katanya tegas, suaranya penuh kendali. “Kamu baru boleh sampai kalau aku izinkan. Kamu milikku—aku yang tentukan kapan.”
Livia menggeleng-geleng, matanya berkaca-kaca karena sensasi yang tertahan. “Rangga... tolong...”
Rangga tersenyum gelap, lalu melanjutkan dengan lebih intens—gerakan jarinya cepat dan tanpa ampun, membawa Livia ke puncak dengan kekuatan yang membuat tubuhnya mengejang keras. Jeritan Livia tertahan di tenggorokan saat ia mencapai klimaks, tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan Rangga.
Rangga mengikuti tak lama kemudian, mengerang nama Livia dengan suara yang pecah karena kenikmatan. Ia menekan tubuhnya dalam-dalam, mengklaim Livia sepenuhnya, hingga keduanya terkulai kelelahan.
Mereka terbaring berdampingan di atas meja, napas saling bercampur, tubuh basah keringat dan hujan yang mulai merembes ke pendopo. Rangga menarik Livia ke dadanya, mencium keningnya dengan lembut—kontras dengan kekerasan tadi.
“Kamu milikku, Livia,” bisiknya lagi, suaranya penuh kepemilikan. “Dan aku milikmu. Selamanya.”
Livia tersenyum lemah, tapi bahagia, jarinya menyusuri tanda goresan yang ia tinggalkan di punggung Rangga. “Janji?”
“Janji.”