kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Lembah Terlarang
Penasehat yang sejak tadi terdiam, kini memberanikan diri untuk mendekat. Ia melihat bahwa badai telah berlalu. Ia tersenyum tipis, menyulut kembali obor di dinding dengan jentikan jarinya yang juga menguasai elemen petir. "Ah, masa-masa itu," ujar Penasehat dengan suara serak. "Aku ingat pertama kali melihat kalian berdua di pasar. Dua anak kecil yang paling ditakuti. Banyak yang mengira kalian adalah iblis kecil, padahal kalian hanyalah anak-anak yang mencoba bertahan hidup."
Malam itu, suasana di Menara Petir berubah total. Ketegangan yang tadinya nyaris meledakkan ruangan berganti menjadi diskusi hangat yang penuh dengan nostalgia. Layla, yang biasanya hanya bicara untuk memberi perintah atau ancaman, mulai membuka suaranya dengan nada yang lebih halus. Ia menceritakan bagaimana Centaur pertama yang ia jinakkan sebenarnya hampir saja menendang kepalanya hingga hancur jika Delta tidak melemparkan tombak kayu untuk mengalihkan perhatian makhluk itu.
"Dan ingatkah kau, Delta?" Layla berkata sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, "Saat kita pertama kali mencoba menunggangi Griffon liar? Kau terjatuh tiga kali dan mendarat tepat di atas tumpukan jerami yang bau. Aku tertawa begitu keras sampai sihirku tidak sengaja menyambar ekor Griffon itu dan membuatnya terbang gila-gilaan." Mereka bertiga tertawa bersama. Penasehat menimpali dengan cerita tentang bagaimana ia secara rahasia mengawasi mereka dari kejauhan,
Waktu seolah berhenti berputar di dalam menara itu. Mereka menceritakan setiap detail perjuangan mereka membangun Atlas dari nol. Bagaimana mereka harus bernegosiasi dengan kaum Minotaur yang keras kepala dan bagaimana Delta harus mempertaruhkan nyawanya dalam duel melawan raja Naga Api untuk mendapatkan kesetiaan mereka. Cerita-cerita itu terus mengalir, melintasi tengah malam hingga fajar mulai membayang di ufuk timur
Ketika cahaya pagi mulai masuk melalui celah-celah jendela menara, suara di dalam ruangan itu perlahan meredup. Layla, yang kelelahan setelah seharian penuh dengan emosi dan malam panjang berisi cerita, akhirnya jatuh terlelap di kursi panjangnya. Kepalanya terkulai ke samping, dan raut wajahnya yang biasanya kaku karena amarah kini tampak tenang, hampir terlihat seperti gadis kecil yang ditemui Delta bertahun-tahun lalu di balik pilar batu.
Delta berdiri perlahan, memberi isyarat kepada Penasehat untuk tetap diam. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang benda paling berharga di dunia, Delta menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Layla. Ia mengangkat tubuh Sang Ratu dengan mudah.
Delta berjalan keluar dari Menara Petir, melewati koridor-koridor istana Atlas yang dijaga ketat oleh pasukan Minotaur berbaju besi.
Para penjaga yang melihat Panglima mereka menggendong Ratu hanya menundukkan kepala dalam diam, memberikan hormat yang paling dalam. Delta melangkah menuju sayap pribadi istana, tempat kamar megah Layla berada. Ia membuka pintu besar yang diukir dengan lambang petir dan naga, lalu melangkah masuk ke dalam kamar yang tenang itu. Dengan lembut, ia merebahkan Layla di atas tempat tidur berkelambu sutra hitam.
Delta menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Layla, memastikan sang Ratu tetap hangat. Ia berdiri di sana sejenak, menatap wajah Layla di bawah cahaya remang-remang. "Tidurlah, Layla," bisiknya nyaris tak terdengar. "Atlas aman di tanganku. Kau tidak perlu selalu menjadi tameng bagi dirimu sendiri." Sebelum meninggalkan kamar, Delta meletakkan pedangnya di samping pintu, bersiap untuk berjaga di depan kamar itu seperti yang selalu ia lakukan sejak masa kecil mereka.
Cahaya fajar baru saja menyentuh ujung menara istana saat Ratu Layla membuka matanya. Tidak ada lagi sisa-sisa kelembutan dari malam sebelumnya. Begitu ia terjaga di ranjang sutranya, ingatan akan kekuasaan dan ambisi langsung menyelimuti benaknya bagaikan jubah besi. Ia duduk tegak, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan dalam hitungan detik, aura intimidasi kembali memancar dari tubuhnya. Layla tidak memanggil pelayan untuk membantunya berpakaian; ia menggunakan sihir listriknya untuk memicu lonceng perak di luar kamar, sebuah tanda darurat yang membuat seluruh penghuni istana terjaga seketika.
"Panggil Panglima Delta dan Penasehat sekarang juga ke ruang takhta!" perintahnya kepada pengawal Minotaur yang bersiaga di depan pintu. Suaranya datar, namun mengandung daya tekan yang tidak terbantahkan.
Beberapa saat kemudian, Delta dan Penasehat berdiri di hadapan takhta yang terbuat dari tulang naga dan batu obsidian. Layla berdiri di depan mereka, menatap peta dunia yang terbentang di lantai marmer. "Malam tadi adalah kelemahan yang tidak boleh terulang," ucap Layla tanpa menatap mereka. "Kita telah memiliki pasukan Minotaur yang tak terkalahkan, Centaur yang cepat, dan Griffon yang menguasai langit. Namun, itu belum cukup. Kerajaan Atlas tidak akan pernah menjadi puncak dunia jika Raja Naga Api masih berani mendongakkan kepalanya di wilayah barat."
Layla berbalik, matanya berkilat biru tajam. "Raja Naga Api adalah kepingan terakhir untuk kekuatan darat dan udara kita. Aku ingin kalian berangkat hari ini juga. Bawa pasukan terbaik kita. Seret naga itu ke hadapanku dalam keadaan terikat, atau bakar dia sampai menjadi abu jika dia menolak bertekuk lutut. Aku lelah mendengar laporan tentang wilayah yang belum tunduk hanya karena mereka merasa dilindungi oleh api naga itu. Atlas harus memiliki api, dan naga itu adalah kuncinya. Pergilah, dan jangan kembali tanpa kemenangan besar."
Delta hanya mengangguk, memahami bahwa sisi kejam Layla telah kembali sepenuhnya.Penasehat pun menyiapkan tongkat petirnya, menyadari bahwa perjalanan kali ini akan jauh lebih berbahaya daripada ekspansi sebelumnya.
Di lapangan luas di balik dinding istana, derap langkah pasukan Minotaur menciptakan gempa kecil yang terus-menerus. Ratusan Centaur telah bersiaga dengan busur panah mereka, sementara di angkasa, kepakan sayap pasukan Griffon menciptakan bayangan raksasa yang menutupi sinar matahari. Delta memimpin di barisan paling depan, menunggangi seekor kuda perang hitam yang mengenakan zirah berat. Di sampingnya, Penasehat melayang rendah dengan bantuan energi listrik yang menyelimuti kakinya.
"Kalian tahu apa yang dipertaruhkan?" suara Delta menggelegar di antara barisan pasukan. "Kita tidak datang ke sana untuk sekadar bertarung. Kita datang untuk menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan di dunia ini, bahkan api naga sekalipun, yang bisa menandingi kehendak Ratu Layla. Pasukan Minotaur, siapkan kapak kalian! Centaur, jangan biarkan satu pun celah udara terlewatkan! Kita akan mengepung Lembah Terlarang dan membawa pulang kemuliaan bagi Atlas!"
Penasehat terus merapal mantra pelindung untuk menjaga suhu tubuh para prajurit agar tidak pingsan karena panas yang luar biasa.
Saat Delta dan pasukannya hendak menaiki kapal utama suara ledakan listrik yang familiar terdengar dari arah gerbang pelabuhan.
Ratu Layla datang dengan kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor Griffon. Ia turun dengan langkah anggun namun penuh ancaman, mendekati Delta yang sudah bersiap di atas geladak. Penjaga dan pelaut segera berlutut saat Sang Ratu melintas. Layla menatap cakrawala yang luas, lalu mengalihkan pandangannya kepada Delta.
"Ada satu hal lagi, Panglimaku," ucap Layla dengan senyum dingin yang menyiratkan ambisi tak terbatas. "Setelah kalian membereskan Raja Naga Api, jangan langsung pulang. Di kedalaman perairan yang akan kalian lalui, hiduplah Hydra, monster berkepala banyak yang menguasai lautan. Kalahkan Hydra juga. Aku ingin kepalanya menjadi hiasan di gerbang Atlas."
Layla memegang bahu Delta, suaranya merendah namun tajam. "Bayangkan, Delta. Jika kita memiliki kekuatan naga untuk membakar daratan dan kekuatan Hydra untuk menguasai lautan, tidak akan ada satu pun kerajaan yang berani bernapas tanpa izin dariku. Aku yakin dengan kekuatan api dari naga yang kau taklukkan dan kekuatan air dari Hydra yang kau penggal, kita pasti bisa menaklukkan dunia sepenuhnya. Jangan biarkan monster itu hidup sebagai penguasa; biarkan mereka hidup sebagai pelayan Atlas. Pergilah, dan buatlah seluruh dunia gemetar saat mendengar nama kita."
Delta menatap mata Layla, melihat pantulan haus kekuasaan yang tak kunjung padam. Ia memberikan hormat militer yang tegas. "Perintahmu adalah hukum bagiku, Ratu. Hydra dan Naga Api akan berlutut di bawah kakimu." Dengan satu lambaian tangan dari Layla, kapal-kapal itu mulai mengangkat sauh, bergerak menuju ketidakpastian samudra yang gelap.
Langit di atas Samudra Abadi seolah tertutup oleh tirai jelaga. Kilat menyambar bergantian, menerangi permukaan air yang menghitam dan bergejolak hebat. Di tengah amuk badai tersebut,Kapal-kapal utama yang terbuat dari kayu emas berlapis baja berderit keras setiap kali gelombang raksasa menghantam lambungnya. Di atas geladak kapal utama, Panglima Delta berdiri dengan kokoh, kedua kakinya menancap mantap seolah ia adalah bagian dari kapal itu sendiri.
Di bawah permukaan air yang gelap, sebuah bayangan raksasa bergerak dengan kecepatan yang mengerikan. Tiba-tiba, permukaan laut meledak. Tentakel-tentakel setebal pilar kuil melesat ke udara, dipenuhi dengan penghisap tajam yang mampu meremukkan tulang dalam sekali lilit.
"Bersiap di posisi masing-masing!" teriak Delta,. "Minotaur, jaga keseimbangan kapal! Centaur, siapkan busur panah api kalian! Griffon, serang dari udara saat makhluk itu menampakkan kepalanya!"
Pasukan Minotaur yang bertubuh kekar segera bergerak. Dengan kekuatan otot mereka yang luar biasa, mereka memegang tali-tali penahan tiang kapal agar tidak patah diterjang tentakel. Di sisi lain geladak, barisan Centaur menarik tali busur mereka dengan presisi yang mengagumkan meski kapal berguncang hebat. Anak panah mereka telah diolesi minyak khusus yang tidak akan padam oleh air hujan.
Satu tentakel raksasa menghantam sisi kiri kapal, menghancurkan pagar pembatas dan menyeret beberapa prajurit malang ke dalam mulut pusaran air. Delta menghunus pedang besarnya,Dengan satu lompatan ia menerjang tentakel tersebut. Bilah pedangnya yang bercahaya kebiruan menebas daging kenyal monster itu, mengucurkan darah biru pekat yang berbau amis menyengat.
Dari langit, pekikan nyaring terdengar. Pasukan Griffon yang dipimpin oleh perwira elit mulai menukik tajam, mencengkeram kulit licin sang gurita dengan kuku-kuku baja mereka, merobek bagian atas kepala monster tersebut.
Ia menyemprotkan tinta hitam pekat ke udara,membutakan beberapa Griffon hingga mereka jatuh terjerembab ke laut yang ganas.
Di tengah kekacauan itu,Staf kayunya mulai memercikkan listrik statis yang membuat rambut orang-orang di sekitarnya berdiri. "Minggir, Panglima!" serunya. Sang Penasehat mengangkat stafnya ke langit, memanggil petir murni dari awan badai. Sambaran listrik raksasa menghujam tepat ke arah pusaran air tempat jantung monster itu berada. Air laut mendidih seketika, menghantarkan aliran listrik yang melumpuhkan gerakan sang gurita.
Delta memanfaatkan momentum itu. Ia berlari di atas tentakel yang mulai lemas, menuju ke arah mata monster ia menghujamkan pedangnya dalam-dalam ke pupil mata makhluk itu. Gurita raksasa itu mengejang hebat untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya perlahan-lahan tenggelam ke dasar samudra yang tak berdasar, meninggalkan permukaan air yang penuh dengan buih darah dan potongan daging.
Setelah berhari-hari berlayar, pasukan atlas akhirnya tiba di lembah terlarang namun saat mereka menginjakkan kakinya di perbatasan, mereka di kejutkan oleh hydra—naga berkepala sembilan— , minotaur langsung membentuk pertahanan kura-kura sedangkan centaur menghujaninya dengan anak panah,namun kulit hydra terlalu keras untuk di tembus.
"berhenti".teriak panglima , "kita akan beristirahat disini malam ini,besok adalah saat yang tepat untuk mengalahkan mahluk itu",
di malam itu pasukan minotaur berjaga bergantian mengawasi gerak-gerik hydra yang berada persis di depan mereka.