NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehilangan

Hamka bahkan belum sempat mengganti bajunya saat kabar itu menghantamnya.

“Naura pindah. Satu jam yang lalu ia berangkat ke stasiun ,” suara ibunya terdengar samar, seolah datang dari tempat yang jauh.

Dunia Hamka mendadak kosong.

Tas ransel berkemah masih tergantung di pundaknya ketika kakinya sudah bergerak sendiri. Napasnya tak lagi beraturan. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam. Ia berlari keluar rumah tanpa sempat menjelaskan apa pun seperti orang kehilangan arah, seperti orang yang baru sadar bahwa waktu tak pernah menunggu.

Sepanjang jalan menuju stasiun, kepalanya dipenuhi satu nama.

Naura.

“Nggak, Naw… lo nggak boleh pergi,” gumamnya terengah, suaranya pecah oleh napas yang tersengal. “Tunggu gue… sekali ini aja.”

Ia berlari semakin kencang. Tak peduli tatapan orang. Tak peduli lututnya mulai gemetar. Yang ia tahu hanya satu: ia harus sampai sebelum terlambat.

Namun saat Hamka akhirnya tiba di peron, yang menyambutnya hanyalah angin panas dan rel yang kembali sunyi.

Kereta itu… sudah pergi.

Ia berdiri terpaku, matanya menatap jalur besi yang memanjang entah ke mana. Tangannya mengepal, bahunya naik turun menahan sesak yang tak tertahankan.

Terlambat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Hamka benar-benar mengerti arti kehilangan

bukan karena seseorang pergi,

melainkan karena ia tak pernah berani menahannya lebih awal.

Dan di tengah hiruk-pikuk stasiun, Hamka berdiri sendiri, membawa satu penyesalan yang tak sempat ia ucapkan:

bahwa ada satu nama yang seharusnya ia kejar… jauh sebelum hari ini.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Hamka refleks merogoh saku, tangannya gemetar saat melihat nama pengirim yang selama ini hanya ia baca dalam diam.

Tetangga Tantrum.

Napasnya tertahan saat ia membuka pesan itu.

Gue pergi.

Makasih udah jadi tetangga terbaik gue.

Jagain Babe Ramli dan Tante Tika ya.

Dan satu lagi...gue nggak akan minta maaf.

Hamka menatap layar itu lama. Terlalu lama.

Seolah berharap ada lanjutan. Satu kalimat tambahan. Satu alasan untuk menahan.

Dadanya mengencang.

Gue nggak akan minta maaf.

Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari perpisahan mana pun.

Karena Hamka tahu,itu bukan keras kepala. Itu pertahanan terakhir Naura. Cara paling jujur untuk bilang bahwa ia sudah terlalu lelah untuk mengalah lagi.

Hamka tersenyum getir.

“Bandel banget sih lo…” gumamnya pelan, suara itu nyaris hilang di antara bising stasiun.

Baru sekarang ia sadar, Naura bukan pergi tanpa rasa.

Naura pergi dengan rasa yang sengaja ia bawa jauh agar tak terus melukai dirinya sendiri.

Hamka menggenggam ponselnya erat.

Untuk pertama kalinya, ia tak mengejar.

Tak berlari.

Tak memanggil.

Ia hanya berdiri di sana, membiarkan kereta itu membawa pergi seseorang yang selama ini selalu ada…

dan kini memilih benar-benar pergi.

Pelan, Hamka menunduk.

“Maaf .." lirihnya

Dan itu adalah pesan terakhir dari nomor Naura.

Tak ada tanda online.

Tak ada centang biru.

Tak ada kesempatan untuk membalas.

Seolah gadis itu sengaja

menonaktifkan ponselnya tepat setelah menekan tombol kirim,

tanpa memberi celah bagi Hamka untuk menyusul lewat kata-kata.

Hamka menatap layar yang kini sunyi.

Kosong.

Sama kosongnya dengan dadanya.

“Ini kejam, Naw…” suaranya serak, hampir tak terdengar.

“Cara lo lari dari gue… bener-bener kejam.”

Namun tak ada jawaban.

Yang tertinggal hanya satu pesan terakhir,

dan satu perasaan yang baru sepenuhnya ia sadari,bahwa kehilangan paling menyakitkan

adalah yang terjadi tanpa kesempatan untuk memperbaiki apa pun.

“Akhirnya gue sadar… yang paling gue takutin bukan kehilangan orang lain, tapi kehilangan lo..tanpa pernah sempat bilang kalau gue sayang.” ~ Hamka ~

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!