Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Pertandingan basket felix diadakan siang hari. Tapi Syerly tidak dapat datang tepat waktu.
Beberapa waktu lalu, saudara tirinya menelponnya untuk menjemputnya didepan pintu gerbang.
Mengendarai mobilnya ia melihat seorang lali-laki tinggi sedang berdiri dipinggir jalan. Syerly menghentikan mobilnya tepat disamping laki-laki itu. Ia membuka kaca mobil dengan santai.
"Apa kau benar-benar tersesat?" Tanya Syerly dengan dingin.
Raka hanya tersenyum tipis.
"Universitasmu sangat besar." Katanya dengan malu.
"Aku sudah beputar-putar selama tiga jam penuh tapi tidak menemukan gedung Fakultas Seni."
Syerly mendecak kesal.
"Naik!" Katanya.
"Aku akan mengantarmu kesana."
"Tunggu!" Potong Raka.
"Aku tadi mendengar ada pertandingan bola basket tidak jauh dari sini."
Ia menatap Syerly dengan hati-hati.
"Bisakah aku menontonnya?"
Syerly menghelai nafas panjang.
"Kau sangat merepotkan."
Meski ia berkata seperti itu, ia tetap membawa adiknya itu.
Suasana lapangan sudah sangat ramai. Riuh penonton menggema dengan semangat. Pertandingan sudah dimulai sejak lama.
Syerly membawa Raka untuk mencari tempat duduk. Tapi karena penonton yang sangat ramai, Syerly cukup kesulitan untuk mencapai tempat duduk dibagian depan yang sudah disiapkan Felix untuknya.
Tinggal beberapa langkah lagi mereka akan sampai. Sayangnya, dorongan orang-orang di sekeliling membuat langkah Syerly goyah. Tubuhnya tersenggol dari samping, kakinya terpeleset di anak tangga, dan sebelum sempat berpegangan, ia terjatuh ke bawah.
Orang yang menabraknya segera berbalik dan menghampiri Syerly dengan wajah panik. Ia membungkuk cepat dan mengulurkan tangan.
"Maafkan aku!" Kata laki-laki itu.
Syerly menahan sakit pada pergelangan kakinya.
"Tidak apa-apa."
Orang itu ingin membantu Syerly untuk berdiri, tapi Raka datang dengan cepat dan mendorongnya dengan keras.
"Apa kau gila?" Teriak Raka, menarik kerah orang itu.
"Kau membuat kakakku terluka."
Raka hampir saja melayangkan tinjunya, tapi Syerly dengan cepat menghentikan.
"Raka..." panggilnya dengan suara sedikit lebih keras.
Raka menarik nafas keras lalu menurunkan tangannya kembali. Mendorong orang itu.
"Pergi." Katanya dingin.
Orang itu dengan ketakutan langsung berlari.
Raka menoleh kearah Syerly, dan menghampirinya.
"Aku akan membawamu keruang kesehatan."
Sebelum Raka benar-benar mengangkat tubuh Syerly, seseorang sudah berlari kearah mereka.
"Syer..." panggil Felix dengan cemas.
"Ada kau baik-baik saja?"
Syerly tersenyum sedikit.
"Aku baik-baik saja."
Tapi kata-kata Syerly membuat Felix semakin cemas. Ia menatap sekeliling seolah mencari seseorang.
"Dimana petugas medis?" Teriaknya.
"Disini..." sahut seseorang.
Lalu petugas medis dengan cepat berlari kearah mereka.
Felix dan Raka sama-sama mundur untuk memberikan ruang kepada tenaga medis untuk memeriksa luka Syerly.
Tapi tatapan antara kedua laki-laki itu seperti pedang yang siap terhunus.
"Sepertinya, dia harus pergi ke rumah sakit, untuk pemeriksaan lebih lanjut." Kata petugas memecah ketegangan antara keduanya.
"Kalau begitu, aku akan mengambil mobil dulu." Kata Felix dengan nada tegang.
Ia dengan cepat berlari keluar untuk mengambil mobilnya.
Sampai di rumah sakit, Syerly langsung dibawa ke IGD.
Diluar ruang tunggu, ketegangan masih berlanjut. Gio yang mengikuti Felix terpaksa harus duduk memisahkan Felix dengan Raka.
Gio yang masih menggunakan kaos basket yang sama dengan yang dipakai Felix merasa sangat gugup. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Keheningan yang menegangkan ini, membuat Gio gemetar. Ia takut jika Felix dan Raka akan bertarung kapan saja.
Beruntung Shayna datang membuat Gio menghelai nafas lega. Setidaknya jika ada pertarungan ada seseorang tambahan untuk membantunya memisahkan mereka.
Syahna berjalan dengan tergesa-gesa, tapi saat melihat Raka ia mengerutkan keningnya.
"Raka..." panggilnya pelan.
"Kenapa kau bisa berada disini?"
Raka langsung menoleh. Wajah dinginnya saat berhadapan dengan Felix hilang seketika. Digantikan dengan wajah polos seorang anak laki-laki yang polos dan bersikap baik.
"Aku tadi tersesat saat mau pergi ke Fakultas Seni." Jawabnya pelan.
Raka menundukkan kepalanya sedikit.
"Lalu aku menelpon Syerly untuk menjemputku. Kita menonton pertandingan bola basket, tapi saat kita mencari tempat duduk, Syerly mengalami kecelakaan."
Shayna mendekat lalu mengelus pundak Raka dengan lembut.
"Tidak apa-apa... jangan khawatir!" Katanya lembut.
"Syerly pasti baik-baik saja."
"Enn." Gumam Raka pelan.
Ia mendongak untuk menatap Shayna.
"Tadi aku mau memberi pelajaran orang yang menabrak Syerly. Tapi..."
Raut wajah Raka berubah kecewa.
"Kak Syerly menahanku..."
Shayna tersenyum kecil.
"Bagus!"
Shayna tidak menyalahkan Raka melainkan memuji tindakan Raka yang ingin memukul orang.
"Lain kali, kita pukuli orang itu sampai babak belur lagi, bagaimana?"
Mendengar dukungan dari Shayna, wajah Raka kembali cerah lagi. Ia mengangguk semangat dengan saran Shayna.
Yang orang lain tidak tahu, Raka diam-diam tersenyum tipis kearah Felix. Seolah ia ingin pamer didepannya.
Shayna menghelai nafas lega, melihat Raka yang kembali tenang. Lalu ia menoleh kearah Felix.
Ia tersenyum tulus.
"Terima kasih, Fel." Katanya lembut.
"Sudah mengantar Syerly ke rumah sakit."
Felix belum sempat membalas Shayna, ketika Raka memotongnya.
"Aku juga tadi ikut membopong Syerly keatas tandu." Nadanya sedikit merajuk.
Shayna tersenyum tanpa daya, menatap Raka yang cemberut.
"Baik... baik..." katanya pasrah.
"Aku mengucapkan terimakasih juga kepadamu. Kau sudah bekerja sangat keras."
Mendengarnya Raka langsung tersenyum cerah. Lalu tidak lupa untuk melirik kearah Felix dengan provokatif.
Shayna kembali menatap Felix yang kini sedang menatap Raka dengan dingin. Kecemburuan laki-laki itu tidak dapat ditutupi.
"Fel..." panggil Shayna pelan.
Felix menoleh kearah Shayna, tapi wajahnya masih dingin.
"Syerly pasti sangat bahagia, karena kau mengkhawatirkannya seperti ini." Lanjut Shayna dengan tersenyum tipis.
Felix tidak mengatakan apa, ia hanya mengangguk dengan senyum datar.
Raka yang berada disisi lain, menatap Felix dengan senyum tipis.
"Apa kau sedang mengejar Syerly." Tanyanya ringan.
Raka terkekeh pelan nadanya seolah mengejek.
"Berani sekali kau mengejarnya. Apa kau pikir dia akan memilihmu?"
Felix menghelai nafas pelan, mencoba menenangkan dirinya, agar tidak memukul bocah laki-laki dengan senyum licik itu.
Ia menatap Raka tajam.
"Apa kau tidak tahu?" Katanya dengan tenang.
"Setiap hari Syerly selalu bersamaku."
Felix tersenyum tipis, tapi nadanya tetap dingin.
"Tidak seperti seseorang disini... yang hanya merasa paling dekat, padahal tidak pernah benar-benar ada."
Merasakan gesekan antara keduanya yang akan pecah, Gio dengan gugup mencoba menenangkan mereka.
"Tenang... tenang dulu!"
Gio menatap Felix lalu menoleh kearah Raka secara bolak balik.
"Tidak bisakah kalian tidak bertengkar?" Katanya pelan.
"Ini rumah sakit."
Beruntung, Felix dan Raka masih cukup sadar diri. Keduanya terdiam tanpa sepatah kata pun, meski udara di antara mereka tetap dipenuhi ketegangan yang belum mereda.