NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:386
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 — Sesuatu Terjadi di Lapangan

Sorak penonton memenuhi aula sejak peluit pertama ditiup. Suaranya memantul ke dinding, bercampur dengan gesekan sepatu di lantai dan dentuman bola yang dipantulkan lebih keras dari latihan biasa.

Rakha berdiri di tengah lapangan, bahunya lurus, napasnya terjaga. Seragam tim terasa sedikit lebih berat hari ini—entah karena panas lampu, atau karena sesuatu yang sejak tadi ia dorong ke belakang pikirannya.

Di seberangnya, Keenan menunduk sebentar, memutar pergelangan tangan, lalu mengangkat kepala.

Peluit berbunyi lagi. Permainan dimulai.

Sejak menit awal, Rakha menangkap ritme yang terasa ganjil. Bukan dari permainannya sendiri—itu masih rapi, terkendali—melainkan dari cara lawan bergerak. Jarak mereka selalu sedikit terlalu dekat. Langkah-langkah kecil yang memotong ruang. Tubuh yang masuk sepersekian detik lebih cepat dari yang semestinya.

Bukan kebetulan.

Keenan yang pertama kena.

Siku singkat menyentuh sisi lengannya saat perebutan bola. Tidak cukup keras untuk menjatuhkan, tapi cukup untuk membuat Keenan mengusap lengannya sambil berlari mundur. Gerakannya nyaris tak terputus, hanya ada jeda kecil sebelum ia kembali ke posisi.

Rakha menoleh ke arah wasit.

Tidak ada peluit. Tidak ada isyarat.

Permainan tetap dilanjutkan, seolah tidak terjadi apa pun.

Beberapa menit kemudian, kaki lawan menyelip saat Keenan mendarat. Lagi-lagi tidak sampai jatuh. Lagi-lagi permainan dibiarkan berjalan.

Rahang Keenan mengencang. Ia tidak protes. Tidak mengangkat tangan. Hanya menarik napas lebih dalam sebelum kembali berlari.

Rakha fokus ke depan.

Operan datang. Ia bergerak, memutar badan, mengirim bola dengan sudut bersih. Sorak meledak. Satu poin masuk.

Di sela transisi, Keenan mendekat.

"Rakh," katanya pendek. "Hati-hati kiri."

Rakha mengangguk. Ia menangkap maksudnya—ancaman kecil yang mulai terasa—tapi masih menganggapnya bisa diatasi. Dengan pola main lebih rapi. Lebih disiplin.

Ia tidak melihat tatapan Keenan yang bertahan sepersekian detik lebih lama dari biasanya.

Lawan mulai berani.

Kontak tubuh semakin sering. Bahu beradu. Tangan menyambar saat Rakha memegang bola—sedikit lebih tinggi, sedikit lebih lama dari batas wajar. Keenan kini menutup ruang lebih cepat, seolah membaca pergerakan sebelum benar-benar terjadi. Beberapa kali ia memotong jalur yang seharusnya Rakha ambil.

"Rakha. Belakang."

Nada Keenan turun. Lebih tajam.

Rakha bergerak—terlambat setengah detik.

Operan yang ia terima hampir lepas. Ia berhasil menguasainya kembali, tapi dari sudut matanya, ia melihat Keenan tersandung kecil setelah tersenggol.

Tidak ada peluit.

Permainan terasa semakin padat. Napas mereka berbenturan dengan sorak penonton.

Rakha mulai merasakan ketegangan itu merambat ke bahu dan pergelangan, tapi pikirannya masih bertahan pada satu hal...

Jangan rusak ritme.

Jangan terpancing.

Di sisi lapangan, Nayla berdiri dengan clipboard di tangan. Tatapannya mengikuti pergerakan tanpa berkedip. Setiap kali terjadi benturan, bahunya terangkat lalu turun lagi, seolah mencatat sesuatu yang belum ia ucapkan.

Dan entah kenapa, Rakha merasa ini belum puncaknya.

Keenan kembali membuka ruang.

Rakha melihatnya. Ragu sepersekian detik. Ia memilih jalur lain. Jalur yang... menurut hitungannya, lebih aman.

Keenan berhenti sesaat, lalu bergerak menyesuaikan. Tapi sejak itu, sinkron mereka tak lagi utuh. Ada jeda-jeda kecil yang tak biasa. Operan datang setengah detik terlambat. Ruang yang dulu terbaca tanpa bicara kini harus ditebak.

Di tengah fast break, Rakha membawa bola. Lawan mundur cepat, tapi satu pemain tidak benar-benar menutup jalur. Posisi tubuhnya aneh—terlalu dekat, siku sedikit terangkat.

Bukan penjagaan bersih.

Keenan melihatnya.

"RAKH—"

Teriakan itu terpotong.

Rakha sudah melangkah maju, mengikuti keputusan yang ia buat sendiri. Dalam detik yang sama, Keenan mengambil keputusan lain. Ia memotong jalur, masuk ke ruang sempit itu, menutup posisi Rakha dari benturan yang ia lihat akan datang.

Benturan terjadi.

Tidak dramatis. Tidak keras.

Tapi jelas salah.

Bahu Keenan menghantam lebih dulu. Tubuhnya berputar, kakinya mendarat dengan sudut yang keliru. Ada bunyi pendek—bukan retak, lebih seperti hentakan yang tidak seharusnya ada.

Keenan terjatuh.

Bola menggelinding menjauh. Sorak penonton terputus, seperti napas yang tertahan serempak.

Keenan tidak langsung bergerak.

Rakha berhenti di tempat. Dadanya turun tajam. Pandangannya jatuh ke tubuh yang tergeletak di lantai—terlalu diam untuk situasi yang seharusnya biasa.

"KEENAN!"

Nayla sudah berlari dari sisi lapangan. Gerakannya cepat, suaranya tenang tapi tegas.

"Jangan bangun dulu. Tetap di situ."

Keenan menghela napas pendek. Bahunya menegang, tapi ia tidak bergerak. Ia hanya menoleh—bukan mencari penjelasan, bukan menunggu aba-aba.

Matanya menemukan Rakha.

Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada tuntutan. Bahkan tidak ada kekecewaan yang jelas.

Hanya satu tatapan singkat, tenang—seperti kebiasaan lama yang muncul begitu saja.

Rakha menelan ludah.

Dan untuk pertama kalinya saat itu, ia sadar keputusan sepersekian detik tadi tidak lahir dari perhitungan strategi.

Melainkan dari pilihan naluriah.

Ini tentang siapa yang ia percaya akan tetap berdiri. Tentang siapa yang... tanpa diminta, selalu siap menanggung dampaknya.

Tatapan Keenan tidak menyalahkan apa pun.

Justru itu yang membuat dada Rakha terasa sesak.

Karena Keenan tidak tahu.

Dan mungkin tidak akan pernah tahu bahwa kepercayaannya barusanlah yang membuat Rakha memilih jalan itu.

Permainan akhirnya dihentikan.

Peluit terdengar. Pelatih masuk ke lapangan. Wasit berbicara singkat. Di tribun, suara-suara kecil mulai bertumpuk—gumaman yang tidak benar-benar jelas, tapi cukup untuk mengubah suasana.

Keenan dibantu berdiri perlahan. Salah satu tangan menopang tubuhnya, satu lagi menahan bahu yang jelas tidak baik-baik saja.

Langkahnya berat, tapi ia tidak mengeluh.

Saat ia dibawa keluar lapangan, bahunya melewati Rakha.

Rakha ingin bicara.

Mulutnya terbuka sedikit—lalu tertutup lagi.

Tidak ada kata yang terasa tepat untuk keluar.

Di bangku cadangan, Nayla sudah berlutut di depan Keenan. Gerakannya cepat, terukur.

Tangannya memeriksa dengan hati-hati, bertanya singkat, memastikan responsnya jelas. Wajahnya tetap terkendali, profesional—tidak panik, tidak berlebihan.

Rakha melihat dari kejauhan. Ia tidak mendekat.

Ada perasaan asing yang mengendap di dadanya. Bukan cemburu. Bukan marah. Lebih seperti kesadaran yang datang terlambat, bahwa satu keputusan kecil di lapangan bisa menjalar ke luar, menyentuh hal-hal yang seharusnya tidak ikut terseret.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Rakha merasa benar-benar kehilangan kendali atas jarak yang ia ciptakan sendiri.

Permainan dilanjutkan.

Rakha kembali ke lapangan, tapi ritmenya pecah. Operan-operan yang biasanya presisi kini meleset tipis. Fokusnya terbelah—setengah tertahan di permainan, setengah tertinggal di bangku cadangan.

Sorak kembali terdengar, namun baginya suara itu terasa datang dari tempat lain.

Saat peluit akhir berbunyi, Rakha tidak langsung bergerak. Ia berdiri di tengah lapangan, menatap lantai yang penuh jejak sepatu. Di kepalanya, titik tempat Keenan jatuh masih utuh—jelas, dan enggan bergeser.

.

.

.

Di lorong belakang aula.

Keenan duduk dengan kaki ditopang. Nayla berdiri di sampingnya, berbicara pelan. Rakha berhenti beberapa langkah dari mereka.

Nayla menoleh lebih dulu. Tatapannya singkat, lalu sebuah anggukan kecil menyusul—cukup untuk memberi ruang.

Rakha mendekat.

Keenan mengangkat kepala.

"Santai aja," katanya pelan, seolah tahu apa yang ingin Rakha katakan. "Bukan salah lu."

Kalimat itu justru membuat napas Rakha terasa lebih berat.

Ia hanya mengangguk.

Tidak percaya pada suaranya sendiri.

Beberapa menit kemudian, Keenan dibawa pergi untuk diperiksa lebih lanjut.

Lorong kembali terasa sepi.

Dan untuk pertama kalinya sejak peluit awal,

Rakha benar-benar merasa sendirian. Ia berdiri di sana.

Lampu lorong memantul di lantai yang sedikit lembap. Rakha menyandarkan punggungnya ke dinding, memejamkan mata.

Baru sekarang semuanya terasa jelas.

Bukan soal liciknya lawan.

Bukan soal cedera.

Melainkan jarak.

Rakha menjaga jarak untuk melindungi—menahan kata-kata, menyimpan kecurigaan sendirian. Dan ketika Keenan melihat bahaya lebih dulu, ia tidak cukup dekat untuk mempercayainya tanpa ragu.

Rakha mengembuskan napas panjang.

Turnamen masih berjalan.

Namun sejak terjadi tragedi, ia tahu sesuatu telah bergeser. Dan tidak semua jarak bisa ditutup dengan niat baik saja.

Rakha perlahan membuka matanya, menatap kembali ke arah aula. Ia sadar bahwa melindungi sendirian bukanlah perlindungan sama sekali.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!