"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kebiasaan Baru
Pagi datang lebih cerah dari biasanya.
Hujan yang mengguyur Valerika sepanjang malam telah pergi, meninggalkan langit biru yang bersih dan udara segar yang jarang muncul di kota metropolitan itu.
Sinar matahari menembus dinding kaca raksasa The Obsidian, membanjiri ruang tengah dengan warna keemasan yang hangat.
Namun ada sesuatu yang berbeda pagi itu.
Sesuatu yang bahkan tidak disadari oleh Alea maupun Adrian.
Malam panjang di balkon semalam telah mengubah ritme hubungan mereka dengan cara yang sangat halus.
Bukan perubahan besar.
Bukan pengakuan cinta.
Bukan pelukan romantis.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Kebiasaan.
Alea keluar dari kamar sekitar pukul tujuh pagi.
Rambut panjangnya masih sedikit berantakan.
Ia mengenakan pakaian santai berwarna krem dan belum sepenuhnya terjaga.
Biasanya hal pertama yang ia lakukan adalah menuju mesin kopi.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat sebuah cangkir kopi hangat sudah berada di atas meja makan.
Masih mengepulkan uap.
Di sampingnya terdapat croissant hangat dari toko favoritnya.
Alea mengerjap pelan.
Lalu melihat ke arah dapur.
Adrian sedang berdiri di sana.
Mengenakan kemeja putih yang belum dikancing sempurna.
Lengan bajunya tergulung hingga siku.
Salah satu tangannya memegang tablet kerja.
Tangan lainnya sedang menuangkan kopi.
Seolah semua itu adalah hal yang sangat normal.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
tanya Adrian tanpa mengangkat kepala.
Alea berkedip beberapa kali.
"Aku sedang memastikan aku belum mati."
Adrian mendengus kecil.
"Lucu."
"Aku serius."
Alea menunjuk cangkir di meja.
"Itu untukku?"
"Tidak."
Jawaban Adrian sangat cepat.
"Lalu kenapa ada tulisan namaku di sana?"
Alea mengangkat cangkir yang ternyata memang memiliki tempelan kertas kecil bertuliskan:
Alea.
Adrian langsung terdiam.
Untuk pertama kalinya pagi itu ekspresinya terlihat sedikit canggung.
"Itu..."
Dia berdeham.
"Aku tidak sengaja."
"Tentu."
"Memang tidak sengaja."
"Tentu saja."
"Kau menyebalkan."
"Aku tahu."
Entah kenapa.
Percakapan itu membuat Alea tersenyum sepanjang sarapan.
Dan itu mengganggunya.
Karena ia tidak terbiasa tersenyum hanya karena percakapan bodoh seperti itu.
Beberapa jam kemudian.
Di kantor Corisand Group.
Alea sedang menghadiri rapat bersama jajaran direksi.
Namun konsentrasinya tidak setajam biasanya.
Pikirannya sesekali melayang.
Ke balkon semalam.
Ke percakapan mereka.
Ke kopi pagi tadi.
Hal-hal kecil yang seharusnya tidak penting.
Namun justru terus muncul.
"Alea?"
Suara Malik membuyarkan lamunannya.
"Maaf?"
"Kami menanyakan pendapat Anda tentang strategi publikasi kuartal ketiga."
Alea segera kembali fokus.
Namun setelah rapat selesai, ia mendapati dirinya membuka galeri ponsel tanpa sadar.
Sebuah foto muncul.
Foto saat gala amal beberapa minggu lalu.
Ia dan Adrian berdiri berdampingan.
Biasanya Alea hanya melihat foto itu sebagai bagian dari strategi citra publik.
Hari ini berbeda.
Entah kenapa ia memperhatikan detail-detail kecil yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.
Tatapan Adrian.
Cara pria itu berdiri sedikit di depannya.
Seolah melindunginya dari kerumunan wartawan.
Dan tiba-tiba.
Senyuman kecil muncul di bibirnya.
"Astaga..."
gumamnya.
"Aku benar-benar kehilangan akal."
Sementara itu.
Di Hutama Industries.
Adrian juga mengalami masalah yang sama.
Meski tentu saja ia tidak akan pernah mengakuinya.
"Pak Adrian?"
Sekretarisnya menatap heran.
"Ya?"
"Ini kali ketiga Anda menandatangani halaman yang salah."
Adrian terdiam.
Menatap dokumen di tangannya.
Lalu benar-benar menyadari bahwa ia memang menandatangani halaman yang salah.
Tiga kali.
Hal yang belum pernah terjadi sepanjang karier profesionalnya.
Sekretarisnya terlihat hampir panik.
"Apakah Anda sedang sakit?"
"Tidak."
"Kurang tidur?"
"Tidak."
"Masalah perusahaan?"
"Tidak."
"Kalau begitu..."
Adrian menatap kosong ke luar jendela.
Lalu menjawab tanpa sadar.
"Aku hanya sedang memikirkan seseorang."
Ruangan mendadak sunyi.
Sekretarisnya membeku.
Adrian juga membeku.
Karena baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.
"Keluar."
"Baik, Pak."
Sekretaris itu langsung kabur sebelum terkena serangan jantung.
Sore harinya.
Alea pulang lebih awal dari biasanya.
Ketika memasuki penthouse, aroma makanan langsung menyambutnya.
Alea berhenti melangkah.
Mencium udara beberapa kali.
Lalu mengernyit.
Ia mengikuti aroma itu menuju dapur.
Dan apa yang dilihatnya membuatnya benar-benar terpaku.
Adrian sedang memasak.
Pria itu berdiri di depan kompor.
Memegang spatula.
Mengenakan celemek hitam.
Celemek.
Hitam.
Adrian Hutama.
CEO yang ditakuti dunia bisnis.
Sedang memasak.
Pemandangan itu begitu absurd hingga Alea tidak tahu harus tertawa atau memotretnya.
"Apa yang kau lakukan?"
tanyanya.
Adrian menoleh.
Wajahnya tetap tenang.
"Memasak."
"Itu jelas."
"Bagus."
"Aku tidak tahu kau bisa memasak."
"Aku bisa banyak hal."
Jawaban itu membuat Alea memutar mata.
"Sejak kapan?"
tanya Alea.
"Sebelum perusahaan berdiri."
"Aku kira kau lahir langsung menjadi CEO."
Adrian akhirnya tertawa.
Tawa sungguhan.
Bukan senyum tipis.
Bukan seringai sinis.
Benar-benar tertawa.
Dan Alea mendapati dirinya menyukai suara itu.
Makan malam mereka berlangsung jauh lebih santai dibanding biasanya.
Tidak ada pembahasan Aurora.
Tidak ada dokumen rahasia.
Tidak ada teori konspirasi.
Hanya dua orang yang sedang menikmati makanan.
Dan berbicara tentang hal-hal sederhana.
Tentang masa kecil.
Tentang sekolah.
Tentang kesalahan-kesalahan memalukan yang pernah mereka lakukan.
Untuk pertama kalinya.
Alea mengetahui bahwa Adrian pernah jatuh dari panggung saat pidato kelulusan SMA.
Dan Adrian mengetahui bahwa Alea pernah mengunci dirinya sendiri di ruang arsip kantor selama tiga jam.
Mereka tertawa.
Saling mengejek.
Dan waktu berlalu begitu cepat.
Setelah makan malam selesai.
Mereka duduk di ruang tengah.
Menonton film.
Sesuatu yang bahkan tidak pernah masuk dalam isi kontrak pernikahan mereka.
Film itu sebenarnya biasa saja.
Namun entah kenapa.
Tidak ada yang ingin mematikannya.
Tidak ada yang ingin pergi ke kamar masing-masing.
Di tengah film.
Alea tanpa sadar tertidur.
Kepalanya perlahan jatuh ke samping.
Dan berhenti tepat di bahu Adrian.
Adrian membeku.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia menoleh perlahan.
Melihat Alea yang tertidur lelap.
Wajah wanita itu terlihat jauh lebih muda saat sedang tidur.
Lebih lembut.
Lebih tenang.
Dan sangat cantik.
Adrian menelan ludah.
Kemudian memalingkan wajah.
Berusaha fokus pada film.
Namun gagal total.
Karena aroma parfum Alea memenuhi indra penciumannya.
Karena rambut wanita itu menyentuh lehernya.
Karena untuk pertama kalinya...
Kedekatan itu terasa sangat alami.
Beberapa menit kemudian.
Alea terbangun perlahan.
Membuka mata.
Dan langsung menyadari posisi mereka.
Ia buru-buru menjauh.
Pipinya memanas.
"Maaf."
ucapnya cepat.
"Tidak apa-apa."
jawab Adrian.
Terlalu cepat.
Mereka saling menatap.
Lalu sama-sama mengalihkan pandangan.
Karena tidak tahu harus berkata apa.
Dan di saat itulah.
Keduanya menyadari sesuatu yang sama.
Hal yang jauh lebih berbahaya daripada misteri Aurora.
Lebih berbahaya daripada arsip rahasia.
Lebih berbahaya daripada penyusup mana pun.
Mereka mulai menikmati kebersamaan ini.
Mulai terbiasa saling menunggu.
Mulai mencari keberadaan satu sama lain.
Mulai merasa ada yang kurang ketika yang lain tidak berada di dekatnya.
Dan kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu...
Sering kali menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang tidak bisa dikendalikan oleh logika.
Tidak bisa diatur oleh kontrak.
Dan tidak bisa dihentikan oleh siapa pun.
Termasuk oleh Alea Corisand dan Adrian Hutama sendiri.
Karena tanpa mereka sadari...
Perlahan-lahan, sangat perlahan...
Mereka mulai jatuh cinta.