Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stranger Who Looked Too Close
“Apa semua perempuan selalu bersikap dingin padamu?” tanya Serena akhirnya.
Axel menyandarkan tubuh santai di kursinya sebelum menatap Serena dari samping.
“Tidak.” Senyum tipis muncul di wajahnya. “Biasanya mereka jauh lebih ramah.”
“Tentu saja.”
“Apa itu terdengar arogan?”
“Sangat.”
“Aku memang tampan.”
Serena benar-benar memutar mata kali ini. Menyebalkan.
Namun setidaknya Axel tidak membuat dadanya sakit seperti pria-pria lain malam ini.
Musik di dalam bar berubah pelan menjadi lagu jazz lambat, sementara hujan di luar semakin deras. Suasana mendadak terasa lebih hangat. Lebih intim. Serena mulai menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak minum. Kepalanya terasa sedikit ringan saat ia meraih gelas berikutnya. Namun sebelum sempat meminumnya, Axel tiba-tiba mengambil gelas itu dari tangannya.
“Anda sudah cukup mabuk.”
Serena langsung mengernyit. “Kembalikan.”
“Tidak.”
“Aku bisa minum sebanyak yang kuinginkan.”
“Aku tidak bilang tidak bisa.” Axel menatapnya tenang. “Aku hanya bilang, Anda sudah cukup mabuk.”
Cara pria itu berbicara terlalu santai untuk seseorang yang baru dikenal satu jam lalu.
Dan anehnya, Serena tidak benar-benar keberatan.
“Kau selalu mengatur orang asing seperti ini?”
“Aku hanya tidak ingin besok pagi membaca berita model terkenal ditemukan pingsan di bar.”
Serena tertawa kecil.
“Jadi kau mengenaliku.”
“Akan sulit tidak mengenali Serena Roe.”
Tentu saja. Semua orang mengenal Serena Roe. Wajahnya ada di billboard. Majalah. Iklan parfum mewah. Fashion week. Namun tak seorang pun benar-benar mengenal dirinya.
“Kau tahu,” gumam Serena sambil menopang dagu, “aku mulai curiga kau mendekatiku karena tahu siapa aku.”
Axel memperhatikannya beberapa detik. Lalu pria itu tersenyum samar. “Mungkin.”
Jawaban jujur itu justru membuat Serena terdiam. Damien selalu ahli mengatakan kebohongan indah.
Sedangkan Axel, pria ini tampak seperti seseorang yang tidak peduli jika terdengar buruk.
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Serena pelan.
Axel tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sebentar ke wajah Serena, lalu ke jemari perempuan itu yang memegang gelas terlalu erat.
“Kau terlihat kesepian.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat Serena kehilangan senyum tipisnya. Karena itu benar. Dan Serena membenci orang yang bisa melihatnya terlalu mudah.
“Aku harus pulang,” ucapnya cepat sambil berdiri.
Namun dunia langsung terasa sedikit berputar.
Sial.
Serena kehilangan keseimbangan sesaat sebelum sebuah tangan menangkap pinggangnya dengan cepat.
Hangat. Kuat.
Refleks Serena langsung menegang.
Axel berdiri sangat dekat sekarang, cukup dekat hingga Serena bisa mencium samar aroma parfum dan asap rokok di tubuh pria itu.
“Pelan-pelan,” gumam Axel rendah.
Tatapan mereka bertemu. Dan untuk sepersekian detik yang terasa aneh, Serena merasa pria itu sedang melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar wajahnya.
Serena segera menjauh sedikit.
“Aku baik-baik saja.”
“Kebanyakan orang yang mengatakan itu biasanya tidak baik-baik saja.”
“Apa kau memang selalu suka menganalisis orang?”
“Apa Anda memang selalu terlihat seperti ingin menangis?”
Pertanyaan itu langsung membuat Serena diam. Baru kali ini malam itu seseorang berhasil membuat pertahanannya retak tanpa menyentuh Damien atau Julian.
Axel menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengambil mantel hitam dari kursinya. “Ayo.”
Serena mengernyit. “Ke mana?”
“Mengantar Anda pulang sebelum benar-benar pingsan.”
“Aku tidak pulang dengan pria asing.”
Axel tersenyum tipis. “Bagus.” Tatapannya turun sebentar ke wajah Serena. “Namun malam ini sepertinya Anda tidak punya banyak pilihan, Serena Roe.”
Serena seharusnya menolak. Ia tidak mengenal pria ini. Tidak tahu apa pun tentang Axel selain fakta bahwa pria itu terlalu percaya diri dan anehnya terus menatapnya seperti sedang mencoba membaca sesuatu.
Namun kepalanya terasa terlalu berat untuk berpikir jernih. Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Serena tidak ingin pulang sendirian.
“Aku masih bisa menyetir.”
Axel menatap gelas kosong di depan Serena.
“Ya. Dan aku mungkin sebenarnya pewaris tahta Inggris.”
Serena mendecakkan lidah pelan.
“Menyebalkan.”
“Aku sudah diberitahu itu tadi.”
Axel tetap berdiri di samping Serena sampai perempuan itu akhirnya menghela napas panjang dan mengambil tasnya.
“Kalau kau ternyata pembunuh berantai, aku akan sangat marah.”
Axel terkekeh pelan sambil membukakan jalan untuk Serena.
“Aku akan mengingat itu.”
Begitu keluar dari bar, udara dingin langsung menyentuh kulit Serena yang terbuka. Hujan sudah berhenti, tetapi jalanan masih basah dan dipenuhi pantulan lampu kota. Serena sedikit limbung saat menuruni anak tangga depan bar.
Refleks, Axel langsung memegang pinggangnya.
Gerakan cepat yang natural.
Seolah tubuh pria itu otomatis menangkap Serena sebelum jatuh.
“Pelan-pelan,” gumam Axel rendah di dekat telinganya.
Dan anehnya, suara itu membuat Serena merinding tipis.
Mereka berjalan menuju motor hitam besar yang terparkir tidak jauh dari sana.
Serena langsung berhenti. “Kau bercanda.”
Axel memasangkan helm ke motor dengan santai. “Ada masalah?”
“Aku tidak naik motor.”
Tatapan Axel bergerak pelan ke gaun hitam mahal Serena, heels tinggi, lalu kembali ke wajah perempuan itu.
“Ah.” Senyum tipis muncul di bibirnya. “Princess problems.”
Serena langsung menatap tajam. “Aku serius.”
“Aku juga.”
“Aku bahkan tidak mengenalmu.”
Axel mendekat satu langkah sebelum mengambil helm lain dan menyodorkannya pada Serena. “Kau terlalu cantik untuk dibiarkan naik taksi sendirian tengah malam dalam keadaan mabuk.”
“Dan naik motor dengan pria asing terdengar lebih aman?”
Axel memiringkan kepala sedikit. “Belum ada yang mengeluh sejauh ini.”
“Terdengar seperti sesuatu yang akan dikatakan psikopat.”
Kini Axel benar-benar tertawa kecil. Dan sialnya, Serena mulai sadar pria ini memiliki wajah yang terlalu berbahaya untuk tertawa selembut itu.
“Aku bisa pulang sendiri,” ucap Serena lagi, meski kali ini suaranya tidak setegas sebelumnya.
Axel memperhatikannya beberapa detik. Lalu tanpa peringatan, pria itu mengangkat tangan dan menyentuh ujung rambut Serena yang sedikit basah akibat hujan. Sentuhan ringan, namun cukup membuat Serena membeku.
“Anda bahkan sulit berdiri lurus sekarang,” gumam Axel rendah. “Jangan keras kepala.”
Tatapan mereka bertemu lagi.
Dan untuk sesaat, Serena merasa ada sesuatu yang aneh dari cara pria ini menatapnya.
Terlalu tenang.
Terlalu fokus.
Seolah Axel sudah memperhatikannya jauh lebih lama dibanding malam ini. Namun sebelum Serena sempat memikirkan itu lebih jauh, kepalanya kembali terasa pening.
Sial.
Akhirnya Serena merebut helm dari tangan Axel dengan kesal. “Hanya malam ini.”
Senyum tipis muncul di wajah pria itu. “Tentu.” Dan entah kenapa, jawaban itu terdengar seperti kebohongan.
Serena menyesalinya begitu motor itu melaju.
Angin malam terasa dingin menusuk kulitnya, membuat gaun hitam tanpa lengan yang dikenakannya terasa semakin tipis. Refleks, Serena mencengkeram jaket Axel dari belakang saat motor melesat membelah jalanan kota yang masih basah oleh hujan.
Sial.
Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali naik motor.
Mungkin tidak pernah.
“Aku akan mati malam ini,” gumam Serena kesal di belakang Axel.
Pria itu terkekeh pelan, suara tawanya samar tertelan angin malam.
“Kalau begitu aku ikut bertanggung jawab.”
“Mungkin aku memang sudah gila.”
“Sedikit.”
Serena memutar mata meski Axel tidak bisa melihatnya.
Namun anehnya...
sudah cukup lama sejak terakhir kali Serena berbicara seperti ini dengan seseorang tanpa merasa lelah.
Tidak ada tatapan iba.
Tidak ada pertanyaan tentang Damien.
Tidak ada ekspektasi untuk terlihat sempurna.
Hanya malam dingin, jalanan kota, dan pria asing yang terlalu santai untuk ukuran normal.
Motor akhirnya berhenti di lampu merah.
Dan saat itulah Serena menyadari sesuatu.
“Aku belum memberitahumu alamat rumahku.”
Axel diam beberapa detik.
Lalu pria itu menjawab santai, “Kawasan Mansion Terra , kan?”
Jantung Serena langsung turun sedikit.
Pelan-pelan, Serena melepaskan pegangannya dari jaket Axel.
“Aku tidak pernah memberitahumu itu.”
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Motor kembali melaju.
Namun kali ini Serena tidak lagi merasa setenang sebelumnya.
“Orang-orang tahu tempat tinggalmu,” jawab Axel akhirnya. “Kau terkenal.”
Masuk akal.
Harusnya masuk akal.
...----------------...
...To be continue...