Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Masuk
Setelah dari perkemahan tentara bayaran, Bai Feng mengajak Lin Tian makan di sebuah rumah makan besar di pusat Kota Naga Patah. Tempat itu bernama Kedai Sembilan Rasa, cukup mewah dengan dua lantai kayu jati berukir naga dan burung phoenix. Aroma masakan yang menggugah selera tercium dari dalam, membuat perut Lin Tian keroncongan.
Mereka duduk di sudut lantai dua dekat jendela. Bai Feng memesan hampir sepuluh porsi makanan: bebek panggang madu, ikan kukus jahe, tumis sayur langka, sup tulang monster tingkat rendah, dan berbagai hidangan lain yang membuat meja hampir roboh.
Saat asyik makan, Bai Feng berbicara sambil mengunyah paha bebek. "Dulu sekali... saat ayahku masih muda, dia pernah menaklukkan sepuluh wanita sekaligus. Sial! Kenapa aku sulit mengikuti jejaknya ya?"
Lin Tian mengunyah perlahan, lalu menelan. Ia menatap tubuh bongsor Bai Feng dengan tatapan serius.
"Sepertinya kau harus sedikit ramping, karena itu salah satu daya tarik."
Bai Feng menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Wanita tidak peduli kau tampan, jelek, kurus, atau gendut seperti aku. Yang mereka pedulikan hanya harta, kenyamanan hati, serta semua yang dia inginkan terpenuhi dengan baik. Kalau kau tampan tapi tidak memiliki kekayaan juga percuma. Mereka akan menganggapmu pria bermodal dengkul."
Lin Tian mengernyitkan dahinya. "Dengkul?"
"Iya... dengkul," jawab Bai Feng sambil mengambil sepotong daging ikan. Ia lalu melanjutkan dengan nada misterius.
"Untuk menggoyang pinggulmu... kau butuh dengkulmu itu, bukan?"
"Maksudnya?" tanya Lin Tian dengan kepala miring.
Bai Feng menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. "Tidak ada. Sekarang fokus saja makan. Setelah itu kita berpisah, karena aku ada kesibukan."
Lin Tian tidak ingin memikirkan terlalu dalam. Mungkin Bai Feng hanya bercanda. Atau mungkin ada makna tersembunyi yang tidak penting untuk dipahami saat ini. Ia kembali menyantap makanannya dengan lahap.
Mereka makan hingga sepuluh porsi habis tak bersisa. Bai Feng membayar dengan sepuluh batu roh menengah, jumlah yang cukup besar untuk ukuran anak muda seusia mereka.
Di luar rumah makan, Bai Feng melambai sambil tersenyum. "Sampai jumpa di ujian, Lin Tian. Jangan sampai kau terlambat."
"Pasti. Hati-hati di jalan," jawab Lin Tian.
Mereka berpisah di perempatan kota. Lin Tian kembali ke losmennya, membersihkan diri, lalu berlatih ringan di halaman belakang. Ia mengayunkan pedang terbangnya dengan gerakan lambat, mengulang teknik dasar yang diajarkan ibunya dulu. Bukan teknik yang hebat, tapi cukup untuk seorang Pendirian Fondasi awal.
Dua hari berlalu dengan cepat.
Pagi hari ujian, Lin Tian sudah berdiri di halaman depan Sekte Ombak Biru. Matahari baru saja naik di ujung timur, menyapu embun dari rerumputan. Sekitar delapan puluh calon murid berkumpul, beberapa di antaranya tampak gelisah. Token kayu biru tergantung di pinggang masing-masing.
Bai Feng datang sepuluh menit kemudian dengan napas tersengal.
"Beruntung... aku tidak... terlambat," ucapnya sambil membungkuk.
Lin Tian tersenyum. "Kau lari dari Kota Naga Patah?"
"Tentu tidak. Aku naik kereta iblis. Tapi iblisnya mogok di tengah jalan," Bai Feng mengusap keringat di dahinya.
Seorang Tetua berjubah biru tua dengan jenggot panjang naik ke atas panggung batu. Aura Formasi Jiwa terpancar dari tubuhnya, membuat semua calon murid terdiam seketika.
"Selamat pagi, para calon murid. Aku Tetua Chen, penanggung jawab ujian masuk kali ini," suaranya berat namun jelas terdengar hingga barisan paling belakang. "Ujian kita sederhana. Kalian akan masuk ke dalam Hutan Ombak, sebuah wilayah kecil di belakang sekte yang penuh dengan monster tingkat rendah. Tugas kalian adalah mengumpulkan tiga tanduk monster kelinci bertanduk besi. Dua puluh orang pertama yang kembali dengan tanduk lengkap akan diterima sebagai murid luar. Tidak boleh membunuh sesama peserta. Aturan itu mutlak. Siapa yang melanggar akan langsung didiskualifikasi dan diserahkan ke otoritas kota."
Para calon murid saling berpandangan. Monster kelinci bertanduk besi... monster tingkat Pemurnian Qi puncak hingga Pendirian Fondasi awal. Cukup mudah untuk seorang Pendirian Fondasi sepertinya, tapi akan sulit karena semua peserta berebut.
"Ujian dimulai dalam satu jam. Persiapkan diri kalian," ucap Tetua Chen lalu duduk bersila di atas panggung.
Bai Feng menepuk bahu Lin Tian. "Gampang ini. Kelinci bertanduk besi lemah terhadap serangan tebasan keras. Aku sudah pelajari kelemahan mereka sejak seminggu lalu."
Lin Tian mengangguk. "Aku percaya padamu. Tapi jangan terlalu percaya diri, karena kita juga bersaing dengan delapan puluh orang lain."
"Kau benar. Tapi dengan kekuatan kita berdua, dua puluh besar itu mudah," Bai Feng tersenyum percaya diri.
Satu jam berlalu cepat. Sebuah gerbang batu di belakang panggung dibuka, memperlihatkan hutan lebat dengan pepohonan tinggi yang daunnya berwarna biru kehijauan.
"Mulai!" teriak Tetua Chen.
Para calon murid berhamburan masuk. Lin Tian dan Bai Feng berlari berdampingan, masuk ke dalam Hutan Ombak. Segera setelah melewati gerbang, suasana berubah. Udara menjadi lembab dan dingin, dengan kabut tipis yang menyelimuti tanah.
"Mereka terbagi ke beberapa arah. Kita ke timur laut, karena biasanya kelinci-kelinci itu berkumpul di dekat sungai kecil," ucap Bai Feng sambil memandang ke depan.
Lin Tian mengikuti Bai Feng melewati semak-semak dan akar pohon yang menjulur. Tak lama kemudian, mereka mendengar suara berdecak dari balik rumpun bambu biru.
Bai Feng mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti. "Dengar. Itu suara mereka."
Seekor monster kelinci bertanduk besi muncul dari balik semak. Ukurannya sebesar anjing, dengan bulu abu-abu kasar dan dua tanduk hitam melengkung di kepalanya. Matanya merah menyala, dan kukunya panjang seperti belati.
Monster itu menoleh ke arah Lin Tian dan Bai Feng, lalu melompat dengan kecepatan tinggi.
Lin Tian bergerak lebih dulu. Tubuhnya berpindah setengah meter ke samping, menghindari tanduk monster yang menyambar. Tangannya yang kanan mengepal, lalu ia menghantam sisi kepala kelinci itu dengan teknik bela diri tangan kosong tingkat rendah yang ia kuasai. Pukulan itu terasa padat dan tepat sasaran.
Monster kelinci itu terhuyung.
Bai Feng memanfaatkan momen. Ia mengayunkan pedang lebarnya yang besar, menghantam tubuh monster dengan sisi datar pedang hingga terpental ke pohon. Kelinci itu jatuh lemas, tidak bergerak lagi.
"Gampang, kan?" ucap Bai Feng sambil memotong tanduk monster itu dengan pisau lipat.
Tanpa membuang waktu, mereka mencari target berikutnya. Dalam waktu dua jam, Lin Tian dan Bai Feng sudah mengumpulkan tiga tanduk masing-masing. Lin Tian menggunakan teknik pedangnya yang lincah, menusuk tepat di antara mata kelinci sehingga monster itu mati seketika tanpa menyisakan luka yang merusak tanduk.
Mereka berlari kembali ke gerbang keluar. Saat tiba, baru sepuluh orang yang sudah kembali. Lin Tian dan Bai Feng menyerahkan tanduk-tanduk itu kepada Tetua Chen.
Tetua Chen mengamati tanduk-tanduk itu sejenak, lalu mengangguk. "Nomor 12 dan 47. Kalian lolos. Tunggu di area barat bersama yang lain."
Lin Tian menghela napas lega. Bai Feng tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol.
Sore harinya, dua puluh nama diumumkan. Lin Tian dan Bai Feng termasuk di dalamnya. Mereka resmi menjadi murid luar Sekte Ombak Biru.
Malam harinya, di asrama sederhana untuk murid baru, Lin Tian duduk di dipan kayu dengan senyum kecil. Ia tidak perlu mengejar apapun dengan terburu-buru. Ia hanya perlu menikmati prosesnya. Dan hari ini... adalah awal yang baik.