Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf
Kinanti sedang menjemur pakaian di teras rumah kosnya ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar. Ia menoleh dan seketika terkejut melihat Keenan turun dengan wajah pucat dan nafas memburu.
"Kinanti...!" panggilnya dengan suara bergetar.
Kinanti segera meletakkan keranjang pakaian, lalu bergegas membuka pagar.
"Mas Keenan? Ada apa? Kenapa Mas kelihatan panik begini?" tanyanya cemas.
Keenan tampak kesulitan mengatur napas.
"Kinan... Tiara...."
Jantung Kinanti langsung berdegup lebih cepat.
"Tiara kenapa, Mas?"
"Tiara diculik." Suara Keenan nyaris patah. "Penculiknya minta tebusan lima ratus juta rupiah."
Wajah Kinanti seketika berubah panik.
"Ya Allah.... Sejak kapan?"
"Tiara nggak pulang sejak kemarin siang. Mas sama Yudha sudah mencarinya ke mana-mana, tapi nggak ketemu." Keenan mengusap wajahnya yang dipenuhi kepanikan. "Baru beberapa saat lalu penculiknya menghubungi Mas pakai ponsel Tiara."
Keenan menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Mas sempat melihat Tiara lewat panggilan video. Dia diikat... mulutnya disumpal...."
Suara pria itu mulai bergetar.
"Seragam sekolahnya juga kotor dan berantakan." Ia memejamkan mata sejenak. "Mas takut... telah terjadi sesuatu yang buruk pada Tiara."
Mata Kinanti berkaca-kaca mendengar penuturan itu. Meski selama ini Tiara membencinya, tak sedikit pun terlintas di benaknya untuk membiarkan gadis itu menghadapi musibah seorang diri.
"Mas sudah tahu lokasi tempat Tiara disekap?"
"Iya. Rumah kosong di jalan menuju terminal.”
"Mas, jangan libatkan polisi dulu," ucap Kinanti mantap.
Keenan menatapnya.
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Kita minta bantuan Ozi."
"Ozi?"
Kinanti mengangguk penuh keyakinan.
"Kita sama-sama tahu kemampuan Ozi. Aku yakin dia bisa membantu menyelamatkan Tiara tanpa membahayakan nyawanya."
Keenan terdiam beberapa detik. Dalam keadaan seperti itu, ia benar-benar kehilangan arah.
"Mas punya nomor Ozi ‘kan? Biar aku yang bicara."
Tanpa berpikir panjang, Keenan mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya. Kinanti segera menghubungi Ozi. Percakapan mereka berlangsung singkat. Tidak banyak kata yang diucapkan, tetapi setiap informasi disampaikan dengan jelas dan padat. Setelah menjelaskan situasinya, Kinanti menutup panggilan.
"Ozi bilang apa?" tanya Keenan tak sabar.
"Dia akan segera menyusul."
Kinanti lalu menatap Keenan dengan sorot mata penuh ketegasan.
"Kita berangkat ke lokasi sekarang."
Keenan masih tampak ragu.
"Tapi...."
“Mas … kita jangan buang waktu lagi."
Tatapan Kinanti yang penuh keyakinan perlahan mengusir keraguan di hati Keenan.
Setelah menyampaikan pesan singkat pada salah seorang penghuni kost, Kinanti segera masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, kendaraan itu melesat meninggalkan rumah kost menuju lokasi penyekapan Tiara.
Sesampainya di sebuah perempatan jalan, Keenan memperlambat laju mobilnya. Di sana, Ozi ternyata sudah menunggu. Bersamanya berdiri beberapa pria bertubuh kekar yang datang berboncengan menggunakan sepeda motor. Wajah mereka tampak sangar, dengan lengan berotot dan tatapan tajam, membuat siapa pun yang melihat sekilas mungkin akan merasa gentar.
Melihat raut cemas di wajah Keenan dan Kinanti, Ozi segera tersenyum tipis.
"Pak Keenan, Bu Kinanti, jangan khawatir," ujarnya menenangkan. "Walaupun penampilan mereka terlihat garang, mereka bukan orang jahat. Mereka teman-teman saya yang sehari-hari bekerja menjaga keamanan di pasar dan terminal."
Salah seorang pria itu mengangguk hormat kepada Keenan. Keenan membalas dengan tatapan penuh rasa syukur.
"Terima kasih... terima kasih banyak karena kalian bersedia membantu menyelamatkan putri saya."
Suara Keenan bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tak pernah menyangka, di saat dirinya berada di titik paling putus asa, justru orang-orang yang bahkan belum begitu dikenalnya datang menawarkan pertolongan tanpa pamrih.
Tanpa membuang waktu, mereka segera berkumpul untuk menyusun rencana. Ozi mengambil alih pembicaraan.
"Kita harus bergerak hati-hati. Keselamatan Tiara adalah prioritas utama."
Semua mengangguk menyimak. Setelah rencana disepakati, Ozi bersama tiga rekannya masuk ke dalam mobil Keenan. Sementara yang lain mengikuti dari belakang menggunakan sepeda motor agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Di sepanjang perjalanan menuju lokasi penyekapan, suasana di dalam mobil dipenuhi ketegangan.
"Nanti, begitu kita sampai, Pak Keenan yang turun lebih dulu. Bilang saja uang tebusan yang mereka minta sudah Bapak bawa," ucap Ozi.
Keenan mengangguk pelan.
"Saat perhatian penculik teralihkan ke Bapak, kami berempat akan menyusup lewat bagian belakang rumah untuk menyelamatkan Tiara."
Ozi menatap Keenan dengan penuh keyakinan.
"Ingat, apa pun yang terjadi, usahakan penculik itu tetap fokus bernegosiasi. Semakin lama negosiasi, semakin besar peluang kami membawa Tiara keluar dengan selamat."
Keenan menarik nafas panjang.
"Baik. Saya mengerti."
Setibanya di lokasi, Keenan dan Kinanti turun dari mobil. Sementara itu, Ozi bersama tiga rekannya tetap bersembunyi di dalam mobil, menunggu saat yang tepat untuk bergerak.
Keenan segera menghubungi nomor Tiara yang kini dipegang penculik.
//Saya sudah sampai. Uang yang kamu minta juga sudah kubawa//
//Bagus. Gue keluar sekarang//
Beberapa saat kemudian, pintu rumah reyot itu terbuka. Seorang pria melangkah keluar dengan santai.
Mata Kinanti membelalak.
"Mas... itu pengamen yang disewa Yudha waktu itu," bisiknya pelan.
Rahang Keenan mengeras, kedua tangannya mengepal begitu kuat.
"Selamat pagi, Pak Keenan... Bu Kinanti," sapa Ucok sambil menyunggingkan senyum sinis.
"Mana Tiara?!" tanya Keenan tegas.
"Tenang saja. Dia masih hidup. Tapi gue baru bakal menyerahkan gadis itu setelah uang lima ratus juta itu ada di tangan gue."
Keenan membuka pintu mobil lalu mengambil koper berisi uang. Saat itulah ia melirik sekilas ke bangku belakang, memberi isyarat kepada Ozi dan ketiga rekannya untuk mulai bergerak. Mereka segera turun dari sisi lain mobil dan menyelinap menuju rumah penyekapan.
Sementara itu, Kinanti sengaja mengulur waktu.
"Kenapa kamu menculik Tiara? Apa salah anak itu?"
Ucok terkekeh.
"Bukan Tiara yang salah. Tapi kakaknya…Yudha."
Kening Kinanti berkerut.
"Maksudmu?"
"Yudha ingkar janji. Upah yang dia janjikan nggak pernah dibayar. Gue udah berkali-kali nagih baik-baik, tapi dia terus menghindar. Nomor gue malah diblokir." Tatapan Ucok berubah tajam. "Jadi, wajar kalau gue marah."
Tawanya menggema di tengah kesunyian.
Belum sempat Keenan menanggapi, suara gaduh tiba-tiba terdengar dari dalam rumah.
"Ampun, Bang!" pekik Tyo.
Wajah Ucok seketika berubah pucat. Baru saat itu ia sadar bahwa Keenan tidak datang sendirian. Ketika fokusnya terpecah, Ozi muncul dari belakang dan langsung membekuk kedua tangannya.
Ucok meronta, tetapi sia-sia. Begitu melihat wajah Ozi, matanya membelalak.
"Lo?"
Rupanya mereka adalah teman lama. Dahulu, Ozi juga pernah menjadi pengamen di terminal yang sama. Namun setelah berselisih dengan Ucok, ia memilih meninggalkan tempat itu.
"Kenapa? Kaget lihat gue ada di pihak Pak Keenan?" tanya Ozi dengan senyum tipis.
"Gue kira lo udah mati," desis Ucok.
"Dulu gue memang pernah jadi orang jahat. Tapi Tuhan masih ngasih gue kesempatan buat berubah." Ozi menatap hormat kepada Keenan dan Kinanti. "Semua itu berkat mereka."
"Cih! Omong kosong!"
Ozi terkekeh.
"Sayang banget. Uang lima ratus juta itu cuma bisa lo lihat, nggak bakalan bisa lo sentuh apalagi lo nikmati."
Belum sempat Ucok membalas, deru beberapa sepeda motor memecah udara. Rombongan rekan-rekan Ozi tiba di lokasi. Beberapa di antaranya merupakan petugas keamanan pasar dan terminal. Mereka segera mengepung Ucok.
"Jadi lo dalang penculikan putri Pak Keenan?" hardik seorang pria bertubuh kekar yang dikenal sebagai kepala keamanan terminal tempat Ucok biasa mengamen. "Bikin malu saja!"
Ucok hanya menundukkan kepala. Tak ada lagi pembelaan yang mampu keluar dari mulutnya.
Tak lama kemudian, salah seorang rekan Ozi keluar dari rumah sambil menyeret Tyo yang wajahnya lebam akibat perkelahian.
"Nih, satu lagi!"
"Tyo..." tegur Bang Jack kecewa. "Udah bener lo narik ojek, kenapa malah ikut-ikutan si Ucok yang sesat ini?"
Tyo menelan ludah.
"Aku... aku butuh uang."
"Bawa mereka ke kantor polisi!" seru Ozi.
"Gue mohon... jangan bawa gue kantor polisi. Gue janji bakal tobat," pinta Ucok dengan suara gemetar.
Bang Jack mendengus.
"Gue nggak percaya!"
Tanpa menghiraukan permohonannya lagi, para pria bertubuh kekar itu membawa Ucok dan Tyo menuju sepeda motor untuk kemudian dibawa ke kantor polisi.
Di saat yang bersamaan, dua rekan Ozi keluar dari rumah sambil memapah Tiara.
"Tiara!" seru Keenan dan Kinanti hampir bersamaan.
Tubuh gadis itu lunglai. Wajahnya pucat pasi. Kelopak matanya nyaris tak mampu terbuka.
Salah seorang pria menghampiri Keenan dengan wajah muram.
"Pak... Saya menemukan banyak darah di lantai. Sepertinya... putri Bapak sudah menjadi korban pelecehan."
Ucapan itu menghantam Keenan lebih keras daripada petir.
"Bangsat!" raungnya, matanya memerah dipenuhi amarah dan duka.
Kinanti segera memeluk tubuh Tiara dengan hati-hati.
"Tiara... kita pulang, ya."
Tangannya gemetar saat merapikan rambut gadis itu yang kusut. Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung. Luka lebam bekas pukulan memenuhi beberapa bagian tubuh Tiara, membuat dada Kinanti semakin terasa sesak.
"Tante..." lirih Tiara dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Ya, Sayang. Tante di sini."
Bibir Tiara bergetar.
"Ma-af...."
Setelah mengucapkan satu kata itu, matanya kembali terpejam.
"Tiara!" teriak Keenan panik. "Tiara... bangun!”
Mahesa hemmmm ada something ini