Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Benih Api Surgawi dan Penyelidikan Penatua Tie
Ruangan batu bawah tanah itu kini diterangi oleh pendar merah darah dari Teratai Api Inti Bumi. Suhu di sekitar kristal berbentuk kuncup teratai itu tidak terasa panas secara fisik, namun Lin Chen bisa merasakan jiwanya seakan meleleh hanya dengan berdiam di dekatnya.
Benda sebesar ibu jari itu menyimpan esensi pembakaran dari inti bumi yang telah dimatangkan selama puluhan abad.
Lin Chen menjulurkan tangannya perlahan, tergoda oleh kekuatan masif yang beriak di dalam kristal tersebut. Namun, sebelum ujung jarinya menyentuh permukaan teratai, seberkas cahaya keemasan menyabet tangannya.
"Hentikan kebodohanmu!" bentak Lin Tian, nadanya tajam dan dipenuhi peringatan keras. Proyeksi sang Kaisar Kekosongan melayang di depan Lin Chen, menghalangi pandangannya dari kristal tersebut. "Apakah kau bosan hidup? Jika kulitmu bersentuhan langsung dengan Benih Api Surgawi dalam kondisimu sekarang, cangkang mu yang baru membuka tiga puluh enam Titik Bintang akan menguap menjadi ketiadaan!"
Lin Chen tersentak mundur, keringat dingin membasahi punggungnya. "Sekuat itu? Bukankah Guru bilang tubuhku adalah cangkang kosong yang bisa melahap segalanya?"
"Segalanya membutuhkan waktu dan fondasi, Lin Chen," desah Lin Tian, ekspresinya melembut namun tetap serius. Jalan menuju ribuan babak kehidupan dan pertempuran epik tidak bisa ditempuh dengan ketergesa-gesaan sembrono. "Teratai Api Inti Bumi ini adalah entitas yang bisa berevolusi. Ia memiliki percikan kesadaran primitif. Bagi seorang Alkemis di Alam Surga, benda ini adalah relik suci. Jika kau mencoba menelannya mentah-mentah sekarang, kekuatan itu akan membakar habis tiga puluh enam Titik Bintangmu."
Lin Chen menatap kristal itu dengan keengganan. "Lalu, apakah kita harus membiarkannya di sini? Mengabaikan harta karun yang jatuh ke pangkuan sama saja dengan menentang kehendak langit."
"Siapa bilang kita akan meninggalkannya?" Lin Tian tersenyum misterius, matanya memancarkan arogansi seorang kaisar masa lampau. "Kau tidak bisa menelannya, tapi kau bisa menguncinya dan menjadikannya tungku abadimu. Aku akan mengajarimu Segel Bintang Pengunci Ruang. Kita akan menyegel teratai ini di dalam Titik Bintang pertamamu di meridian dada.
Lin Tian mulai merapalkan ribuan mantra kuno yang langsung masuk ke lautan kesadaran Lin Chen. "Gunakan energi dari tiga puluh enam Titik Bintangmu untuk membentuk sangkar spasial. Kunci teratai itu di dadamu. Dengan begitu, setiap kali jantungmu berdetak, hawa dari teratai api itu akan bocor dalam jumlah yang sangat kecil, secara otomatis menempa organ dalam dan meridianmu 24 jam sehari tanpa henti!"
Mata Lin Chen berbinar tajam. Menggunakan Benih Api Surgawi sebagai generator penempaan pasif? Itu adalah ide yang sangat gila, namun jika berhasil, fondasi fisiknya akan melampaui siapa pun di Benua Langit Azure.
Tanpa membuang waktu, Lin Chen langsung mengerahkan seluruh energi kosmis dari tiga puluh enam titik di tubuhnya. Cahaya perak kebiruan meledak dari kulitnya, membentuk jaring-jaring cahaya yang perlahan melilit Teratai Api Inti Bumi.
Kristal merah darah itu meronta. Suara desisan melengking terdengar seolah kristal itu menjerit. Hawa panas mulai bocor, membuat dinding batu ruangan itu retak dan mencair seperti lilin.
"Masuk!" raung Lin Chen. Jaring cahaya peraknya menarik paksa Teratai Api itu.
SLAP!
Kristal teratai merah itu menembus kulit dada Lin Chen dan bersarang tepat di tengah Titik Bintang pertamanya. Seketika, tato konstelasi di dadanya berubah warna. Bintang pertama yang dulunya perak kebiruan kini memiliki inti berwarna merah darah yang menyala redup.
Sensasi terbakar langsung menyapu seluruh nadinya, tapi kali ini tertahan oleh sangkar kosmis. Setiap kali jantung Lin Chen berdetak, seutas tipis esensi api surgawi mengalir, membakar kotoran di dalam otot dan darahnya, menjadikannya semakin murni dan kuat.
BUM!
Tiba-tiba, suara ledakan berat terdengar dari pintu batu ruangan bawah tanah.
"Mundur! Formasi pelindung pintunya sudah meleleh!"
Itu suara Penatua Tie. Suara langkah kaki yang terburu-buru dan panik terdengar di lorong luar. Gejolak magma barusan, meskipun singkat, pasti memicu alarm besar di seluruh Puncak Pandai Besi.
Lin Chen menekan dadanya, menyembunyikan pendaran cahaya merah dan peraknya secara instan berkat panduan Lin Tian. Ia dengan cepat mengenakan kembali kemeja pelayannya yang kusam, mengambil segenggam abu dari lantai, dan mengusapkannya ke wajah. Ia lalu menjatuhkan diri ke sudut ruangan, berpura-pura pingsan dengan napas tersengal-sengal.
KRAAAK! BUM!
Pintu batu yang sudah melemah hancur ditendang dari luar. Penatua Tie, diiringi oleh Pengawas Xiong dan tiga murid elit bertopeng anti-racun, menerobos masuk. Aura Inti Emas dari Penatua Tie menyapu seluruh ruangan yang kini berantakan dan dipenuhi dinding batu yang setengah meleleh.
"Demi leluhur..." gumam Penatua Tie pucat pasi. Ia segera bergegas menuju lubang ventilasi magma.
Pengawas Xiong berlari ke arah sudut ruangan dan mengguncang tubuh Lin Chen. "Bocah! Lin Chen! Kau masih hidup?!"
Lin Chen mengerang pelan, membuka kelopak matanya sedikit, berpura-pura kebingungan. "Pe... Pengawas Xiong... Apa yang terjadi? Tiba-tiba... udara sangat panas... dadaku sesak, lalu semuanya gelap..."
Pengawas Xiong menghela napas lega, raut wajah beruangnya menampakkan keheranan. "Bocah ini terbuat dari apa? Ruangan ini terpanggang melebihi suhu batas formasi pelindung, tapi dia hanya pingsan dan kulitnya bahkan tidak melepuh?"
Di sisi lain, wajah Penatua Tie sangat suram saat ia menatap ke dalam lubang magma.
"Penatua, apa yang memicu lonjakan suhu ini?" tanya salah satu murid elit dengan was-was. "Apakah urat Api Bumi kita tidak stabil?"
"Bukan tidak stabil," suara Penatua Tie bergetar, setengah panik setengah putus asa. "Inti apinya... menghilang! Urat Api Bumi di bawah sekte kita tiba-tiba kehilangan sumber energi utamanya. Magma ini sekarang mendingin dengan kecepatan yang tidak wajar."
Semua orang di ruangan itu terkesiap. Tanpa urat Api Bumi yang kuat, Puncak Pandai Besi tidak akan bisa menempa senjata gaib tingkat menengah, yang berarti Sekte Pedang Awan akan kehilangan separuh dari pundi-pundi pendapatan batu roh mereka!
"Apakah mungkin ada penyusup tingkat tinggi yang mencuri inti apinya?" tanya Pengawas Xiong cemas, sambil menatap Lin Chen yang masih berakting pusing. Tentu saja, ia sama sekali tidak mencurigai pelayan tanpa Dantian ini. Tidak mungkin seorang manusia fana bisa menyerap inti magma dan bertahan hidup.
"Tidak ada penyusup. Tidak ada fluktuasi Qi pertempuran di sini," Penatua Tie menggelengkan kepala dengan frustrasi. Ia menatap lekat-lekat ke dasar lubang. "Ini adalah fenomena penuaan alam. Urat api ini telah kita eksploitasi selama berabad-abad... mungkin usianya memang sudah habis."
Penatua Tie memijat pangkal hidungnya, menyadari krisis besar yang akan melanda sekte. Ia kemudian menoleh ke arah Lin Chen. "Keluarkan anak ini dari sini. Tugasnya sebagai Penjaga Api selesai. Tungku Utama Nomor Satu tidak akan bisa digunakan lagi dalam waktu dekat. Bawa dia ke Balai Tabib Luar, beri dia sebutir Pil Pemulihan untuk loyalitasnya menahan tungku selama ini."
"Baik, Penatua!" Pengawas Xiong memapah Lin Chen berdiri.
Saat dibawa keluar dari ruangan batu yang hancur itu, Lin Chen menundukkan wajahnya, menyembunyikan senyum dingin yang terbentuk di sudut bibirnya.
Ia tidak merasa bersalah telah membuat sekte ini kehilangan urat Api Bumi. Di dunia kultivasi, sumber daya alam adalah hak bagi mereka yang kuat untuk mengambilnya. Mulai hari ini, "urat api" sekte itu telah berpindah dan bersemayam di dalam dadanya. Dan dengan hancurnya Tungku Utama, tidak ada alasan bagi sekte untuk menahannya di dasar gunung lagi.