Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi Gulungan Surat (Origin Story Hattori Zen—Flashback)
“Sena.. “ Bisik Puti Kirai di telinga Sena, napas Sena perlahan teratur kembali.
Datuk Lagang menempelkan ramuan luka dari dedaunan, membalutnya dengan kain bersih, mencabut jarum-jarum perak di tubuh Sena.
Kemudian Datuk Lagang memberikan minum ramuan herbal untuk membantu penyembuhan luka dari dalam. Dengan bantuan Balun, Sena di dudukan, ramuan itu diminumkan perlahan, tubuh Sena sedikit bergertar, mungkin merasakan getir ramuan herbal.
Kakinya menegang, ia sedikit terbatuk hingga sebagian ramuan tumpah ke dadanya. Dahinya berkerut, mulutnya sedikit meringis karena tersedak.
Ghhk..
Hattori terbatuk menyemburkan darah, matanya sudah mengunci sang mangsa, otot tangannya menonjol siap menyerang dengan kekuatan penuh.
Aura membunuh Hattori meledak begitu pekat, memaksa pori-pori kulit Yasuhira berteriak memberi peringatan bahaya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam sepersekian milidetik, Yasuhira memutar tubuhnya, menebaskan pedang dalam lingkaran penuh yang sempurna.
“Hiken: Mangetsu” (Teknik Pedang: Bulan Purnama). Suara Yasuhira berat, seperti menahan sesuatu kekuatan yang besar.
Namun, dalam kondisi puncak Shura no Kyosei, persepsi Hattori telah melampaui batas manusia. Di matanya, pedang Yasuhira yang secepat kilat itu seolah meninggalkan jejak bayangan yang lambat. Ia bisa melihat dengan jelas mana bilah baja yang asli di antara tumpukan ilusi cahaya fajar.
KLAK!
Tekko-Kagi di tangan kanan Hattori menjepit bilah Katana Yasuhira dengan presisi yang mematikan. Memanfaatkan momentum itu, Hattori melenting ke atas, mendarat tepat di bahu Yasuhira. Kakinya melilit kuat, mengunci leher sang Dewa Pedang dalam kuncian maut.
Satu detik. Tangan kiri Hattori yang memegang Ninjato bergerak secepat patukan ular.
SRET!
Urat siku Yasuhira putus seketika. Genggaman sang Komandan melemah, dan Katana legendaris itu jatuh berdenting di lantai kayu. Yasuhira yang murka menjatuhkan dirinya ke belakang dengan keras. Benturan punggungnya ke lantai kayu pagoda membuat kuncian leher Hattori terlepas.
Keduanya berguling menjauh dan segera mengambil posisi rendah. Namun, Yasuhira melakukan kesalahan: ia mencoba mengambil kembali pedangnya. Sebelum jemarinya menyentuh gagang, sebuah bola hitam meledak tepat di depan wajahnya.
BUFF—!
Bom asap membutakan pandangannya. Hattori tidak menyia-nyiakan satu detik pun sisa umurnya. Ia melesat menembus kabut asap dengan dua sabetan Teko-Kagi yang brutal.
SRAT--SRAT---!
Dada Yasuhira robek menganga. Dan sebagai serangan penutup, Hattori menghantamkan seluruh berat tubuhnya, menusukkan cakar baja itu ke pangkal leher Yasuhira, menembus rongga mulut hingga merobek pipi sang Komandan.
"Grrkh... Gkhh..."
Suara teriakan Yasuhira tercekat, tertelan oleh darahnya sendiri. Tubuh raksasa itu roboh menghantam lantai kayu saat Hattori mencabut cakarnya dengan satu sentakan kasar. Sang Gunung telah runtuh.
Hattori terduduk lemas. Ia berlutut dengan napas tersengal yang nyaris putus. Otot kakinya kram sehebat-hebatnya, dan seluruh tubuhnya terasa remuk seolah tulang-tulangnya berubah menjadi debu.
Air mata mengalir di pipinya, namun warnanya bukan lagi bening seperti embun pagi—itu adalah air mata merah darah yang pekat.
Jantungnya berdetak terlalu cepat hingga terasa ingin meledak dari dadanya. Hattori memuntahkan seteguk darah merah tua yang kental.
Tangannya gemetaran hebat, terasa mati rasa dan berat seolah terbuat dari timah. Telinganya berdengung memekakkan, dan dunia di sekitarnya mulai berputar, terombang-ambing dalam pandangan yang semakin mengabur.
Ghhk.. Ghhk..
Dua kali dia terbatuk, darah merah tua menetes di lantai kayu, bau anyir menusuk ke rongga hidung.
“Bau anyir” Ucap Balun spontan, dia yang menahan tubuh Sena mencium aroma yang jelas bukan aroma herbal.
Puti Kirai dan Datuk Lagang yang fokus memberi ramuan herbal awalnya itu bau anyir darah kotor Sena yang tertampung dalam priuk.
"Guru! Apa yang terjadi?!" teriak Puti Kirai panik. Saat ia terusik dengan ucapan Balun, darah mengalir perlahan di telinga dan mata Sena.
Datuk Lagang menekan nadi Sena yang berdenyut liar. "Dia sedang berperang... di tempat yang kita tidak bisa lihat. Dan sepertinya, dia baru saja membunuh iblisnya, kita sudah berusaha Putri, sekarang kita hanya bisa berdoa, agar Sena membaik”
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu terdengar, Datuk Lagang menoleh ke arah sumber suara dan bertanya, “Siapa?”
“Ini aku, Rangkayo, Lagang” Balas suara di balik pintu.
Lagang bergegas membuka pintu dan menunduk hormat, “Silahkan masuk Gusti”
Mata Puti Kirai memicing, dia terkejut dengan kedatangan tamu yang datang tiba-tiba ini, “Nenek?”
Di belakang nya dua orang dengan topeng harimau berdiri dan berjaga di luar pintu.
“Disini tak perlu terlalu formal Lagang, panggil saja aku Mak Rangkayo, seperti para Kapok memanggilku”
“Baik Gusti, ee.. Maksud hamba Mak” Datuk Lagang merasa canggung dan serba salah.
Mak Rangkayo mengeluarkan sebuah Pil berwarna hitam, “Ini adalah obat luka dalam, hadiah dari Kekaisaran Yuan, ambilah - berikan pada Harimau muda ini, aku juga tak membutuhkan obat ini”
Lagang menerima botol porselen itu dan mengeluarkan Pil, ia memasukkannya ke dalam mulut Sena.
Tangan Sena bergerak seperti tertahan sesuatu, menariknya kembali tenang dan tertidur memasuki alam mimpinya.
Dengan tangan yang gemetar hebat hingga sendi-sendinya berderit, Hattori menelan sebuah pil Hyoryugan (pil penambah energi darurat). Rasa pahit obat itu membakar kerongkongannya, memberinya sisa tenaga yang dipaksakan. Ia bangun dengan susah payah, merangkak di atas darah Yasuhira, lalu merogoh balik jubah Haori sang Komandan.
Ia mendapatkan gulungan itu. Gulungan dengan tali sutra merah yang ia anggap sebagai kehormatan klan.
Hattori merobek paksa ikatannya. Matanya yang merah darah terbelalak saat membaca baris demi baris aksara di dalamnya. Seketika, rasa sakit di tubuhnya seolah sirna, berganti dengan rasa mual yang luar biasa di lubang hatinya.
Ia kini tahu maksud kata "Pengkhianat Negara" yang dilontarkan Kaede.
Surat Daimyo Daichi bukan berisi perintah pertahanan. Itu adalah surat untuk Khotun Khan, pemimpin ekspansi Mongol. Di dalamnya tertera peta jalan masuk paling aman ke jantung Jepang, rincian wilayah dengan pertahanan terlemah, dan janji busuk Daichi untuk menyediakan logistik bagi pasukan Mongol. Semuanya demi satu imbalan: Daichi akan diangkat menjadi Shogun baru di bawah ketiak kekaisaran Mongol.
"Jadi... untuk ini kami bertaruh nyawa?" bisik Hattori parau, suaranya pecah.
Mereka hanyalah pion yang dikirim untuk memastikan surat pengkhianatan ini sampai ke tangan musuh tanpa terendus oleh Shogun yang sah.
Hattori tertawa. Sebuah tawa kering yang lebih mirip suara rintihan setan. Ia telah membunuh seorang Samurai yang setia menjaga perbatasan seperti Yasuhira Kouga demi melindungi seorang pengkhianat seperti Daimyo Daichi?
Di luar, suara kepakan sayap burung gagak terdengar sahut-menyahut, seolah menertawakan kehancuran moral sang Jonin Iga.