“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
“Maaf, Jo... aku malah jadi menangis seperti ini dan membuat kemejamu basah,” cicit Rania di sela isak tangisnya.
Ia segera menarik tubuhnya mundur, merasa sangat tidak enak. Bahunya masih naik turun, sesenggukan di depan Jonathan persis seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya.
Jonathan justru tersenyum hangat, sama sekali tidak terganggu dengan noda air mata yang menjiplak di dada kemeja birunya.
“Nggak masalah, Ran. Mau kamu menangis setiap hari di depan aku sekalipun, aku nggak akan pernah keberatan. Anggap saja kemeja ini memang fungsinya untuk menghapus air matamu,” sahut Jonathan jenaka, mencoba mencairkan suasana.
“Apaan sih kamu, Jo!” Rania mendengus pelan, namun sebuah senyuman kecil akhirnya terbit di bibirnya yang pucat.
Melihat lengkungan tipis itu, hati Jonathan rasanya bernapas lega. Akhirnya, Rania bisa tersenyum lagi setelah semua hantaman rasa sakit yang menderanya.
Meskipun jauh di dalam lubuk hati wanita itu, Jonathan tahu masih ada luka besar yang mengganjal dan belum sepenuhnya sembuh.
Tok, tok, tok!
Obrolan intim mereka mendadak terputus oleh suara ketukan pintu dari arah luar. Rania buru-buru menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan tisu.
“Masuk!” seru Jonathan, mempersilakan orang di luar untuk melangkah ke dalam.
Mendengar itu, Rania langsung bersiap mengemas tasnya dan bangkit dari duduk.
“Lho, Jo, kok malah disuruh masuk? Kan masih ada aku di sini. Aku keluar lewat pintu samping saja ya? Enggak enak kalau kamu ada janji dengan pasien lain atau tamu penting, aku malah mengganggu.”
“Tunggu dulu, Ran. Jangan pergi,” tahan Jonathan cepat.
Tangan dokter itu menepuk pundak Rania dengan lembut, menahannya agar tetap berada di tempat.
“Dia bukan tamu sembarangan. Dia justru sahabat yang sejak awal ingin aku kenalkan padamu.”
Jonathan kemudian membalikkan tubuhnya, menyambut pria yang baru saja mendorong pintu ruangan hingga terbuka penuh.
“Selamat pagi” sapa pria itu ramah. Ia mengenakan jas putih dokter yang rapi, lengkap dengan kacamata berbingkai hitam yang bertengger manis di pangkal hidungnya.
Postur tubuhnya tinggi, dengan senyum ramah yang nampak sangat meneduhkan.
Rania yang awalnya menunduk langsung menoleh begitu mendengar suara bariton tersebut. Detik itu juga, matanya membelalak lebar. Suara itu terasa begitu familier dan berputar di ingatan masa lalunya.
“Mas... Bagas?” gumam Rania lirih, nyaris tak terdengar.
Jantung Rania mendadak berdegup kencang karena rasa terkejut yang luar biasa. Kenapa bisa pria dari masa lalunya ini ada di sini? Mengenakan jas dokter yang sama dengan Jonathan?
Apa jangan-jangan...
“Nah, Ran, kenalkan. Ini Bagas,” ujar Jonathan, menjembatani kecanggungan di antara mereka berdua.
“Dia sahabat baikku semasa kecil dulu, sekaligus dokter spesialis onkologi yang akan membantumu sembuh dari leukemia ini.”
Rania seketika membeku di tempat. Lidahnya mendadak kelu untuk sekadar mengeluarkan kata sambutan.
Bagas yang akan merawatnya? Pria yang pernah memiliki cerita khusus di masa remajanya kini berdiri di depan mata sebagai juru selamat kesehatannya?
Rania yang mendadak gugup luar biasa langsung melirik Jonathan dengan tatapan memprotes, mencoba mengalihkan perhatian sepenuhnya dari Bagas.
“Kenapa... kenapa bukan kamu saja yang menanganiku, Jo? Aku kan sudah nyaman berkonsultasi denganmu.”
Jonathan terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya. “Nggak bisa, Ran. Bidangku spesialis penyakit dalam umum, sementara kamu butuh penanganan khusus dari ahlinya kanker. Lagipula tugasku di rumah sakit ini masih sangat padat. Kalau Bagas, dia bisa fokus menjadi dokter pribadi kamu selama menjalani protokol kemoterapi. Kebetulan dia baru saja menyelesaikan studinya dan balik dari Inggris, dan mulai minggu ini resmi pindah tugas di rumah sakit kita.”
Bagas melangkah maju dua langkah, mengikis jarak di antara mereka. Ia menatap Rania dengan tatapan mata yang teramat dalam di balik lensa kacamatanya, seolah sedang membaca semua kerapuhan yang sedang disembunyikan oleh wanita itu.
“Lama tidak bertemu, Rania,” sapa Bagas lembut, mengulas senyum tulus tanpa beban seolah mereka tidak pernah terpisah oleh waktu. “Bagaimana kabarmu?”
Rania meremas tali tas selempangnya dengan jari-jari yang mendingin akibat rasa gugup yang mendera.
“K–kabarku baik, Mas Bagas. Aku... aku hanya tidak menyangka kalau dokter yang dimaksud Jonathan itu adalah Mas.”
“Dunia ini sempit, ya, Ran,” sahut Bagas santai, lalu menarik kursi di samping Rania untuk duduk.
“Aku kembali ke Indonesia memang untuk mengabdi, dan aku tidak akan membiarkan penyakit ini mengambil senyuman dari wajahmu. Kita akan berjuang sama-sama untuk kesembuhanmu, ya?”
Mendengar perhatian yang begitu tulus dari Bagas, Rania hanya bisa menunduk pasrah, merasakan debaran cemas sekaligus haru yang bercampur aduk di dalam dadanya.
“Kalian sudah saling mengenal rupanya?” tanya Jonathan, memecah kecanggungan yang sempat menggantung di udara dengan tawa renyah.
“Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan kalian lebih jauh lagi. Jadi, kalian nggak perlu canggung dan sungkan, ya?”
Jonathan melirik jam tangan peraknya, lalu beranjak dari kursi kebesarannya.
“Aku harus visit ke bangsal atas, ada pasien kritis. Kalian mengobrol dulu di sini untuk membahas jadwal pengobatan. Aku tinggal dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, Jonathan menepuk bahu Bagas sekilas dan melangkah keluar, meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan yang mendadak terasa begitu sempit.
Rania meremas jemarinya di atas pangkuan, merasa canggung luar biasa ditinggal berdua.
Sementara itu, Bagas tampak biasa saja. Di balik kacamata berbingkai hitamnya, wajah tenang pria itu terus menatap Rania dengan intensitas yang membuat jantung Rania berdegup tidak keruan.
“Jadi, Rania, kapan kira-kira kamu siap untuk memulai sesi kemoterapi pertamamu? Secara medis, lebih cepat lebih baik karena sel kanker darah tidak akan menunggumu siap.”
Rania menelan ludah dengan susah payah. “Aku butuh waktu beberapa hari untuk mempersiapkan mentalku, Mas.”
“Aku mengerti. Kemoterapi memang bukan hal yang mudah,” Bagas mengangguk maklum. Ia merogoh saku jas dokternya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar terbaru.
“Berikan nomor ponselmu yang aktif sekarang. Aku perlu memantau kondisimu setiap hari, dan agar kita bisa lebih leluasa berkomunikasi mengenai jadwal pemeriksaan.”
Rania mengangguk, lalu menyebutkan deretan angka nomor ponselnya yang langsung diketik oleh Bagas.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu