Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai tertahan dari ribuan tamu undangan di dalam Katedral belum juga surut, namun bagi Alyssa dan Alvaro, kebisingan itu terasa seolah tersedot ke dalam ruang hampa. Di atas altar yang dipenuhi dekorasi bunga lili putih senilai miliaran rupiah, waktu seakan melambat tepat setelah pendeta mengucapkan kalimat penutup prosesi sakral mereka.
Kilatan lampu dari ratusan kamera media di area pembatas balkon semakin menggila, saling menyambar memperebutkan sudut gambar terbaik dari pasangan baru penguasa Maheswara Group tersebut.
"Silakan, Tuan Alvaro. Anda boleh mencium istri Anda," ulang pendeta dengan senyum ramah yang tulus, memberikan isyarat final yang tidak bisa dihindari.
Bagi seluruh tamu undangan yang memadati bangku-bangku kayu ek, momen ini adalah klimaks dari sebuah dongeng romansa korporasi yang sangat dinantikan. Sepasang manusia rupawan, berkuasa, dan kaya raya, bersiap menyatukan cinta mereka di hadapan altar suci. Di mata publik, atmosfer di sekitar mereka berdua pasti terasa begitu magis dan dipenuhi oleh luapan asmara yang mendalam.
Namun, hanya Alyssa dan Alvaro yang tahu betapa dinginnya momen tersebut sesungguhnya.
Alvaro mengikis jarak yang tersisa di antara mereka. Langkah kakinya yang tegap bergeser maju, membuat ujung sepatu kulitnya yang mengilat hampir bersentuhan dengan kain satin bagian bawah gaun pengantin Alyssa. Aroma parfum maskulinnya yang mahal campuran aroma kayu cendana dan tembakau kering yang dingin seketika menguasai indra penciuman Alyssa, bertindak sebagai pengingat instan akan dominasi pria ini.
Tangan kanan Alvaro yang besar bergerak naik perlahan. Jemarinya yang panjang dan kokoh menyentuh pinggiran kerudung pengantin transparan berbahan brokat Prancis yang menutupi wajah Alyssa. Dengan gerakan yang sangat anggun dan terukur demi konsumsi estetika lensa kamera, Alvaro menyibak kain transparan itu ke belakang kepala Alyssa.
Wajah cantik Alyssa kini terekspos sepenuhnya di bawah siraman lampu kristal gereja. Riasan wajahnya yang tegas dan tanpa cela membingkai sepasang mata jelinya yang menatap lurus, membalas pandangan Alvaro dengan kilat perlawanan yang pekat. Tidak ada rona merah di pipi Alyssa; yang ada hanyalah keteguhan seorang prajurit di medan laga.
Alvaro menundukkan kepalanya secara perlahan. Jantung Alyssa berdegup konstan, bukan karena getaran cinta yang membakar, melainkan akibat adrenalin yang terpacu oleh rasa muak yang ia tekan dalam-dalam di ulu hatinya.
Ketika jarak di antara wajah mereka tersisa beberapa sentimeter, Alvaro dengan sangat taktis memiringkan kepalanya sedikit. Ia tidak mendaratkan kecupan di bibir ranum Alyssa layaknya sepasang pengantin baru yang saling memuja. Sebaliknya, bibir dingin pria berumur 28 tahun itu mendarat di atas kening Alyssa, tepat di antara kedua alisnya yang terukir sempurna.
Cup.
Sentuhan fisik itu terjadi selama lima detik penuh. Lima detik yang terasa seperti keabadian bagi Alyssa.
Tidak ada perasaan yang melandasi sentuhan itu. Tidak ada kehangatan yang menjalar ke dalam dada. Ciuman di kening itu murni sebuah formalitas mekanis yang dirancang dengan presisi milimeter untuk memuaskan kebutuhan publisitas media dan menjaga stabilitas nilai saham Maheswara Group esok pagi. Itu adalah kecupan dari seorang kurator bisnis terhadap aset berharga yang baru saja ia beri segel kepemilikan hukum.
Di posisi yang begitu intim namun sarat akan kepalsuan itu, di mana embusan napas hangat Alvaro menerpa permukaan kulit keningnya, Alyssa mendengar suara bariton sang suami merendah, berbisik dengan nada yang teramat tipis hingga hanya bisa ditangkap oleh indra pendengarannya sendiri.
"Selamat datang di teritoriku, Nyonya Maheswara. Pertunjukan pertamamu tanpa cela."
Alyssa tidak mengedipkan mata. Di balik senyuman menawan nan anggun yang sengaja ia pasang untuk menipu ribuan pasang mata di bawah sana, ia membalas bisikan itu dengan nada yang tak kalah dingin. "Terima kasih, Tuan Alvaro. Pastikan Anda tidak bosan menonton pertunjukan ini hingga akhir."
Alvaro perlahan menjauhkan wajahnya kembali, menegakkan tubuh tegapnya dengan ekspresi kaku layaknya patung marmer yang tak tersentuh. Sepasang mata elangnya kembali kosong dan sedingin es, seolah ciuman dingin yang baru saja terjadi tidak pernah meninggalkan bekas apa pun dalam benaknya.
Gemuruh tepuk tangan bergemuruh semakin riuh di dalam Katedral, menutup babak prosesi sakral yang dipenuhi kepura-puraan mutlak tersebut. Sepasang suami istri kontrak itu kini telah resmi diikat oleh hukum dan publik, siap melangkah turun menembus badai intrik yang sesungguhnya di luar sana.
...****************...
Alvaro menekuk lengan kirinya dengan gerakan formal yang kaku, mengisyaratkan Alyssa untuk kembali mengambil posisinya. Alyssa, dengan ketabahan yang telah mengkristal di dalam dadanya, menyandarkan jemarinya yang ramping di atas kain tuksedo mahal milik Alvaro. Sentuhan itu masih terasa sama: dingin, sarat akan ketegangan, dan sepenuhnya palsu.
Alunan musik organ pipa kembali membahana, memainkan melodi kemenangan yang agung saat mereka berdua mulai melangkah turun dari altar. Kelopak bunga mawar putih mulai berjatuhan dari atas balkon, menghujani sepanjang jalan setapak karpet merah yang mereka lalui. Di kanan dan kiri, para tamu undangan berdiri memberikan penghormatan, melemparkan senyum kekaguman dan tepuk tangan meriah.
Dari sudut matanya, Alyssa melihat ayahnya menyeka sudut mata dengan saputangan. Ada rasa lega yang amat besar di wajah pria paruh baya itu. Alyssa menelan ludah pahit; ia tahu kebahagiaan ayahnya dibayar dengan kebebasan hidupnya yang kini resmi tergadai.
Saat mereka hampir mencapai pintu keluar Katedral, Alvaro sedikit menundukkan kepalanya ke arah Alyssa, memastikan gerakan itu terlihat seperti bisikan mesra di mata para fotografer yang tiada hentinya mengambil gambar.
"Setelah ini, kita langsung menuju hotel untuk resepsi utama. Media akan diberikan waktu tiga puluh menit untuk sesi tanya jawab di ruang konferensi pers," ucap Alvaro, suaranya bariton datar, tanpa ada nada kelelahan sedikit pun. "Tetap pada naskah yang diberikan humas. Jangan memberikan pernyataan di luar itu."
"Saya tahu," jawab Alyssa singkat melalui sudut bibirnya yang tetap tersenyum anggun ke arah kamera di depan mereka. "Anda sudah mengatakannya sepuluh kali sejak subuh tadi, Tuan Alvaro. Ingatan saya tidak seburuk itu."
Pintu ganda katedral yang besar terbuka lebar, dan kilatan cahaya matahari siang bercampur dengan ratusan lampu kilat dari barisan media luar langsung menyengat penglihatan mereka. Puluhan pengawal internal segera membuat barikade hidup, menahan desakan para jurnalis yang mulai meneriakkan pertanyaan-pertanyaan tajam mengenai spekulasi pernikahan mendadak ini.
"Tuan Alvaro! Apakah pernikahan ini merupakan bagian dari konsolidasi saham Maheswara Group?!"
"Nyonya Alyssa! Bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor yang menyebut keluarga Anda memanfaatkan pernikahan ini untuk melunasi utang korporasi Pradipta?!"
Pertanyaan-pertanyaan itu menusuk udara, namun Alvaro tetap berjalan dengan langkah tegap, dagunya terangkat angkuh seolah-olah menganggap semua suara itu tak lebih dari angin lalu. Ia menuntun Alyssa masuk ke dalam kabin belakang mobil Rolls-Royce hitam yang pintunya sudah dibukakan oleh Rendra.
Begitu pintu mobil ditutup rapat, suara bising dari luar seketika lenyap, digantikan oleh keheningan interior mobil yang kedap suara.
Alyssa langsung menarik tangannya dari lengan Alvaro. Senyuman menawan yang sejak tadi menghiasi wajah cantiknya luntur seketika, menyisakan gurat kelelahan yang mendalam. Ia bersandar pada jok kulit mobil yang empuk, memejamkan matanya rapat-rapat untuk meredakan denyut di pelipisnya.
Alvaro melirik ke samping, menatap istrinya yang kini tampak rapuh namun tetap keras kepala memejamkan mata. Pria itu tidak menawarkan kata-kata penenang atau air minum. Ia hanya meraih tablet digitalnya dari kantong kursi depan, lalu kembali sibuk memeriksa laporan pengamanan di hotel tempat resepsi akan digelar. Ciuman dingin di altar tadi telah selesai, dan kini mereka bergerak menuju panggung sandiwara berikutnya yang jauh lebih melelahkan dan penuh intrik.
...****************...
Mobil Rolls-Royce hitam itu membelah jalanan protokol Jakarta dengan kecepatan stabil, dikawal oleh dua motor besar polisi di bagian depan untuk menembus kemacetan siang hari. Di dalam kabin yang sejuk dan kedap suara, keheningan di antara kedua mempelai terasa begitu tebal, seolah ada dinding kaca kasat mata yang memisahkan tempat duduk mereka.
Alvaro tetap fokus pada layar tabletnya, jemarinya bergerak taktis menggulir data manifest tamu VIP yang akan hadir di hotel. Sementara Alyssa, meski matanya terpejam, pikirannya bekerja keras menyusun strategi pertahanan untuk menghadapi sesi konferensi pers yang sudah di depan mata.
"Arsen akan mencoba memancingmu di depan media nanti," suara bariton Alvaro tiba-tiba memecah keheningan, datar dan tanpa ekspresi, bahkan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
Alyssa membuka matanya perlahan, menoleh menatap profil samping wajah Alvaro yang terpahat tegas. "Apa maksud Anda?"
"Dia sudah menempatkan tiga jurnalis dari media afiliasinya di barisan depan ruang konferensi pers," jawab Alvaro dingin. Ia meletakkan tabletnya di atas pangkuan, lalu menoleh, mengunci manik mata jeli Alyssa dengan tatapan elangnya. "Mereka akan melemparkan pertanyaan jebakan yang mengarah pada validasi keuangan Pradipta Group. Tujuannya jelas: membuatmu gugup, memicu spekulasi pasar, dan menjatuhkan kredibilitas pernikahan ini sebelum resepsi dimulai."
Alyssa menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis yang sarat akan rasa percaya diri. Sifat cerdas dan taktisnya langsung menyala. "Jadi, sepupu Anda yang manipulatif itu ingin bermain kotor di hari bahagia kita?"
"Dia selalu bermain kotor," desis Alvaro, sepasang matanya menyipit tajam. "Itulah kenapa aku membutuhkanmu untuk tetap tenang. Jangan terpancing oleh intonasi mereka. Jawab dengan narasi ekspansi, bukan defensif."
Alyssa memajukan tubuhnya sedikit, menantang tatapan dingin pria berumur 28 tahun di sampingnya. "Anda meremehkan saya, Tuan Alvaro. Saya tidak menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari makroekonomi hanya untuk digoyahkan oleh pertanyaan jurnalis bayaran. Jika Arsen ingin menyerang lewat media, saya akan memastikan pelurunya berbalik menghantam wajahnya sendiri."
Alvaro menatap Alyssa selama beberapa detik, mengamati kilat berani yang tak pernah padam dari sepasang mata istrinya. Ada sebersit rasa puas yang samar di sudut hati Alvaro melihat mental baja wanita pilihan kakeknya ini, meski egonya menolak untuk mengakui hal itu keras-keras.
"Buktikan kata-katamu nanti, Nyonya Maheswara," sahut Alvaro pendek, kembali meraih tabletnya seolah percakapan penting tadi hanyalah pengarahan bisnis biasa.
Mobil perlahan melambat saat memasuki area superblok hotel bintang lima tempat resepsi pernikahan abad ini digelar. Dari balik kaca jendela yang gelap, Alyssa bisa melihat barikade keamanan yang lebih ketat menjalar di sepanjang lobi utama. Puluhan jurnalis foto sudah bersiap dengan kamera mereka, menciptakan barisan barikade yang siap mengabadikan kedatangan mereka.
Ciuman dingin di altar Katedral mungkin telah usai, namun formalitas dan sandiwara di depan publik ini baru saja memasuki fase yang paling krusial. Alyssa mengeratkan pegangannya pada buket bunga mawar putih di pangkuannya, menegakkan kembali bahunya di balik gaun pengantin sutra yang megah, dan bersiap melangkah masuk ke dalam sangkar emas berikutnya yang dipenuhi oleh kilatan lampu dan intrik berbahaya.