"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 29
Hari sidang itu akhirnya datang.
Dan tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar siap menghadapinya. Mobil yang ditumpangi Dinda berhenti tepat di halaman pengadilan agama kota.
Wanita itu duduk diam cukup lama dengan jemari dingin yang saling menggenggam di atas pangkuannya. Sedangkan di sampingnya, sang ibu terus mengusap punggung tangannya perlahan.
“Nak...” bisik wanita paruh baya itu lembut. “Kalau belum kuat, nggak apa-apa.”
Namun Dinda hanya tersenyum kecil. Senyum paling rapuh yang pernah ibunya lihat.
“Cepat atau lambat ini memang harus selesai, Buk.” Kalimat itu terdengar tenang.
Padahal sebenarnya—hati Dinda terasa seperti sedang dihancurkan perlahan. Karena setelah hari ini, status Ervin bukan lagi suaminya.
Dan sesakit apa pun hubungan mereka belakangan ini—kenyataan itu tetap membuat dada Dinda nyeri luar biasa.
Di sisi lain, Ervin baru turun dari mobilnya beberapa meter dari pintu masuk pengadilan.
Pria itu mengenakan kemeja hitam polos dengan wajah pucat dan mata sembab yang jelas menunjukkan bahwa ia tidak tidur semalaman.
Sedangkan di belakangnya, Jenita ikut turun sambil menggendong bayi kecil mereka. Namun suasana di antara keduanya sangat sunyi.
Tidak ada lagi hubungan manis seperti dulu. Yang tersisa hanyalah rasa bersalah dan hidup yang sama-sama terasa berat.
“Kamu yakin mau masuk sendiri?” tanya Jenita pelan.
Ervin mengangguk kecil. “Ini urusan aku sama Dinda.”
Wanita itu menunduk pelan. Lalu dengan suara lirih berkata—“Aku minta maaf.”
Ervin langsung menoleh. Namun Jenita hanya tersenyum kecil penuh luka.
“Aku tahu semua ini salah kita juga.”
Pria itu memejamkan mata sesaat. Karena pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar menang dari hubungan mereka. Yang ada hanya kehancuran banyak hati.
Begitu memasuki ruang tunggu sidang—tatapan Dinda dan Ervin langsung bertemu.
Dan seketika, semua kenangan empat tahun pernikahan mereka terasa kembali memenuhi kepala masing-masing.
Tentang rumah kecil yang dulu mereka tinggali bersama. Tentang makan malam sederhana buatan Dinda. Tentang pagi-pagi malas di akhir pekan.
Tentang pelukan, tentang ciuman, tentang harapan memiliki anak bersama. Semuanya terasa begitu dekat—namun juga begitu jauh sekarang.
“Din...” Suara Ervin terdengar pelan sekali.
Sedangkan Dinda langsung menunduk karena matanya mulai panas lagi.
Pria itu mendekat perlahan. Lalu untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam. Saling menatap dengan hati yang sama-sama hancur.
“Aku masih berharap ini mimpi,” bisik Ervin lirih.
Kalimat itu sukses membuat air mata Dinda jatuh. Karena dirinya pun sama. Wanita itu berharap bisa bangun dan mendapati semua ini tidak pernah terjadi.
Namun suara petugas sidang yang memanggil nama mereka membuat semuanya kembali terasa nyata.
“Saudara Ervin Mahendra dan Dinda Aulia, dipersilakan masuk.”
Deg.
Napas Dinda langsung tercekat. Sedangkan Ervin menatap wanita itu lama sebelum akhirnya berkata pelan—“Ayo.”
Sidang berjalan jauh lebih menyakitkan dari yang dibayangkan Dinda. Karena di ruangan itu, semua luka mereka dibuka kembali satu per satu.
Tentang perselingkuhan. Tentang anak di luar pernikahan. Tentang kepercayaan yang hancur. Dan tentang perasaan yang ternyata masih ada sampai sekarang.
“Apakah saudari Dinda yakin ingin melanjutkan gugatan perceraian ini?”
Pertanyaan hakim membuat suasana mendadak sangat hening. Tangan Dinda langsung gemetar di atas meja.
Sedangkan Ervin memandangnya tanpa berkedip sedikit pun. Seolah masih berharap wanita itu berubah pikiran.
Namun setelah beberapa detik menahan sesak—Dinda akhirnya mengangguk pelan. “Saya yakin.”
Suara itu terdengar kecil. Tapi cukup untuk membuat dunia Ervin runtuh saat itu juga.
Pria tersebut langsung menundukkan wajahnya. Matanya memerah. Dan untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai—air mata Ervin jatuh di depan banyak orang.
“Apa saudara Ervin menerima keputusan ini?”
Hening. Lama sekali. Sampai akhirnya pria itu mengangguk lemah. “Saya menerima.”
Suara seraknya membuat Dinda langsung menggigit bibir bawah kuat-kuat agar tangisnya tidak pecah.
Karena di detik itu—mereka benar-benar selesai.
*****
Setelah sidang itu selesai, hujan turun cukup deras di luar gedung pengadilan.
Langit tampak kelabu. Sama seperti perasaan dua manusia yang baru saja resmi mengakhiri empat tahun pernikahan mereka.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—Ervin benar-benar tidak tahu harus pulang ke mana. Karena rumahnya sudah selesai hari ini.
Bukan bangunannya, melainkan orangnya.
“Aku boleh peluk kamu sekali aja?” Suara serak Ervin akhirnya memecah keheningan.
Seketika, air mata Dinda kembali jatuh.
Wanita itu menunduk cepat, berusaha menahan dirinya agar tidak semakin hancur. Namun dadanya terasa terlalu sakit untuk sekadar berpura-pura kuat.
“Terakhir...” lanjut Ervin lirih. “Aku janji.”
Kalimat itu membuat tangisan Dinda pecah begitu saja. Karena kata terakhir terdengar begitu kejam di telinganya.
Terakhir menjadi istrinya. Terakhir berdiri sedekat ini. Terakhir dipeluk laki-laki yang pernah menjadi pusat dunianya selama bertahun-tahun.
Dengan langkah pelan, Dinda akhirnya mendekat. Dan begitu Ervin menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya—semuanya runtuh.
Pria itu memeluk Dinda sangat erat. Terlalu erat bahkan. Seolah jika ia melepaskan sedikit saja, wanita tersebut benar-benar akan hilang dari hidupnya.
Sedangkan Dinda menangis di dada pria itu tanpa suara. Tangisan yang tertahan terlalu lama.
“Aku minta maaf...” bisik Ervin berulang kali dengan suara hancur. “Aku minta maaf udah bikin semuanya rusak.”
Air mata pria itu jatuh membasahi rambut Dinda. “Aku minta maaf karena gagal jagain kamu.”
“Maaf, aku nggak cukup bahagiain kamu. Nggak cukup jadi suami yang baik.”
Setiap kalimatnya terasa seperti pisau yang menggores pelan di dada Dinda. Karena semua penyesalan itu terdengar tulus. Sangat tulus.
Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.
“Mas...” suara Dinda bergetar hebat. “Jangan bikin aku susah pergi.” Kalimat itu sukses membuat napas Ervin tercekat.
Pelukannya perlahan melemah.
Namun pria itu belum juga melepaskan wanita di hadapannya. Karena egoisnya—ia masih ingin merasakan hangat tubuh Dinda sedikit lebih lama.
“Aku nggak pernah niat nyakitin kamu sejauh ini,” lirih Ervin dengan mata merah. “Tapi ternyata luka yang aku kasih... sudah sangat banyak."
Tangisan Dinda semakin pecah. Ia membenci kenyataan bahwa sampai detik ini—hatinya masih mencintai laki-laki itu. Masih sangat mencintainya.
Hujan turun semakin deras.
Orang-orang mulai berlalu lalang di sekitar mereka. Namun Ervin dan Dinda masih berdiri di tempat yang sama, seolah dunia berhenti bergerak beberapa saat hanya untuk membiarkan mereka berduka.
“Aku takut pulang,” bisik Ervin tiba-tiba.
Dinda perlahan mengangkat wajahnya. Mata pria itu merah dan penuh kehancuran. “Rumah bakal kosong tanpa kamu.”
Deg.
Dada Dinda terasa semakin sesak. Karena ia tahu persis seperti apa rumah mereka nanti.
Tidak akan ada suara masakan dari dapur. Tidak ada Dinda yang tertidur di sofa menunggu Ervin pulang. Tidak ada pertengkaran kecil soal handuk basah di atas kasur. Tidak ada suara tawa mereka di akhir pekan.
Tidak ada lagi mereka.
Dan kenyataan itu terasa begitu mengerikan.
“Aku juga takut,” aku Dinda lirih. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—mereka sama-sama jujur tentang rasa takut masing-masing.
Ervin mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya tertawa kecil penuh luka. “Kita lucu ya.”
Dinda menatap pria itu intens.
“Saling cinta...” lanjut Ervin dengan suara serak. “Tapi malah saling hancurin.” Kalimat itu membuat tangisan Dinda kembali pecah.
Karena memang benar. Tidak semua cinta berakhir bahagia. Kadang dua orang saling mencintai dengan sangat besar, namun tetap gagal mempertahankan satu sama lain.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada sekadar tidak dicintai.
Perlahan, Dinda melepaskan pelukannya. Meski rasanya seperti sedang memaksa separuh jiwanya pergi. Sedangkan Ervin hanya diam memandang wanita itu dengan mata penuh kehilangan.
“Aku pulang ya, Mas.”
Sederhana. Namun kalimat itu terdengar seperti perpisahan paling menyakitkan bagi Ervin.
Karena untuk pertama kalinya—Dinda pulang bukan sebagai istrinya lagi.
Pria itu mengangguk kecil.
Tenggorokannya terasa terlalu sakit untuk bicara. Namun tepat sebelum Dinda berbalik pergi—Ervin kembali memanggilnya.
“Din.”
Wanita itu berhenti melangkah.
“Aku harap...” suara pria itu bergetar. “Suatu hari nanti kamu bisa nemu bahagia yang gagal aku kasih.”
Air mata Dinda jatuh lagi. Sedangkan Ervin tersenyum kecil penuh kehancuran.
“Dan kalau nanti ada orang yang lebih baik dari aku...” lanjutnya lirih. “Jangan tolak dia cuma karena trauma sama aku.”
Hati Dinda benar-benar terasa remuk saat itu. Karena di detik terakhir perpisahan mereka—Ervin tetap memikirkan kebahagiaannya.
Padahal dirinya sendiri sedang sehancur itu.
“Aku pergi ya...” bisik Dinda dengan suara patah.
Kali ini, Ervin tidak menahan. Pria itu hanya berdiri diam di tengah hujan sambil melihat perempuan yang paling dicintainya berjalan semakin jauh. Dan semakin jauh.
Sampai akhirnya benar-benar hilang dari pandangannya.
Barulah setelah itu, lutut Ervin melemas. Pria itu terduduk sendirian di lorong pengadilan dengan wajah tertunduk. Tangisnya pecah tanpa suara. Karena hari ini—
ia kehilangan rumahnya sendiri.
*****
Malam harinya, Dinda memilih mengurung diri di kamar. Wanita itu duduk diam di lantai sambil memeluk lututnya.
Hari ini semuanya resmi berakhir. Ia sekarang bukan lagi istri siapa-siapa.
Namun di tengah pikirannya yang kacau—suara kecil Glenka tiba-tiba terdengar dari luar kamar. “Maaa... maaa...”
Dinda langsung mengangkat wajahnya cepat. Dan beberapa detik kemudian, Raka muncul sambil menggendong putrinya. Pria itu terlihat sedikit panik begitu melihat mata sembab Dinda.
“Gue ganggu?”
Dinda langsung menggeleng pelan. Sedangkan Glenka malah mengulurkan tangan kecilnya minta digendong.
Dan anehnya—begitu memeluk bayi itu, sesak di dada Dinda perlahan mereda sedikit.
Raka memperhatikan wanita tersebut cukup lama. Tatapannya berubah semakin dalam. “Gue telat, ya, Din?” tanyanya tiba-tiba.
Dinda mengernyit bingung. “Maksud kamu?”
“Kalau aja gue datang lebih cepat...” pria itu tersenyum kecil hambar. “Mungkin lo nggak bakal sehancur ini.”
Deg.
Jantung Dinda berdetak pelan. Namun sebelum wanita itu sempat menjawab, ponsel Raka tiba-tiba berdering.
Dan untuk pertama kalinya—raut wajah pria itu berubah tegang. Sangat tegang.
“Ada apa?” tanya Dinda pelan.
Raka langsung mematikan panggilan tersebut cepat. Namun beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berdering tanpa henti.
Pria itu mengusap wajahnya kasar. Lalu dengan suara rendah berkata—“Kayaknya... gue nggak punya banyak waktu lagi di sini.”
Dinda langsung menatapnya bingung.
Sedangkan Raka hanya tersenyum kecil sambil memandang Glenka yang mulai terpejam di pelukan Dinda.
Tatapannya berubah sangat lembut. Dan... sangat sedih.
“Aku harus pergi beberapa tahun.” Kalimat itu sukses membuat jantung Dinda terasa jatuh entah ke mana.
Karena entah kenapa—untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak rela ditinggalkan lagi.