Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: JEJAK AYAH DI ATAS PASIR WAKTU
Kehidupan Rendra di desa pengasingan itu kini telah terpatri dalam rutinitas yang menyesatkan namun memabukkan. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Rendra sudah terlihat di halaman rumah Laras. Bukan lagi sebagai tamu yang sungkan, melainkan sebagai bagian dari isi rumah itu sendiri. Laras, yang awalnya hanya memandang Rendra sebagai sesama pelarian nasib, kini tidak lagi bisa menyembunyikan ketergantungannya pada kehadiran pria tersebut.
Di balik dinding-dinding papan yang mulai lapuk itu, kehadiran Rendra membawa warna yang belum pernah dirasakan Laras sejak suaminya berpulang. Namun, sosok yang paling merasakan perubahan itu bukanlah Laras, melainkan Satria, bocah laki-laki berusia empat tahun yang selama ini hanya mengenal wajah ayahnya dari bingkai foto kusam di dinding.
Satria adalah anak yang cerdas namun pendiam, sosok kecil yang selama ini menyimpan kerinduan tak terucap akan sosok pelindung. Ketika Rendra mulai sering menggendongnya, mengajaknya memungut kerikil di pinggir jalan, atau sekadar membimbing tangannya saat belajar mencoretkan angka di atas tanah, Satria menemukan dunia baru. Bagi Satria, Rendra adalah sosok yang mengisi kekosongan itu. Ia mulai memanggil Rendra dengan sebutan "Ayah", sebuah panggilan yang awalnya membuat Rendra tersentak, namun lama-kelamaan justru membuatnya merasa terbuai dalam ilusi yang ia ciptakan sendiri.
Penulis mengamati bagaimana Rendra sering kali terpaku saat Satria berlari ke pelukannya dengan tawa renyah. Di satu sisi, ada rasa sakit yang menusuk—karena Rendra tahu, di Sukorejo, ada Arum, darah dagingnya sendiri yang mungkin sedang menatap pintu, menanti sosok yang sama. Namun, setiap kali bayang-bayang masa lalu itu datang, Rendra buru-buru menenggelamkan dirinya dalam peran barunya. Ia memainkan layang-layang untuk Satria, membelikan jajanan murah dari hasil kerja serabutannya, dan memberikan perlindungan yang dulu gagal ia berikan kepada keluarganya sendiri.
"Lihat, Yah! Satria bisa berlari lebih cepat!" seru bocah itu suatu sore, membuat Rendra tersenyum lebar. Rendra membalas senyum itu dengan tangan yang mengacak rambut Satria dengan penuh kasih.
Di mata penduduk desa, hubungan mereka tampak seperti keluarga yang utuh dan harmonis. Mereka tidak tahu bahwa di balik kehangatan itu, Rendra sedang melakukan "pencucian dosa" yang salah alamat. Ia mencoba menambal lubang di hatinya dengan kasih sayang yang ia curi dari situasi yang tidak seharusnya. Ia mulai mengabaikan peringatan batinnya. Ia berhenti merasa bersalah karena ia merasa telah berbuat "baik" kepada Laras dan anaknya.
Laras sendiri semakin terpesona. Ia melihat Rendra bukan lagi sebagai buruh tani biasa, melainkan sebagai pria yang penuh perhatian. Malam-malam mereka tidak lagi diisi dengan percakapan tentang pelarian, melainkan tentang masa depan—rencana kecil untuk menanam lebih banyak sayur, atau keinginan untuk menyekolahkan Satria setinggi mungkin. Rendra bahkan mulai bertindak seolah ia adalah pemilik rumah itu, mengatur ini dan itu, memberikan rasa aman yang selama ini tak pernah dimiliki Laras.
Namun, di balik semua keindahan yang dipaksakan itu, Rendra sedang berjalan di atas tali tipis yang siap putus kapan saja. Ia menjadi sosok ayah yang begitu total untuk Satria, hingga terkadang ia lupa bahwa di tempat lain, ia masih memiliki tanggung jawab yang belum tuntas. Ia membelikan sepatu baru untuk Satria dari sisa upahnya, sementara ia mungkin tidak pernah membayangkan apakah Arum, anak kandungnya sendiri, memiliki kebutuhan yang lebih mendesak di desanya.
Penulis mencatat ironi yang getir dalam setiap detik kebersamaan mereka. Rendra menemukan "kebermaknaan" hidup sebagai seorang ayah dari anak orang lain. Ia menikmati setiap momen keayahan yang seharusnya ia berikan kepada Arum. Ia membangun fondasi kasih sayang di atas tanah yang bukan miliknya. Setiap tawa Satria yang ia pancing adalah bukti betapa hebatnya Rendra dalam mengaburkan batas antara tanggung jawab yang sebenarnya dengan pelarian emosional yang ia pilih.
Di tengah desa yang sunyi itu, Rendra merasa dirinya telah menebus masa lalunya. Padahal, ia hanya sedang menimbun tumpukan kebohongan yang semakin tinggi. Setiap kali Satria memeluk kakinya atau memanggilnya dengan kata "Ayah", Rendra merasa menang dari rasa bersalahnya. Ia merasa tidak lagi perlu kembali ke Sukorejo, karena di sini, ia sudah memiliki segalanya untuk merasa utuh. Rendra tidak menyadari bahwa semakin ia mendalami perannya sebagai figur ayah bagi Satria, semakin jauh ia terperosok ke dalam lubang kehancuran yang ia gali dengan tangannya sendiri. Ia telah menjual haknya sebagai ayah Arum demi kenyamanan menjadi ayah bagi anak orang lain. Dan dalam kebodohannya, ia menganggap itu adalah takdir terbaik yang bisa ia miliki.