NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STUDY TOUR DULU

3D Art berada dalam ruangan, kami harus melepas alas kaki untuk masuk. Sesuai dengan namanya, tempat yang kami masuki adalah tempat yang mengambil konsep seni seolah – olah adanya volume dalam gambar. Memanfaatkan teknologi, seperti warna dan cahaya, agar karya terlihat lebih hidup.   Didalam ada cukup banyak orang, kami harus memilih spot kosong, agar foto yang dihasilkan nanti tidak ada orang lain dalam frame-nya. Beberapa spot sudah kami lewati, terkadang kami terhenti disalah satu tempat hanya untuk sekedar melihat – lihat. Dari banyaknya pilihan, hanya satu spot yang memenuhi kriteria. Itu adalah foto bersama dinosaurus. Sebenarnya hanya sebuah gambar dinosaurus biasa, cuman dibelakangnya ada tangga, agar saat difoto terlihat seperti menungganginya.

“Foto pakai HP siapa nih?” Awan menunjukan ponselnya. Terlihat baterai ponsel miliknya sudah sekarat. “Lupa ngecas tadi.”

“Bateraiku masih banyak sih.” Clarissa ikut – ikutan menunjukkan ponselnya, tapi yang dia perlihatkan bukan jam, melainkan sisa memori. Terlihat penyimpanan di ponselnya sudah hampir mentok, memorinya hampir penuh. “Temenku suka foto – foto pakai HP-ku biasanya. Hehe.”

Awan dan Clarissa menatapku. Hanya aku yang belum memberi alasan. Sebenarnya tidak perlu alasan juga, lagipula ponselku baterainya masih banyak, begitu juga dengan memorinya. Sama sekali tidak ada masalah. Aku langsung menyerahkan ponselku pada mereka tanpa alasan.

“Kok baterainya masih banyak? Kamu sempat ngecas waktu dirumahku?”

“Nggak. Aku selalu pakai mode pesawat.” Aku jarang menggunakan ponsel, kecuali saat benar -benar bosan dan tidak tau harus berbuat apa. Lagipula kebanyakan aplikasi yang kugunakan tidak menggunakan internet. Misalkan saja untuk menonton film, aku bisa download dulu jauh – jauh hari. Saat ingin menonton, bisa matikan data menggunakan mode pesawat. Selain itu, mode pesawat juga membuat baterai lebih hemat. Fitur yang sangat berguna. Padahal itu adalah alasan yang benar, tapi kenapa Awan dan Clarissa menatapku dengan kasian? Mereka tidak mengatakan apapun, tapi entah kenapa aku bisa membaca pikiran mereka. Awalnya mereka ingin bertanya, “Pakai mode pesawat terus – terusan, emangnya gak ada yang chat?” Pertanyaan standar, bagi orang yang standar. Setelah melihat kalau orangnya adalah aku, mereka merubah pikiran tersebut, “Benar juga, gak ada yang dia chat.” Entah kenapa itu tergambar jelas di wajah mereka.

“Yaudah! Ayo foto – foto.” Awan menarikku untuk naik keatas dan menyerahkan ponselku pada Clarissa. Dia benar – benar mengabaikan kalimatku sebelumnya. Terimakasih sudah tidak bertanya.

Clarissa memoto kami dengan menghitung mundur. Dia mengambil beberapa foto dengan gaya Awan yang selalu berubah – rubah. Aku hanya berpose menunjukkan jempol dan tangan menggenggam ke depan, ditambah dengan sedikit senyuman. Pose manusia normal yang tidak tau caranya bergaya.

Saat ingin bertukar orang untuk difoto, Clarissa menolak, dia tidak tertarik untuk foto bersama dinosaurus. Ada tempat lain yang ingin dia datangi. Itu adalah tempat yang sudah kami lewati, tapi banyak orang sebelumnya. Dia menyarankan untuk ke tempat tersebut. Aku dan Awan setuju – setuju saja karena memang tempat itu adalah tempat yang paling cocok jika ingin upload story. Kami pun kembali untuk memastikan keadaan.

Begitu kami kembali, tidak banyak orang di spot yang Clarissa mau. Segera kami amankan tempat, sebelum banyak orang berdatangan. Berbeda dengan spot dinosaurus, kali ini Clarissa sendiri yang minta difoto pertama. Dia benar – benar antusias. Spot kali ini memanfaatkan ruang dan gambar agar disalah satu sisinya orang terlihat lebih besar, menciptakan kesan seolah – olah ada raksasa. Artinya, minimal diperlukan dua orang agar spot tersebut memenuhi fungsinya. Aku langsung berinisiatif mengangkat ponsel dan bersiap – siap untuk memoto. “Awan. Kamu masuk.” Kalau aku yang foto dengan Clarissa, pasti akan mati gaya. Menyerahkan urusan tersebut pada Awan adalah pilihan yang tepat. Meskipun dia terlihat menolak, tapi dia tetap menurutiku. “3 …, 2 …, 1 ….”

Aku mengambil banyak foto, tapi saat Clarissa mengecek hasilnya, dia menghapus sebagian besar dan menyisakan beberapa foto yang menurutnya bagus. Setelahnya, dia menyuruhku untuk bergantian, aku menolak, tapi Awan ikut – ikutan memaksaku, dengan sangat terpaksa aku pun ikut berfoto. “Siap ya!” Ketika Clarissa mulai menghitung mundur, segera kugunakan pose andalan dan sesi foto pun selesai. “Bagus kan?” Aku tidak menjawab ketika ditanya, kuserahkan hal tersebut sekali lagi pada ahlinya, Awan. Biar dia yang memeriksa.

“Cocok nih buat story.” Awan menunjukkan gambar yang bagus padaku. Pemandangan yang sebuah kota dengan gaya arsitektur jepang. Setelah kusadari, itu bukan foto yang baru saja diambil, melainkan foto digaleriku. Aku menatap sinis Awan, dia berusaha membuat alasan. “Tapi ini emang bagus, iya kan Clarissa?”

“Iya.” Clarissa mengambil ponselku dari tangan Awan dan mulai menggeser foto lebih jauh. “Ini waktu study tour kelas 10 ya?” Aku mengangguk. “Kenapa gak ada foto study tour kelas 11?”

“Gak ikut.” Clarissa menanyakan alasannya, tapi kujawab seadanya. “Demi kebaikanku.” Niatku menjawab singkat agar aku tidak perlu menjelaskan, tapi entah kenapa Clarissa penasaran. Kulihat kearah Awan, dia juga terlihat ingin mendengar ceritaku. Aku baru ingat kalau saat kelas 11, dia memaksaku untuk ikut, tapi tetap kutolak dengan alasan yang sama. “Ayo ke spot yang lain!” Kuambil ponsel yang ada ditangan Clarissa dan berjalan maju. “Kalau bosan dengar ceritanya, bilang aja.”

Sesi foto tetap berjalan. Tidak ada yang berubah. Aku hanya harus lebih banyak bicara karena bercerita disela – sela kekosongan saat tidak ada percakapan diantara kami bertiga. “Waktu kelas 10, aku ikut study tour kaya biasa. Sebelum berangkat, aku siap – siapin barang ke koper, terus cek satu – satu biar gak ada yang ketinggalan. Waktu udah yakin, aku coba cek tempat – tempat apa aja yang ada di-list buat di datengin nanti. Aku cek foto wisatanya diinternet, biar gak buta – buta amat kalau udah ditempat.”

“Sama, aku juga gitu.” Clarissa menanggapiku sambil memoto Awan. “Malahan aku gak bisa tidur gara – gara terlalu excited. Hehe.” Setelah difoto, Awan ikut berkomentar. Dia bilang, dia tidur dengan nyenyak karena tidak tau kalau ada list yang disebar sekolah.

“Hari pertama berangkat, semua masih aman. Aku datang ke bandara tepat waktu terus ikut bus kelas dengan damai sampai ke penginapan. Aku lupa duduk disebelah siapa, soalnya banyak yang minta tukar, aku iya - iyain aja karena gak ada bedanya. Pokoknya tau – tau udah sampai dihotel, terus aku langsung tidur.”

“Geser dikit.” Awan sedang sibuk memoto Clarissa. Dia seperti seorang fotografer. “Nah sip!” Awan menunjukkan hasil fotonya pada Clarissa seraya menanggapi ceritaku. “Sayang banget langsung tidur. Aku sempat berenang dulu, takut hari lain gak sempat.”

Clarissa terlihat kaget. “Bukannya …, kalau gak salah kita sampainya jam 11 malam ya?”

“Iya emang. Tapi seru tau. Sensasinya beda. HAHAHA.”

Ku tunggu mereka selesai bicara. Siapa tau ada yang mau dibahas. Selama aku diam, tidak ada tanggapan lagi dari mereka. Aku memutuskan melanjutkan cerita. “Hari kedua. Ini awal mula kehancuran. Selama sehari kita kan cuman datengin 2 atau 3 tempat wisata. Nah! Dihari kedua itu spesial, kebetulan kita datengin 4 tempat wisata sekaligus. Aku gak tau kenapa, mungkin karena tempatnya searah. Pokoknya waktu jalan ke wisata 1 sama 2 masih aman, aku enjoy aja keliling – keliling sendiri. Masalah mulai muncul waktu datang ke wisata 3.”

“Rumah terbalik?”

“Bukan. Museum.”

“Lain, maksudku setelah ini kita ke rumah terbalik.” Awan ternyata bukan menanggapiku, melainkan menyarankan tempat berikutnya untuk kami kunjungi. Sudah tidak ada lagi yang bisa difoto di 3D Art. “Lanjutin aja!”

“Dimuseum tempatnya besar, kebanyakan bentuk kelompok sendiri – sendiri. Aku yang gak dapat, milih buat tetap sendiri. Lagian lebih enak, gak harus ada yang ditungguin. Aku bisa bebas sendiri, terus foto - foto sendiri, sampai gak kerasa kalau waktu udah jam 16.00. Masalah pertama muncul, aku lupa kembalinya jam 6 sore atau pukul 16.00, soalnya sama – sama ada angka 6 nya. Aku bingung mau lanjut atau balik ke bus. Maunya sih lanjut, cuman aku takut ketinggalan, jadi milih balik.”

“Waktu balik, ternyata bus nya udah gak ada?” Clarissa membocorkan spoiler ceritaku pada Awan. Aku menanyakan alasannya darimana dia bisa tau. “Oh jadi itu kamu. Aku ada denger dari temen – temen soalnya. Waktu study tour kelas 10, ada murid yang ketinggalan, jadi ada satu bus yang gak ikut ke wisata 4.”

“Iya aku sudah minta maaf sama mereka, walaupun kayaknya mereka gak maafin. Sebenarnya aku datang kecepatan. Aku udah datang jam 16.00, ternyata dialam bus gak ada orang, jadi aku kira kembalinya jam 6 sore, ya aku jalan – jalan lagi lah daripada nunggu. Singkat cerita udah jam 6 sore, aku kembali ke bus, tapi selama apapun aku keliling tempat parkir, aku gak nemuin busnya. Aku sadar kalau aku ditinggal. Untungnya mereka balik gak lama kemudian. Ya …, tapi begitulah, aku kena marah. Waktu arah pulang, aku baru sadar kalau ternyata HP ku masih pakai mode pesawat, jadi jamnya belum berubah dari WITA ke WIB. Sebenarnya betul aja kumpulnya jam 16.00, cuman 16.00 WIB bukan WITA.”

Awan tertawa lepas mendengar ceritaku. “Lagian kamu bisa – bisanya pakai mode pesawat waktu liburan.” Aku ingin beralasan untuk menghemat baterai, tapi kalau aku jawab begitu, bisa – bisa dia tertawa lebih nyaring. Aku memilih diam. “Terus gimana lanjutannya?”

“Kamu foto dulu! Jangan gerak – gerak!”

“Eh iya.” Awan mulai berpose yang aneh – aneh. Entah dia malu atau tidak saat melakukannya, aku juga tidak menegur. Pokoknya jepret aja semua setiap dia ganti gaya. “Cocok nih jadi stiker,” komentar pertama yang dia berikan setelah melihat hasil fotonya. Setelah mengecek banyak foto, dia kembali berkomentar. “Ngomong – ngomong gak ada foto kita bertiga.” Segera Awan meminta tolong orang yang kebetulan lewat didekat kami agar menjadi juru foto. Untungnya orang tersebut bersedia, kami pun berfoto bersama.

“Udah hampir jam 2 nih, kalian lapar gak?” Kalau ditanya lapar, tentu saja aku lapar. Tidak tau dengan Awan, tapi aku biasa makan siang sekitar jam 12an. “Kalau iya, ayo mampir dulu sambil istirahat.”

Lumayan banyak pilihan tempat makan. Aku ngikut aja selama ada menu ayam. Awan juga tidak terlalu pilih – pilih makanan. Kami semua sepakat untuk mencari yang paling dekat dengan tempat kami berdiri sekarang. Sampai dilokasi, kami duduk disebuah gazebo sambil memilih menu yang ingin dipesan. Semuanya memesan makanan yang sama, ayam dan nasi. Minumannya saja yang berbeda. Clarissa memesan air mineral, Awan jus alpukat, dan aku memesan teh es.

Selama menunggu pesanan datang, aku melanjutkan ceritaku. “Dihari ketiga, supaya aku gak ketinggalan lagi, aku disuruh ikut salah satu rombongan. Mereka mengiyakan waktu disuruh, tapi waktu udah ditempat, mereka kembali dengan cirle masing – masing. Kebetulan salah satu guru ada yang ngeliat, beliau nyaranin untuk ikut rombongan guru. Aku iya – iya aja karena gak ada pilihan.”

“3 paket ayam, minuman air mineral, jus alpukat, sama teh es?” Kami mengangguk saat pelayan mengantarkan pesanan ke meja. “Sudah semua ya?” Sekali lagi kami mengangguk. Ditambah ucapan terimakasih dari Clarissa.

“Tohoh gemana?” Awan memaksa tetap bertanya meskipun makanan di mulutnya belum terkunyah habis. “Masa cuman gara – gara satu kelompok sama guru, kamu gak mau ikut study tour kelas 11? Kan ada aku?”

Kalau kujawab pertanyaan Awan, berarti aku harus tetap menjelaskan saat yang lain makan. Rasanya aku seperti youtube yang ditonton saat sedang makan dirumah. Tapi, yaudahlah! Lagipula ceritanya sudah hampir selesai. “Kelompok sama guru keliatannya aja enak, tapi lama kelamaan aku malah disuruh jadi tukang foto, terus harus bantu – bantu angkat barang belanjaan, gitu aja sampe waktu habis. aku gak bisa nikmatin wisatanya lagi. Hari – hari berikutnya aku kasih alasan aja biar gak ikut. Aku bilang gak enak badan, jadi guru suruh aku tinggal di bus.” Aku tidak bisa bilang, aku menolak ajakan Awan karena tidak ingin merepotkannya. Dari sudut pandangku, mungkin hanya dia yang bisa kujadikan teman kelompok, tapi dari sudut pandang dia, bukan hanya aku satu – satunya pilihan. “Daripada harus ikut study tour lagi, mending aku jalan – jalan sendiri aja didekat rumah.”

“Padahal ikut lagi aja gakpapa. Coba ajak bicara siapa gitu. Mungkin ada yang cocok.” Aku sudah mencoba saran yang Clarissa berikan, cuman hasilnya tidak seindah yang dibayangkan. Aku sudah coba bicara dengan para cowok, mereka menerimaku, hanya saja aku tidak mengerti pembahasan mereka.  Aku tidak mencoba bicara dengan para cewek, mereka sudah menatapku sinis sebelum aku mendekat. Tapi aku tau kalau Clarissa tidak berniat buruk, dia hanya ingin menasehatiku, jadi aku hanya diam mendengarkan. “Ngomong – ngomong, kenapa kamu gak banyak bicara dikelas? Aku denger dari tadi, lancar aja ceritanya, malahan seru, tapi kok waktu dikelas kamu cuman diam?”

Pertanyaan dadakan yang sulit kujawab. Alasan paling mudah, tinggal bilang aja kalau bawaan lahir. Tapi, aku tau kalau itu bukan jawaban sebenarnya. Kalau dipikir – pikir, waktu masih kecil aku seperti anak pada umumnya, sampai dengan sekolah dasar juga tidak ada yang aneh. Mungkin perubahan mulai terjadi saat aku memasuki SMP. “Ya …, karena gak ada yang dibicarain.” Aku tidak bisa memberikan jawaban yang pasti.

“Bohong! Dia loh kuajak bicara juga gak terlalu ditanggepin.”

“Cuman ke kamu aja kaya gitu. Kalau aku tanggepin, kamu gak bakalan berhenti bicara.”

“Wah! Cari masalah nih anak!”

Melihat aku dan Awan yang berdebat, bukannya melerai, Clarissa malah tertawa. “Kalian memang lucu.” Melihatnya begitu, membuatku tersenyum tanpa sadar. Dia orang yang lebih mudah diajak bicara dibanding perkiraanku. Aku pikir dia tipe orang yang hanya bicara dengan orang – orang setipe. Aku cukup sadar diri. Tingkatanku dengannya ada di level yang berbeda. Dia berada di strata atas rantai sosial sekolah, sedangkan aku mentok dipaling bawah. Itu sebabnya, aku tidak pernah bicara dengannya, mencoba pun tidak. Aku baru tau kalau ternyata dia tidak masalah bicara dengan orang sepertiku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!