NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Keheningan yang nyaman sempat merayap di dalam kabin mewah Rolls-Royce Phantom itu saat mobil mulai bergerak membelah jalanan tol menuju arah Bandung.

Suara deru mesin hampir tidak terdengar, diredam oleh kualitas kabin premium yang mumpuni.

Di kursi kemudi, Mahendra sesekali melirik istri kecilnya dengan senyuman tipis, sementara tangan kirinya tetap setia menggenggam jemari lentik Luna di atas pembatas kursi.

Namun, pikiran Luna ternyata tidak sepenuhnya tenang.

Tatapan matanya lurus menatap aspal jalanan di depan, namun benaknya terus berputar kembali pada pemandangan ganjil di ruang tengah rumah utama tadi sebelum mereka berangkat.

"Mas," panggil Luna memecah keheningan.

Ia menoleh, menatap profil samping wajah suaminya yang tampak tegas dan berwibawa dari samping.

"Iya, Sayang? Ada apa?" sahut Mahendra lembut. Ia memberikan usapan pelan dengan ibu jarinya di punggung tangan Luna, menyalurkan rasa hangat.

"Sepertinya, ada yang aneh dengan Tante Emma dan Mila tadi," ucap Luna jujur. Gurat kebingungan tercetak jelas di keningnya yang mulus.

Mahendra sedikit menaikkan sebelah alis matanya, namun fokusnya tetap terjaga pada jalanan tol yang mulai agak lengang.

"Aneh kenapa, Sayang? Apa mereka mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman sebelum kita turun?" tanya Mahendra, nadanya seketika berubah sedikit tegas, siap siaga jika ada yang berani mengusik ketenangan istrinya lagi.

"Bukannya aku tidak mau bicara yang tidak-tidak. Tapi Mas lihat sendiri kan tadi di ruang tengah? Pagi-pagi sekali mereka sudah menyuruh para pelayan mengeluarkan piring porselen terbaik, taplak meja mewah, bahkan menata dekorasi seperti mau menyambut tamu agung."

Luna menghela napas pendek, mengingat ekspresi panik yang sangat kentara dari wajah Emma dan Mila saat ia memutuskan untuk ikut ke Bandung.

"Lalu, waktu aku bilang mau ikut Mas, wajah mereka langsung pucat seperti melihat hantu. Tante Emma bahkan terburu-buru menghalangi aku dengan alasan yang dicari-cari. Instingku mengatakan ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan di rumah hari ini."

Mahendra terdiam sejenak. Otak bisnisnya yang jenius dan terbiasa membaca taktik lawan seketika mencerna kata-kata Luna.

Ia tahu persis tabiat adik kandungnya, Emma, yang gila hormat dan licik, serta Mila yang oportunis.

Ditambah lagi, ingatan Mahendra kembali pada laporan intelijen pribadinya tentang beberapa gelagat mencurigakan dari dua wanita itu sejak kemarin malam.

Sebuah seringai miring yang dingin dan sarat akan kecerdasan terbit di sudut bibir tegas sang Titan Bisnis.

Ia langsung bisa menebak bahwa Emma dan Mila pasti berniat memanfaatkan absennya dirinya hari ini untuk menjebak atau merendahkan Luna di rumah.

"Entahlah, Mas. Mungkin itu cuma perasaanku saja," gumam Luna lagi, memotong lamunan Mahendra karena tidak ingin suaminya terbebani oleh urusan domestik di hari kerjanya.

Mahendra tidak langsung menjawab. Pria berusia setengah abad itu membawa tangan Luna ke depan bibirnya, mengecup jemari istrinya dengan begitu dalam dan protektif, seolah meyakinkan bahwa tidak akan ada satu pun orang yang bisa menyentuh seujung kuku Luna selama ia berada di sampingnya.

"Jangan dipikirkan, Sayang. Apapun yang sedang mereka rencanakan di rumah utama, biarkan saja mereka bermain dengan bayangan mereka sendiri," ucap Mahendra dengan suara baritonnya yang berat, terdengar begitu tenang namun menyimpan peringatan yang mematikan.

Mata tajam Mahendra berkilat dingin menatap lurus ke depan.

Di dalam hati, sang penguasa Dirgantara Holdings itu sudah membuat keputusan: setelah urusannya di Bandung selesai, ia sendiri yang akan membongkar permainan busuk Emma dan Mila, dan memastikan mereka membayar mahal karena telah berani mencoba mengusik ketenangan Nyonya Besar Dirgantara yang sah.

"Sekarang, tugasmu hanya duduk manis, nikmati perjalanan, dan temani suamimu ini bermain golf. Mengerti, hm?" goda Mahendra kembali melembutkan suaranya, mengedipkan sebelah matanya yang seketika membuat pipi Luna kembali merona merah mengingat kejadian semalam.

Luna menganggukkan kepalanya dengan patuh, merasa jauh lebih tenang setelah mendengar penuturan suaminya yang begitu protektif.

Untuk mengusir sisa kecanggungan, ia merogoh tas tangannya, mengambil sebutir permen mint, lalu membuka bungkusnya dengan pelan sebelum memasukkannya ke dalam mulut.

Rasa dingin dan segar seketika menyebar di rongga mulutnya, membantu meredakan rasa pening akibat kurang tidur setelah "maraton" semalam.

Sementara itu, berjarak puluhan kilometer di belakang mereka, atmosfer di kediaman mewah Dirgantara justru berbanding terbalik. Sl

Suasana yang tadinya sibuk penuh ambisi kini berubah drastis menjadi ladang frustrasi.

"Cepat bereskan semuanya! Masukkan kembali piring-piring porselen itu ke dalam lemari! Jangan ada yang tersisa!" bentak Emma dengan suara melengking tinggi, meluapkan amarahnya pada para pelayan yang langsung bergerak tunggang-langgang ketakutan.

Emma berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan napas memburu, wajahnya yang penuh riasan mahal kini tampak kusut karena menahan dongkol.

Tangannya bergerak cepat di atas layar ponsel, mengetik pesan massal di grup WhatsApp sosialitanya dengan alasan darurat demi membatalkan undangan arisan VIP yang sudah ia rancang semalaman.

"Sial!!" umpat Emma kasar, melempar ponselnya ke atas sofa beludru.

Ia menoleh tajam ke arah Mila yang berdiri tak jauh darinya.

"Rencana kita hancur total, Mila! Gara-gara jalang kecil itu tiba-tiba ikut ke Bandung, kita kehilangan panggung untuk mempermalukannya! Lalu, apa rencana kita selanjutnya?!"

Mila yang ditanya hanya bisa berdiri mematung. Ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan, memasang wajah polos dan kecewa yang dibuat-buat di hadapan Emma.

"Aku juga tidak tahu, Tante. Semuanya benar-benar di luar prediksi kita," cicit Mila dengan nada suara yang lemas.

Namun, di balik gelengan kepala dan wajah bingungnya yang tampak tak berdaya, otak licik Mila sebenarnya sedang bersorak kegirangan.

Bibir bagian dalamnya digigit kuat-kuat demi menahan senyuman iblis yang nyaris lolos.

Tante Emma bodoh, batin Mila penuh muatan racun.

"Dia pikir aku hanya menyiapkan satu jebakan murahan seperti arisan ini?"

Mila melirik sekilas ke arah luar jendela, membayangkan Rolls-Royce Phantom milik Mahendra yang kini sedang melaju menuju Bandung.

Jauh sebelum Luna memutuskan untuk ikut, Mila—dengan kelicikan yang luar biasa—sudah menyuap salah satu orang dalam yang menyiapkan keperluan logistik di dalam mobil premium tersebut.

Sebuah botol air mineral premium yang telah disuntik dengan obat perangsang dosis tinggi kini telah tersusun rapi di dalam mini-fridge kabin mobil Mahendra.

Mila sengaja menyiapkan obat itu dengan asumsi awal bahwa Mahendra yang akan meminumnya di jalan, sehingga setibanya di Bandung, sang Titan Bisnis akan mencari pelampiasan pada wanita mana saja yang ada di sana—yang otomatis akan menghancurkan martabatnya di depan klien.

Namun kini, situasi justru berubah menjadi jauh lebih menarik bagi Mila. Luna ikut di dalam mobil itu.

Sebuah bayangan mengerikan sekaligus menyenangkan mulai menari-nari di kepala Mila.

Ia bisa membayangkan jika Luna yang tidak tahu apa-apa merasa haus di tengah jalan, lalu meminum air beracun tersebut.

Obat perangsang itu akan bekerja dengan cepat di tengah perjalanan atau tepat saat mereka tiba di lapangan golf Bandung.

Mila membayangkan bagaimana Luna akan kehilangan akal sehatnya, mengerang kepanasan, dan bertingkah murahan seperti wanita jalang yang haus belaian di depan para pejabat tinggi, investor asing, dan rekan bisnis kelas kakap Mahendra Dirgantara.

"Mari kita lihat, Nyonya Besar, seringai Mila di dalam hatinya, dipenuhi rasa iri dan dengki yang sudah sampai ke ubun-ubun. Setelah kamu mempermalukan dirimu sendiri dengan bertingkah menjijikkan di depan semua klien penting Papa Mahendra, jangankan Black Card... kamu pasti akan langsung ditendang keluar dari silsilah keluarga Dirgantara hari ini juga!" ucap Mila dalam hati.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!