NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Jarum jam merambat ke angka empat sore. Di lobi Rumah Sakit Citra Medika, Dokter Maura berdiri dengan gelisah sembari mematut diri di depan cermin kecilnya. Kehadirannya yang tampak jelas sedang menunggu Dokter Daniel Lee tak lepas menjadi buah bibir para staf dan perawat yang melintas.

"Lihat deh, Dokter Maura nungguin Dokter Daniel tuh. Mereka mau pulang bareng ya?" bisik seorang perawat di balik meja resepsionis.

"Kecewa banget sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Dokter Maura kan cantik, pintar, sesama dokter pula. Cocoklah bersanding dengan Dokter Daniel," sahut yang lain dengan nada pasrah.

Namun, tidak semua menaruh simpati. Di sudut lain, beberapa perawat senior mencibir pelan. "Cocok dari mana? Dokter Maura itu sombong dan angkuh. Kasihan Dokter Daniel kalau dapat wanita berhati keras seperti dia."

Aura gosip itu menguap seketika begitu Dokter Daniel keluar dari lift dengan langkah tegap. Tanpa banyak bicara, ia memberi isyarat kepada Maura untuk mengikutinya ke parkiran.

Sepanjang perjalanan membelah jalanan kota, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Daniel sama sekali tidak membuka suara, pandangannya hanya lurus menyusuri aspal dengan kedua tangan mantap di kemudi. Kebekuan sikap sang dokter jantung membuat Maura yang biasanya cerewet mendadak canggung untuk memulai obrolan. Ia hanya bisa meremas tali tasnya, memendam gejolak yang membara di dada.

Maura sudah tidak sabar untuk tiba di rumah mewah itu. Pikirannya dipenuhi rencana busuk untuk memberi pelajaran pada Shanum. Ia bertekad menendang wanita itu keluar. Bahkan, di dalam hatinya, Maura rela jika harus melepas jabatannya sebagai dokter spesialis anak di rumah sakit demi bisa menjadi nyonya di rumah ini dan mengurus Daniel serta Ziva setiap waktu.

Begitu mobil berhenti di halaman depan yang luas, Daniel langsung bergegas turun. Pikirannya langsung tertuju pada putrinya. Di lantai atas, Shanum baru saja selesai memberikan ASI eksklusif setelah memandikan Baby Ziva sore itu. Suasana kamar bayi begitu tenang sampai langkah kaki Daniel dan Maura terdengar mendekat.

"Dokter Maura, tunggu sebentar di sini," instruksi Daniel setibanya mereka di depan koridor kamar atas. "Aku harus ganti baju dan membersihkan diri dulu di kamar. Kita tidak boleh membawa virus atau bakteri dari rumah sakit dekat Ziva. Anda juga, tolong sterilkan tangan dan jas Anda menggunakan hand sanitizer di meja itu."

"Baik, Dokter Daniel," jawab Maura dengan senyum manis yang dipaksakan.

Beberapa menit kemudian, setelah keduanya memastikan tubuh mereka bersih dan steril, Daniel membuka pintu kamar bayi. Di dalam, tampak Shanum sedang menimang Baby Ziva yang baru saja diletakkan di dalam boksnya. Namun, derit pintu dan langkah kaki yang masuk membuat tidur Ziva yang masih tipis terusik. Bayi itu menggeliat gelisah.

Shanum menoleh dan seketika terkejut melihat sosok Dokter Maura berdiri tepat di samping Daniel. Tatapan mata Dokter Maura yang sinis, dingin, dan penuh kebencian langsung menghunjam ke arahnya, sangat kentara hingga membuat atmosfer ruangan mendadak tegang.

Drrrttzzz....

Tiba-tiba ponsel di saku celana Daniel bergetar. Ia melihat layarnya sejenak. "Maaf, ada telepon penting dari direktur rumah sakit. Saya tinggal sebentar," pamit Daniel lalu melangkah keluar kamar.

Begitu pintu tertutup dan sosok Daniel menghilang, topeng keramahan Maura luruh seketika. Ia melangkah mendekati boks bayi dengan senyum merendahkan.

"Bagaimana rasanya tinggal di rumah mewah dan satu atap dengan Dokter Daniel, wanita kampung?" bisik Maura dengan nada tajam dan mengejek.

Shanum mengusap dadanya pelan, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosinya. Ia mengingat pesan Neneknya untuk selalu bersabar. Namun, intimidasi Maura yang berulang membuat ketegasan Shanum bangkit.

"Seperti yang Dokter lihat sendiri bagaimana saya sekarang," jawab Shanum tenang, menatap lurus mata Maura dengan senyum tipis. "Tentunya saya merasa sangat beruntung sekali bisa berada di sini."

Mendengar jawaban telak itu, wajah Maura memerah padam. Tangannya mengepal kuat di balik saku jasnya.

'Kurang ajar! Berani-beraninya dia menjawabku seperti itu. Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu sekarang, kau akan menyesal seumur hidup!' gertak Maura dalam hati.

Maura memilih diam dan menyunggingkan senyum licik yang misterius. Ia berpura-pura sibuk mengeluarkan stetoskop dari tasnya dan mendekati Ziva untuk memeriksa detak jantungnya.

Pada saat yang sama, ponsel di saku bajunya Shanum bergetar pelan. Mengira itu kabar dari suster yang menjaga Bu Siti, Shanum sedikit meleng dan membalikkan tubuhnya sejenak untuk memeriksa layar ponselnya yang retak.

Memanfaatkan kelengahan beberapa detik itu, dengan gerakan secepat kilat, tangan Maura merogoh sebuah botol obat kecil dari sakunya dan meletakkannya di atas lemari nakas yang berada tepat di dekat boks bayi.

'Matilah kau, wanita kampungan!' batin Maura penuh kemenangan.

Tak lama kemudian, Daniel kembali masuk ke dalam ruangan setelah menyelesaikan teleponnya. Wajahnya menyiratkan rasa ingin tahu. "Bagaimana, Dokter Maura? Bagaimana dengan kondisi Ziva?"

Maura menghela napas panjang, memasang gurat wajah yang dibuat secemas mungkin. "Maaf sekali, Dok. Ziva agak sedikit gelisah dan detak jantungnya agak terlalu cepat untuk bayi yang baru bangun. Apakah pengasuh itu... maksudku, apakah Shanum tidak mengonsumsi sesuatu atau obat berbahaya yang bisa memengaruhi kualitas ASI nya?"

Mendengar tuduhan itu berulang, Shanum langsung maju selangkah untuk membela diri. "Maaf, Dok. Tapi saya berani bersumpah, saya tidak pernah memakan seafood atau makanan pemicu alergi lainnya. Dan untuk obat, saya selalu meminum vitamin dan obat yang sesuai dengan resep dari dokter rumah sakit!"

Dokter Maura menyeringai tipis melihat kepanikan Shanum. Matanya kemudian melirik tajam ke arah lemari nakas di samping boks bayi, berpura-pura terkejut saat melihat sebuah botol obat di sana. Dengan gerakan dramatis, ia meraih botol tersebut.

"Lantas, ini obat apa?!" seru Maura lantang, menyodorkan botol itu ke hadapan Daniel. "Ini sejenis antibiotik yang mengandung zat kloramfenikol! Dan setahuku sebagai dokter anak, obat ini sangat berbahaya jika dikonsumsi oleh wanita menyusui karena bisa diekskresikan melalui ASI. Efek sampingnya bisa berakibat fatal untuk bayi, mulai dari anemia aplastik hingga memicu gray baby syndrome yang bisa mengancam nyawa!"

Deg!

Bagai disambar petir di siang bolong, Daniel tersentak hebat. Sebagai seorang dokter spesialis, ia tahu persis betapa mematikannya zat kloramfenikol bagi sistem peredaran darah dan organ bayi yang belum sempurna. Tatapan matanya yang semula hangat kini berubah menjadi tajam, dingin, dan menatap lurus ke arah Shanum demi meminta penjelasan.

Sementara itu, Shanum berdiri membeku dengan wajah pucat pasi. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap botol obat di tangan Maura dengan rasa tidak percaya, karena ia sama sekali tidak pernah melihat, apalagi mengonsumsi obat jenis itu di dalam hidupnya.

Kemarahan dan rasa cemas sebagai seorang ayah seketika menguasai akal sehatnya Daniel. Dengan gerakan cepat, ia melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Shanum, mencengkeramnya dengan kuat. Cengkeraman itu begitu bertenaga hingga membuat Shanum meringis tertahan. Mata elang Daniel menatap tajam, memancarkan kekecewaan mendalam seolah tidak percaya wanita yang ia puji ketegarannya tega bertindak seceroboh ini.

Shanum yang melihat kilatan amarah di mata sang dokter merasa dunianya runtuh. Ia mengira Daniel telah sepenuhnya membencinya dan menganggapnya sebagai wanita jahat yang berniat mencelakai Baby Ziva.

Di sudut ruangan, Maura menyilangkan kedua tangannya di dada dengan senyum kemenangan yang tertahan. Bersorak puas dalam hati karena merasa rencananya telah berhasil seratus persen untuk menendang wanita itu.

"Pak Dokter, tolong percaya sama saya! Demi Allah, saya tidak pernah mengonsumsi obat seperti itu... apalagi saya memiliki alergi antibiotik!" seru Shanum dengan air mata yang mulai merebak di pelupuk matanya.

Deg!

Kata "alergi antibiotik" itu terdengar kencang di dalam kamar mewah tersebut. Dokter Maura tersentak kaget, begitupun dengan Daniel yang seketika mengendurkan cengkeraman tangannya.

Menyadari situasi mulai berbalik, Maura buru-buru menyela dengan suara sinis untuk menutupi kepanikannya. "Kau jangan berpura-pura, Shanum! Akui saja kesalahanmu sekarang, jangan malah mencari alasan yang mengada-ada!"

"Sungguh, Dokter! Saya tidak berbohong!" Shanum menatap Daniel dengan tatapan memohon yang teramat sangat. "Saya sudah divonis alergi berat terhadap antibiotik jenis apa pun sejak usia sepuluh tahun. Jika saya mengonsumsi satu butir saja obat seperti itu, kulit di sekujur tubuh saya akan langsung gatal-gatal hebat dan melepuh seperti luka bakar!"

Mendengar penjelasan medis yang begitu spesifik dari mulut Shanum, jantung Dokter Maura berdegup dua kali lebih cepat. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

'Sialan! Kenapa bisa jadi seperti ini sih?! Bagaimana bisa wanita udik ini punya riwayat alergi antibiotik berat? Kalau dia alergi, berarti dia memang tidak mungkin meminum obat jahanam itu!' batin Maura merutuk kesal sekaligus ketakutan.

Daniel terdiam sejenak. Otak jeniusnya sebagai dokter langsung menganalisis keadaan. Jika Shanum benar-benar memiliki riwayat alergi antibiotik golongan kloramfenikol atau sejenisnya, maka meminum obat itu sama saja dengan bunuh diri bagi Shanum. Dan melihat kondisi kulit wajah serta tangan Shanum yang bersih tanpa ada tanda-tanda ruam atau lepuhan, argumen Shanum sangat masuk akal.

Daniel menatap botol obat di atas nakas, lalu beralih menatap Shanum dan Maura bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Baiklah. Untuk memastikan semua kebenarannya secara medis dan tidak ada fitnah di antara kita," ucap Daniel dengan suara bariton yang dingin namun berwibawa. "Malam ini juga, aku akan membawamu ke rumah sakit. Kita lakukan tes darah dan cek laboratorium untuk melihat apakah ada kandungan zat kloramfenikol di dalam tubuhmu!"

Shanum yang merasa berada di pihak yang benar langsung mengangguk mantap tanpa ketakutan sedikit pun. "Baik, Pak Dokter. Saya siap dihukum jika hasil lab membuktikan saya bersalah. Tapi jika tidak, saya ingin tahu siapa yang menaruh obat itu di sini."

Mendengar keputusan mutlak Daniel dan kesiapan Shanum, wajah Dokter Maura seketika pucat pasi bak mayat. Rencana busuk yang ia susun dengan rapi kini berbalik arah menjadi sebuah bumerang mematikan yang siap menghancurkan karier dan reputasinya sendiri dalam hitungan jam.

Bersambung...

1
Teh Yen
nah loh rasain malu malu dha tuh c Klara huuh 😤
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
Teh Yen
smoga setelah persidangan Daniel benar" meminta maaf dan meluruskan kata kata nya kmr yg salah ucap jujur janji yah Daniel jujur sama.perasaanmu sama shanum
Dew666
🍎🍎🍎🍎
Nar Sih
siip daniel hajar terus sampai klara ngk bisa berkutik dan kmu lah yg jdi pemenang nya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😉
total 1 replies
neny
makanya jng menganggap sepele sm orang lain,, apalagi masa lalu itu km sendiri yg menghancurkan nya,,
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
neny: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Nar Sih
semagat 💪daniel smoga kmu lah yg menang atas tuntutan hak asuh ziva
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin 😊
total 1 replies
~Ni Inda~
Klw perlu karir yg dia bangun mati²an dg memanfaatkan Sony...hancur berkeping²
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju kak, hancur dengan sikapnya sendiri
total 1 replies
~Ni Inda~
Masalah gakan selesai dg saling menduga
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, mantap uji nyali ya kak🤭
total 1 replies
Ilfa Yarni
hajR trus spe masuk bui tuh perempuan licik dia yg berulah dia yg emosi hahaha kau ga bakal menang Kiara dasar perempuan murahan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
neny
ya iya lah daniel,,km yg buat Hanum seperti itu,,muka km hrs menyelesaikan Maslah ini,,spy kalian berdua harmonis lg🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
semoga shanum dan Daniel yg memenangkan hak asuh ziva
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin 🤲🏼
total 1 replies
neny
semuanya serba salah faham,,sebaik nya jujur ajh sm perasaan masing2,,drpd kesalah fahaman ini ber larut2
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul, tunggu saatnya tiba, harus ada salah satu yang mengalah
total 1 replies
Teh Yen
nanti malam.jangan.salahkan.shanum.klaau Tidka.mau.tidur sekamar lagi yah dok.huuh 😤
Teh Yen
lah knp malah kata kata itu yg keluar dari mulutmu Daniel hadeeuh kasian kan shanum terluka padhl dia jg berharap loh dokter Suka smaa dia 🙈
Teh Yen
nah gt dong untung dokter daniel.cepat sadar dengan perasaannya yah ,, smoga shanum jg mau mengakui perasaannya pada Daniel yah
Teh Yen
kasian dokter.daniel.sakit.karena kelelahan mungkin yah
Teh Yen
xixixi .... engg pa pa num pijit ajah lumayan bikin badan rileks kan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣
total 1 replies
Teh Yen
yah kali ini gagal mah umpannya 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
Xixixiii mamah Daniel bisa aj nih bikin pengantin baru salah tingkah d nurutin kemauannya dari pada sandiwaranya terbongkar hihii tp bagus sih anggap aj latihan yah 😁
Teh Yen
duh udh main peluk peluk aj nih shanum cie daniel.deg deg gan engg tuh hihii 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!