JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Suara deru mesin sedan putih milik Haura akhirnya mati, menyisakan keheningan malam di pelataran parkir ruko jastip yang sudah gelap gulita. Haura melangkah keluar dari pintu kemudi, diikuti oleh Marco yang bergerak agak lambat dari pintu penumpang. Pemuda itu berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana kargonya, wajah kirinya yang diolesi salep memar tampak mengilat samar di bawah temaram lampu jalanan.
Haura mengeluarkan anak kunci dari dalam tasnya, membuka gembok rolling door dengan bunyi klik besi yang nyaring, lalu mendorong pintu kaca ruko. Begitu melangkah masuk ke dalam lantai satu, Haura meraba dinding samping dan menyalakan saklar lampu utama.
CEKLEK.
Seketika itu juga, seisi ruangan lantai satu ruko jastip yang dipenuhi oleh tumpukan kardus dan ratusan album K-Pop yang sudah rapi terbungkus rapi menyala terang. Aroma kertas baru, plastik lakban, dan wangi sisa kopi siang tadi langsung menyergap indra penciuman mereka. Haura berjalan memutari meja packing, menuntun Marco menuju sebuah lorong kecil di bagian belakang lantai satu, tepat di sebelah toilet, tempat sebuah kamar tamu berukuran minimalis yang biasanya digunakan untuk beristirahat karyawan berada.
Haura membuka pintu kamar tersebut, menyalakan lampu dinding yang temaram, lalu berbalik menghadap Marco. Kamar itu bersih, dengan satu kasur single, bantal rapi, dan sebuah kipas angin di sudut ruangan.
"Nah, malam ini kamu tidur di sini aja," ucap Haura, suaranya terdengar agak canggung di dalam kesunyian ruko yang kosong. Ia merapikan sedikit ujung kardigan rajut abu-abunya, menolak untuk menatap langsung ke arah mata cokelat gelap Marco. "Aku balik dulu ya... Udah malem soalnya. Udah jam sepuluh lewat, gak enak kalau kelamaan di sini."
Haura baru saja hendak membalikkan tubuhnya untuk melangkah pergi menuju pintu keluar ruko, namun sebuah gerakan taktis dan cepat dari Marco langsung memotong jalurnya.
Sret.
Tangan kanan kekar Marco terulur ke depan, menumpu kuat pada kusen pintu kayu di samping kepala Haura, mengunci pergerakan wanita itu secara mutlak dalam sekejap mata. Jarak di antara mereka seketika mengikis habis, menyisakan sisa beberapa senti yang teramat intim. Haura terperanjat, punggungnya refleks merapat pada dinding lorong yang dingin, sementara napasnya mendadak tertahan di tenggorokan.
"Marco... kamu mau ngapain lagi? Aku bener-bener harus pulang sekarang," bisik Haura, suaranya bergetar halus, sepasang mata indahnya bergerak panik menatap dada bidang Marco yang terbalut kaos hitam polos di hadapannya.
Marco menundukkan kepalanya, membiarkan embusan napas hangatnya yang beraroma mint menerpa permukaan kulit wajah Haura yang mulai memanas sempurna. "Buru-buru banget sih, Ra. Tadi katanya khawatir sama gue, sekarang malah mau langsung ditinggal kabur."
"Bukannya ditinggal kabur, Marco Permana... Ini udah larut malam! Kita cuma berduaan di ruko yang tutup, kalau ada warga atau satpam kompleks ruko yang liat gimana?" protes Haura dengan volume suara yang dikecilkan, tangannya bertumpu di dada Marco, mencoba mendorong pemuda itu menjauh meski tenaganya sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Gak bakal ada yang liat, pintunya udah lo kunci dari dalam," sahut Marco rendah, suaranya berubah menjadi sangat berat, dalam, dan serak—nada suara yang selalu berhasil melumpuhkan seluruh logika kewarasan Haura.
Marco menurunkan pandangan matanya, mengunci fokusnya tepat pada bibir ranum Haura yang sedikit terbuka. Perlahan, tangan kiri Marco yang bebas bergerak naik, menyelipkan jemari besarnya yang hangat ke tengkuk Haura, menahan bagian belakang kepala wanita itu dengan sentuhan yang teramat lembut namun posesif.
"Marco... bibir kamu masih luka, nanti perih—"
Kalimat peringatan dari Haura terputus seutuhnya ketika Marco perlahan memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang teramat intim di tengah remangnya lorong ruko.
Cup.
Haura menegang seketika, matanya membelalak lebar selama dua detik sebelum akhirnya perlahan terpejam saat merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar dari bibir Marco. Berbeda dengan ciuman brutalnya di lantai dua siang tadi yang dipenuhi rasa cemburu, ciuman Marco malam ini terasa jauh lebih dalam, menuntut, namun dipenuhi oleh rasa keputusasaan dan kebutuhan yang teramat besar akan kehadiran Haura di sisinya.
Marco melumat bibir bawah Haura dengan gerakan lambat yang sangat sensual, mengabaikan rasa perih yang sedikit menggigit di sudut bibirnya sendiri akibat luka pecah tadi. Remasan jemarinya di tengkuk Haura semakin mengerat, sementara tubuh jangkungnya maju selangkah, menekan tubuh ramping Haura semakin rapat ke dinding lorong ruko, seolah ingin menenggelamkan seluruh luka dan rasa sakit hatinya akibat perlakuan ayahnya ke dalam diri wanita berusia 38 tahun itu.
Haura yang semula berniat menolak, akhirnya kehilangan seluruh kendali atas egonya. Cengkeraman tangannya di kaos hitam Marco melunak, jemarinya perlahan bergerak naik, meremas sisi kemeja flanel di bahu tegap Marco untuk mencari pegangan karena kedua lututnya mendadak terasa lemas seperti jeli. Haura membuka sedikit bibirnya, membalas lumatan lambat Marco dengan ritme yang sama, membiarkan sisa rasa manis dan hangat di antara mereka berbaur menjadi satu dalam keheningan malam.
Desahan napas mereka yang memburu terdengar samar bersahut-sahutan di dalam lorong ruko yang sepi. Ciuman itu berlangsung cukup lama, terasa begitu intens hingga pasokan oksigen di dada Haura mulai menipis. Menyadari wanita di dalam dekapannya mulai kehabisan napas, Marco dengan berat hati perlahan menarik bibirnya mundur, memutuskan tautan intim mereka secara perlahan.
Sret.
Satu untaian saliva tipis sempat terbentuk sebelum akhirnya terputus di udara. Marco tidak langsung menjauhkan wajahnya; ia menumpu keningnya di atas dahi Haura yang hangat, napas keduanya memburu naik-turun dengan cepat di antara jarak yang teramat dekat.
Haura membuka matanya yang tampak sayu dan basah, menatap lekat ke dalam mata cokelat gelap Marco yang kini berkilat dipenuhi hasrat posesif yang teramat pekat. Wajah Haura sudah merah padam sempurna sampai ke leher, bibirnya yang semula ranum kini tampak sedikit bengkak dan basah akibat ulah berondong di hadapannya.
"Marco... kamu bener-bener... gila," bisik Haura terengah-engah, tangannya masih memegang erat pundak tegap Marco untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang masih gemetar.
Marco terkekeh rendah, suara tawa beratnya yang seksi bergetar di depan wajah Haura. Ia mengulurkan ibu jarinya, dengan lembut menyeka sisa kebasahan di sudut bibir Haura dengan gerakan memutar yang intim. "Gue emang gila, Ra. Dan kegilaan gue ini cuma berlaku kalau di depan lo doang."
Marco mengecup kening Haura sekilas dengan lembut, lalu memberikan remasan pelan yang sarat akan rasa sayang di pinggang Haura sebelum akhirnya menarik tubuhnya mundur, memberikan jarak yang aman bagi sang Ratu Jastip untuk bernapas. "Udah, sekarang lo boleh pulang. Obat penimbun luka gue udah penuh malam ini gara-gara ciuman lo."
Haura buru-buru merapikan kardigan rajutnya yang sempat berantakan dengan jari-jari yang masih kaku akibat salah tingkah yang luar biasa hebat. Ia melemparkan tatapan melotot tajam andalannya ke arah Marco, meski sama sekali tidak terlihat menyeramkan. "Awas ya kamu! Tidur! Jangan aneh-aneh lagi! Besok pagi kalau kamu telat bangun, aku kunciin kamu dari luar ruko!"
"Iya, Tante Bos. Hati-hati di jalan, kabarin gue kalau udah sampai mansion," sahut Marco dengan senyum miring penuh kemenangan yang kembali terbit dengan tampan di wajahnya.
Haura tidak membalas lagi. Ia berbalik dengan cepat, melangkah setengah berlari menuju pintu depan ruko dengan jantung yang berdegup kencang secara ugal-ugalan di dalam dadanya. Di dalam hatinya, Haura tahu, batasan umur delapan belas tahun di antara mereka kini sudah benar-benar lebur dan tidak berarti apa-apa lagi di bawah pesona sang berandalan muda.
semangattt