Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.
Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Penantian yang Terjawab Mutlak
Empat bulan berselang sejak janji suci yang khidmat dan penuh rida itu diikrarkan. Bahtera rumah tangga Andini dan Farhan berlayar dengan begitu tenang, berhiaskan rasa saling menghargai dan kasih sayang yang tulus. Farhan membuktikan segala janjinya untuk senantiasa memuliakan sang istri. Tak sekalipun ia mengungkit masa lalu Andini, justru ia menjadi pendukung utama bagi perkembangan karier istrinya di Nadir Label.
Udara pagi di kamar utama rumah baru mereka terasa begitu sejuk. Andini baru saja menuntaskan salat Subuh berjamaah bersama suaminya. Namun, saat jemarinya mulai melipat mukena, sebuah gejolak mual yang hebat tiba-tiba menyerang dadanya.
Andini bergegas lari menuju kamar mandi, bertumpu pada wastafel sembari memuntahkan cairan bening berulang kali. Tubuhnya terasa lunglai, dibarengi rasa pening yang seolah menghunjam kepala.
Farhan yang diliputi kepanikan segera menyusul, lalu dengan lembut memijat tengkuk istrinya. "Astagfirullah, Sayang... kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali. Ayo kita ke dokter sekarang," ucap Farhan dengan gurat kecemasan yang terpancar jelas di wajahnya.
Sambil menyeka bibir dengan tisu, Andini memberikan senyum tipis untuk menenangkan suaminya. "Tidak apa-apa, Mas. Mungkin hanya masuk angin. Belakangan ini aku memang kurang istirahat karena mengurus fashion show di Bandung."
Meski berkata demikian, batin Andini mulai bergejolak. Ia mencoba mengingat-ingat siklus bulanannya yang biasanya sangat teratur, namun kini telah terlambat hampir tiga minggu. Jantungnya seketika berdegup kencang. Sebuah prasangka muncul, tapi ia segera menepisnya. Selama tiga tahun berumah tangga dengan Reno, ia terus-menerus didoktrin bahwa rahimnya mandul dan bermasalah. Luka batin itu membuatnya tak berani menaruh harapan terlalu tinggi.
"Mas, tolong ambilkan kotak kecil di laci meja riasku," bisik Andini lirih. Di dalam laci itu tersimpan sebuah testpack pemberian Citra beberapa hari lalu, benda yang selama ini tak berani ia sentuh karena takut akan kekecewaan yang mendalam.
Farhan segera mengambilkannya. "Ini, Sayang. Kamu mau mencobanya sekarang? Mas tunggu di luar, ya."
Dengan jemari yang gemetar hebat, Andini melakukan prosedur tes tersebut. Lima menit waktu tunggu terasa berjalan begitu lambat, seolah berabad-abad lamanya. Saat ia perlahan membuka mata untuk melihat hasilnya, tangis Andini seketika pecah.
Di atas alat putih itu, tampak dua garis merah yang sangat jelas dan tegas. Positif.
Andini melangkah keluar kamar mandi dengan air mata yang terus mengalir deras. Farhan yang sejak tadi menunggu dengan gelisah langsung berdiri tegak. Tanpa sepatah kata pun, Andini menyodorkan alat tersebut kepada suaminya.
Begitu netranya menangkap dua garis merah itu, mata Farhan langsung berkaca-kaca. Ia menatap istrinya dengan pandangan tidak percaya sekaligus rasa syukur yang meluap-luap.
"Andini... kamu... kita akan punya anak?" tanya Farhan dengan suara bergetar karena bahagia.
Andini hanya mampu mengangguk dalam tangisnya. Farhan segera merengkuh tubuh Andini dalam dekapan hangat, mengecup kening istrinya berkali-kali di balik hijab yang masih dikenakannya. "Alhamdulillah ya Allah... Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah menjadi wanita yang kuat dan menjaga dirimu hingga Tuhan menitipkan malaikat kecil ini kepada kita."
Siang harinya, demi memastikan kondisi secara medis, Farhan membawa Andini ke dokter spesialis kandungan. Melalui pemeriksaan USG, dokter menyatakan bahwa Andini positif hamil empat minggu. Kondisi kandungannya sangat kuat dan rahimnya dinyatakan dalam keadaan yang sangat subur.
Kabar gembira ini pun menyebar luas di kalangan keluarga dan rekan bisnis. Citra yang teramat bahagia segera menggelar syukuran sederhana di butik utama Nadir Label. Kabar mengenai kehamilan istri dari sang pengusaha properti ternama sekaligus CEO Nadir Label ini bahkan sempat menghiasi laman berita gaya hidup di berbagai media digital.
Di sudut kota yang kumuh, di sebuah warung kopi pinggir jalan, Reno tampak sedang melepas lelah usai menarik gerobak barang bekas. Pakaiannya tampak lusuh dan kotor oleh debu jalanan. Iseng, ia meraih koran bekas yang tergeletak di meja untuk sekadar mengusir gerah.
Namun, perhatian Reno mendadak terpaku pada sebuah halaman yang menampilkan foto pasangan suami istri yang tampak berseri-seri. Di sana terlihat Andini yang anggun dengan hijabnya, sedang dirangkul mesra oleh Farhan yang tangannya menyentuh lembut perut istrinya yang mulai tampak membuncit.
Judul berita itu tertulis tebal: "Kebahagiaan Berlipat Ganda: CEO Nadir Label, Andini, Umumkan Kehamilan Anak Pertama Bersama Sang Suami, Farhan."
Deg.
Koran di tangan Reno terlepas begitu saja, jatuh ke lantai yang becek.
Reno terpaku dengan tatapan kosong. Dadanya mendadak terasa sesak, seolah dihantam godam besar hingga ia kesulitan bernapas. Fakta medis ini menjadi bukti terakhir yang menghancurkan seluruh penyangkalan dalam hatinya.
Andini hamil. Rahim wanita itu ternyata tidak mandul. Wanita yang dulu ia usir dengan penuh kehinaan karena tuduhan tidak bisa memberikan keturunan, kini tengah mengandung buah hati dari pria lain yang jauh lebih terhormat darinya.
"Andini... ternyata kamu benar-benar subur... Akulah yang mandul... Aku sendiri yang sudah menghancurkan hidupku," gumam Reno lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
Pria itu menundukkan kepala di atas meja warung yang kotor, menangis sejadi-jadinya tanpa memedulikan orang-orang di sekitar yang menatapnya dengan heran. Penyesalan itu kini telah mengunci takdirnya dalam kepedihan yang panjang, sementara Andini telah terbang tinggi menyongsong kebahagiaan baru yang direstui semesta.