NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32: Bayang Fitnah yang Semakin Tebal

 

Episode 32: Bayang Fitnah yang Semakin Tebal

Udara di dalam gedung Adhitama Group seolah berubah suhunya seiring berjalannya waktu. Bagi sebagian orang, tempat ini tetaplah ruang kerja yang sibuk dengan target dan tenggat waktu. Namun bagi Nara, setiap langkah yang ia ambil di lorong-lorong itu kini terasa diiringi oleh tatapan yang makin sulit diartikan—ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang penuh keraguan, namun yang paling banyak adalah tatapan yang dipenuhi prasangka buruk yang telah ditanamkan perlahan namun pasti.

Setelah kejadian berkas yang hilang dan ditemukan kembali di Episode sebelumnya, Dinda tidak berhenti. Sebaliknya, keberhasilan Nara menyelesaikan tugas itu justru memicu rasa kesal yang makin meluap di dada wanita itu. Baginya, Nara seolah memiliki pertahanan yang tak terduga, dan hal itu membuat Dinda merasa perlu memperkuat serangannya. Ia sadar, hanya dengan menyusahkan pekerjaan saja belum cukup untuk membuat Nara terlihat gagal. Ia butuh sesuatu yang lebih kuat—sesuatu yang bisa meruntuhkan kepercayaan orang lain sepenuhnya, sesuatu yang melekat pada nama baik dan karakter Nara.

Maka, mulailah babak baru dalam permainan jahat itu: penyebaran fitnah yang disusun sedemikian rupa sehingga terdengar seperti kabar yang "dipercaya".

Pagi itu, di ruang istirahat yang biasanya menjadi tempat berkumpul santai, Dinda duduk di tengah sekelompok rekan kerjanya. Ia tampak berbicara dengan nada rendah namun cukup terdengar oleh orang-orang yang lewat, seolah sedang berbagi rahasia yang berat dan memprihatinkan.

"Jujur saja, aku jadi merasa khawatir sekali dengan kondisi keuangan kantor kita belakangan ini," ujar Dinda sambil menghela napas panjang, wajahnya dibuat tampak serius dan penuh keprihatinan. "Bukan tanpa alasan, ya. Aku mendengar dari beberapa sumber yang cukup terpercaya, bahwa ada ketidaksesuaian pencatatan di bagian administrasi—tepatnya di bagian yang dikerjakan Nara."

Salah satu rekan yang duduk di dekatnya, wanita bernama Sari, segera menimpali dengan rasa penasaran yang meluap. "Maksudmu apa, Din? Apa ada yang hilang?"

Dinda menggeleng pelan, namun senyum samar yang penuh makna tersungging di bibirnya. "Belum ada yang hilang secara nyata, tapi ada kejanggalan. Kamu tahu kan, Nara sekarang sedang mengandung. Pasti kebutuhannya makin banyak, kan? Biaya periksa ke dokter, persiapan kelahiran, dan sebagainya. Nah, ada yang berbisik bahwa ia mulai tidak teliti dalam pencatatan, dan dikhawatirkan ada celah yang dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan biayanya sendiri. Lagipula, siapa yang tahu latar belakang keluarganya di desa? Katanya mereka sederhana sekali. Mungkin tergoda dengan jumlah uang yang ada di depan mata."

Kalimat-kalimat itu disampaikan dengan sangat halus, namun maknanya sangat tajam. Dinda tidak secara langsung menuduh Nara mencuri, tapi ia menanamkan benih keraguan yang sangat berbahaya: bahwa kondisi kehamilan membuat Nara tidak lagi dapat dipercaya, dan latar belakangnya yang sederhana membuatnya mudah tergoda uang.

Kabar itu menyebar lebih cepat dari api. Dalam waktu singkat, di setiap sudut pembicaraan, nama Nara selalu dikaitkan dengan kata "ketelitian yang menurun", "masalah keuangan", hingga dugaan yang mengarah pada penyalahgunaan wewenang. Bahkan beberapa orang yang tadinya bersikap netral, kini mulai menjauh, takut terlibat atau dianggap sependapat jika mereka masih terlihat akrab dengan Nara.

Nara merasakan perubahan itu dengan jelas. Jika sebelumnya orang hanya membicarakan kondisi fisiknya dan status kehamilannya, kini mereka mulai berbicara tentang integritasnya sebagai karyawan. Setiap kali ia menyerahkan laporan, ia melihat tatapan curiga dari rekan maupun atasan. Ada yang memeriksa kembali berkasnya berulang kali, ada yang bertanya dengan nada meremehkan, seolah Nara pasti melakukan kesalahan di sana.

Suatu siang, saat Nara sedang duduk di mejanya menyusun data, seorang staf keuangan datang membawa berkas yang baru saja diperiksa. Wajahnya tampak tidak ramah.

"Nara, ada selisih kecil di sini," katanya singkat sambil meletakkan berkas di meja. "Pastikan tidak ada kekeliruan pencatatan yang disengaja. Kita semua tahu, tanggung jawab di sini besar, dan jangan sampai ada yang memanfaatkan celah karena alasan apa pun."

Nara menatapnya tenang. Ia mengerti makna tersirat di balik ucapan itu. "Baik, akan saya periksa kembali dengan teliti. Semua pencatatan saya lakukan sesuai prosedur dan disertai bukti pendukung lengkap."

"Semoga saja begitu," jawab wanita itu dingin, lalu pergi meninggalkan ruangan.

Rasa berat mulai terasa di dada Nara. Ia memegang pinggangnya yang kini mulai terlihat jelas membulat, mengusapnya perlahan seolah memberi kekuatan bagi dirinya sendiri dan nyawa yang tumbuh di dalam sana. Ia tidak peduli jika dirinya dihina atau dianggap rendah. Namun, ketika nama baiknya—yang dijaga dengan sekuat tenaga—mulai dicemari dengan tuduhan ketidakjujuran, rasanya beban itu menjadi jauh lebih berat.

Di balik kaca ruang kerjanya, Arkan mengamati segalanya dengan ketenangan yang justru menyembunyikan kemarahan yang mendidih. Ia telah mendengar laporan yang sama—bahwa Dinda menjadi pusat penyebaran kabar ini. Ia tahu persis bahwa semua tuduhan itu tidak berdasar sama sekali. Ia bahkan telah memerintahkan tim audit internalnya untuk memeriksa ulang semua pekerjaan yang pernah ditangani Nara sejak hari pertama masuk. Hasilnya? Tidak ada satu pun kesalahan yang bersifat kelalaian atau ketidaktegasan, apalagi penyalahgunaan data. Nara bekerja dengan standar ketelitian yang tinggi, bahkan sering kali melebihi standar yang ditetapkan.

Namun Arkan memilih untuk diam. Ia ingin melihat sejauh mana keberanian Dinda melangkah, dan sejauh mana ketegaran istrinya menghadapi gelombang ini sendirian. Ia percaya, kebenaran yang terbukti oleh perjuangan sendiri akan jauh lebih dihargai dan lebih kokoh dipertahankan.

Sore itu, saat pekerjaan kantor hampir selesai, kepala bagian administrasi memanggil Nara ke ruangannya. Di sana, selain kepala bagian, ada Dinda yang duduk dengan wajah serius namun matanya berkilat penuh kemenangan tersembunyi.

"Nara," mulailah kepala bagian itu dengan nada yang berat. "Ada banyak masukan yang kami terima belakangan ini mengenai kinerjamu. Bukan hanya soal beban kerja, tapi juga soal kehati-hatian dalam menangani data keuangan dan dokumen penting. Mengingat kondisimu saat ini, serta banyaknya kabar yang beredar, manajemen merasa perlu mengadakan rapat evaluasi khusus minggu depan. Rapat ini akan menentukan kelanjutan tugasmu di bagian ini."

Nara mengangguk pelan, napasnya sedikit tercekat namun ia berusaha tetap tenang. "Saya mengerti, Bu. Saya siap menghadapi rapat evaluasi itu. Saya memiliki catatan dan bukti lengkap bahwa semua pekerjaan saya dilakukan dengan benar dan sesuai aturan."

Dinda yang sedari tadi diam, kini menyela dengan nada yang terdengar lembut namun penuh penekanan.

"Memang kita semua berharap begitu, Nara. Tapi ingat, bukti saja kadang tidak cukup jika cara kerja dan sikap di lingkungan kerja sudah memunculkan keraguan. Kondisi kesehatan yang mungkin sering mengganggu, ditambah keadaan pribadi yang belum jelas—semua itu memengaruhi penilaian orang lain, lho."

Kalimat itu kembali menancapkan duri: menekankan kembali bahwa kehamilan dan status yang dirahasiakan adalah "kesalahan" utama yang membuat segalanya menjadi masalah.

Nara menatap tajam ke arah Dinda. Ia sadar, rapat minggu depan bukan sekadar rapat biasa. Itu adalah pertarungan nyata. Jika ia gagal membuktikan kebenarannya, Dinda akan berhasil mengusirnya dari sini, dan sekaligus merusak nama baiknya selamanya.

"Terima kasih atas masukannya, Kak Dinda," jawab Nara tenang namun tegas. "Saya percaya, di rapat nanti, penilaian akan didasarkan pada fakta, data, dan hasil kerja nyata—bukan pada kabar yang tidak jelas asal-usulnya atau penilaian sepihak terhadap kondisi pribadi seseorang."

Ia keluar dari ruangan itu dengan kepala tetap tegak, meski langkah kakinya terasa berat.

Di dalam mobil saat pulang, keheningan sempat menyelimuti mereka berdua. Arkan mengemudikan kendaraan dengan tenang, namun ia bisa merasakan ketegangan yang masih melekat pada diri istrinya.

"Rapat evaluasi minggu depan?" tanya Arkan pelan, memecah keheningan.

Nara mengangguk, matanya menatap jalanan di luar jendela. "Iya, Mas. Dinda yang menggerakkan semuanya, saya yakin itu. Dia ingin di sana semua orang mendengar tuduhan itu secara resmi, dan berharap saya tidak bisa membela diri."

Arkan tersenyum tipis, senyum yang penuh keyakinan. Ia menoleh sejenak ke arah Nara.

"Apakah kamu takut, Sayang?"

Nara menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Awalnya saya sempat merasa berat, Mas. Terutama ketika mereka mulai menuduh hal yang tidak benar. Saya takut nama baik yang saya jaga ternoda, takut anak ini kelak mendengar hal-hal buruk tentang ibunya. Tapi kemudian saya berpikir... apa salah saya? Saya bekerja jujur, saya tidak merugikan siapa pun, dan anak ini adalah buah cinta yang sah dan halal. Kenapa saya harus takut?"

Arkan menggenggam tangan Nara yang berada di sampingnya, mencium punggung tangan itu sekilas.

"Justru itulah kekuatan terbesarmu, Nara. Ketika kamu berdiri di atas kebenaran, tak ada satu pun fitnah yang bisa menumbangkanmu selamanya. Dinda berpikir ia pintar menyusun kata-kata dan menyebarkan kabar. Tapi ia lupa satu hal: di perusahaan ini, catatan kerja tidak bisa diubah begitu saja. Ia juga lupa bahwa keberadaan orang-orang yang melihat kejujuranmu lebih banyak daripada yang ia kira."

Ia melanjutkan dengan nada yang lebih mantap.

"Siapkan semua catatan, bukti, dan data yang kamu miliki. Susun rapi setiap kejadian yang menurutmu penting. Rapat minggu depan akan menjadi titik balik. Di sana, Dinda akan berusaha mengeluarkan senjata terberatnya, tapi di situlah ia juga akan kehilangan kekuatannya—jika kamu mampu membuka fakta yang sebenarnya."

Malam itu di rumah, suasana yang tadinya tegang perlahan berubah menjadi penuh semangat. Nara dan Arkan duduk bersama di ruang kerja pribadi Arkan, menata kembali berkas-berkas yang telah disiapkan. Arkan membantu mengingatkan poin-poin penting yang perlu disampaikan, cara menjawab pertanyaan jebakan, serta bagaimana menghadapi nada bicara yang mungkin menyudutkan.

Di sela-sela itu, Arkan kembali berbicara lembut pada perut istrinya yang kini terlihat makin jelas bentuknya di balik pakaian santainya.

"Nak," bisiknya pelan sambil tangannya mengusap lembut permukaan itu. "Kamu harus tahu, Ibumu sedang melakukan hal yang luar biasa. Ia tidak hanya bekerja mencari nafkah, tapi juga menjaga harga diri dan kebenaran demi kita semua. Minggu depan akan ada hari yang penting. Ibumu akan berbicara di depan banyak orang, menjawab segala hal yang dituduhkan padanya. Kamu harus bantu Ibu dari dalam sini ya, beri dia kekuatan agar tetap tenang dan tegas. Ingat, kebenaran itu tidak pernah takut menghadapi siapa pun."

Nara tersenyum mendengarnya. Rasa cemas yang sempat ada kini berganti dengan tekad yang bulat. Ia sadar, fitnah yang menyelimutinya saat ini sebenarnya adalah ujian yang akan memisahkan mana yang benar dan mana yang salah. Jika ia mampu melewati masa ini dengan kepala tegak, maka rasa hormat yang akan ia dapatkan kelak akan jauh lebih besar dan kokoh dibandingkan jika semuanya berjalan mudah sejak awal.

Namun, di sudut lain kota itu, malam itu juga Dinda sedang sibuk menyusun rencananya. Ia mengumpulkan segala kabar yang bisa ia temukan, merangkainya menjadi sebuah tuduhan yang seolah-olah memiliki dasar kuat. Ia berharap di rapat minggu depan, suara Nara akan tenggelam di tengah kebisingan tuduhan yang telah ia sebarkan. Ia tidak menyadari bahwa langkah yang ia ambil semakin mendekatkannya pada ujung jalan yang tidak ia duga.

Bagi Nara, minggu ke depan bukan lagi sekadar rapat penilaian kinerja. Itu adalah pertempuran antara kebenaran dan kebohongan, antara ketegaran dan kebencian. Dan Nara bersiap menghadapinya dengan senjata paling ampuh: fakta dan kejujuran yang tak tergoyahkan.

 

Bersambung ke Episode 33...

1
Rani Febrianti
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!